
Zoya
Saat ini aku berada di mobil Ezra. Aku hanya menunduk dan sesekali melihat ke depan. Setelah mobil melaju, kami sadikitpun tak saling berbicara.
Aku menyadari kesalahanku. Tapi kan Bi yang membuat Ezra datang. Kenapa jadi aku yang merasa bersalah?
Ah, tapi dia dengar perdebatan kami tadi. Dia mendengar Bi mengatakan aku minta dinikahi. Aduuuh, mukaku... Hiks... Hiks... mau di taruh dimana? Aku menggesekkan heels 5 centiku di lantai mobil berulang kali.
Aku harus apa? Harus bicara mulai dari mana?
Aku yag galau ini tak sebading dengan Ezra yang tampak santai menikmati lagu yang di putar di audio mobilnya.
Dia bahkan ikut menyanyi mengikuti lirik lagu. Setelah yang pertama lagu Marcell Siahaan yang berjudul Tak akan terganti. Kini lagu Peri cintaku yang diputar. Lagu melow yang mengisahkan sepasang kekasih beda keyakinan.
Dia menghayati sekali. Apa ini pengalaman pribadinya?
"Aku untuk kamu..."
"Kamu untuk aku..."
"Namun semua apa mungkin..."
"Kamu belum bilang iya..."
Aku melotot tak percaya. Dia mengganti lirik lagu di baris terakhir. Seharusnya Iman kita yang berbeda. Dia mengganti dengan kamu belum bilang iya.
Sindiran yang bagus Zra...
"Tuhan memang satu..."
"Kita yang tak sama..."
"Haruskah aku lantas pergi..."
"Tapi aku masih ingin disini..."
Aku melotot lagi. Dia kembali mengganti lirik lagunya. Harusnya kan Meski cinta tak kan bisa pergi.
"Hahahah..."
"Tegang banget Zoy. Bawa santai aja kali."
Aku menatapnya yang sedang tertawa. Kalau ada kata yang lebih layak dari tampan, akan ku sebut untukmu Zra.
Aku cemberut ke arahnya. "Kamu diam aja dari tadi."
"Looh... Kok aku?"
"Kamu yang diem aja Zoy. Aku dari tadi kan nyanyi."
"Sampai aku gombalin kamu diam aja."
Aku mengerutkan kening. "Kapan kamu gombalin aku?"
"Tadi sambil nyanyi." Jawabnya singkat.
"Kapan? Kamu mah nyanyinya nyindir aku terus Zra!"
"Mau aku ulang?" Tanyanya padaku.
Dan aku malah mengangguk.
"Dengar yaaa..." Ezra memelankan suara musik.
"Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan. Semua takkan mampu mengubahku. Hanyalah kau yang ada di relungku."
Ezra menyanyi dengan penuh penghayatan. Tapi dia tetap berkonsentrasi pada jalan raya.
"Hanyalah dirimu mampu membuatku jatuh dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah. Kau tak akan terganti..."
Hatiku tersentuh. Jika itu benar dari lubuk hatinya, bolehkan aku menangis?
"Hahahah..."
"Merdu banget ya sampai speachless gitu."
Ezra kurang asem. Apa dia gak bisa kasih kesempatan untuk menikmati momen? Dua menit aja Zra.
Aku membuang muka ke arah jendela. Tapi mobil malah berhenti. Dan apa ini?
"Kenapa mobilnya berhenti Zra?" Aku menatap Ezra yang sedang membuka sabuk pengamannya.
Mau apa kamu, Zra?
__ADS_1
"Kamu mau kerja kan?" Tanyanya.
Aku mengangguk.
"Ke Arumi Resto di daerah X kan?"
"Iya." Aku mengangguk.
"Ya udah ayo turun. Kita udah sampai."
What?
Aku melihat ke depan, kanan dan kiri. Benar, ini parkiran Arumi Resto. Kenapa kinerja otakku jadi melambat saat memikirkan hal menyangkut kamu, Zra.
Aku segera turun dari mobil. Saat hendak melangkah ke dalam. Suara Ezra membuatku berhenti melangkah.
"Aku gak di ajak Zoy?" tanyanya.
Astaga nih anak gak tau apa kalau aku sedang malu.
Aku malu karena terus bertingkah konyol di hadapannya.
Aku berbalik. "Aku ada meeting Zra." Ucapku pelan.
Ezra mengangguk lemah. "Take care. Jangan terlambat makan. Aku balik dulu." Ezra membuka pintu mobilnya.
Aku kan jadi tak tega Zra.
Ezra bersiap masuk ke mobilnya. "Siang nanti jemput aku, ya."
Ezra kembali menatapku.
"Kita makan siang di luar."
"Bisa kan Zra." Lanjutku.
Dia langsung tersenyum. "Bisa Zoy."
"Aku jemput siang nanti. Sampai ketemu." Ucapnya dengan senyum mengembang.
Aku masuk ke dalam. Berjalan menuju ruang kerjaku. Hari ini aku akan meeting bersama manager dari cabang yang lain.
***
"Zra, makan di dalam aja ya." Ucapku saat aku menjemputnya di parkiran dengan membawa payung.
Kami berjalan dengan satu payung hingga harus berjalan berdekatan.
"Di ruanganku aja Zra." Ucapku saat Ezra mencari meja untuk kami makan siang.
"Apa gak apa-apa Zoy?"
Aku tersenyum. "Gak apa-apa gimana?"
"Ya kan kita cuma berdua." Ucapnya.
"Dari dulu juga sering berdua, Zra." Aku berjalan mendahuluinya. Pertanyaannya ada-ada saja.
Dulu saat dia menjadi supirku jangankan berdua di kantor. Di kamar hotel juga pernah, ya meskipun Ezra masuk hanya untuk membawa makanan yang ku minta dia untuk membeli di luar hotel.
Mungkin karena penampilanku yang sekarang, Ezra menjadi tak enak hati jika harus berduaan.
Tapi bagiku tak masalah asal kami punya batasan.
Aku membuka pintu ruanganku. Aku duduk di sofa sambil menunggu makanan datang.
"Alina kemana Zoy?" Ezra melihat ke seluruh ruangan.
"Gak masuk dia. Maagnya kambuh." Jawabku.
"Aneh asisten kamu, Zoy. Kerja di resto tapi maag bisa kambuh."
"Maag kan penyebabnya bukan hanya karena gak makan, Zra. Bisa juga karena kebanyakan makan. Apalagi makan pedas dan berminyak."
Ucapku padanya.
Makanan kami datang. Dan kami menikmati makan siang berdua.
Selesai makan siang dan meja sudah di bereskan, aku dan Ezra duduk dalam diam. Ezra malah fokus menonton tv.
"Zra, seandainya kita nikah nanti. Kita tinggal di mana?" Tanyaku tanpa basa-basi.
Ezra menatapku tak percaya. Dia sampai diam beberapa detik.
__ADS_1
"Kalau kamu mau, kita tinggal di rumahku." Ucapnya tanpa ragu sedikitpun.
Saat ini Ezra tinggal di sebuah rumah satu lantai yang ia sewa di perumahan dekat universitasnya dulu.
Tidak masalah bagiku. Selama rumah itu penuh cinta aku akan betah. Selama rumah itu nyaman untuk ditinggali, aku bersedia.
"Kenapa, Zoy? Kenapa kamu tanya hal sejauh itu sementara hubungan kita masih stuck di gantungan." Kali ini dia sangat serius walaupun kata-kata yang di pilihnya mengundang tawaku.
"Karena aku punya rumah, Zra. Beberapa blok dari rumah mama Lintang."
"Rumah yang diwariskan almarhum opa Bram."
[Kalau gak percaya baca novel Aku dan Bintang bab 53. Promo thor? 😅 Sekalian]
"Tapi aku laki-laki Zoy. Aku harus bertanggung jawab atas diri kamu. Mulai dari kebutuhan primer sampai sekunder bahkan tersier." Ezra berusaha membuatku mengerti.
"Ya, dari pada harus menyewa rumah, lebih baik kita tinggal di sana Zra."
Ezra menatapku dengan ekspresi yang sulit kutebak.
"Uangnya bisa kita tabung untuk mengembangkan usaha kamu." Aku berusaha membuatnya mengerti.
Untuk apa kami harus menyewa rumah jika aku punya rumah yang justru juga ku sewakan?
Rumah itu memang terlalu besar untuk kami berdua. Tapi jika tidak begitu, kapan lagi aku akan tinggal disana? Rumah itu amanah dari opa. Tapi sama sekali belum pernah ku tinggali.
Aku tidak ingin tinggal sendiri disana. Mama dan papa juga setuju dengan keputusanku. Untuk itu aku menyewakan pada orang lain seperti yang papa lakukan sejak aku kecil.
Karena warisan itu ku terima sejak aku berusia hampir 5 tahun. Dan papa Akhtar yang mengelolahnya hingga aku berusia 21 tahun.
"Aku tidak ingin keluargamu berfikir bahwa aku memanfaatkanmu, Zoy."
Ini yang ku takutkan. Kami berdebat. Ezra pendebat yang handal. Dia punya seribu alasan untuk bertahan pada pendapatnya jika dia merasa benar. Dia akan mengalah saat dia sadar dia salah.
Belum dalam ikatan perikahan kami sudah berbeda pendapat begini. Apa ini pertanda kami tidak cocok?
Kami saling diam.
"Zoy. Mengerti posisiku ya." Ezra berusaha menggenggam tanganku tapi dia urungkan karena mungkin dia tersadar aku buka Zoya yang dulu. Aku Zoya yang sedang berusaha memperbaiki diri. Zoya yang tak ingin sembarangan disentuh.
"Zra, apa mungkin ini pertanda kita tidak cocok. " Aku menunduk lesu.
"Zoy. Stop mikir yang bukan-bukan." Dia berbicara tegas tapi dari matanya dia tampak gusar.
"Ini perbedaan pendapat kita yang pertama Zoy."
"Kelak, jika kita berjalan bersama. Perdebatan seperti ini akan sering terjadi."
Ezra benar.
"Kita hanya perlu bicara dengan kepala dingin. Salah satunya mengalah atau meminta nasehat orang tua jika perlu."
"Bukan mundur hanya karena tersandung kerikil kecil, Zoya." Kata-katanya membuatku tersadr. Aku terlalu kekanakan. Terlalu cepat mengambil kesimpulan.
Aku menghela nafas berat.
Ezra juga melakukan hal yang sama.
"Mau kita lanjut bicarakan ini atau kita tunda dulu." Tanyanya padaku.
Aku berfikir sebentar.
Aku butuh mama-papa. Ayah dan bunda juga.
"Antar aku pulang, Zra."
"Kita lanjut lain waktu ya. Aku butuh pendapat mama sama bunda."
Ezra mengangguk. Untunglah dia mengerti.
"Kamu mamang gak ada kerjaan atau mood kamu berantakan jadi kamu memutuskan untuk pulang?" Tanyanya.
"Aku gak ada kerjaan lagi kok."
"Ayo pulang, Zra. Hujan juga udah agak reda."
Akhirnya aku diantar Ezra pulang. Dan sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan.
****
Pov Zoya dulu ya.
Next pov Rion.
__ADS_1
Tapi agak siang mungkin 😅