
Bintang
Aku bergelung dalan selimutku. Hujan deras mengguyur bumi sejak jam 8 malam tadi. Dan saat ini sudah jam sepuluh malam tapi hujan belum juga reda.
Aku belum bisa tidur karena entah mengapa kakiku terasa pegal. Apa karena banyak berjalan siang tadi? Entahlah.
Tok... tok... tok...
"Buka Bi." teriak Zoya dari luar kamarku.
Aku membuka pintu kamarku dan mendapati Zoya berdiri di depan pintu dengan membawa selimut.
"Numpang tidur." Dia nyengir dan berjalan masuk melewatiku yang belum menjawab sepatah kata pun.
Aku berbaring di sebelah Zoya yang masih membuka matanya.
"Kamar kamu kenapa?"
"Gak apa-apa." Jawabnya.
"Terus kenapa kesini?" Tanyaku menatap luris ke depan.
"Mau curhat." ucapnya pelan.
Aku tidur miring. Ku lihat Zoya sedang memainkan jari kukunya. Dih dia galau.
"Curhat apa?"
"Kalau aku nikah aja sama Ezra gimana Bi?" Ucapnya tiba-tiba.
Aku langsung duduk. Dingin yang menyerang tubuhku rasanya hilang seketika.
"Kok mendadak?" Tanyaku. "Gak hamil kan?"
"Amit amit, Bi." Zoya mengetuk keningnya dengan buku-buku jarinya. "Doa kamu jelek banget."
"Jadi kenapa, Zoy?"
Zoya menekuk wajahnya. "Banyak banget yang deketin dia, Bi."
"Alasan langganan kebab. Alasan ini, itu. Tau ah, sehari entah berapa orang aja yang ngajak dia ngobrol."
"Tau dari mana?" Tanyaku.
"Aku seharian kemarin ikut dia di gerai di Mall xx."
"Ngapain?" Tanyaku terkejut.
"Ya cuma ikut Bi." Jawabnya ragu.
Aku tahu, sepertinya dia ingin tahu bagaimana pekerjaan Ezra. Tapi dia malah dapat kejutan dengan banyaknya gadis yang mendekati Erza.
"Sekarang kepanasan lihat dia dikerubungi wanita cantik?"
Zoya mengangguk lemah. "Syukurin, cari penyakit sih kamu Zoy."
"Udah ku bilang pesona Ezra tuh gak main-main." Aku marah. Jelas itu kebodohannya. Melihat Ezra bekerja sama saja bersiap terbakar cemburu.
Mungkin tidak ada kontak fisik. Tapi kalau sudah cinta, dilirik pun tak rela.
"Jangankan emak-emak sama anak gadis, bocah juga kepincut Zoy kalau lihat dia."
"Terus gimana?"
"Nikahlah. Kalau gak mau kehilangan dia." Ezra sudah siap lahir batin, lalu tunggu apa lagi?
"Minimal tunangan dulu." Usulku.
Apa-apaan ini? Sok memberi usul padahal percintaanku sendiri masih berantakan.
"Aku mau bareng kamu, Bi." Rengek Zoya.
Astaga. Nih wanita karir kenapa jadi kayak bocah gini sih?
__ADS_1
"Zoy, dengar. Hubunganku dan Rion berbeda dengan hubungan kamu sama Ezra, Zoy!"
"Rion belum sedewasa Ezra. Dia masih harus berkarir, membuka usaha dan banyak yang masih mau dia kejar."
"Bi, kalau kita nikah berarti kita pisah rumah dong?" Pertanyaan yang Zoya lontarkan sungguh menggelitik telingaku.
"Iya lah. Iya kali kita satu atap 2 keluarga." Ucapku membuang muka.
"Kita beli rumah di komplek ini ya Bi. Tetanggaan deh minimal." Khayalan Zoya terlalu jauh.
"Nah, ini yang perlu kamu bicarakan sama Ezra. Kalau sudah nikah kalian mau kemana? Tinggal di mana?"
"Kamu punya rumah Zoy. Dan Ezra?" Aku mengangkat bahu. Aku tak tahu rumah yang dia tempati itu miliknya atau hanya menyewa.
"Jadi aku bicara nih sama Ezra." Kenapa Zoya jadi lemot begini kalau soal cinta? Kalau angka dipembukuan Arumi Resto ku jamin otaknya bekerja sepuluh kali lebih cepat.
"Iyalah masa sama Rion." Ah, dingin-dingin gini kenapa kamu mancing emosiku sih Zoy.
"Buat apa? Aku gak cinta sama Rion!" Zoya menutup wajahnya dengan selimut.
Terserah Zoy. Terserah.
Ting!
Notifikasi ponselku.
Pesan Chat dari Shaka.
Kak, mau ikut gak. Weekend ini kami mau menginap di Villa kak Zoy. Kalau mau berkabar ya.
"Yeeeee!" Teriakku. Akhirnya ada kesempatan berlibur mengurai kepenatan.
"Apaan sih Bi?" Zoya duduk dan membuka selimutnya.
"Lihat nih." Aku menunjukkan layar ponselku di depan wajahnya.
Tapi Zoya menolak. Dia kembali berbaring. "Awas ah, palingan kiss dari Rion!"
Hal itu tak pernah terjadi selama sebulan ini. Kami berusaha berkomunikasi dengan baik, bukan seperti abege yang sedang dimabuk cinta begitu.
Bahkan pesan yang terakhir ku terima dari Rion magrib tadi hanyalah berisi pesan selamat malam dan selamat istirahat. Tak ada kiss-kissan meskipun hanya emoticon.
"Bukan Rion! Baca yang benar!" Aku kembali mendekatkan layar ponselku ke wajahnya.
Matanya membulat sempurna. Zoy langsung duduk. "Ini beneran?"
"Iyalah." Ucapku bersiap membalas pesan Shaka.
"Ka-kak i-kut. Be-sok ka-kak ke ru-mah. Ki-ta ngo-brol le-bih lan-jut." Ucapku sambil mengetik pesan pada Shaka. "Oke kirim."
"Mereka pakai villaku. Tapi aku gak tau?" Tanya Zoy heran.
"Ya gak lah. Kan mereka langsung hubungi pengurus villa untuk booking." Ucapku.
Aku berbaring dan bersiap tidur. "Dah tidur sana. Aku mau bangun pagi menyambut hari sebelum liburan free dari ayah."
"Punya pacar kaya raya, masih doyan juga yang gratisan." Wajahku kena timpuk bantal kecil karena ulah Zoya.
"Pacar? Gak pacaran tuh?"
"Dah kasian banget gantung kayak jemuran." Ejek Zoya.
"Dih, samaan sama yang ngomong!" Balasku.
"Oh Bintang. Lomba renang yuk buat nentuin siapa yang menang?" ajak Zoya yang mulai jengah adu mulut denganku.
"Sorry Zoy. Lagi gak butuh motor baru." Aku menutup tubuhku dengan selimut hingga ke kepala.
Tapi Zoya menarik selimutku dan mulai menggelitik tubuhku.
"Rasakan ini!"
"Hahahah... Berhenti Zoya!" Aku kegelian dan terus berusaha menghindar.
__ADS_1
Aku berlari keluar kamar dan masuk ke kamarnya. Lalu menguncinya.
"Bi, buka dong!"
"Kita tukaran kamar!" Dan setelahnya tak lagi ku dengar suara apapun.
Aku membaringkan diri diatas tempat tidur. Karena tak ada selimut aku berjalan ke lemari dan mencari selimut Zoya yang lain.
Aku berbaring dan mataku tertuju pada ponsel yang terletak di nakas.
Ku buka dengan pola yang sudah ku hafal di luar kepalaku.
Ku buka aplikasi Wa. Tak ada yang menarik.
Ku buka pesan Ezra. Datar! Gak ada yang menarik.
Bagaimana jika ku buat menarik?
Ku ketik pesan pada Ezra. "Jemput aku besok pagi, sebelum jam 7 Zra. Kita perlu bicara." Aku membaca pesan yang ku ketik sebelum akhirnya ku kirim pada Ezra.
Ting!
Pesan masuk dari seseorang yang tidur di kamar sebelah.
Lihat kejutanku besok pagi, Bi.
Kejutan apa? Palingan Zoya akan menulis di cermin dengan lipstik sebagai upayanya menakutiku. Permainan lama, Zoy.
Aku tersenyum mengembang. Ku balas pesannya.
Tunggu juga kejutan dariku. "Kirim."
"Tidur cepat, Bi. Karena besok pagi kamu harus melihat Zoya terkejut." Aku bermonolog.
Aku memejamkan mataku setelah berdoa.
***
Orion
Jam sudah menunjukkan angka 10 lebih. Dan aku belum bisa tidur dimalam yang dingin ini. Aku turun ke dapur. Membuat coklat panas sepertinya lebih baik dari pada memejamkan mata tapi tak kunjung terlelap.
Aku duduk di ruang keluarga dengan coklat panas dan setoples biskuit. Aku mencelupkan biskuit ke coklat panas. Cocok gak cocok terserah. Yang penting coklat panasku ada temannya. Hahah...
Ting!
Notifikasi dari ponselku.
Dan ku buka pesan dari kak Bintang?
Uhuukkk... uhuukkk... Aku terbatuk membaca pesan yang menurutku sangat ahhh.
Semoga kalian faham ahh versiku seperti apa.
Aku membaca ulang pesannya.
"Ini gak salah kirim kan?"
"Tapi benar kok. Kak Bi sebut namaku di pesan ini." Aku berbicara sendiri.
****
Hayooo... ada yang bisa tebak isi pesannya?
Next bab ya 😃
Ahhh versi Rion kayak gimana thor?
😁 Othor gak tau. Rion itu sulit di tebak isi kepalanya.
Tapi sih kayaknya gak kemana-mana. masih stuck di Omesnya 😅
Hari ini upnya gak beraturan. Gapapa ya. Yg penting up 2 x 😙
__ADS_1