BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
80 Perfect Wedding


__ADS_3

Lintang


"Cantik sekali putri mama." Bi terlihat seperti barbie berhijab dengan gaun besar yang panjangnya hingga 4 meter. Ini bukan keinginannya tapi gaun ini adalah gaun yang Rara siapkan untuk kedua putriku.


Aku menatap wajah Bi yang tak pernah kehilangan senyumnya. Resepsi akan di mulai setengah jam lagi. Sejak aku datang sebelum jam 4 tadi, dia selalu tersenyum.


Bi dan Rion saling melempar candaan. Bi juga masih memperlakukan Rion sama seperti dulu. Terlihat dari caranya merespon Rion yang selalu membuatnya kesal yaitu dengan menjewer telinga Rion sampai siempunya mengaduh kesakitan.


"Mama juga sangat cantik." Dia menggenggam tanganku. Terasa dingin. Pasti Bi sangat gugup.


"Bi, mama ke ballroom dulu ya. Papa dan semua keluarga akan kesana menyambut para tamu."


"Iya ma."


"Terima kasih masih menemani Bi sampai ke titik ini, ma. Bi sayang mama."


Air mataku hampir menetes. Aku harus segera keluar dari kamar Bi. Sejak kemarin kami semua sudah berjanji tidak akan ada tangis di acara ini. Kami hanya akan menunjukkan senyum dan tawa. Bahkan tangis kebahagaiaan sekalipun tak akan kami tunjukan.


Saat seperti ini, perasaan Bi dan Zoya pasti sangat sensitif. Terlebih Zoya yang merindukan kehadiran almarhumah tante Hana. Untung saja Kak Satya selalu memberikan dukungan, nasehat dan tak pernah lelah menyemangati Zoya.


Aku keluar kamar Bi dan masuk ke kamar Zoya. Ezra sudah siap begitu juga Zoya.


"Bidadari mama nih." Aku harus ceria menyapanya. Perasaannya pasti sedang tidak baik-baik saja.


"Maaa." Zoya merengek tapi tertawa juga.


Aku berdiri di dekatnya dan mengelus punggungnya.


"Bidadari Ezra, ma." Ucapan Ezra membuatku menoleh kerahnya.


"Iya... iya.. titip Zoya ya Zra."


Aku, mas Akhtar dan seluruh keluarga menyapa tamu di Ballroom. Ray dan Sania juga melakukan hal yang sama. Keluarga Ezra juga sudah ada disini.


Dan pandanganku terarah pada Nath yang sepertinya sedang berbicara dengan seorang gadis dengan gamis syar'i. Aku berjalan kearah mereka berdua.


Saat mulai mendekat, Nath malah pergi dan berlari kearah Nair yang sedang berkumpul di meja bersama Ethan dan Marisa. Nath menarik Nair dengan semangat.


Saat berdiri di depan gadis itu, Nair menangkupkan tangannya di dada.


Siapa gadis itu?


Dan aku bisa melihat Nair malah mengapit leher Nath dengan lengannya.


"Maaaa." Nath melepaskan diri dari Nair. Dan menjemputku, lalu menarikku mendekat dengan Nair dan gadis itu.


"Calon mantu mama. Seorang ukhti." Bisik Nath. Aku menatapnya dengan penuh pertanyaan.


"Maaa, kenalkan ini Naira." Oh, ini gadis yang digadang-gadang membuat Nair semakin mendalami ilmu agama. Aku sering mendengar candaan dilontarkan Nath dan kedua kakak mereka.


Gadis itu mencium punggung tanganku. "Naira tante."


Dia cantik sekali. Calon mantu-able.


Aku milirik wajah Nair dan wajah Naira bergantian. Mirip sih sedikit.


Semoga jodoh.


Aku meninggalkan mereka setelah berpamitan. Aku menemui Anna sahabatku dan Elsa putrinya.


"Ann..."


"Selamat Lin. Sekali punya mantu langsung dua." Kami berpelukan.


"Alhamdulillah An."


"Cie, yang udah jadi oma. Makin cantik aja."


"Wajah harus tetap licin, meskipun uban udah mulai bermunculan." Bisiknya pelan dan kami tertawa bersama.


Aku kembali ke meja yang sudah disediakan untuk keluarga. Aku duduk bersama bunda dan Ayah, mama Riana dan papa Rendra, Langit-Rara serta Sora dan Abi.


Keluarga papa Darma duduk bersama keluarga kak Satya dan saudara kak Satya dari Kalimantan, yaitu bibi Heni.


Mc membuka acara tepat jam 19.00. Saat ini 800 tamu undangan sepertinya sudah hadir semua. Karena meja dan kursi sudah terisi penuh.


****


Nath


Aku terkejut saat melihat gadis yang menjadi pujaan hati saudara kembarku ada disini, di ballroom tempat resepsi kakakku diadakan.


"Dia diundang?" Gumamku pelan. Ah, mungkin Rion yang mengundangnya.


Aku kenapa jadi punya ide begini. Terlebih sepertinya hubungan Nair dan gadis itu cenderung jalan di tempat.


"Assalamualaikum." Sapaku padanya.


"Waalaikumsallam, Nair."

__ADS_1


Oh Tuhan, dia gak bisa bedain mana Nath mana Nair.


Tapi jika dijajarkan aku dan Nair saat ini sangat sulit dibedakan karena pakaian kami sama persis.


"Wait! Sebentar aja. Jangan kemana-mana." Ucapku padanya. Dan gadis itu sepertinya kebingungan.


Aku mencari keberadaan Nair yang malah duduk santai bersama Ethan dan Marisa.


Ck! Tuh anak bukannya patroli. Untung aku yang menemukan titisan bidadari incarannya. Kalau buaya sejenis Shaka atau Caraka, habis dia udah dicaplok.


Aku menarik tangan Nair. "Ayo Nair. Cepat!"


"Apa sih Nath."


"Ikut aja. Gak nyesel deh. Ku jamin."


Aku menariknya dan saat dia melihat Naira, dia jadi lebih kalem. Berjalan dengan tenang dan wajahnya menampilkan senyum.


Aiiihh! Bibit bucin.


"Naira, ini Nair." Aku menepuk bahu Nair. "Dan aku Nath."


Nair menangkupkan tangan di dada. "Assalamualaikum, Naira."


"Waalaikumsalam, Nair."


Ck! Kembar jodoh!


"Lain kali lebih teliti, Naira. Awas ketukar, tapi cukup kenali kami dengan 1 ciri khas."


Keningnya berkerut.


Aku menyugar rambutku. "Aku lebih mempesona." Aku mengerling dan gadis itu menundukkan pandangannya.


Nair memiting leherku. Tapi kemunculan mama menyelamatkanku.


"Maaa." Aku menjemput mama.


****


Nair


Aku tak menduga dia ada dihadapanku sekarang. Dengan gamis yang hijabnya menutup hingga ke perut dan bagian belakang menutup hingga ke pinggangnya.


Saat mama pergi menemui tante Anna dan kak Elsa serta Nath yang juga meninggalkan kami berdua. Aku mulai bingung harus mulai dari mana. Terasa canggung sekali.


"Kamu diundang, Ra?"


"Abi kamu? Dimana?" Aku melihat ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan abinya Naira.


"Tadi sedang berbincang dengan teman-temannya."


"Hubungan kerja dengan om Ray ya, Nai?"


"Iya. Ayah pemasok kain batik untuk seragam guru di sekolah om Ray."


Oh... Aku faham sekarang.


Karena acara akan di mulai. Kami berpisah untuk duduk di meja kami masing-masing.


****


Bintang


Ini bukan pernikahan impianku. Sangat jauh dari mimpiku. Tapi mereka semua mewujudkan pernikahan kami seluar biasa ini. Mereka yang duduk di barisan terdepan. Dengan jas hitam yang digunakan para pria dan gamis coklat susu yang di gunakan wanita.


Saat ini, kami, dua pasang pengantin berada di panggung plaminan. Setelah penyambutan dengan tepuk tangan yang sangat meriah, kini orang tua kami naik ke plaminan karena tamu undangan akan bersalaman untuk mengucapkan selamat sebelum mereka menyantap hidangan.


Tamu undangan mulai antri berbaris. Dibarisan paling depan ada kedua adikku.


"Selamat kakakku tercinta."


"Kiriman kuota harus tetap jalan."


"Tergantung uang belanja, Nath." Ucapku sambil tertawa.


"Bro! Selamat. Beruntung dapet kakakku."


"Kenapa gitu."


"Iyalah. Bonus dua adik gantengnya melewati tower SUTET."


Aku hampir terbahak saat Nath mengatakan kegantengan mereka melebihi tower SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi antara 250 kV hingga 800 kV, yang digunakan untuk transmisi listrik jarak jauh).


"Hati-hati kesetrum." Sahut Rion. Mereka tertawa bersama.


"Kirim kaos orbit tiap bulan, Yon! Jangan pelit sama adik ipar." Kali ini Nair.


"Selamat kak."

__ADS_1


"Cepat nyusul Marisa."


"Doain dia hamidun kak, supaya bisa nikah sebelum lulus kuliah." Jawab Ethan yang sudah bersalaman dengan Rion.


"Ethan!!!" Gumam Marisa geram.


Para tamu terus bergilir mengucapkan salam. Setelah semua orang bersalaman, kami kembali duduk. Para tamu menikmati hidangan sambil mendengarkan hiburan dari homeband.


"Pegel, Yon."


"Sabar ya kak. Harus tetap senyum."


"Harus dong." Kami berbicara tanpa saling memandang.


Bagaimana aku tidak tersenyum saat semua terasa lengkap. Keluarga besarku berkumpul dan mereka semua bahagia. Berbagi senyum dan saling peluk.


Musik berhenti. "Hadirin semuanya. Mohon perhatiannya sebentar."


Perhatian kami terarah pada Mc. "Saya baru saja dapat bisikan goib."


Kami semua tertawa, ada-ada saja.


"Seorang gadis cantik jelita berbalut dress coklat susu. Sepertinya dia anggota keluarga dari salah satu mempelai."


"Dia berbisik indah di telinga saya." Kami semua tertawa. "Mas..."


"Merdu sekali..." Kami semua tertawa lagi.


"Mas... Teman saya Nath, lengkapnya El Nath mau menyumbang lagu."


Mataku membulat sempurna.


"Nath?" Rion sampai kaget.


Nath dengan wajah bingung naik keatas panggung. "Waah... ganteng ternyata."


"Pacarnya ya mbak." Mata Mc itu mengarah pada Tiara.


Oh, ini ulah Tiara. Sweet.


"Kak, jodoh nih kayaknya." Bisik Rion.


"Iya, Yon. Seru banget lihat cara mereka saling mengerjai." Bisikku juga.


"Selamat malam semua." Nath tertawa pelan.


"Ini sebenarnya di luar rencanaku. Tapi demi menepati janji, aku lakukan."


Janji? Padaku atau pada Tiara?


"Bukankah seorang pria sejati harus bisa dipegang ucapannya."


"Bener banget." Sahut Mc.


Hadirin ada yang bertepuk tangan bahkan berteriak.


"Buktikan Nath! Kami mendukungmu!" Teriakan Shaka dari bawah sana.


"Masnya guanteng, dan gentle. Semoga berjodoh ya mbak cantik." Lagi-lagi Mc itu melihat kearah Tiara.


"Oke mas. Waktu dan tempat dipersilahkan."


"Lagu ini liriknya cukup mewakili kedua mempelai pria." Dia tertawa.


"Kita menari?" Nath mengarahkan mikrofon kearah tamu.


"Yaaaaaaa." Ethan dan rombongan bersorak. Ada Alina, Shaka, Lovely, Chiara, Syakilla, Zura anak om Langit dan Delia anak kedua om Josep.


"Berharap tak berpisah. Kita loncat bersama."


"Musik!"


Home band memainkan musik.


"Ingatkah kan dirimu, yang pernah menyakiti aku." Nath berjalan kearah kami, menunjukku dan Zoy. Menegaskan kami pernah menyakitinya. Mungkin dia mewakili perasaan Rion dan Ezra.


"Kau kecewakan aku, tapi kumaafkan kesalahanmu."


"Kini berganti kisah, ku menyakiti dirimu. Tapi apa yang terjadi, kau meningalkanku." Nath menuntun kami ke bawah.


Liriknya mengingatkanku saat aku pergi ke London mengingalkan perasaan Rion yang hancur berkeping.


Kami sampai di bawah, rombongan para brondong dan gadis mengerubungi kami.


"Izinkan aku, untuk terakhir kalinya. Semalam saja bersamamu mengenang asmara kita." Kami bernyanyi bersama.


Nath menarik Tiara dari kursinya. Dan Tiara langsung disambut oleh Shaka.


"Dan aku pun berharap, semoga kita tak berpisah. Dan kau maafkan kesalahan yang pernah ku buat..."

__ADS_1


Kami menari dan bersama. Ini sangat membahagiakan.


Terima kasih semuanya untuk perfect wedding hadiah terindah dari kalian.


__ADS_2