BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
105 Tujuh bulanan Bintang


__ADS_3

Bintang


Siang ini rumah keluarga Danadyaksa sudah sangat ramai. Semua keluarga mama Lintang dan papa Akhtar sudah berkumpul untuk menghadiri acara tujuh bulanan kehamilanku.


Hanya acara sederhana yang mengundang anak yatim dan ibu-ibu pengajian di komplek ini. Acara dimulai setelah sholat Zuhur.


"Bajuku yang mana, Bi?" tanya Rion padaku saat ia baru keluar dari kamar mandi.


"Di lemari, Yon. Yang koko warna putih." Jawabku yang sedang memakai hijab.


Rion berdiri di sampingku. Aku bisa melihat bayangannya di cermin. Perut kotak-kotak yang masih menetes sedikit air di permukaannya menambah kesan s*xy di mataku.


Bagian tubuh yang hanya tertutup handuk dari pinggang hingga lutut itu berhasil membuat adrenalinku berpacu hebat.


Kalau gak mau acara, udah ku seret kamu ke ranjang, Sayang.


"Cantik banget, sih!" Dia melipat tangannya di dada, tersenyum menatap bayanganku di cermin.


"Dari lahir, sayang."


"Istrinya siapa nih." godanya lagi.


Aku menoleh kesamping, mengerutkan kening menatap wajahnya yang tampan. "Gak mau lagi nih, jadi suamiku?"


"Balik lagi nih, sama...." Aku tak melanjutkan kalimatku karena bibirnya sudah menyapu bibirku.


"Manis. Aman nih lipsticknya buat ibu hamil." Bisiknya setelah menciumku. Modusnya adalah mencicipi rasa lipstickku, memastikan apakah aman untuk ibu hamil atau tidak. Huuuh! Tingkahnya tak pernah tertebak.


"Kamu udah beberapa kali ngerasain yang ini, Yon." Aku cemberut, karena mau tak mau harus mengulang memakai lipstick.


"Heheheh." And See! Dia tertawa tanpa beban.


Rion mengenakan baju koko berwarna putih selaras dengan gamisku. Ia juga memakai celana bahan berwarna hitam.


Aku berjalan mendekat dan merapikan kerah dan kancingnya. Rion pasrah ku perlakukan seperti anak kecil, dan dia justru menikmatinya. Tangannya tak tinggal dim mengelus perut buncitku.


"Eh, nendang!" Rion terkejut saat janin dalam rahimku tiba-tiba bergerak. Aku terkekeh, bukan hal yang baru baginya merasakan tendangan calon anak kami, tapi ia selalu saja merasa excited dan terkejut.


"Dia nendang karena kamu elus-elus, sayang. Si dede kayaknya udah hafal sama sentuhan kamu deh."


"Eh, nendang lagi!" Dia makin meraba seluruh perutku dan berpindah-pindah.


"Udah dong, Sayang. Dedenya capek entar."


"Heheheh... ini beneran gak buat kamu sakit kan, Bi."


"Enggak. Kata mami kan kalau udah menjelang kelahiran, mungkin agak sakit karena bayi semakin besar dan ruang geraknya semakin terbatas." Terangku.


"Kita ke bawah sekarang?" tanyaku.


Rion langsung menggandeng tanganku. Kami berjalan ke bawah karena acara segera di mulai.


"Kita pindah kamar ke lantai bawah aja, yuk Bi." Ajaknya. "Kasian kamu jalannya susah, pasti capek kan naik turun tangga."


"Aku suka pemandangan dari jendela besar di kamar kamu, Yon. Gak apa-apa ya, kita tetap di kamar itu. Lagi pula kamarnya kan luas, entar box bayi kita letakin di samping ranjang ya."


"Aku gak mau pisah kamar sama dede."


Rion mengangguk.


"Ce ileee.... mesranya kayak masih penganten baru aja." Ayah Satya! Aku rindu dia.


"Harus dong, yah." Sahut Rion.


"Perut kamu kenapa, Bi?" Pertanyaan om Langit membuat semua orang mengulum senyum. Sok gak tau! Padahal dia sudah membuat istrinya begini dua kali.


"Akibat banyak bergadang om." Timpalku mengulum senyum.


"Siapa bapaknya?" Pertanyaan macam apa itu, Om?


"Ini!" tunjuk Rion pada dirinya sendiri. "Ganteng gini, gak kelihatan Om?"

__ADS_1


"Loh, kamukan baru sunat kemarin. Masa iya udah bisa menghasilkan karya begini." Om Langit membuat semua orang tertawa.


"Mas..." Tante Rara memberi kode untuk berhenti.


"Om, ke kamar mandi, Yuk." ajak Rion.


"Ih, ngapain?"


"Gede-gede'an pedang. Jamin punya om kalah!"


Semua orang tergelak.


"Ayo, Bi. Kita kedepan, Ibu-ibu pengajian mulai berdatangan." Ajak mami.


Kami menyalami tamu, menyambut kedatangan mereka. Bentangan karpet di ruang tamu perlahan mulai terisi seiring datangnya satu persatu tamu.


Acara di mulai, semua orang mendoakan janin dalam rahimku. Aku bahagia, semua orang menyambut bahagia kedatangan bayi yang sesuai USG adalah baby girl, sesuai keinginan Rion.


"Terima kasih sudah datang dan mendoakan tante sama adek bayinya ya." Ucap Rion sambil menyalami anak-anak yang pamit pulang karena acara sudah selesai.


"Sama-sama, om. Terima kasih juga."


Acara selesai. Kami semua berkumpul di meja makan dan dapur. Ada yang duduk di kursi, sofa dan ada juga yang duduk di lantai.


"Tiara kemana, Zoy? Kok gak ikut? Hari ini rumah baca kan tutup." tanyaku pada Zoya saat tak melihat sosok Tiara. Padahal aku sendiri yang mengundangnya.


"Gak enak badan dia, Bi. Tiduran terus dari pagi."


"Anterin makanan sana, Nath!" Perintahku pada Nath yang sedang ngegame bersama Caraka dan Shaka.


"Nanti kak."


"Iya, Bi. Sore ajalah, sekalian anterin dia ke rumah orang tuanya. Soalnya aku mau menginap di rumah mama."


"Dia sempat bilang tadi, kepengen pulang ke rumaha ayah, Ibunya. Tapi katanya nunggu sore aja."


"Kamu gak antar, Zra?" tanyaku.


Ya, Ezra benar sih. Hanya saja aku bisa melihat sisi berbeda darinya jika sedang bersama Nath. Dia sama sekali tak ada beban. Ingin mengejek, ya ejek saja. Ingin marah, ya marah saja. Kadang aku berfikir keduanya berjodoh.


"Oh, ya Nath. Kamu udah lama juga loh gak ke rumah baca." Tanyaku menyadari tak pernah bertemu Nath di rumah baca, padahal aku tergolong sering ada disana. "Kamu berantem sama Tiara?" Dan ku lihat Tiara tampak murung, dia juga sering melamun. Apa dia kehilangan sosok Nath yang tidak pernah hadir kesana?


"Iya, hampir sebulan, kak." potong Rizal.


"Sok tau." Nath bersungut.


"Tau lah. Aku kan lihat data sama cctv. Hahahaha." Rizal terbahak.


"Kenapa Zal? Ngecek nih anak pacaran sama Tiara?" Pertanyaan Rion membuat keduanya terbahak.


"Iya bang. Takut ada yang cinlok. Hahahahah."


"Cemburu?" tanya Nath mengangkat sebelah alisnya.


"Gak lah. Kak Ti udah klop banget sama abang."


Kami terbahak melihat ekspresi Nath yang sulit ku tebak.


Esok paginya...


Ponselku berdering, padahal belum memasuki waktu subuh.


"Siapa, Bi?" Gumam Rion yang merasa terganggu.


"Mama, Yon."


"Hallo, ma?"


"Bi, Nath gak pulang semalam"


"Apa? Kok bisa ma?"

__ADS_1


"Mama gak tau, Bi. Nair baru turun dan bilang kalau Nath gak pulang." Suara mama terdengar panik.


"Di telpon gak bisa ma?"


"Gak diangkat, Bi."


"Cari dikamar Bi, ma."


"Gak ada."


"Mungkin di rumah Zoya, ma?"


"Gak ada, Ezra malam tadi pulang ke rumah karena ada berkas penting yang mendadak harus dia bawa pagi ini. Dan Nath gak ada disana." Mama makin panik. Nath tidak pernah bertingkah seperti ini sebelumnya.


"Kenapa, Bi?" Tanya Rion.


"Nath gak pulang."


"Ma, Bi coba hubungi Ethan dan yang lain ya. Siapa tau Ethan tau keberadaannya." Aku menutup panggilan. Segera menghubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan Nath. Namun nihil.


Terakhir ia pergi menemui Tiara di rumah Zoya. Bukan menemui sih, tapi lebih tepatnya mengantarkan makan malam untuk gadis itu sekalian mengantarkannya ke rumah orang tuanya, jika Tiara mau.


Sebelum ke kampus aku mampir ke rumah mama. Di teras aku bertemu dengan Ethan yang juga baru saja datang.


"Kehilangan Nath, kayak kehilangan anak perawan aja mertua kamu, Yon!" Bisiknya pada Rion. Dan aku menatap tajam keduanya.


"Hehe... just kidding kak."


Kami masuk ke dalam. Aku memeluk mama yang tampak khawatir. "Nath gak pernah begini, Bi."


"Sabar, Ma."


"Tenang lah, Lin. Nath pasti baik-baik saja."


"Aku takut dia kena begal atau kecela..." mama terisak tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Ibunya Tiara sempat mengatakan, Nath datang. Dan gak lama langsung pulang, karena Tiara gak ada di rumah. Tiara pergi ke rumah temannya yang mau menikah."


"Tiara gak ada izin loh." Sahut Rion.


"Mungkin belum sempat, karena kamu sibuk, Yon." Sahut Ezra.


"Tenang semuanya. Kita bisa tau kok dia dimana." Ucap Ethan.


Dengan laptonya Ethan melacak keberadaan, Nath. "Hpnya aktif kan, Nair?"


"Aktif. Tapi gak ada satupun panggilan yang dijawab, gak ada pesan yang dibaca."


Ethan entah melakukan apa dengan laptopnya. Hingga muncul gambar peta.


"****!" Umpatnya. "Dia liburan, di Jogja."


"Apaaaa!" Kami semua terkejut.


"Jangan becanda, Than!" Teriak papa tak percaya. Kami semua menatap layar laptop Ethan.


Dan benar, ponsel Nath terlacak di hotel Xx, Jogjakarta.


Kami saling tatap. Ini gila! Dia kesana tanpa pamit, tanpa membawa pakaian. Dia kabur? Sepertinya tidak, karena tak ada masalah apapun selama ini.


"Kamu yakin dia gak diculik kan, Than?" tanya mama belum yakin.


"Dia masih tidur ini, Tan. Perjalanan panjang yang dia tempuh, mungkin dia kelelahan."


"Iya kali, orang diculik disekapnya di hotel." Cibir Ethan. "Kecuali diculik tante cab*l!"


"Ethaaaaan!" Teriak kami karena dia berbicara tanpa beban. Dan pria itu hanya bisa menutup telinganya.


***


Nath ngapain di sana? Dengan siapa? Dan berbuat apa?

__ADS_1


Cari jawabannya di El-Nath. Novel terbaru yang insya allah akan rilis di awal bulan 😊


__ADS_2