BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
59 Manja


__ADS_3

Bintang


Pagi ini kami bertiga masih bergelung dalam selimut. Setelah sholat subuh, aku, Zoya dan Lovely memilih kembali ke kamar karena udara di sini sangat dingin.


Ku lihat ja di ponsel. "Aissh... jam 7.20. Pantes aja lapar."


Aku turun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.


Tak butuh waktu lama. Aku keluar dari kamar dengan cargo pants panjang berwarna army dan kaos putih berlengan panjang dan hijam segi 4 berwarna senada dengan celanaku.


Aku turun ke bawah, ku lihat mama dan bunda sudah selesai menghidangkan sarapan kami di atas meja makan.


Aku kebelakang rumah. Dan para pria malah berjemur di halaman belakang dengan di temani secangkir teh di depan mereka masing masing.


Aku ingin bergabung dengan mereka. "Sudah bangun, Bi? Lovely di mana?" Tanya ayah Satya.


"Sudah yah. Lovely masih di atas yah sama Zoya. Masih mandi."


Aku duduk di antara Rion dan Nath. Rion terus menatap ponsel dan jemarinya terus bergerak menyentuh layarnya.


"Ada apa Yon? Ada masalah?"


"Enggak kak." Rion menatapku. Dia baru menyadari aku duduk di sebelahnya.


"Cantik." Gumamnya pelan. Aku tersenyum tipis.


"Ada yang mau menyumbang buku. Tapi Tiara gak angkat telpon."


"Masih pagi, Yon. Mungkin masih sibuk."


"Iya kak."


"Mau ku hubungi ayahnya, Yon?" Ezra yang duduk di depan kami menawari.


"Jangan bang. Udah beres kok. Bukunya langsung di kirim ke rumah aja."


Menjelang siang, aku, Zoya dan Lovely menonton aksi pria muda yang sedang lomba berenang. Kami duduk selonjoran di kursi yang letaknya di pinggir kolam renang.


Kolam renang yang tak terlalu besar ini terasa penuh karena menampung 5 orang pria tampan yang, huuh bikin gerah.


Mereka berenang dengan memakai kaos. Karena jika bertelanjang dada, di pastikan papa mengurungku dan Zoya di kamar. Tak memberi kami izin menikmati pemandangan ini.


"Kalau cuma mau berenang, buat apa jauh-jauh ke villa." Ucap Zoya yang terlihat bosan.


"Iya kak. Gak ada bedanya sama di rumah." Lovely menyetujui ucapan Zoya.


"Kak Zoy, ajak mereka cari tempat instagramable yuk." Ajak Lovely.


"Boleh. Ayo Bi."


"Mager Zoy." Jawabku acuh. Aku memilih memejamkan mata menikmati cuaca yang cerah dan tak terlalu panas ini. "Lihat mereka lebih menarik."


"Lihat mereka atau lihat Rion?"


"Tau kak Bi. Segitu istimewanya." Lovely malah ikut mengejekku.


"19 tahun kakak lihat Rion, Lov. Jadi apa yang istimewa."


"Tapi kan beda rasa, Bi." Zoya tertawa.


"Hp siapa ini yang bunyi?" Bunda membawa sebuah ponsel dan aku menerimanya.


Ponsel Rion.


Dan ku lihat panggilan dari orang yang ku kenal. "Rion! Tiara menelpon nih." Jeritku pada Rion yang masih berada di tengah kolam.


"Angkat aja kak. Ganti video. Kali aja Nath kangen sama mukanya."


Hahahah.. Suara tawa mereka meledak.


Ku angkat panggilannya dan menggantinya ke panggilan video.


"Hai Ra." Sapaku saat ku lihat wajah Tiara di layar ponsel Rion.


"Kak Bintang?" Tiara agak terkejut.

__ADS_1


"Iya Ra. Rion disini kok. Tuh lagi berenang." Aku mengarahkan layar dan menunjukkan pada Rion dan yang lain.


"Kamu di sakit Tia?" Pertanyaan Ezra membuatku menatap layar dengan seksama.


"Aku kaya lihat selang infus tadi. Dan kamu tiduran. Kamu di klinik Ti?" Ezra tampak panik dan semakin mendekat. Termasuk Rion juga.


"Tia, ibu pulang dulu. Mau sekalian jemput Naura." Suara wanita paruh baya terdengar di seberang sana.


"Sebentar aja. Kamu gak apa apa kan ibu tinggal sebentar. Kata dokter sore nanti kamu bisa pulang kok." Suara Ibunya Tiara terdengar lagi.


Tiara menatap kearah lain. Tidak ke arah ponsel. "Iya Bu. Tiara juga udah baikan kok."


"Kak. Maaf yah. Tadi ibu lagi ngobrol sama ibu."


"Kak..." Kami tak ada yang menyahut.


"Kok pada bengong." Ucapnya membuat kami tersadar.


"Eh... iya."


"Kamu di klinik, Ra?" Tanyaku.


"Iya kak."


"Tadi pagi badan Tia lemas kak. Jadi ibu bawa ke klinik."


"Kak, kalian pada kumpul ya. Ada bang Ezra juga disana?"


"Kami liburan di Bandung, Ra."


Aku mengganti dengan kamera belakang. Ku arahkan ke area sekitar termasuk wajah Nath.


"Wah enak banget." Serunya.


"Itu Nair. Nah yang duduk itu Nath."


"Tiara tau kak." Sahutnya cepat.


Kami terbahak. "Kirain udah lupa sama wajah Nath."


"Hai Tiaraaaa! GWS yaaa." Mereka melambaikan tangan.


"Terima kasih semuanya."


Selanjutnya Tiara menanyakan mengapa Rion menelponnya pagi tadi. Dan Rion menjelaskan semuanya.


"Udah beres kok, Ti."


"Kamu fokus sama kesehatan kamu."


"Istiraha Ra." Ucapku kemudian.


"Daa Tiara?" Ucap kami semua.


"Kalau mau nomor Nath entar ku kirim." Rion terbahak dan panggilan ku tutup.


"Ngaco!" ucap Nath yang terlihat kesal.


"Belum tahu rasanya ditikung sih." Ucap Rion tersenyum padaku.


"Pedih ya Yon!" Ezra menepuk bahunya.


Mereka semua menepi dan bersandar di dinding kolam.


"Banget bang."


Kami menertawakan Rion.


"Aku kalau cinta langsung lamar. Jadi gak ada kesempatan untuk penikung." Nath dengan segala ke tengilannya. "Kalau belum ada rasa, mau sepuluh penikung pun aku gak masalah tuh."


"Yakin Nath." Tanya Shaka.


"Yakinlah!"


"Kak Bi. Bagi kontak Tiara kak."

__ADS_1


"Pengen tau rasanya nikung sepupu sendiri." Kalimat Shaka ini membuat Ezra dan Rion bersorak. "Maju terus Shaka!"


"Penghianat!" Nath tampak kesal dan meninggalkan kolam.


"Laaaah dia marah kak." Kami tertawa melihat tingkah Nath yang suka tapi gengsi.


Kami berencana akan pulang setelah sholat Dzuhur. Tapi entah mengapa cuaca tiba tiba berubah mendung dan hujan turun dengan derasnya.


Aku dan Zoya masuk ke dapur. "Lapar Zoy." Aku mengelus perutku.


"Sama Bi. Makanya aku kesini."


Kami membuka lemari dan hanya menemukan beberapa cup mie instan.


Zoya menyeduhkan untukku juga. Lalu kami membawanya di ruang keluarga.


Semua orang memilih masuk ke kamar. Dan hanya menyisakan Ezra, Rion dan Shaka yang mulai mengantuk.


Aku duduk di bawah bersama Zoya. Meletakkan air putih hangat dan mie yang masih mengepul asapnya di atas meja.


"Enak banget kak!" Seru Rion saat melihatku yang mengaduk mie agar bumbunya tercampur merata.


"Dibelakang masih ada, Yon." Ucapku tanpa menoleh ke arahnya yang duduk di belakangku.


"Mager kak. Dingin banget soalnya." Ya, Rion memang memakai sweater hoodie yang lumayan tebal. Terlihat dia memang tampak kedinginan.


"Kamu mau Zra? Aku bikinin sekalian Rion." Tanya Zoya.


Ezra menggeleng. "Gak Zoy. Gak perlu makanan perlunya pelukan." Ucapan Ezra berhasil membuat kami menoleh ke arahnya.


"Huuh! Dasar." Rion memukul Ezra dengan bantal.


"Hahahah.. Aku kan jujur, Yon." Ezra membela diri.


"Kalau cewek dingin begini cacing perut yang demo, ya bang."


"Kalau cowok cacing yang lain. Hahahah." Rion terbahak.


"Ah, berisik banget." Shaka yang mengantuk berat pergi dan meninggalkan ruangan ini karena merasa terganggu.


Aku refleks mencubit pahanya yang memang ada di depanku karena kini aku membalikkan posisi dudukku menghadap Rion.


"Aduh kak. Keatas dikit!" Apa-apaan dia. Makin lama makin mes*m.


Tawa Ezra meledak.


Aku berbalik dan menikmati mie yang sudah matang ini. Zoya bahkan sudah menyuapkan mi beberapa kali.


"Kak. Mau dong. Suapi." Duduk di sebelahku.


Sebenarnya hal seperti ini dulu sering ia lakukan. Saat aku mengupas buah atau makan apa saja Rion selalu merecokiku.


Apa hal itu yang membuat rasa cintanya padaku tumbuh. Dia cinta karena terbiasa.


Tapi setelah dia mengungkapkan perasaannya membuatku sedikit menjauh. Dan Rion juga begitu.


Dan setelah setahun lebih kami seolah menjaga jarak dan mengubah sikap. Dia kembali bersikap seperti Rion yang dulu. Rion yang kuanggap sebagai adikku. Rion yang manja tapi suka mengganggu.


Aku menyuapinya. Rion mengunyah mie dalam mulutnya. "Bang Ezra, gini kali ya kalau makan di suapin istri."


"Manja!" Cibirku padanya.


"Setelah nikah. Kakak yang ku manja." Dia mengerling.


Tampan! Jelas! Calon ayah dari anak-anakku.


Hahahah. Aku tertawa dalam hati padahal debaran jantungku sudah tak terkendali.


****


Up ke 2.


Di Usahakan malam minggu ini persiapan acara lamaran bang Rion 😂


Atau bang Ezra dulu nih 😅

__ADS_1


Sabar ya Yon, Zra. Ngantri 😣


__ADS_2