
Orion
"Alhamdulillah..." ucapku dan kak Bi bersamaan saat taxi berhenti tepat di depan rumah mami. Kami tiba sekitar jam 11 siang.
"Ayo, kak."
Kami segera turun. Aku dan supir taxi mengeluarkan beberapa barang bawaan kami. 3 koper untuk pakaian dan oleh-oleh.
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama mas."
Kami masuk kedalam. "Mas Rion sudah pulang." Tanya bibi yang menyambut kami.
"Iya bik. Pada gak di rumah semua, Bik?"
"Iya mas. Seperti biasanya."
Aku menggut-manggut. "Kami ke atas dulu ya, Bik."
"Iya... kalau perlu apa-apa panggil aja mas, mbak."
Kami masuk ke dalam kamar. Aku langsung menghempaskan tubuhku ke ranjang.
"Langsung mandi, Yon!" perintah kak Bi padaku.
"Masih capek kak." Aku menutup mataku. Selama perjalanan aku tidak bisa tidur, entah mengapa. Mungkin aku belum rela kebersamaan kami yang tak terganggu oleh siapapun itu berakhir.
"Ya udah, aku mandi duluan."
Kak Bi mengambil handuk baru di lemari dan aku segera bangun.
"Barengan!"
Kak Bi mendengus kesal, tapi dia tak menolak sedikit pun. Selama liburan, aktivitas mandi bersama selalu kami lakukan dengan atau tanpa aktivitas tambahan. You know lah...
Selesai mandi kak Bi duduk bersila di lantai. Membuka satu persatu koper kami. Memisahkan pakaian bersih dan kotor.
Kak Bi juga membuka koper berisi oleh-oleh. Membaginya kedalam plastik bag.
Tok... tok... tok...
Aku membuka pintu. "Ada apa Chi?"
Chiara mengitip kedalam dengan memanjangkan lehernya.
"Kak Bi mana bang?"
"Masuk, Chiaaa..." Teriak kak Bi saat mendengar suara adikku.
Chiara tersenyum senang. "Permisi dong, adik ipar mau ketemu kakak ipar tercantik nih."
Chiara menerobos masuk. "Kalau bukan adikku udah ku usir." gumamku pelan.
"Aduin nih ke papi." Ancamnya. "Aku dengar loh abang ngomong apa."
Aku mendengus. Dan kembali mendaratkan tubuhku di ranjang, aku tidur tengkurap dengan guling yang menjadi tumpuan daguku. Aku lebih memilih memainkan game di ponselku sambil melihat dua gadis yang sangat dekat denganku.
Gadis? Astaga! Yang satu lagi sudah tidak gadis, karena siapa coba? Hahahaha...
Yeah Ulahku.
"Kenapa dipisah-pisahin, Kak?" Tanya Chiara yang melihat kak Bi yang menyususun beberapa plastic bag di lantai.
"Karena mau kakak bagikan sama saudara dan teman-teman kakak."
Aku mendengarkan percakapan mereka. Chiara ikut duduk di lantai bersama kak Bi.
"Kamu mau yang mana Chia? Ambil aja!" Kak Bi menunjuk banyak oleh-oleh di koper kami.
"Boleh, kak?"
Aku meletakkan ponselku, dan lebih tertarik melihat keduanya.
__ADS_1
"Kamu ini apaan sih Chia... Ya boleh dong! Ambil, kamu mau yang mana!"
Chia mengambil beberapa jenis oleh-oleh, kecuali makanan. Dia lebih suka benda-benda seperti boneka dan pernak-pernik.
"Ambil terooosss!! pakai karung sekalian!" Sindirku pada Chiara.
Kak Bi terkekeh, karena Chiara menatapku tajam dengan tangan dan dadanya yang mengapit barang-barang pilihannya.
"Rioon!" Kak Bi tertawa.
"Kaaaak!!!" Rengek Chia pada istriku.
"Ambil Chia. Gak apa-apa! Semuaaaaa ini dibeli pakai uang kakak!"
Mataku membulat! Uang kakak?
"Kak!" Aku akan protes.
"No protes-protes, Yon!"
"Ya... tapi kan uang...." Aku tak sanggup melanjutkannya. Uang itu memang uangku dan aku ikhlas kok memberikannya kepada kak Bi. Aku diam karena takut kak Bi marah dan tersinggung.
"Uang itu kan udah kamu kasih sayang, ya jadi uang kakak dong!"
"Iya kak... Aku gak bermaksud." Aku jadi gak enak hati.
"Kaak..." Chia sepertinya merasakan ketegangan terjadi diantara kami.
"Gak apa-apa sayang." Kak Bi mengelus lengan Chiara.
"Chia balik ke kamar dulu kak. Makasih oleh-olehnya." Ucapnya mencium pipi kak Bi.
"Sama-sama sayang. Sorry yaaa."
Chia tersenyum lalu mengangguk. Chia keluar dari kamar.
Aku langsung lompat ke bawah dan memeluk kak Bi. "Kakak jangan marah, ya..."
"Aku gak bermaksud..."
"Kaaaaak..."
"Rion, kakak gak marah. Beneran." Kak Bi meyakinkanku.
Aku berdiri dan mencari dompetku. Aku membongkar isinya yang hanya ada 1 lembar uang merah gambar presiden pertama dan wakilnya. Ck! Miskin amat!
Aku menarik sebuah kartu ATM. Aku duduk di sebelah kak Bi.
"Kak, ini isinya penghasilan R cafe. Tadinya ada 2 ATM yang sekarang sudah ku gabung menjadi satu di rekening yang sama."
"Kakak pegang sebagai nafkah dariku, kak."
"Kamu?"
"Aku pegang yang dari Orbit. Mudah-mudahan cukup buat biaya kuliah dan biayaku sehari-hari."
Kak Bi mengembalikan kartu ATM itu. "Kirim aja tiap bulannya ke rekeningku, Yon." Pintanya.
"Kak, aku mau kakak ikut menyimpan dan mengelolah penghasilanku."
"Berperan sebagai istri yang ada dibalik suksesnya suami."
Kak Bi mengusak rambutku. "Kamu udah sukses bahkan sebelum menikah, sayang."
"Lagi kak."
"Kamu udah sukses bahkan sebelum menikah."
"Bukan yang itu."
Kak Bi berfikir sejenak.
"Sayang?" Ucapnya sambil memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Aku mengangguk dan mendekatkan wajahku. Aku juga memiringkan wajahku agar lebih mudah menyatukan wajah kami dengan menautkan bib*r kami.
"Panggil aku seperti itu setiap hari, Yang."
"Yang?"
"Sayang..." aku tersenyum mengecup singkat bibirnya.
Malam harinya, setelah makan malam, kami langsung berangkat ke rumah mama Lintang, mama mertuaku.
Malam ini bang Ezra dan kak Zoy juga ke sana, kami akan menginap di sana.
"Kenapa diem aja, yang?" Tanyaku pada istriku yang sejak dari rumah dan sekarang kami hampir tiba di rumah mama Lintang berdiam diri dan tidak bicara apapun.
Kami sempat membahas rencana kami akan tinggal di apartemen papi, tapi ternyata kami belum bisa tinggal di sana karena sedang ditinggali oleh anak teman papi.
Jadi, papi mengusulkan untuk tinggal di salah satu rumah papi. Tapi mami meminta untuk kami menundanya hingga beberapa minggu kedapan, alasan mami cukup masuk akal menurutku.
"Bi, Rion, kalian menikah setelah Bi menstruas*, itu artinya Bi dalam masa subur setelah pernikahan."
"Mami khawatir, saat kalian sudah terlanjur pindah dan kita baru mengetahui bahwa Bi hamil. Dan biasanya ibu hamil itu mengalami morning sickness mulai dari yang ringan hingga berat."
"Kamu tidak mungkin meninggalkan Bi sendirian di rumah karena kamu harus kuliah, Yon!"
"Jadi saran mami, tinggal di sini dulu, atau di rumah mama Lintang, mami gak masalah, nak."
"Tolong mengerti, ya..."
"Mami gak ada maksud apapun, Bi."
Aku kembali menatap kak Bi yang terus diam. Bahkan saat ini mobilku sudah berhenti di depan rumah mama Lintang.
"Sayang...." Aku mengusap pipinya.
"Maafkan mami ya."
Kak Bi memegang tangaku yang masih menempel di pipinya.
"Mami benar, Sayang. Kita gak perlu buru-buru pindah."
"Terima kasih mau mengerti, Bi."
Entah terbawa suasana atau memang setan yang suka menggoda, kami malah saling menci*m di dalam mobil. Minimnya cahaya membuat keromantisan kami kian menjadi-jadi.
Tanganku bahkan sudah menyusup masuk lewat resleting depan gamis miliknya. Kami semakin terbakar tanpa mempedulikan posisi kami ada di mana.
Duggh... Dugghh...
Kaca pintu mobil di belakang kepala kak Bi digedor.
Kami langsung menghentikan aktivitas yang hampir saja memicu pertempuran di dalam mobil ini.
Kak Bi merapikan gamisnya yang sudah berantakan akibat ulahku. No, tapi ulah tanganku.
Aku membuka kaca mobil, dan terlihat pria agak tua tapi masih tampan memasang wajah tertengil yang ia punya.
"Di rumah gak sempet ciuman apa!"
"Bocah kok hobi adegan 21+. Digerbek warga baru tau rasa!"
Aku segera keluar, dan membukakan pintu untuk kak Bi.
"Minggir dong!" Ucapku pada pria itu.
"Ck!" Dia berdecak.
Kak Bi keluar dan langsung menggandeng tanganku.
"Om Langit kayak gak pernah kepergok aja!" Cibir istriku pada om kesayangannya itu.
Aku tersenyum melangkah melewati om Langit yang kini ikut berjalan di belakang kami.
"Seenggaknya pas kepergok kamu, om udah cukup umur!" Ocehan om Langit terdengar di telingaku.
__ADS_1
Oh, jadi om Langit pernah kepergok kak Bi? Apa aku boleh tertawa sekarang?