
Ezra
"Zra... Zra... bangun!" Sayup aku mendengar suara Zoya dan aku juga merasa tubuhku terguncang.
Perlahan aku membuka mataku dan tampak Zoya yang duduk di sebelahku. Aku menatap jam dinding, masih jam 11 malam.
"Ada apa?" Tanyaku menatapnya dari dekat. Zoya menangis?
"Heii, ada apa sayang!" Aku duduk di sebelahnya.
"Zraaaaa!" Zoya menjerit seperti orang kesurupan.
"Zoya... ada apa?" Aku panik menepuk pipinya.
Zoya menyibak selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya.
"Astagfirullahal'adzim." Aku terkejut setengah mati melihat darah di celananya. Celana tidur panjang berwarna putih itu terlihat bercak darah di luarnya.
"Zoya! Ini... ini kenapa sayang." Aku berlutut di depannya.
Zoya menggeleng dengan air mata yang mengalir deras. "Aku... aku gak tau Zra."
"Aku gak merasakan sakit. Aku cuma risih karena terasa lembab. Dan saat bangun aku melihat semua sudah seperti ini?" Jawabnya ditengah isak tangis.
"Kita ke rumah sakit." Aku langsung turun dari tempat tidur, mengambil ransel dan membawa pakaian ganti untuk Zoya. Aku juga tak lupa memasukkan dompetku.
Oke Zra! Jangan panik! Kasihan Zoya!
Dia tampak kacau. Aku memakaikan jilbab instan dan melilit tubuhnya dengan selimut. Aku keluar kamar untuk membuka pintu dan menyiapkan mobil.
Aku kembali ke kamar dengan Zoya yang sudah sangat lemah dan pucat. Dia ketakutan, itu pasti meskipun darah yang keluar tak terlalu banyak.
Aku segera menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil. Aku melaju secepat kilat menuju rumah sakit.
Aku harus bagaimana? Aku harus berbuat apa? Ya Allah, lindungi istri dan janinnya.
Mama!
Aku segera mencari ponselku dan menghubungi mama.
"Jangan panik, Zra. Aku gak apa-apa kok." Gumam Zoya pelan saat melihatku terburu-buru mengambil ponsel dari kantong celanaku.
Dering ke tiga, panggilanku dijawab.
"Assalamualaikum, Zra."
"Waalaikum salam, Ma. Ma, Ezra minta tolong segera ke rumah sakit ya ma. Zoya perdarahan ma. Aku gak tau harus bagaimana?"
"Astagfirullah... Iya Zra... Iya... mama kesana sekarang nak."
Panggilan langsung ditutup. Aku menatap sekilas pada Zoya yang terpejam dengan air mata yang terus menetes. Tangannya tak henti mengelus perutnya.
"Zoya... sabar ya sayang."
Doaku dalam hati tak pernah putus. Jika janinnya tidak bisa diselamatkan, Ya Allah, setidaknya lindungi istriku.
Aku memang tak tahu pasti, ini hanya perdarahan atau sudah termasuk keguguran. Aku tidak ingin memeriksanya tadi, karena aku tidak sanggup menerima kenyataan terburuk.
Aku masih ingat pemeriksaan dua minggu lalu saat dokter memberitahu kami bagaimana suara detak jantung janin dalam kandungan Zoya. Aku sampai meneteskan air mata, mendengar satu keajaiban di dalam rahim istriku.
__ADS_1
Dan sekarang, apa aku siap kehilangannya? Apa aku siap kehilangan kebahagian yang baru saja hadir. Ya Allah, apa kami harus kehilangan anugrah-Mu yang bahkan belum melihat dunia itu?
Aku tiba di rumah sakit dan Zoya langsung di tangani oleh dokter. Tak berselang lama, mama dan papa datang.
"Zra!"
"Pa...!" Papa langsung memelukku. Bahuku bergetar hebat. Aku lemah saat ini. Aku berada di titik terendah. Istri dan calon anakku sedang berjuang di dalam sana. Jika rasa sakitnya bisa ku gantikan, aku rela.
"Zra! Kamu yang tegar!" Mama mengelus bahuku. "Jangan hancur di depan Zoya, nak. Atau Zoya akan lebih hancur darimu."
"Kamu harus bisa membuatnya kuat, meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja."
Mama benar, aku tidak boleh seperti ini. Zoya membutuhkanku. Zoya butuh dukunganku. Aku tak boleh terlihat lemah begini.
Dokter keluar dari ruangan itu, "Keluarga pasien."
"Saya suaminya dok." Aku segera berjalan ke arah dokter tersebut.
"Bisa bicara sebentar."
Kami masuk dalam ruangan dokter. "Kami sudah berupaya menghentikan perdarahan."
"Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi janin dalam kandungan ibu Zoya."
"Maksudnya, janinnya belum keluar dok?" Tanyaku penasaran.
"Belum, pak. Hanya darah. Untuk itu kita perlu pemeriksaan lebih lanjut. Dan kemungkinan terburuk, yaitu kuret. Jika janin sudah tidak bisa diselamatkan."
"Astagfirullah." Mama membungkam mulutnya dengan tangan sementara air matanya mengalir deras.
Kami menunggu tim medis melakukan pemeriksaan. Kami semua ikut masuj saat dokter melakukan USG pada kandungan Zoya.
Alhamdulillah, kami menghembuskan nafas lega.
"Janin masih bergerak aktif."
Ya, aku melihat janin 12 minggu itu bergerak dalam rahim Istriku.
"Mulut rahim tidak terbuka."
"Cara terbaik untuk menjaga kandungannya adalah dengan bedrest sampai waktu yang belum pasti."
"Jangan stres, jangan kelelahan apa lagi sampai melakukan aktivitas berat."
"Saya akan resepkan obat penguat kandungan."
Aku mendengarkan setiap saran dokter. Aku rela melakukan apapun agar Zoya dan calon anak kami baik-baik saja. Zoya sudah sangat bahagia dengan adanya janin itu di rahimnya dan aku akan mengupayakan yang terbaik agar janin itu baik baik saja termasuk tidak menyentuhnya untuk sementara waktu.
Zoya sudah dipindah ke ruang perawatan. Wajah pucatnya sudah tak terlihat lagi. Zoya mulai membaik.
"Kamu hebat sayang." Aku mencium keningnya.
"Anak papa, hebat." Aku mencium perutnya. "Masih kecil sudah punya jiwa pejuang."
"Berjuang sama mama ya sayang." Zoya mengelus perutnya. "Mama akan selalu berusaha menjaga kamu."
Aku mengelus kepalanya dan tanganku yang lain menggenggam tangannya. Terima kasih ya Allah. Ini lebih dari yang ku minta.
Aku, mama dan papa tidur di rumah sakit. Mama dan papa tak ingin pulang. Keduanya ingin ada di sisi Zoya. Aku bersyukur memiliki mereka. Setidaknya aku tidak sendirian menghadapi ini.
__ADS_1
Pagi harinya.
Aku baruselesai menyuapi Zoya. Papa sudah pulang, tapi mama masih tetap disini. "Zoy...!" Bintang membuka pintu dari arah luar membuatku menoleh kearah pintu. Rion berjalan di belakangnya.
"Bi..." Zoya merentangkan tangannya. Pelukan hangat langsung Bi berikan untuknya.
"Keponakan onty hebat." Bi mengelus perut istriku.
"Sayang mama ya, nak."
"Mamanya gak boleh kerja, suruh bobok aja. Iya?" Bi berbicara sambil menatap perut Zoya. Kami tersenyum melihat tingkah Bi.
"Zra!" Aku langsung menatap Bi yang memanggil namaku.
"Hati-hati kamu!" Aku mengerutkan kening.
"Anak kamu masih di dalam perut aja udah jadi bodyguard mamanya." Bi tertawa pelan.
"Kamu gak boleh nyakiti mamanya, kamu gak boleh biarin mamanya capek, dia the best Zra!" Bi mengacungkan dua jempolnya.
"Jangan stres ya, Zoy. Anggap ini bentuk cinta baby buat kamu."
"Stop kerja! Serahkansemua sama Ezra. Anggap aja ini kayak sinyal yang dia kasih untuk kalian. Mungkin pas lahiran nanti, babynya gak mau kamu tinggal kerja."
Bi benar, kenapa aku tidak berfikir kesana, ambil saja sisi positifnya, bawa happy semua masalah yang terjadi.
"Benar, Zra! Lihat aja sisi positifnya." Sahut mama.
"Urus semua pekerjaannya dan biarkan Zoya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."
"Iya ma. Ezra akan melakukan yang terbaik."
"Zra...!" Suara Zoya membuatku menatapnya.
"Ya..." Aku mengelus kepalanya.
"Kalau kamu sibuk, dan sering pulang malam. Boleh gak Tiara tidur di rumah? Menemani aku."
Aku berfikir sejenak, asisten rumah tangga akan pulang setelah jam 5 sore. Dan Tiara pulang dari rumah baca sekitar jam 5 sore juga. Malamnya, Tiara bisa menemani Zoya terlebih saat aku pulang malam.
Aku mengangguk. "Boleh sayang. Aku akan izin ayah sama ibunya ya."
Dan sepertinya semua orang juga setuju, Tiara bukan orang lain bagiku, dia seperti adikku sendiri. Zoya dan Tiara juga saling mengenal.
***
Hai semuanya...
Sebelum akhir bulan, novel ini akan aku tamatin.
Dan awal bulan nanti aku akan buat cerita baru dengan judul baru pula.
Aku punya beberapa judul yg belum sempurna sih, masih kerangka. Salah satunya adalah kisah babang Nath 😁
Atau aku akan jalan 2 judul tp slow up 😂 Aku mau lihat sikon dulu. Karena biasanya akhir tahun ada banyak hajatan 😂 dan aku ada di sana nyomotin daging 😂
Sekian dr emak Adara 😊
Jejaknya di tinggal ya 😉
__ADS_1