
Bintang
"Jodoh sampai lansia?" tanya Nath. "Sampai lansia doang. Jadi entar aku udah aki-aki cerai terus nikah lagi sama gadis 17 tahun."
"Ah, senangnya dalam hati... Bila beristri muda..."
"Nath!" Suara Ezra dari arah tangga membuat Nath berhenti bernyanyi. Kami semua memandang Ezra.
"Berani macem-macem sama Tiara." Tunjuk Ezra pada Nath.
"Kamu... Heeekk!" Ezra menggerakkan jari telunjukknya di leher seolah sedang memotong lehernya.
Nath langsung nyengir kuda menunjukkan gigi putihnya. Mana berani dia melawan Ezra. Melawan Ezra berarti berani perang melawan barisan di belakangnya. Termasuk papa, dan Rion.
"Jangan serius banget bang. Bawa santai aja." kilahnya.
"Santai gundulmu. Entar kalau udah menikah, terus beras di rumah kamu habis, kata santai itu cuma diangan-angan, Nath!" Rion sok bijak, baru menikah 7 bulan saja lagaknya udah kayak pakar.
"Nah, dengerin itu! Banyak belajar kamu sama Rion." Ezra kembali naik ke atas. Mungkin dia penasaran dengan apa yang terjadi saat kami mengucap kata amin beramai-ramai.
****
Dua bulan berlalu...
Orion
"Yoonn! Sayang!" Rintihan Bi dari membuatku tersentak. Aku duduk di ranjang dan tak melihat istriku ada disini. Aku melihat jam dinding, Jam 2 malam?
"Riiooon!" Ini bukan memimpi?
Aku turun dari ranjang dan mendapati istriku sedang duduk di atas closet. "Bi..." Aku membantunya untuk bangun.
"Nanti, Yon! Sebentar." Dia menahan tanganku yang bersiap untuk memapah tubuhnya. Bi seperti menahan sakit dan ia terus memegangi perutnya.
"Sakit, Bi?" tanyaku berjongkok di depannya.
Ia menghela nafas, "tadi iya. Ini udah gak." Sahutnya mengulurkan tangan. Aku membantunya berdiri dan berjalan menuju ranjang.
"Harusnya bilang aku kalau kamu mau ke kamar mandi sayang." Aku mendudukkannya di atas ranjang lalu menaikkan kedua kakinya.
"Aku tadi mules kayak mau pup, tapi sampai di sana aku tungguin gak keluar-keluar. Terus sakit lagi," jelas Bi.
"Kamu mau melahirkan, Bi?" Aku duduk di sampingnya, di pinggir ranjang.
Dia memukul bahuku, "Ya mau lah. Masa dedenya suruh di dalam terus." Dia mendengus kesal.
"Maksudku bukan begitu, Bi. Jangan-jangan kamu udah waktunya melahirkan." Aku mengelus kepalanya.
"Masih 10 hari lagi dari HPL."
"Tapi kan bisa aja maju-."
"Aduuh, sakit lagi." Keluhnya terus memegangi perut. Aku ikut memegangi perutnya yang terasa kencang dan mengeras.
Deg! Jantungku rasanya mau lepas. Apa ini saatnya. Aku panik langsung berlari kearah pintu.
"Aku panggil mami dulu!" teriakku sambil berlari.
Percuma baca buku seputar kehamilan. Katanya gak boleh panik, harus tenang. Nah sekarang aku seperti ayam yang mau bertelur, sibuk tak menentu.
__ADS_1
"Dught... Dughht... Dught..." Aku mengedor pintu kamar orang tuaku seperti petugas keamanan yang siap menggrebek pasangan mes*m.
"Miiii.... Pi...." Teriakku seperti Tarzan.
"Dugh... Dughh..."
Ceklek. Pintu di buka.
"Ada apa, Yon!" Tanya mami.
"Bi, Mi..."
"Itu..."
"Bi..."
"Iya... Bi kenapa?" Sentak papi.
"Gak tau! Perutnya sakit."
"Kamu jangan panik, Yon! Ayo kita lihat." Ajak mami padaku.
Kami masuk ke dalam kamar dan Chiara sudah di dalam. Bi berdiri di dekat jendela kamar dan Chia sedang mengelus punggung bawahnya.
"Kamu disini, Dek?" tanyaku.
"Iyalah. Abang banting pintunya gak kira-kira!" sahutnya.
Kami berjalan mendekat. "Masih sakit, Bi." Tanya mami mengelus bahu istriku.
"Kadang sakit, kadang gak Mi. Ini lagi gak." Sahutnya. "Perut Bi rasanya kenceng banget, Mi. Terus sakit di bawah sini." tunjuknya di perut bagian bawahnya.
Mami mengelus perut, Bi. "Sabar ya Bi, memang begini rasanya akan melahirkan."
"Sudah ada yang keluar dari dalam. Darah atau cairan gitu?." tanya mami.
"Ada papi, malah nanya gitu, Mi." potongku.
"Papi udah pernah lihat, Yon! Pengalaman papi lebih banyak dari kamu!" Kami selalu mencari kesempatan untuk bertengkar. Dasar!
"Ada mi, dari kemarin sore malah."
"Astaga! Kamu kok gak bilang, Bi." Aku mendekat dan memegang bahu istriku. "Kamu ngerasain sakit dari kemarin juga?"
"Sayang! Kamu jangan berlebihan dong! Kamu lupa dengan apa yang kamu baca? Dengan semua nasehat mami. Jangan panik!" Bi gemas padaku. Terlihat dari caranya berbicara.
Mami memang selalu memberikan kami pengetahuan seputar persalinan dan apa saja yang harus dilakukan. Nomor satunya adalah jangan panik.
"Iya... iya..."
"Aduh!" Bi kembali memegangi perutnya. Bi bahkan membungkuk dan memegani lututnya. Chiara langsung sigap mengelus punggung bawahnya. Calon dokter kandungan, pasti tau lah dia!
"Kita cek pembukaan ya, Bi."
"Chia, ambilin perlengkapannya di bawah, nak." Perintah mami pada Chiara.
Di rumah ini memang ada ruangan yang mami sulap seperti klinik. Isinya adalah alat-alat kesehatan dan obat-obat yang dirasa perlu untuk di stok di rumah. Dan Chiara sudah sangat hafal dengan alat-alat itu. Dan dia bahkan sudah bisa menggunakannya dibawah pengawasan mami seperti stetoskop dan tensimeter atau alat pengukur tekanan darah.
Chiara masuk ke dalam dengan perlengkapan yang entah apa namanya. Mami ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan segera memakai sarung tangan yang biasa di pakai oleh dokter itu.
__ADS_1
Papi keluar dari kamar. Huuh! tau diri juga si papi.
"Buka kakinya, Bi." perintah mami pada kak Bi yang telah berbaring di atas ranjang.
"Itu tangan mami masuk?" tanyaku saat mami bersiap mendekatkan tangannya ke area favoritku.
Mami menatapku. "Gak tangannya, Yon. Cuma jari aja."
Ih... kok aku ngilu, ya. Aku kembali melihat mami bersiap memeriksa istriku. "Sebentar, Mi."
"Huuuuhhh!" Bi menghembuskan nafas dan wajahnya meringis. "Sakit lagi, sayang."
Dia hanya mengangguk dan menggigit bibir bawahnya. "Jangan dulu, Mi. Bi masih sakit."
"Rion, semakin lama akan semakin sakit dan sakitnya akan semakin sering. Kamu keluar aja deh! Di dalem cuma bikin ribet!" Mami memarahiku.
"Iya. Abang keluar aja sana!" Chiara juga mengusirku.
"Gak! aku mu mendampingi Bi disini."
"Makanya jangan ribut! Jangan ganggu!"
"Kamu duduk di situ," mami menunjuk pinggiran ranjang di sebelah Bi.
Aku segera duduk dan mami melakukan tugasnya. Bi meringis menahan sakit. "Sakit, Mi."
"Sakit mana sama punyaku, Bi."
Plak! Chiara memukul bahuku. "Gak ada akhlak emang!"
Mami menatapku tajam dan aku langsung diam tak berkutik.
Mami berdiri dan membuka sarung tangan yang terdapat noda darah meski hanya sedikit , menggulungnya dan membuangnya di keranjang sampah.
"Sudah pembukaan 2, Bi. Bersiaplah ke rumah sakit. Kalau kamu masih mau nunggu setelah subuh, juga gak apa-apa. Biasanya anak pertama akan lebih lama proses pembukaannya."
"Banyakin jalan dan bergerak, Bi. Kalau sakit kamu bisa lakukan seperti yang Chia lakukan tadi atau Menungg*ng di pinggir ranjang."
"Kita ke rumah sakit sekarang, Bi?" tanyaku. Sebenarnya jarak rumah dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Kalau pergi sebelum jam kantor pasti juga belum macet dan hanya memakan waktu 10 menit.
"Aku masih kuat, Yon?"
"Ini gak apa-apa ditunda sampai habis subuh, Mi?"
"Gak apa-apa. Posisi janinnya bagus kok. Kontraksinya juga semakin kesini semakin sering, babynya juga masih terus bergerak mencari jalan lahirnya." papar mami.
"Pinter nih anak kalian." Mami tersenyum memuji anak kami. Aku tau maksudnya untuk menaikan mood dan semangat istriku.
"Kamu temani istri kamu, jangan ditinggal sendirian, Yon."
"Iya mi."
Mami dan Chiara keluar dari kamar. Aku terus menemani istriku di dalam kamar. Aku tidak tega melihatnya menahan sakit seperti ini. Mungkin ini juga yang dirasakan bang Ezra saat kak Zoy akan melahirkan.
Mami masuk kedalam kamar membawa teh dan cemilan berupa biskuit. "Dimakan, Bi. Biar punya tenaga."
"Iya, Mi."
****
__ADS_1
Babynya Orbit mau lounching 😊
Jejak kalian plisss 😘😘