
Bintang
Hari terus berganti, dan tanda-tanda kehamilan belum muncul. Tanda-tanda akan datang bulan juga belum muncul.
Entahlah, mungkin memang terlambat mengingat aktivitas kami yang lumayan padat.
Hari libur, aku, Rion, Zoya dan Ezra ada disini, di rumah mama dan papa. Kami sengaja berkumpul, tidak ada acara apapun, hanya ingin berkunjung.
"Zoya, hasil dari Bali belum muncul nih?" tanyaku padanya. Saat ini kami sedang di gazebo bertiga dengan mama. Rion, Ezra dan papa, Nath dan Nair sedang berenang.
Zoya mengangkat bahu. "Gak tau, Bi. Pasrah aja, tapi lebih banyak berharapnya. Aku lihat Ezra, kok dia kelihatan banget pengen segera punya anak."
"Kalian harusnya tanggal segini udah datang bulan kan?" Tanya mama yang selalu tahu jadwal tamu bulanan kami, karena kami biasanya datang bulan hampir bersamaan dan absen dari sholat berjamaah.
"Harusnya Zoy tiga hari lalu, ma." Ucap Zoy yang sedang meningkuk di bantal yang memang mama sediakan disini.
"Bisa aja sudah positif loh, Zoy." Ucap mama dengan raut bahagia.
"Nanti aja deh ma. Soalnya Zoy ngerasa perut Zoy mulai kram dari kemarin. Terus dada Zoy kayak bengkak, ma. Kayak mau datang bulan. Mungkin memang terlambat karena Zoy kecapekan, ma."
"Bisa jadi sih, Zoy." Ucapku yang sedari tadi tak berhenti memasukkan camilan telur gabus keju buatan mama. "Aku juga sering telat kalau lagi stres sama kecapek'an."
"Kamu makan terus, Bi." Protes mama.
"Iya ma, Bi makan terus dari beberapa hari lalu, tiap hari mampir ke minimarket beli camilan." Sahut Rion yang sudah menepi dan duduk di pinggir kolam.
"Hehehe... masa pertumbuhan sayang." Aku nyengir pada suamiku yang malah tertawa mendengan jawabanku.
Dan mama menatapku terus. "Kenapa ma?" tanyaku.
"Ehmm, dulu pas hamil kamu mama juga gitu, Bi. Makan terus."
"Maaa." Rengekku, mama selalu mengaitkan dengan kehamilan. Membuat kami semakin berharap sekaligus takut kecewa jika nyatanya tidak hamil.
Drrtt... Drttt...
"Zoy, hp kamu bergetar tuh!" Tunjukku pada hp Zoya yang di letakkan di sebelah hp Ezra.
Zoya duduk dan meraihnya. "Alina?"
"Hallo Al..." Sapa Zoya. Tapi Zoya langsung diam seribu bahasa. Mungkin Alina membicarakan hal yang serius.
"Astagfirullah... Iya... iya... aku kesana sekarang."
"Zraaa!!" Teriak Zoya dan langsung bangkit dari duduknya. Tapi tubuh Zoya limbung. Untung saja aku dan mama berhasil memegangi tubuhnya agar tak tumbang.
"Zoy... kenapa Nak?" tanya mama saat Zoya bisa berdiri tegak.
"Zoyaa! Kenapa sayang?" Ezra berlari sebisanya.
"Dapur resto di jalan X kebakaran, ma." Zoya menangis.
"Astagfirullah."
"Zra! Cepat ganti pakaian kamu, kita kesana."
Ezra segera berlari ke dalam untuk berganti pakaian.
"Mang! Siap kan mobil!" Teriak papa pada mang Joko. Kami membaaa Zoya ke depan, menuju mobil sambil menunggu semua pria selesai berganti pakaian.
"Jadi bagaimana keadaan disana, Zoy?"
"Belum tau, Bi. Alina gak jelasin secara detail. Api sudah padam tapi gak tau separah apa."
__ADS_1
Lima menit, Ezra sudah turun dari kamar.
"Ma, Bi. Pergi dulu!" Mereka diatar mang Joko.
"Mama papa nanti nyusul kesana, Zoy. Bawa mobil Ezra."
"Zra, tenangkan Zoy ya!" Pesan mama pada Ezra. Yang duduk di belakang bersama Zoya.
***
Zoya
Aku tiba di resto dan alhamdulillah tidak ada yang terlalu serius. Tapi salah satu koki mengalami luka bakar di lengan atasnya. Sekarang, sudah di rumah sakit. Alina sudah mengurus segalanya.
"Zoy. Kamu pucat banget sayang." Ezra duduk di sebelahku yang masih melihat beberapa orang bekerja mengatasi kekacauan ini.
"Iya, Zoy. Kamu sakit nak?"
"Kepalaku pusing, ma. Efek panik nih kayaknya."
Ezra selalu di sampingku. Dia dan papa membantuku mengurus segalanya. Aku hanya duduk dan sesekali memegang perutku yang terasa kram.
"Kita ke dokter." Ucap Ezra saat kami tiba di rumah sakit untuk menjenguk karyawanku. Kami sudah bertukar mobil dengan papa.
Papa masih disana, mengurus sisanya termasuk keputusan untuk meliburkan karyawan.
"Gak perlu Zra." Aku menolak. Aku malas sekali jika harus minum obat. Lagi pula aku tidak sakit.
"Al, bagaimana keadannya?" Tanyaku pada Alina yang sedang menunggu di luar ruangan.
"Tenang, Zoy! Semua sudah di tangani. Dokter sudah mengobatinya, dan tidak terlalu parah. Hanya luka bakar di lengan. Keluarganya juga sudah di dalam."
Huuuft...! "Alhamdulillah, Al."
"Kamu mau masuk?"
Istrinya menyambutku dengan ramah. "Maaf jadi begini, mbak." Ucapku penuh sesal.
Aku memang mengenal istrinya karena mas Slamet termasuk karyawan senior. Ia sudah bekerja sejak jaman papa yang mengelolah Arumi resto.
"Namanya musibah, Bu. Kita tidak tahu datangnya kapan."
"Kenapa bisa begini, mas?" Tanyaku pada mas Slamet.
"Saya juga tidak tahu pastinya, Bu. Tiba-tiba saja kompor terbakar. Untung saja kita sempat padamkan pakai tabung pemadam yang ada di dapur."
"Terima kasih, mas sudah melakukan yang terbaik."
Aku keluar dan segera pulang, karena bau rumah sakit membuat kepalaku makin pusing. Aku meminta Alina mengurus semuanya termasuk biaya rumah sakit dan uang tambahan pengobatan untuk mas Slamet.
Aku sedang di mobil bersama Ezra. "Zoy... kamu sakit sayang." Ezra menyentuh pipiku.
"Gak panas."
"Enggak sayang..." Aku meyakinkannya.
"Jangan-jangan kamu hamil..." Dugaan Ezra yang membuat jantungku berdetak tak karuan. Hatiku terasa nyeri saat Ezra menebak penuh harap.
Aku menggeleng pelan. "Aku mau datang bulan, Zra. Udah keluar sedikit."
Saat di resto aku sempat ke kamar mandi dan mendapati flek di pakaian dalamku. Aku lemas, dan harapanku gugur seketika.
Tapi bukankan kami masih punya bulan depan, bulan depan lagi dan aku akan setia menunggu sampai Allah mempercayakan sesosok malaikat kecil hadir di tengah-tengah kami.
__ADS_1
Ezra langsung diam dan tidak berkata apapun lagi. "Zraa..." Aku tahu dia kecewa. "Are you okey?" tanyaku.
"Ehmm.. Ya... Aku baik-baik aja sayang." Ezra mengelus kepalaku.
"Kamu kecewa?"
Ezra menggeleng, "Kamu jangan sedih ya. Aku gak apa-apa. Aku justru mikirin kamu."
"Terima kasih, Zra. Aku berharap. Tapi kita bisa apa jika Allah yang punya kehendak."
Ezra melajukan mobil dengan kecepatan sedang, aku menyandarkan kepalaku dan terasa semakin pusing.
"Pusing banget, Zoy?" Tanya Ezra yang melihatku terus memijat keningku.
Aku bahkan berkali-kali menggosokkan minyak angin di kening dan tengkukku.
"Makin pusing, Zra..."
"Kamu tidur aja, ya..."
Sampai di rumah, Ezra langsung menuntunku hingga ke kamar. Ezra juga membuatkan teh hangat untuk ku minum.
"Aku pijetin ya..." Tawarnya.
Aku mengangguk. "Masuk angin nih kayaknya, Zra. Perut aku rasanya penuh banget."
Aku mengganti gamisku dengan daster agar lebih mudah untuk Ezra memijat.
Dan benar saja, aku langsung bangkit dan berlari ke dapur. Aku memuntahkan isi perutku di kamar mandi.
Ezra terus memijat tengkukku.
"Zoy... kamu kayak orang hamil ini loh." Ucapnya saat Ezra mendudukkanku di sofa.
"Orang... masuk angin juga begini, Zra." Ucapku lemas. Aku tetap yakin hanya masuk angin karena aku sedang datang bulan.
Ezra tertawa melihatku yang berbicara seperti orang mabuk. "Kita pesan makan aja ya... kamu gak usah masak."
"Pindang kakap, Zra." Ucapku begitu saja saat Ezra bilang akan memesan makan malam kami.
"Pindang kakap?" Ulangnya.
"Iya... kayaknya enak asam segar gitu." Liurku hampir menetes.
"Ya udah, kita pesan sekarang ya. Supaya habis magrib bisa langsung kita makan."
Selesai sholat magrib, Ezra membawaku ke meja makan dan sudah tersaji pindang kakap serta beberapa menu lainnya, seperti seblak dan ayam bakar madu serta lalapan. Pusingku hilang seketika berganti dengan ***** makan yang meledak-ledak.
Aku makan dengan lahap. Ezra sampai menatapku tanpa berkedip.
"Zoy, kamu gak lagi habis kerja rodi kan?" Tanyanya.
"Ck!" Aku menatapnya kesal. "Aku budak yang terus kamu jajah, Zra."
"Jadi jangan pelit kasih makan aku yang lahannya selalu kamu garap." Aku kembali menyuapkan makanan ke mulutku.
Ezra tertawa. "Jangan mancing, Zoy. Aku libur seminggu nih, lahan aku kebajiran."
Aku menahan tawaku. "Uuhh! Kacian! Entar pemilik lahan yang kasih servis deh."
Matanya membulat.
"Kalau gak pusing lagi yaaa..." Aku nyengir.
__ADS_1
"Ditunggu yaa..."
****