
Bintang
Senin pagi. Huuh! Setelah kurang tidur malam tadi, dan harus cepat bangun saat subuh tadi membuatku sedikit tidak bersemangat. Aku terus menguap. Hooaam...!
Aku yang sudah rapi dengan pakaian kerjaku mengintip ke kamar sebelah, kamar Zoya.
Ckleek...
Aku memasukkan kepalaku karena pintu hanya ku buka sedikit.
"Kosong?"
"Tempat tidur rapi, dan gak ada suara gemercik air."
"Zoya kemana?"
"Kak Zoya udah di bawah kak." Ucap Nair yang melewatiku begitu saja.
"Yang bener Nair?"
"Iya kaaak."
Aku segera menyusul Nair yang berjalan menuruni anak tangga. Di meja makan sudah keluargaku, sekaligus Ayah Satya dan bunda Una. Ada Ezra dan Rion juga.
Rion? jam berapa dia jalan kesini? Anak itu sudah lebih eksis dari jelangkung. Tau-tau udah nongol aja.
"Good morning kesayanganku." Aku mengecup pipi Zoya dan bergantian ke pipi mama.
"Good morning too kecintaanku. " Ucapan Rion berhasil memancing tatapan tajam dari papa, Nath dan Nair.
"Hehehe. Kelepasan om." Rion... Rion... selalu cari gara-gara.
"Bagus Yon! Semangat berapi-api dalam mencintai itu memang perlu." Ayah Satya memberi dukungan?
"Ungkapkan perasaan kamu. Bilang cinta setiap hari. Pasangan akan lebih bahagia dan awet muda."
Ayah menyindirku tua?
"Masa Om?" tanya Rion tak percaya.
"Nih hasilnya." Ayah menunjuk bunda yang melemparkan senyum. "Setiap hari denger kata cinta ya, Na?"
"Iya sampai mual, Yon."
Kami semua tertawa.
"Sarapan dulu, ya. Entar pada terlambat." Ucap papa. Jadilah meja makan ini penuh tawa terlebih saat Nath dan Rion saling melempar candaan.
"Tiara sendirian loh Nath di rumah baca. Kamu temani ya?"
"Ogah. Jadwalku sampai jam 4."
"Ck! Ayolah Nath, ketikung Rizal baru tahu rasa kamu."
"Lagi trend pacaran beda usia loh." Sambung Rion.
Aku menggeleng mendengar Rion berbicara dengan Nath.
"Ketikung Shaka baru tau rasa." Ucapku.
"Shaka?" Bunda Una terheran.
"Iya Bun. Shaka mau nikung Nath." ucapku.
"Siapa gadisnya, Bi?"
"Tiara bun."
"Gadis yang dilamaran kemarin jadi perwakilan keluarga Ezra?" tanya mama yang sepertinya mengenal Tiara.
"Iya, tante." Sahut Ezra. "Dia adik angkatku. Sebenarnya aku sih yang anak angkat di keluarganya."
"Cantik loh, Na."
"Gak nyesel deh jadiin mantu." Lanjut mama.
"Uhukkk.. uhukk... uhukk." Nath terbatuk batuk. Aku dan Rion meledakan tawa.
"Cie, mama udah kasih restu. Hajar Nath!" Aku menyemangati.
Yang lainnya tertawa termasuk Zoya. "Tiara bakal jadi adikku. Dan dia bakal nikah sama adikku." Ucap Zoya tampak berfikir.
"Kira-kira kalau dibuat cerita, judul yang pas apa ya?"
__ADS_1
"Aduh Nath. Pusing deh." Keluh Zoya dan kami tertawa.
"Menikahi adik ipar kakakku." Seru Nair membuat kami tergelak.
Nath bangkit dari kursinya. "Tau ah, berangkat dulu ma, pa." Nath menyalami kami semua.
"Baek-baek belajar adik ipar!" Rion menepuk bahunya.
"Gayaan! Baru semester satu, lu Bambang. Yang semester tiga biasa aja."
Dan itu pukulan telak bagi Rion.
"Banyak- banyak belajar yang mau kawin."
"Belajar ambil pakaian dari dalam lemari." Nair menepuk bahu Rion. "Diangkat dulu, baru di tarik."
Kami semua tertawa melihat Nair yang ikut membalas Rion.
Aku dan Rion sedang dalam perjalanan. Karena keterangan Zoya di kantor polisi malam tadi menyebutkan bahwa pelaku sempat mengancamnya untuk menjadikan ku target berikutnya. Rion memaksaku untuk pergi dan pulang bersama dirinya.
"Hari ini sampai jam berapa kak?"
"Jam 3, yon! Kenapa?"
"Gak apa-apa kak. Tadi om Akhtar dan Om Satya memutuskan pernikahan akan di percepat. Dua minggu lagi."
"Apaaaa? Jangan becanda Rion!" Aku sampai terkejut mendengarnya.
Kenapa mendadak?
"Gak becanda kakak ku tersayang. Ini serius."
"Jadi, kamu setuju?"
"Ya setujulah. Detik ini juga aku siap kak."
Aku menggeleng tak percaya, dia masih saja menganggap semua hal itu mudah.
"Kak, semua ini demi kebaikan bersama."
"Resepsi kita akan diadakan di salah satu hotel. Berbarengam dengan resepsi kak Zoya dan bang Ezra."
Mataku membulat sempurna. "Ini serius juga, Yon?"
"Iya, Bi."
"Iya, Bi."
"Kemana kata kaknya?"
"Heheh... Di biasain ya, Bi."
"Biar gak terlalu kelihatan nikah sama brondongnya." Dia mengerling.
Aku tertawa. "Oke... boleh juga sih. Tapi agak aneh, Yon."
"Aku panggil kamu apa, Yon?"
"Mas?" Aku tergelak. "Iihhh geli banget." Aku menjulurkan lidahku.
"Hahaha... Jangan ah. Panggil Honey aja." Dia ikut tergelak.
"Buaaahahahah." Aku tertawa karena teringat pasangan Vano-Agatha.
"Jangan Yon. Please!"
"Aduh jadi pengen pipis." Aku masih tertawa.
"Mau mampir kak?"
"Kemana?"
"Loh, katanya pengen pipis."
"Nanti aja di kampus ya." Ucapku melembut. Dia perhatian juga ternyata.
"Yon..."
"Iya, Ka-. Eh, Iya Bi." Aku belum terbiasa.
"Setelah nikah kita tinggal dimana?"
"Kamu maunya dimana?" Dia mengelus kepalaku. Ternyata begini rasanya disayang pacar.
__ADS_1
Huaaa... masa remajaku kemana? Kenapa gak merasakan indahnya pacaran sih?
"Aku turuti keinginan kamu." Ucapnya.
Aku menatapnya. "Kamu kepala keluarga, Yon. Harus tegas."
Dia menatap lurus ke depan. "Kalau kita tinggal di rumah kita sendiri, gimana?"
"Yon, Kamu baru memulai usaha. Gak bisa segampang itu ambil keputusan untuk beli rumah atau kredit."
"Lebih banyak kebutuhan yang harus kita penuhi, Yon."
"Kebutuhan rumah, uang kuliah kamu."
"Tenang ya sayang."
Sayang? Terdengar menyenangkan. Aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Papi sudah siapkan semuanya."
"Rion, jangan libatkan orang tua lagi dong." Aku protes karena Rion selalu melibatkan om Ray.
"Bi, papi mempersiapkan semuanya bukan karena papi kaya. Bukan karena papi memanjakan aku."
"Atau karena aku yang bergantung pada orang tuaku."
"Kita bisa saja menyewa rumah petak, atau membeli rumah besar sekalipun."
"Tapi aku mau kita menghargai orang tua kita. Om Akhtar juga menawarkan lahan kosong untuk membangun rumah kita kelak."
Aku menatapnya. Papa menawari lahan kosong?
"Yon, seandainya hanya ada dua pilihan, rumah papi kamu atau rumah papa. Kamu pilih yang mana?" Ini sebenarnya pertanyaan jebakan.
Aku ingin mendengar jawabannya.
"Bi..." Rion melihat manik mataku. Saat ini kami sedang berhenti karena lampu merah.
"Kita tinggal di rumah sendiri ya." Ucapnya lembut.
Ayo Rion, tunjukkan bagaimana kamu memberiku pengertian.
"Kita sewa rumah satu lantai di komplek perumahan, ya. Yang penting layak kita tinggali. Atau apartemen satu kamar. Lumayan irit kan, Bi?"
"Gak pakai fasilitas papi dan om Akhtar gak masalah. Yang penting kita gak tinggal serumah dengan orang tua."
"Kenapa?" Tanyaku. Aku penasaran apa yang ia fikirkan.
"Kita butuh privasi, Bi."
Aku tersenyum.
Dia menerima bantuan om Ray bukan karena dia tak ingin mandiri. Tapi benar katanya, dia menghargai pemberian orang tuanya.
Karena jika ia bergantung pada orang tuanya, ku yakin ia lebih memilih tinggal bersama mereka.
Rion sepertinya memahami dengan baik, bahwa pasangan yang sudah berumah tangga butuh privasi. Tak boleh pihak manapun ikut campur dalam rumah tangga mereka.
"Minggu ini kita belanja, ya Bi."
"Sama mami juga."
"Untuk seserahan dan cincin kawin."
"Yang ini aja, Yon." Aku menunjukkan jari manisku yang terdapat cincin lamaran darinya.
"Ck! Itu murah, sayang. Kita cari yang lebih mahal dan yang pasti sepasang."
"Jadi yang ini palsu, Yon!" Aku menatap cincin ini lekat-lekat.
Cantik, berkilau, elegan dan sepertinya bukan kw.
Rion tertawa. "Itu asli, Kak."
"Kak lagi?" tanyaku karena dia memanggilku kakak.
"Haahah.. lebih enak diucapkan kak."
"Udahlah senyaman kamu aja, Yon." Aku juga tak masalah dia memanggilku kakak. Toh telingaku sudah terbiasa mendengarnya.
***
Lebih enak mana?
__ADS_1
Bi atau Kak Bi 😚