BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
56 Nasehat Orang Tua


__ADS_3

Bintang


Aku duduk di depan meja rias. Memakai skin care rutin sebelum tidur. Aku menatap wajahku di cermin. Wajah yang berusaha ku rawat dengan baik karena kedepannya aku harus tetap muda untuk tetap bisa bersanding dengan Rion.


Rion 5 tahun lebih muda dariku. Tidak terlalu jauh tapi cukup membuatku berfikir berulang kali untuk menerimanya.


Siang tadi aku sudah menerimanya. Bukan hanya karena rasa cemburu dan ego untuk memilikinya. Tapi aku juga memikirkan seberapa banyak dosa yang akan tercipta karena hubungan kami.


Aku sulit mengendalikan debaran jantungku. Aku sulit menjaga mataku untuk tidak berlebihan menatapnya.


Dan dengan memintanya datang menemui papa mama, semoga itu menjadi awal yang baik untuk hubungan kami.


Aku harap saat datang nanti Rion benar-benar dalam keadaan siap lahir dan batin.


Aku turun ke bawah untuk menemui mama papa yang sedang menonton tv.


Aku duduk di karpet dan memeluk kaki mama yang menjuntai ke bawah.


"Ma..." Aku menatap wajah mama.


"Mulai deh manjanya. Ada maunya nih pasti." Goda papa tepat sasaran. Papa duduk di sebelah mama. Dan aku berhasil menjadi pengacau diantara keduanya.


"Papa tau aja, deh." Aku tersenyum menunjukkan gigi rapiku.


"Udah ketebak, Bi." Papa kembali fokus pada layar Tv 32 inci itu.


"Ada apa sayang?" Tanya mama mengelus kepalaku yang tertutup hijab instan.


"Ma, Pa. Terima Rion jika suatu saat nanti dia datang menemui kalian dan meminta Bi untuk menjadi istrinya."


"Bi...!"


"Bi...!" Mama dan papa kompak menatapku tajam.


"Belum setahun Bi. Apa yang terjadi, nak?" Mama khawatir. Mungkin mama takut kesalahan yang lalu terulang lagi.


"Memang belum 2 bulan kesempatan itu Bi berikan, ma."


"Tapi semakin kesini, Bi semakin yakin dengannya ma."


"Dia berubah drastis. Menjadi pria bertanggung jawab, dan memikirkan segala sesuatu yang akan dia lakukan dengan matang."


"Dia mulai memikirkan masa depannya, Pa. Dia baru memulai usahanya."


"Bi sudah meminta Rion untuk terbiasa dengan aktivitasnya yang padat. Membagi waktu antara belajar, bekerja dan keluarga." Aku menatap mama papa bergantian.


"Bi fikir apa bedanya sekarang atau setahun lagi jika memang Rion sudah siap."


"Apa bedanya jika Rion pun tahun depan masih belum bisa lulus."


"Jadi Bi minta dia untuk bisa membuat semua berjalan seimbang."


"Kamu benar-benar sudah memikirkan ini, Bi?" Tanya mama.


"Sudah ma. Insya Allah Bi yakin dengan keputusan Bi."


"Kamu sudah bicara dengan Rion?" Tanya papa.


"Sudah, pa."


"Doakan Bi semoga keputusan ini benar, Ma, Pa."


"Semoga kelak Rion bisa menjadi kepala keluarga yang bisa menjadi panutan untuk Bi dan anak-anak kami."

__ADS_1


"Amin. Mama pasti doakan Bi selalu nak." Bulir bening menetes di pipi mama.


"Anak mama sudah besar. Mama gak menyangka, Bi. Saat-saat seperti ini sudah tiba. Mama harus melepas Bi kepada orang lain."


"Sayang, udah dong. Jangan buat Bi sedih apa lagi ragu." Papa merangkul bahu mama yang mulai bergetar.


"Maaa..." Zoya tiba-tiba duduk di sebelah mama dan memeluknya.


"Jangan sedih ya ma. Zoya sama Bi akan tetap jadi anak mama. Jadi gadis kecilnya mama." Zoya menghapus air mata mama.


"Iya ma. Zoya benar. Bi akan sering kesini jika nanti Bi gak tinggal lagi di rumah ini."


"Ma... Zoya mau minta pendapat mama."


Mama tersenyum dan mengangguk.


****


Zoya


"Ma, Pa."


"Zoya dan Ezra punya perbedaan pendapat."


"Soal apa, nak?" tanya mama.


"Kami berdebat soal tempat tinggal setelah menikah, ma."


"Zoy mau kami tinggal di rumah pemberian almarhum opa Bram."


"Tapi Ezra sepertinya gak setuju ma. Karena menurutnya soal tempat tinggal itu tanggung jawab Ezra."


Mama masih mendengarkanku. Papa juga.


"Ma, Pa. Menurut kalian pendapat Zoya ini benar atau salah?"


Mama papa saling pandang. Begitu juga Bi yang sepertinya ingin tahu jawaban mama dan papa.


"Bintang, Zoya." Mama mengelus pipi kami bergantian.


"Dengarkan mama." Kami berdua menatap mama.


"Pendapat Zoya tidak salah, nak."


Aku tersenyum puas.


"Tapi Ezra juga gak salah."


Aku mengerutkan kening.


"Karena tanggung jawab seorang lelaki yang telah menikah adalah memberikan tempat tinggal yang layak untuk istrinya."


"Jadi, kelak ikutilah kemanapun suami kalian membawa kalian."


"Selama tempat itu layak untuk ditinggali, kami tidak akan ikut campur."


Aku dan Bintang mengangguk faham.


"Sejatinya pernikahan itu adalah tentang menyatukan dua hati dan pemikiran." Mama tersenyum mengelus kepala kami.


"Bukan seperti dongeng yang saat kecil sering kalian baca. Dimana pernikahan adalah akhir cerita yang bahagia."


"Bukan." Mama menggeleng.

__ADS_1


"Tapi justru awal mula timbulnya berbagai masalah, termasuk perdebatan dan perbedaan pendapat."


"Nah, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Mau bertahan dengan tetap memegang teguh janji berdua. Atau mau menyerah dan berpisah."


"Kelak, jadilah istri yang bisa merawat suami dan anak-anak kalian."


"Suami kalian sudah bekerja melaksanakan kewajibannya. Dan kalian laksanakanlah kewajiban terhadap suami kalian. Berikan hak mereka. Jangan sampai bekerja menjadi alasan kalian mengabaikan semua itu."


"Setelah menikah, kalian tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Rundingkan dengan pasangan. Karena ridho suami adalah ridho-Nya Allah."


Nasehat mama akan selalu ku ingat. Terima kasih ma. Menjadi mama terbaik, maafkan mama Arum yang hadir diantara mama dan papa Rezki.


Zoya bersyukur mama memberi kasih sayang yang utuh untuk Zoya. Seorang anak yang hadir karena kesalahan.


Dan satu hal ma, Zoya janji gak akan pernah mengulang kesalahan yang sama seperti yang mama Arum lakukan.


Zoya ingin melahirkan keturunan dalam ikatan pernikahan. Dalam hubungan yang halal.


"Dulu sebelum menikah mama sama papa juga membicarakan hal ini? Memutuskan dimana akan tinggal setelah menikah?" Tanya Bi pada mama.


Mama menatap papa sekilas. Lalu keduanya tertawa tanpa suara.


"Kami tidak pernah membahas itu." Mama mengulum senyum.


Apa yang lucu, ma?


"Tapi papa menunjukkan rumah baru untuk kami beberapa jam setelah akad nikah selesai."


"Rumah ini. Rumah yang kita tinggali hampir 20 tahun."


Aku dan Zoya menatap papa takjub.


"Waah... papa kereeen!" Bi menyodorkan dua jempolnya kearah papa.


"Papa super keren." Aku mengarahkan dua jempolku kearah papa.


Papa tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


"Percayalah nak. Lelaki yang tulus menyayangi kalian akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk kalian."


"Tidak akan membiarkan kalian kekurangan." Lanjut papa.


"Semoga Erza bisa membimbing Zoya. Dan semoga Zoya bisa menjaga martabat Ezra yang secara finansial belum semapan Zoya."


"Jangan pernah membandingkan harta kalian berdua, Zoy. Karena itu akan menyakiti hati Ezra."


"Iya pa. Zoya ngerti." Aku tidak mungkin melakukan itu karena aku sadar apa yang ku punya saat ini adalah pemberian opa Bram.


"Dan semoga Bi bisa bersabar mendampingi Rion yang masih memulai usahanya."


"Amin." Bi mengaminkan doa papa.


"Dan semoga papa mama cepat dapat cucu." Doa mama.


"Amiiiiiiiin." Aku dan Bi kompak mengucapkan amin.


"Aiish... Kompak banget." gerutu papa.


"Iya dong. Biar papa gak sok kegantengan kalau keliling kontrakan."


Mama melirik papa karena ucapan Bi.


"Entar kalau keliling kontrakan bawa cucu ya pa. Biar gak di sangka hot daddy lagi. Tapi udah hot granpa."

__ADS_1


"Hahahaha." Kami tertawa bersama.


__ADS_2