BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
96 Impian


__ADS_3

Bintang


Sore tadi adalah jadwal pertama, aku memeriksakan kehamilanku. Dengan ditemani mami, mama dan Rion, aku masuk ke dalam ruangan serba putih dimana ada layar seperti komputer di dekat brankar.


Seorang suster menanyakan beberapa pertanyaan seperti hari pertama haid terakhir dan keluhan yang ku rasakan.


"Silahkan naik ke brankar, Bu." Perintah seorang dokter berparas cantik.


Aku masih ragu dan takut, tapi Rion menuntunku dan membantuku naik ke atas brankar.


"Mi..." Aku seolah bertanya pada mami, bagaimana ini, mi?


"Gak apa-apa, Bi. Rileks aja. Ini cuma USG. Kamu bukan akan di operasi." Mami mengulum senyum di bibirnya.


Mama dan dokter cantik itu tertawa melihatku yang tampak gugup.


Aku berbaring dan suster mengoleskan entah apa di perutku. Tangan Rion sama sekali tak lepas dari tanganku. Kami saling menautkan jemari. Dia berusaha menenangkanku yang memang sangat gugup dan takut.


"Apa rasanya sayang?" Tanya Rion. "Dingin." Jawabku pelan.


Lagi-lagi dokter itu tersenyum.


"Anak pertama ya, pak."


"Iya dok."


"Kelihatan banget, bundanya gugup, ayahnya antusias, omanya kepo."


Mama dan mami tertawa. "Cucu pertama saya, dok!" Ucap mami.


"Bangga nih, nangani cucu pemilik Rumah sakit."


"Do the best ya dok." Ucap Rion.


"Pasti, pak."


Dokter meletakkan alat di perutku dan menggerak-gerakkannya.


"Usia kandungannya memasuki 7 minggu, ya Bun."


"Semuanya bagus, dedenya sehat dan masih sebesar buah cherry nih."


"Dede, say hai sama ayah-bunda sayang."


"Yang itu dok?" Tunjuk Rion pada bulatan kecil di layar.


"Iya pak."


"Kok kecil banget, mi?"


"Tangannya mana dok? Kakinya, kepalanya? Kok gak ada?" Rio tampak khawatir dan penasaran.


"Organ tubuhnya belum terbentuk sempurna, pak. Dedenya masih terlalu kecil. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kehamilan, perlahan organ tubuh akan terbentuk termasuk jenis kelaminnya baru akan diketahui di bulan ke 4 atau 5."


"Jadi, harus rajin-rajin dibuat lagi, dok? Biar lengkap?" Aku nyaris tertawa mendengar pertanyaan Rion. Aku tahu arah pertanyaannya, pasti mengenai pertempuran.


Plaak!


Mami memukul bahunya. Rion menatap mami yang berdiri di belakangnya.


"Gak kamu buat lagi sampai lahiran, anak kamu akan tetap punya anggota tubuh lengkap jika memang bayinya sehat sampai lahiran, Yon."


"Kamu bikin malu mami aja. Masa hal begitu di tanyain."


"Aku kan anak Ips mi, mana ngerti masalah perkembangan janin."

__ADS_1


"Entar mami tatar kamu di rumah. Baca semua buku mami tentang kehamilan."


"Memang penting, Mi?"


"Kamu tanya dokter aja, males mami bicara sama kamu." Mami kesal pada Rion yang melontarkan pertanyaan aneh.


"Memangnya penting, Dok?"


"Sangat penting pak."


"Agar bapak bisa jadi suami siaga. Bapak bisa memahami setiap keluhan yang dirasakan ibu. Bapak juga bisa memperkuat ikatan batin dengan dedenya loh."


"Caranya dok?"


"Hadir disampingnya setiap hari, ajak bicara, sentuh perut ibunya."


"Percaya atau tidak, kadang bayi baru lahir langsung hafal suara ayahnya loh."


Mata Rion berbinar. "Seajaib itu, mi?" Rion kembali bertanya pada mami. Dia sangat antusias.


"Iya, Rion. Peran kamu sangat pernting disini."


"Mood Bi akan berantakan di trisemester pertama ini. Dan itu dialami hampir semua ibu hamil. Mama harap kamu bisa bersabar."


"Sip ma."


Kami pulang ke rumah setelah pemeriksaan dan dokter menyarankan untuk kembali kontrol di bulan depan.


"Kamu mau makan apa sayang? Kepingin apa?" Tanya Rion saat kami hampir sampai rumah.


"Lagi gak pengen apa-apa." Aku memejamkan mataku. Entahlah belakangan ini aku jadi gila tidur begini.


"Kan biasanya ibu hamil itu ngidam, Bi? Ayo dong! Kamu ngidam apa gitu. Aku kan pengen jadi ayah siaga."


"Ck" Mami yang duduk di sebelahku berdecak. "Gak semua ibu hamil ngidam, Rion!"


"Dengerin mami tuh! Kamu harus bayak baca artikel seputar ibu hamil. Dan yang penting puasa selama 3 bulan."


"Aturan main dari mana itu." Ucapnya menolak.


"Dokter cuma bilang boleh, asal hati-hati, Bi."


"Tapi aku kan merasa gak mood dan gak fit, Yon! Iya kali kamu paksa aku." Aku cemberut.


"Jadi aku gimana?" Dia lemas, biarin aja. Hehehe.


"Kamu sayang anak istri kamu atau sayang nafs* kamu, Yon!" Mami berkata cukup tegas. "Kehamilan Bi masih terlalu muda untuk sering berhubungan suami-istri."


"Jadi beneran puasa, nih?"


"Tergantung kondisi, Ya..." Aku menutup mulutku menahan tawa. Mami juga ikut senyum-senyum.


"Kalian ngerjain aku?"


"Enggak!" Jawabku dan mami kompak.


Malam harinya, kami berkumpul di ruang keluarga. Papi fokus pada layar tabnya, mami menonton sinetron favoritnya. Chiara tiduran di karpet memeluk bantal sofa sambil cekikikan menatap layar ponselnya.


Rion, duduk di sebelahku dengan tanga yang menyusup masuk dalam piyamaku. Kebetulan akau pakai setelan piyama celana dan baju berlengan panjang.


"Papi pengenya cucu laki-laki atau perempuan, Pi?" Tanya Rion yang terus mengelus perutku.


"Laki-laki atau perempuan sama aja, Yon. Kehadirannya tetap membawa kebahagiaan."


"Kalau mami?"

__ADS_1


"Sama. Yang penting Bi sehat dan bayinya sehat."


"Masih anak pertama, nanti anak kedua atau ke tiga kan bisa program sesuai keinginan kalian."


"Feeling kamu apa, Bi?" Dia bertanya padaku.


Aku mengangkat bahu, "Jenis kelaminnya aja belum bisa dilihat, sayang?"


"Chia mau keponakan cewek, kak."


"Kenapa?" Tanyaku.


"Biar bisa ke salon bareng. Hahahah." Dia ketawa dan duduk di depanku. Tangannya terulur menyentuh perutku. "Sama bantu onty di rumah sakit ya sayang."


Rion melepaskan tangan Chia dari perutku. "Rumah sakit urusan kamu, dek."


"Ck!" Chia berdecak dan duduk di sebelahku. Jadilah aku di apait dua abang beradik yang suka berdebat.


"Iya... iya..."


"Jadi dokter ya sayang." Chia kembali mengelus perutku sekilas lalu menarik kembali tangannya dan tergelak saat Rion kalah cepat untuk mencekal tangan adiknya itu.


"Aku pengen cewek." Aku menatap Rion yang terus menatap perutku, kepalanya memang bersandar di sofa dan menempel di bahuku.


Mami dan papi juga menatapnya. "Jika dia cowok, aku gak tahu harus ku didik seperti apa dia, Pi."


"Bahunya harus kuat, hatinya harus tegar, mengayomi adik-adiknya kelak, menjadi penerus dan pewaris sekaligus."


"Heemm... gak kebayang."


"Kalau dia cewek, seenggaknya dia bebas jadi apapun yang dia mau. Dia cukup menjadi pelindung dan penyayang adik-adiknya. Karena tanggung jawab sebagai penerus gak akan Rion limpahkan padanya."


"Kasian banget dia gak dapet warisan." Aku mengelus kepala Rion.


"Gak jadi penerus bukan berarti gak dapat warisan, Bi."


"Dia bisa dapat aset dan properti. Aku cuma mau dia bebas dengan pilihannya karena jika dia menikah kelak, bukan menjadi tanggung jawabnya menafkahi keluarga."


Ya Allah, jauh banget dia mikirnya sampai puluhan tahun kedepan.


"Tapi ada satu hal terpenting. Aku mau dia dihargai laki-laki, Bi. Bukan sembarang pria mendekatinya. Dengan kita menjadikannya istimewa di tengah-tengah keluarga. Seperti kamu yang bebas melangkah tapi tetap berlimpah kasih sayang." Rion berkata dengan serius.


"Aku akan selalu di sampingnya. Jadi, pas dia udah abege, aku kan masih muda banget tuh." Nah, mulai nih Rion yang gak serius.


"Kalau kami jalan berdua, dia akan panggil aku ay." Mungkin maksudnya ayah.


"Nah, kan gak ada tuh yang berani deketin dia. Karena mikirnya kita pacaran." Rion senyum-senyum sendiri. Sepertinya dia sambil berkhayal nih.


Kami semua menggeleng. "Yang ada anakku di kira sugar babynya kamu, yang!"


Chiara tertawa. "Keponakanku bisa gak laku kalau punya possesif dady kayak abang. Hahahah."


"Nah, Chia bener, Yon."


"Kalau dia cewek, aku malah mikirnya tuh bakalan jadi my perfect partner dalam hal shopping dan habisin duit kamu." Aku tertawa pelan.


Mama dan Chia sepertinya setuju. Karena ekspresi mereka ceria banget.


"Bener, Bi. Mami setuju sama pemikiran kamu. Kalau udah pensiun nanti, mami akan ajak cucu mami buat habisin duit opa sama dadynya."


"Masa tua impianku, Ray!" Mami mengapit lengan papi dan bersandar di bahunya.


Papi meletakkan tabnya. "Kalian punya anak yang banyak yah, Bi."


"Buat Rubicon papi penuh sama cucu-cucu yang lucu. Papi mau ajak mereka keliling kota tiap hari."

__ADS_1


Astaga! Kenapa impian mereka aneh-aneh baget sih. Lebih aneh dariku malah.


__ADS_2