
Nath
Kepergian kak Bi dan Rion meninggalkan kami berdua di resto masih menyisakan senyum lebar di bibir gadis di sebelahku.
Entah apa yang membuatnya tersenyum selebar itu. Padahal dia kini tengah mengaduk minumannya dengan sedotan.
Dia kesambet? Ah, masa iya lampir kesambet setan. Mustahil dong!
Aku terus menatapnya, dan tanpa sengaja dia menoleh kearahku hingga pandangan kami bertemu.
Keadaan menjadi canggung. Aku kembali menatap piringku dan menyuapkan makanan yang masih tersisa di atasnya. Tujuannya hanya satu, mengatasai kecanggungan ini.
"Couple goals banget kan?" tanyanya tiba tiba.
"Heem! Siapa?" Aku meliriknya sekilas.
"Kak Bintang sama bang Rion."
Aku memutar bola mataku jengah. Couple goals apanya?
"Tirulah kalau mau."
"Belum nemu yang lebih muda." Dia senyum-senyum sendiri lagi.
"Yang sebaya atau yang lebih tua, masih banyak."
"Yang sebaya? Udah ada satu nama yang tak terganti." gumamnya pelan, dan aku masih bisa mendengarnya.
Dia punya pacar? Atau mungkin baru putus? Makanya dia bilang tak terganti.
Entahlah...
Aku yang jomblo ini tak peduli. Jomblo? Tapi aku sudah berhasil menjemput anak gadis orang dan membawanya dinner. Hahaha.
Jalanku mulus karena Rion. Dia memang sudah meminta izin orang tuanya. Rion berkata jujur bahwa ini permintaan kakakku yang tengah hamil muda. Dan orang tua Tiara mengizinkannya pergi denganku.
"Tolong jaga dia selama kamu membawanya." Hanya itu pesan ayah Tiara saat aku menunggunya di teras rumah tadi.
Aku berdebar kala itu, bingung harus menjawab apa. Aku bukan pria yang mengajak putrinya berkencan. Aku hanya mendapat perintah dari abang ipar, yang sialnya adalah sahabatku itu untuk membawa Tiara makan malam bersama kakakku.
"Insya Allah, pak." Jawabku yakin.
Beginikah rasanya membawa anak gadis orang berkencan? Mengapa berhasil membuatku berdebar? Ck! Maklum Nath, ini pengalaman pertamamu.
"Udah bang?" Tanya Tiara membuyarkan lamunanku.
Aku menatapnya sekilas. "Mendung!" Tunjuknya pada langit yang mulai gelap dari jendela.
Benar, sudah gelap. Bahkan kilat mulai menghiasi langit.
"Kita pulang sekarang." Aku segera bangkit dari kursi.
"Mau bawa apa untuk keluarga kamu?" Tanyaku sebelum melangkah.
Tiara diam, sepertinya ia sedang berfikir. "Beli di jalan aja."
Kami keluar dari resto setelah membayar. Aku membukakan pintu mobil untuk Tiara dan segera berjalan setengah memutari mobil. Aku duduk di kursi kemudi. Mobil meninggalkan tempat itu bersamaan dengan turunnya hujan.
"Astagfirullah!" Teriak Tiara saat kilat menyambar sambil menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan.
Begitu berulang kali sampai konsentrasiku mengemudi menjadi terganggu karena aku selalu terkejut tiap kali dia beristigfar.
Tepat saat lampu merah, aku membuka sweaterku menyisakan kaos putih yang ku pakai.
"Kamu mau apa, bang?" Tiara beringsut ke sudut kursi mobil.
Aku menautkan alisku. Aku mau apa? Kenapa wajahnya ketakutan begitu? Oh, dia mikir aku mau macem-macemin dia. Hahahah... jauh banget mikirnya.
Aku meleparkan sweaterku sampai menutup kepalanya. Dia terlihat kesal dan langsung mengambil sweater itu agar tak menutupi wajahnya.
"Pakai buat nutup wajah dan mata kamu."
"Lebih baik tidur, dari pada ganggu konsentrasiku."
__ADS_1
Aku kembali melajukan mobil karena lampu sudah berwarna hijau.
"Nanti mampir ke toko kue ya, bang. Yang ada di jalan X."
"Beli cake aja untuk ayah, ibu sama Naura."
Aku mengangguk. Dan Tiara langsung menutup wajahnya dengan sweaterku.
Dia tidak merasa jijik. Mungkin dia terpaksa.
Setelah lima belas menit, aku memarkirkan mobil di depan toko kue yang masih buka. Cukup ramai yang mampir, mungkin karena cuacanya mendukung untuk menikmati secangkir teh dan sepotong kue.
Tiara tak bergerak sedikitpun. Aku mengguncangkan bahunya. "Tiara, bangun! Kamu tidur? Kita udah sampai di toko kue nih."
Tiara malah semakin menaikkan sweaterku dan menutup wajahnya.
"Jangan ganggu, Ga!" Gumamnya pelan tapi aku masih mendengarnya.
Ga?
"Tiara!" Aku kembali mengguncang bahunya.
"Parfum kamu bikin nyaman, Ga! Aku mau tidur lagi!" Tiara tak bergerak sedikitpun.
Dia menyebut nama pria lain dan dia nyaman dengan aroma parfumku? Parfum itu memag masih baru ku pakai dan aku tipe pria yang suka mengganti parfum.
Aku menarik sweater yang menutupi wajahnya.
"Reyga! Kamu usil banget sih!" Dia menegakkan duduk dan matanya perlahan terbuka.
Wajah kesalnya sirna dalam sekejap dan mengubah wajah itu menjadi tak berekspresi.
Dia terkejut menatapku yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya.
"Bang...!"
"Maaf. Aku ketiduran."
Siapa Reyga?
Apa dia begitu penting hingga Tiara yang baru terlelap langsung menyebut namanya?
Apa Reyga pacarnya?
Mengapa Tiara begitu menikmati aroma parfum itu?
Apa parfumku dan pria bernama Reyga sama?
"Kita sudah sampai?" Tanyanya kemudian dan ia menatap sekeliling.
"Iya. Kamu malah tidur." Aku gak kesal.
Aku segera turun dan berlari ke dalam toko. Untung saja hujan tak terlalu deras. Tiara juga ikut turun.
Aroma manis cake menyeruak dalam indera penciumanku. Aku berdiri di depan etalase dan mulai memilih cake mana yang akan ku bawa pulang. Tiara sudah memilih dua jenis cake.
"Cuma itu?" Tanyaku. Kak Bi memberiku uang yang lumayan banyak, bisalah untuk membeli 5-6 varian.
"Iya. Ini aja bang."
Kami kembali ke mobil setelah membayar. "Kenapa gak beli makanan lain?"
"Ini aja. Bisa di simpan soalnya."
"Jam segini, orang di rumah udah pada makan bang. Sayang gak dimakan kalau beli bakso atau makanan lain. Lagi pula ayah kurang suka jika di makanan panaskan lagi."
Aku manggut-manggut doang.
"Kamu gak nolak Rion pas dia ngajak kamu makan malam?"
Dia senyum dan menggeleng.
"Bahkan saat tau aku yang jemput?"
__ADS_1
Dia mengangguk.
Kenapa dia kalem banget malam ini? Apa karena dia mengigau dan menyebut nama Reyga tadi?
Aku melajukan mobil ke arah rumahnya. Tapi fikiranku malah melayang, berputar-putar pada satu nama yang Tiara sebut.
"Siapa Reyga!"
Oopss! Kenapa aku bertanya seperti itu?
Tiara menatapku, aku bisa melihatnya dari ekor mataku. Sementara aku tak berani menatapnya.
Dia diam dan tak menjawab pertanyaanku. Aku menghela nafas. Mungkin pertanyaanku yang terlontar begitu saja itu terlalu jauh dan tak pantas untuk dipertanyakan.
"Dia sahabatku, motivasiku, dan sempat menjadi tujuan hidupku." ucapnya pelan.
Aku menatapnya saat mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Katanya sempat? Berarti sekarang bukan lagi menjadi tujuan hidupnya?
"Tapi sekarang tidak lagi."
Tiara menyeka air mata di sudut matanya. Kenapa dia menangis?
"Kenapa?"
"Harapan kami, mimpi kami, tujuan hidup kami, semuanya. Hilang bersama hembusan nafas terakhirnya."
Tiara keluar dari mobil menyisakan aku yang mematung di dalam dengan mata yang terus menatap Tiara berjalan hingga ke teras.
Ayahnya menunggu di luar, dan aku segera tersadar. Aku meraih cake yang kami beli di kursi belakang dan segera keluar dari mobil.
"Assalamualaikum, pak."
"Waalaikum salam. Masuk dulu, nak. Hujannya makin deras."
Aku bingung harus bagaimana. Setelah berfikir sebentar, akhirnya aku ikut masuk ke dalam.
Tiara langsung masuk ke kamarnya, dan ibunya langsung ke dapur dan kembali dengan nampan berisi dua gelas teh panas
"Gak perlu repot-repot, bu."
"Gak apa-apa, nak."
Tiara keluar dari kamarnya dan dia sudah berganti pakaian. Dia memakai piyama tidur berlengan panjang seperti yang biasa kak Bi pakai.
"Belum pulang, bang?" tanyanya sambil mendudukan diri di kursi.
"Ayah yang suruh mampir."
"Oh!" Dia cuek banget.
"Naura mana, Bu?" Ya, aku memang tidak melihat gadis kecil itu. Ini belum jam 10 malam. Masa iya dia sudah tidur.
"Dia di kamar ibu."
Tiara langsung berjalan menuju kamar ke dua. "Ra, tidur sama kakak, ya." Aku masih mendengar suaranya karena pintu kamar tidak ia tutup kembali.
"Gak mau!"
"Ayolah! Kakak takut tidur sendiri kalau hujan begini, dek." Dia merengek.
Aku hampir tertawa. Dia semanja itu? Bahkan dengan adiknya.
"Tiara memang begitu. Dia takut tidur sendiri kalau sedang hujan begini. Apalagi dengar suara petir dan ditambah lagi mati listrik."
"Dia bisa lari ke kamar sebelah, tidur berempat dengan kami." Ayah Tiara membuatku mengulum senyum.
Ku pikir dia gadis sangar dan jutek yang tidak takut apapun. Ternyata dugaanku salah. Dia tetap wanita yang punya kelemahan.
***
Jejaknya kak 😊
__ADS_1