BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
64 Behind the scene


__ADS_3

Orion


Senyum itu...


Aku melihat kak Bi yang tak pernah memudarkan senyum dan tawanya walau sekejap.


Dia bahagia malam ini? Syukurlah. Aku juga bahagia karena berhasil melamarnya dengan sedikit berlebihan.


Hahaha... Kalian tahu? Aku sampai merepotkan semua orang. Nath, Nair, Ethan, kak Zoy, bang Ezra bahkan anak dance dari cahaya bangsa yaitu gadis-gadis yang memberikan mawar pada Kak Bi tadi.


Dari tempatku duduk aku melihat dengan jelas ia sedang berada di tengah-tengah keluarganya. Saling berbagi tawa dan cerita.


Lamaran sudah selesai. Sebagian orang sudah pulang. Aku dan kak Bi sempat mengganggu kak Zoy dan bang Ezra. Namun sialnya kak Bi malah di tarik dari sisiku. Keluarganya tak memberiku kesempatan untuk berduaan menatap wajah cantiknya.


"Belum mukhrim ya Rion. No tatap-tatap." Ucap tante Bunga.


"Silahkan dibawa calon istriku tante. Nanti kalau sudah sah tolong jangan diambil lagi yaa."


Tante Bunga tertawa. "Sudah pasti, Rion. Dia jadi milikmu seutuhnya."


Dan aku gak sabar untuk itu tan.


Ya aku memang tak sabar untuk memiliki kak Bi seutuhnya. Sampai-sampai setelah malam itu, ketika papi memberikan dua kartu ATM padaku, esoknya kau langsung datang ke rumah kak Bi.


Aku memintanya langsung pada om Akhtar dan tante Lintang.


"Rion datang kesini dengan suatu tujuan, Om, tante." Aku sempatkan diri menelan saliva yang terasa sangat mengganjal di tenggorokan.


Gugup guys!


"Rion ingin melamar dan meminang kak Bi sebagai istri Rion." Tapi wajah om Akhtar dan tante Lintang terlihat biasa saja. Masih menatapku dengan senyuman dan sesekali mereka saling pandang.


Gini nih kalau kenal lama sama orang tuanya do'i. Gak ada terkejut-terkejutnya sama sekali. Ini anak kalian lagi di lamar loh! Jeritku dalam hati karena ekspresi om Akhtar dan tante Lintang yang seolah aku tak mengatakan hal penting.


"Izinkan Rion menghalalkan hubungan kami, Om, Tan."


"Insya Allah kami saling mencintai."


"Insya Allah Rion mampu memenuhi kebutuhannya lahir dan batin."


Astaga! Ekspresinya masih biasa aja. Ngomong dong Om. Masa iya aku terus yang ngomong.


Heem... harus pakai jurus jokes.


"Rion mohon doa restu kalian sebagai orang tua kak Bi. Kalau tidak direstui maka izinkan kami kawin lari." Aku dengan sangat berani menatap mereka.


Hap!


Sebuah bantal sofa yang dilempar om Akhtar berhasil ku tangkap.


"Mas!" Tante Lintang sampai terkejut dengan gerakan refleks suaminya.


"Ulangi!" Ucapnya tegas dan menatapku tajam.


"Udah bener awalnya serius, ujung-ujungnya ngajak becanda." Om Akhtar protes padaku.


"Om sih, gak ada respon sama sekali." Aku membela diriku dong.


"Om lagi berusaha jadi calon mertua kejam nih. Biar mantu om besok-besok gak kurang ajar."


Apa???

__ADS_1


Om Akhtar, ini bukan saatnya untuk acting om.


"Ulangi Rion! Yang serius!"


"Mulai dari bagian mohon doa restu."


"Jangan bercanda!" Perintahnya.


Tante Lintang tersenyum menipiskan bibir. Dia mulai jengah dengan kelakuan suaminya. Apa lagi Rion, tan!"


Aku mengulanginya dengan meng-cut kata kawin lari.


"Om restui kalian. Titip Bi dan jaga dia."


"Nafkahi dia dengan hasil keringatmu sendiri."


"Kalau kurang dana. Minta papimu. Pokoknya om gak mau anak om kekurangan satu apapun."


Haaaaa? Aku sampai melongo mendengar nasehat mertua anehku ini.


"Mas! Gak gitu nasehatnya." Tante Lintang protes.


Om Akhtar menatap istrinya. Lalu mengelus pucuk kepalanya. Ah, bikin iri aja nih mertua.


"Sayang, Ray itu kaya. Dan Rion masih merintis. Masih on the way kayanya."


Bahasa apa itu om? Aku hampir meledakkan tawaku mendengar om Akhtar berbicara.


"Kalau anak kita kelaparan dan gak berkecukupan. Sudah seharusnya Ray bertanggung jawab."


"Itukan ulah anaknya."


"Tapi gak gitu kata-katanya sayang."


Astagfirullah, doaku jelek sekali dengan mengatakan pasangan expired.


Dan lamaranku resmi di terima dengan kata-kata penutup dari tante Lintang


"Titip Bi ya, Rion. Jaga dia dan lindungi dia. Bahagiakan dia seperti kami yang selalu mengupayakan kebahagiaannya."


Pasti tante.


Dan sejak saat itu aku berencana melamarnya. Bertekuk lutut di hadapannya.


Dan rencanaku adalah malam minggu. Itu berarti hanya 2 hari dari lagi.


Aku mulai mengatur rencana dengan melibatkan banyak orang. Yaeh, tim suksesku.


Kak Zoya ku tugaskan menghandle kak Bi. Bahkan bunga mawar di kamar dan di dalam mobil kak Bi adalah hasil kerjanya. Tapi kalau yang di kap mobil di parkiran kampus. Nah, itu hasil kerjaku.


Karena aku yakin lamaranku diterima, aku meminta mereka latihan dance sebagai perayaan keberhasilan. Nath, Nair dan Ethan ku paksa ikut latihan.


Dekorasi ruangan ku serahkan pada Event Organizer milik tante Nathalia, emaknya si Ethan. Sedangkan tukang foto, ck! bahasaku kacau sekali. Maksudku fotografer ku serahkan pada timnya om Josep. You know lah siapa om Josep itu.


Dance, ku serahkan pada murid Cahaya Bangsa yang dengan mudah ku hubungi asal fee nya cocok. Hahahah.


Ditengah persiapan, bang Ezra menemuiku. Meminta waktu lamaran resmi, sekitar 15 menit untuk melamar kak Zoy di depan keluarganya. Untuk bertekuk lutut di hadapan gadis yang ia cintai.


It's okey bang Zra. Kita ini sama. Sama-sama pejuang kata 'yes'.


"Zoya punya keinginan, lamarannya dan Bi dilakukan di saat yang sama."

__ADS_1


"Masa iya aku tega menolaknya, Yon."


Kak Zoya juga kakakku. Aku menyayanginya, jadi mana mungkin aku tega menolaknya.


Akhirnya kami putuskan untuk melakaukan lamaran resmi bersamaan. Bang Ezra di wakilkan oleh pemuka agama dan keluarga Tiara.


Huuuft! Menyebut nama Tiara aku jadi ingat bagaimana wajah Nath yang tampak terkejut dengan perubahan penampilan Tiara.


Sepanjang acara Nath juga ku dapati beberapa kali curi-curi pandang ke arah gadis itu. Ayo Nath! Maju terus!


"Ayo pulang!" Ajak papi saat otakku sedang flashback ke persiapan lamaran ini.


"Ck!" Aku berdecak.


"Khayalannya diganggu aja mukanya cemberut gitu. Apalagi malam pertamanya!" Papi dan mami meninggalkanku dan berjalan menuju anak tangga.


Om Akhtar dan tante Lintang melintas di depanku. "Cepat urus pernikahan."


"Fikiran kamu isinya udah hal jorok terus!"


"Iya... iya... papa mertua." Ucapku kesal.


Aku melihat kak Bi berjalan di belakang kak Zoy dan bang Ezra. Mereka juga akan pulang.


"Ayo Rion!" Ajak kak Bi.


Aku berjalan di sampingnya. "Kak ke hotel yuk."


"Fikiran kamu jorok terus, Yon!" Kak Bi berkata tanpa menatapku. Dia terus berjalan menuruni anak tangga.


"Issh... Kita booking buat honeymoon kak."


"Kakak tuh yang fikirannya jorok terus." Aku senang menggodanya.


Kak Bi berhenti sebentar dan menatapku tajam. "Iya. Karena ketularan kamu."


Aku tertawa. Dan kak Bi berjalan lebih dulu meninggalkan aku.


Aku berlari dan mengejarnya. "Kak... I love you."


"Bocah!" Ejeknya padaku saat kami berjalan menuju parkiran.


"Bocah-bocah gini bisa bikin bocah loh kak." Ucapku masih dengan menggodanya.


"Belajar yang bener!" Ucapnya memandangku sekilas.


"Belajarnya sama kakak ya, entar kalau udah halal." Aku membukakan pintu mobil dan kak Bi masuk kedalam.


Aku menutup pintu mobil dan sedikit menunduk untuk melihat wajahnya.


"Belajar di kampus, sayang!" Tangan kak Bi terulur mengusap rambutku.


"Bukan belajar bikin baby." Dia mengerutkan hidungnya.


"Ayo Zoy! Papa udah nunggu tuh." Ajak kak Bi saat mobil om Akhtar bersiap keluar dari parkiran.


"Hati-hati kak Zoy." Ucapku melambaikan tangan.


"Pasti, brondong!" Aku tertawa mendengar ucapan kak Bi.


***

__ADS_1


😂Ada yg mau ku munculin part Nath pas lagi curi-curi pandang gak?


Coret di bawah ya 😚


__ADS_2