BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
109 Jodoh sampai tua


__ADS_3

Bintang


"Dia belum mau keluar Bi?" tanya Rion yang sedang berbaring di sampingku, menopang kepalanya dengan telapak tangannya dan satu tangan lagi mengelus perutku yang sudah sangat besar ini.


Kami baru saja gowes 5 km sesuai permintaannya. Semakin dia banyak membaca buku seputar kehamilan, ia semakin menjadi-jadi.


Katanya sering-sering gowes bisa memperlancar persalinan. Rion-Rion, aji mumpung banget kamu sayang!


"Ya belum lah, Yon. Biar dia di dalam sampai cukup bulan." Aku ikut mengelus perutku yang sedari tadi si baby aktif bergerak.


"Seneng banget dia, Bi. Abis ditengokin ayahnya." Ada tawa kecil di ujung kalimatnya.


Aku memutar bola mataku. "Bayi dalam kandungan memang lebih aktif kalau malam, sayang. Kamu pernah baca kan?" tanyaku.


"Atau kamu baca yang menguntungkan bagi kamu aja."


"Hahahah." Kan, tawanya itu loh! Tanpa beban banget.


"Ya gak lah!" Elaknya. "Aku baca semuanya sayang."


"Aku juga baca cara bersihin ini loh!" Astaga Rion. Dia menyentuh put*ngku. "Sebelum menyusui, ini harus rajin dibersihkan, Bi. Aku siap membantu kapanpun kamu butuh bantuan."


Aku menarik rambutnya pelan. "Sebentar lagi, bagian itu mutlak buat baby. Kamu. No dekat-dekat." Aku menggerakkan telunjukku ke kanan dan ke kiri.


Bibirnya mencebik. "Dua tahun ya, Bi."


Aku mengangguk.


Dia kembali mengelus perutku. "Demi kamu, ayah rela berkorban!"


Hahahah kayak mau terjun ke medan perang membela negara!


"Kalau udah gede, jangan durhaka sama Bunda ya."


"Lahir juga belom, Yon. Mikirin gede."


"Kan aku cuma nasehati, sayang."


"Kamu elus dia, terus bilangnya tuh begini." Aku mengelus perutku sendiri. "Sayang, kalau mau keluar, jangan menyakiti bunda ya... Jangan malu-malu, langsung keluar aja. Ayah sama bunda udah nunggu kamu, sayang."


Rion terkekeh. "Mana ada melahirkan yang gak sakit sayang."


Dia kembali mengelus perutku, "Lancar pas lahir nanti ya sayang."

__ADS_1


"Iya ayah." Aku tergelak.


Rion merentangkan tangannya dan menjadikan lengannya sebagai bantalku. "Tidur lagi ya sayang. Besok kita harus ke rumah baru bang Ezra sama kak Zoy."


Iya, sudah 3 minggu baby Zi dirawat di rumah sakit. Dan besok, bayi tangguh itu akan di bawa pulang. Sebenarnya Zoya sudah menempati rumah baru itu sejak 2 minggu lalu, sekitar dua hari setelah Zoya pulang dari rumah sakit.


Kenapa pindah? Karena Zoya sudah bisa bergerak bebas setelah pulih bekas operasinya. Dan rumah itu memang jauh lebih luas dan lebih baik untuk tempat tingga baby Zi.


Tiga minggu perjuangan yang sangat luar biasa bagi mereka. Ezra harus bolak balik ke rumah sakit mengatarkan ASI yang menjadi sumber kehidupan baby Zi.


Mama, bunda Una, bahkan Oma Citra satiap hari kesana secara bergantian untuk melihat kondisi baby Zi selama Zoya istirahat di rumah.


Pagi hari...


"Selamat pagi double Bi." Rion mencium keningku dan perutku. Double Bi artinya aku dan Baby. Sesuka hatinya saja dia menyapa kami berdua.


"Pagi, ayah." Sahutku pelan. "Sholat subuh, yuk."


Kami sholat berjamaah di kamar. Sejak kehamilanku 7 bulan, kami lebih sering sholat berdua di dalam kamar karena Rion tak tega melihatku naik turun tangga.


Aku selalu memanjatkan doa semoga diberi kelancaran saat melahirkan. Semoga di berikan kesehatan untukku, baby dan seluruh keluargaku.


Selesai doa, aku dan Rion duduk berdekatan. Rion membuka Al-Quran dan membacakan Surah Maryam. Surah ke 19 dalam Al-Quran dan terdiri dari 89 ayat.


Siang hari...


"Tiara! Kamu duduk disana! Jangan kemana-mana!" Bukannya menurutiku, Nath malah menghampiri Tiara yang berjalan kearah dapur.


Tiara sedari tadi memang duduk di sebelahku. Membantuku memompa balon untuk dekorasi. Ck! Kami berlebihan memang. Karena baby Zi tidak akan mengerti arti sambutan kami.


Tapi tenanglah, ada Opa Akhtar di seksi dokumentasi, yang akan mengabadikan momen ini dan baby Zi bisa melihatnya jika sudah besar nanti.


"Aku mau minum." Sahut Tiara memasang wajah cemberut.


"Nath! Jangan pacaran terus!"


"Iya kak. Iya."


"Tiara cuma ke belakang, gak ada buaya darat sepanjang ruang tamu hingga ke dapur." Sindirku.


"Kakak kamu benar Nath!" Suamiku ikut-ikutan. "Dia udah terlanjut terjebak dengan buaya rawa. Hahahahah."


Nath tak menanggapi candaan Rion. Ia malah sibuk memasang spanduk di dekat tangga.

__ADS_1


Aku, Rion, Nair, Shaka, Lovely dan papa, ayah Satya terbahak melihat Nath yang merasa tersindir.


Mama mengirim pesan padaku bahwa mereka sudah memasuki area komplek. Mama dan bunda Una memang ikut menjemput baby Zi.


"Bersiap!" Perintahku.


Kami semua berkumpul di ruang tamu, pintu terbuka.


"Welcome home baby Ziiiiii....."


Zoya dan Ezra membulatkan mata tak percaya. Zoya menggendong baby Zi seperti kangguru dan segera menutup telinganya saat kami bersorak.


"Sssttt! Volume kita kurangin dikit." Aku terkekeh. "Yang mulia Baby Zidane Ganendra bin bapak Ezra Ganendra sedang bobok ganteng rupanya."


"Lengkap banget, Bi." Ezra terkekeh.


"Harus dong!"


Aku mendekat dan mengintip wajah baby Zi yang tersembunyi di antara dada dan baju Zoya. "Boboknya anteng banget sayang."


"Imut banget sih. Kayak kangguru." Lovely gemas melihat baby Zi yang tenang dalam dekapan mamanya.


"Lihat dong, masih ganteng kayak om Shaka gak?" Shaka dengan penasaran ikut mengintip wajah baby Zi.


"Shaka... Biar baby Zi sama kak Zoy istirahat di kamar!" Suara bunda Una bak aba-aba pemimpin barisan.


Semua minggir memberi jalan pada Zoya dan Ezra. "Udah mirip bapaknya lagi, Ka." Ucap Ezra saat melewati Shaka.


"Alhamdulillah! Om Shaka gantengnya gak ada yang nyamain." Shaka berlagak sujud syukur.


"Dih! Udah narsis, norak lagi!" Sindir Nath. "Pemenang kuis dua milyar aja gak begitu banget reaksinya."


"Ah, buaya rawa. Ikut campur aja!" balas Shaka.


"Bisa diganti gak, buaya rawa kurang pas aja gitu! Buaya emol kek, buaya aparteme kek!" Nawar nih anak. Gak di kasih julukan buaya amatiran aja udah sukur.


"Buaya komplek." Potong Tiara dan kami semua terbahak.


Tiara selalu memasang wajah sebal pada adikku itu. Hubungan keduanya memang sedang tidak baik-baik saja. Tapi bukankah setiap hari memang begitu?


Tidak bisa ku bayangkan jika mereka menikah, setiap hari terus bertengkar, saling ejek dan saling mendengus kesal. Isssh! Aku tidak sanggup membayangkannya. But wait! Bukankah perdebatan kecil itu adalah bumbu dalam rumah tangga.


Wkwkwk... aku yakin rumah tangga mereka akan selezat masakan khas Indonesia yang kaya akan rempah. Bukan kah rempah masuk dalam bumbu masakan? Hahahah.

__ADS_1


"Semoga kalian berjodoh sampai lansia." Doaku tulus.


"Amiiiiiiiiiiinnnnnn!" Aku terkejut saat dengan kompak seisi ruangan ini mengaminkan doaku.


__ADS_2