
Zoya
Aku dan Bi saling diam setelah Bi mengatakan akan berserah diri pada Allah. Berharap Allah mempertemukan mereka pada waktu dan di tempat yang tepat.
Bintang benar, selama kita berada di jalan kebenaran maka Allah pasti berikan kebaikan pada kita.
Ezra, satu nama yang masih melekat di hati hingga kini.
Setelah mengatakan pada mama papa bahwa Ezra akan melamarku, aku terus berdoa meminta petunjuk pada Allah.
"Ya Allah, beri clue sekecil apapun itu jika memang aku dan Ezra berjodoh." Itu doa yang selalu terucap tiap kali aku selesai sholat.
Hanya ketenangan yang ku dapat. Tidak ada petunjuk apapun. Aku yakin, mungkin ini belum saatnya. Atau Ezra bukan jodohku.
Aku merasa nyaman setiap di dekatnya. Aku merasa aku menyukainya. Tapi kenapa aku ragu untuk melangkah bersamanya. Hingga pada malam itu ku beranikan diri mengatakan padanya.
"Zra," Gumamku pelan di sebelahnya yang sedang mengemudi.
"Ya, ada apa Zoy?" Tanyanya menatapku sekilas.
"Ehm..." Aku agak ragu.
"Aku mau... bahas soal perasaanmu dan niatmu... melamarku." Ucapku pelan.
Ezra tersenyum. "Kalau gak nyaman, gak usah di bahas Zoy!"
"Tapi harus, Zra!"
Ezra mengangguk.
Aku menghela nafas berat. "Maaf Zra, aku belum bisa menerimamu."
"Belum?" Ezra mengangkat sebelah alisnya. "Berarti masih ada kesempatan untuk jawaban iya?" Tanyanya kemudian dengan senyuman kecil.
Entahlah.
Aku mengangkat bahu. "Aku belum yakin dengan hatiku, Zra."
"Belum yakin atau belum berani menuju ke sesuatu yang halal?" Mungkin maksudnya pernikahan.
Aku diam dan menatap lurus kedepan. Dia benar, kenapa aku takut mendekati pada kebaikan. Bukankah pernikahan adalah hal kebaikan dan merupakan ibadah terlama yang akan di jalani sepanjang hidup kita?
"Maaf Zra." Hanya itu yang terucap dari bibirnya.
Dan aku mengatakan pada mama dan papa bahwa aku belum siap.
Papa terpaksa menghentikan Ezra dari pekerjaannya sekarang. Karena akan sangat tidak baik jika kami sering pergi bersama dengan Ezra yang memiliki perasaan padaku.
"Pakai uang ini untuk mengembangkan usaha, Zra." Papa memberikan amplop tebal berwarna coklat. Aku yakin uang di dalamnya sangat banyak.
"Maaf kamu harus berhenti menjadi sopirnya Zoya."
"Semoga kamu faham dengan posisi, Om." Ucap papa penuh sesal.
Ezra adalah pria yang baik. Dia bekerja dengan sangat baik. Bahkan dia bersedia waktu liburnya digunakan hanya untuk mengantarku kemanapun aku mau.
Ezra mengangguk. "Tapi maaf om, saya tidak bisa menerima ini." Ezra menolak pemberian papa.
"Kamu bisa kembalikan jika usahamu sudah mendapatkan keuntungan, Zra." Papa coba memaksanya.
"Saya sudah punya usaha sendiri, Om. Saya bekerja disini karena Zoya." Ucapan Ezra berhasil membuat mataku membulat.
__ADS_1
"Saya yang merasa selalu ingin ada disampingnya." Ezra mengakuinya.
"Tapi Zoya sedang berusaha menjadi wanita yang lebih baik." ucap papa kemudian.
"Tidak masalah, om."
"Zoya mengatakan dia belum bisa menerimaku." Ezra menatapku. "Zoy, jika kamu sudah yakin. Tolong beritahu aku."
"Aku akan datang." Ucap Ezra.
"Aku akan datang dengan perasaan yang sama, Insya Allah."
Aku terenyuh dengan ucapannya.
"Fokus pada dirimu sendiri, Zoy. Nikmati hidupmu karena selama ini aku melihatmu terlalu bekerja keras. Kamu terlalu menjadikan pekerjaanmu sebagai prioritas utama."
Ezra benar. Aku merasa Arumi Resto adalah amanah yang ku junjung terlalu tinggi. Hingga aku meletakkannya di posisi teratas dalam hidupku.
Menjalankan Arumi Resto adalah wujud cintaku pada almarhumah mama, opa dan oma.
"Semoga kamu bahagia, Zoy."
"Permisi om, tante. Assalamualaikum." Ezra pamit pada mama papa.
Aku merasah bahuku di gucang. "Ngelamun Zoy!!" Ucap Bi sambil meniup wajahku.
"Eh! Bikin kaget aja." Ucapku yang terkejut karena ulah Bi.
"Kenapa? Udah kangen sama Ezra? Udah yakin sama dia?" goda Bi.
Aku mencebikkan bibir. "Dia makin ganteng tauuuuu." Bibirku maju lima inci.
"Nyesel nih?" Godanya lagi.
Aku mengangguk lemah.
Aku mengangguk lagi.
Bi terbahak. "Hahahahah... mmmmpppp." Aku segera menutup mulutnya.
"Mama papa masih tidur!" ucapku kemudian.
Bintang mengambil ponsel dan membuka media sosialnya.
Dia mencari akun Ezra, memulai di Faceb**k.
"Gilaaaaaaa!!!" Bintang langsung langsung menaikkan kakinya di sofa.
"Pesona calon lakik, lu Zoy. Bukan maeeen!!!" ucapnya agak lebay.
Aku menimpuk wajahnya dengan bantal sofa. "Gak usah lebay bisa gak, Bi!!"
"Nih... nih... lihat." Bi menunjukan layar ponselnya.
Dia geleng-geleng kepala. Karena melihat beberapa orang memposting video dan foto Ezra yang tengah membuat kebab.
Ya, Ezra membuka usaha gerai kebab sejak selesai kuliah. Awalnya di depan kampusnya dulu. Lalu merambah di beberapa tempat.
Dia menyerahkan usaha ini pada teman-temannya yang dulu sama-sama tidur di tempat kumuh. Dia berusaha mencari teman-temannya dan memberi mereka pekerjaan sementara Ezra menerima tawaran papa untuk menjadi sopirku.
Dia menceritakan semua itu padaku.
__ADS_1
Dan sejak setahun lalu dia sedang memulai merambah ke food court di beberapa Mall dengan nama EnZoy Our Kebab.
Awalnya aku speachless dengan namanya. EnZoy, bukankah itu Ezra and (n) Zoya.
"Woooh! Dia benar-benar membuktikan cintanya meski berawal dari gerobak kebab." Ucap Bi kala itu saat Bi juga menyadari arti nama EnZoy.
Aku meletakkan ponselnya di meja. "Gak usah di lihat, Bi."
"Kenapa Zoy?"
"Kamu lihat dia, dia bahagia Bi menjadi pusat perhatian." Ucapku kesal.
"Makanya datang di hadapannya. Terus bilang lamar adeek bang!" Ucap Bi makin menjadi.
Aku menggelitik perutnya. "Kamu setahun di London bukannya jago bahasa Inggris malah pakai bahasa ala emak-emak komplek."
"Ammpuuun Hahah.. Ampun Zoy... Ampuun." Hahah dia memang paling tak tahan digelitik begini.
****
Lintang
Aku menghela nafas berat di balik pintu kamar Bi. Tadinya aku akan keluar untuk berbagi cerita dengan Bi. Tapi aku terpaku mendengar keduanya bercerita.
Aku mendengar semua perkataan Bi dan Zoya. Aku mendengar bagaimana Bi dan Zoya mengakui perasaan mereka.
Sebenarnya moment seperti ini yang selalu di rindukan Zoya. Dia benar-benar kehilangan Bi selama setahun ini. Zoy lebih banyak bekerja dan belajar memperdalam ilmu agamanya.
Fokusnya hanya dua, Pekerjaan dan dirinya sendiri.
Zoya bisa saja menyusul Bi. Tapi Arumi Resto benar-benar tak bisa ditinggal. Di tambah tanpa adanya Ezra ternyata juga sangat berpengaruh.
"Terasa banget gak ada Ezra, tan."
"Biasanya soal makan, urusan tranportasi sama hal-hal kecil lainnya Ezra yang urus, tan. Aku cuma urus pekerjaan."
"Dan sekarang aku jadi kerepotan sendiri." Keluhnya Alina, asisten Zoya padaku.
Nath dan Nair mengelus bahuku. Aku menoleh dan keduanya memelukku. Keduanya sedari tadi juga mendengar pembicaraan kakak mereka.
"Cepat atau lambat kak Bi akan tahu, ma." Ucap Nath padaku.
Aku mengangguk lemah.
Mas Akhtar bangun dan duduk di atas tempat tidur. "Kenapa pada tegang?" tanyanya pada kami.
Aku menghela nafas, tidur saja lagi, mas!
****
Aku up lagi nih 😁
Malam minggu jangan di tunggu up lgi😁
Aku mau nyari Rion. Aku lupa siapa yg Sewa dia 😅
Soalnya minggu pagi dia Harus udah nongol 😉
Demi kalian semuaaa.
Ah, ai lop yu epribadiiih 😚 selamat malam mingguan.
__ADS_1
Doakan, bang Rion ketemu ya. 😄
Jejak di tinggal, Yes.