BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
91 Uban


__ADS_3

Bintang


"Alhamdulillah...." Teriakku melompat dari atas tempat tidur dan berlari kearah suamiku.


"Rion!!!" Aku langsung melompat dipangkuan Rion yang sedang duduk di sofa kamar dengan mata terfokus pada layar Tv di depannya


"Astagfirullah, Bi..." Rion langsung memegangi tubuhku agar tidak jatuh.


"Ada apa sayang, teriak alhamdulillahnya kayak menang undian aja." Rion mencubit hidungku.


"Lihat!" Aku menunjukkan pesan Ezra di grup keluarga Alvarendra.


📩 Ezra



Alhamdulillah. Mohon doanya oma-opa, eyang buyut, onty, uncle. Semoga 2 minggu lagi dedenya udah kelihatan pas USG ya 😊


"Bi... kak Zoy hamil?" Rion menatapku dengan raut wajah terkejutnya.


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Waaahh! Bang Ezra mantulity." Rion merebut ponsel yang sudah ramai dengan balasan penghuni grup.


📩Nath


Selamat bang. Calon ponakan om ganteng udah nongol nih. 👶


📩Mama


Alhamdulillah, selamat Zoya sayang.. Selamat juga Zra. Jaga Zoya Zra. Jangan capek-capek sayang.


📩Bunda Una


Alhamdulillah, cucu grandma udah nongol nih. Jaga baik-baik ya sayang.


📩Tante Rara


Alhamdulillah sayang. Sehat-sehat nak.


📩Om Skai


Pake jurus apa Zra! Joss banget!


Rioon! Tunjukkan maha karyamu!


📩Nair


Alhamdulillah. Semoga jadi anak soleh/soleha kak.


📩Shaka


Jurus ngadon kebab om Lang! Rion mah lewaaaat!! 🤓


Aku dan Rion tergelak membaca balasan dari mereka. Rion tak tahan untuk tidak masuk dalam obrolan itu.


📩Bintang


I'm Rion! Masih menikmati prosesnya om Lang! Hasil mah pasrah aja. 😅😅


Aku merebut ponsel dari tangan Rion. Jika di biarkan maka obrolan mereka bisa berlanjut hingga subuh.


"Bi..." Rion menatapku memohon.

__ADS_1


"No, sayang. Kamu kalau udah gabung om Langit sama Shaka, bahaya. Nair sama mama bisa istigfar seratus kali baca isi chat kalian." Aku menyembunyikan ponselku di belakang tubuhku.


Rion tersenyum. Aku tahu ada sesuatu di senyum itu. Aku melirik ponselnya yang terus bergetar tanda notifikasi dari grup.


Aku segera bangun dari tubuhnya dan menyambar ponsel Rion. Aku tahu, senyumnya tadi berarti dia akan melanjutkan obrolan lewat ponselnya.


"Bi..."


"Sekarang bisa baca fikiran suami ya.... Sebuah kemajuan nih!"


Nah, benarkan tebakanku. Aku berlari dan naik di atas ranjang. Menyembunyikan dua ponsel di bawah bantal yang ku tiduri. Aku menutup selurut tubuhku dengan selimut.


"Bi, sekaang coba baca fikiranku." Rion mendekat dan perlahan naik ke ranjang.


Wah, dia mikir apa ya kira-kira?


"Kamu mau makan cemilan?" Tebakku dengan wajah masih di dalam selimut.


"Enggak."


Aku merasa dia semakin dekat. Apa ya kira-kira? Aku masih berfikir di bawah selimut tebal ini.


"Kamu mau gowes 10 km." Tebakku karena biasanya Rion lebih mes*m jika sudah di atas ranjang.


"Kamu nebak atau ngasih penawaran, sayang!"


Nah kan? Malah dibilang nawarin. Aku gak nawarin dan kamu gak minta aja, aktivitas gowes bisa terjadi. Apa lagi kalau kamu anggap aku nawarin, sayang.


Gak aman nih!


"Tadi kamu nanya. Ya aku cuma nebak, Sayang." Aku perlahan mengintip Rion. Karena dia sama sekali tidak bergerak lagi. Kira-kira dia sedang apa?


Greeb...


"Kita coba free style." Rion menaik turunkan kedua alisnya.


"Gak mau!" Aku menutup kembali wajahku.


"Dosa loh, nolak suami." Bisiknya di telingaku. Aku mendengar dengan jelas walaupun terhalang selimut.


Aku menghela nafas. Gini amat nikah sama berondong. Semangatnya meletup-letup banget. Libur sehari aja sulitnya minta ampun!


Aku membuka selimut uang menutup kepalaku. "Oke. 10 menit!" Ucapku padanya.


"Astaga. Belum panas nih mesin, Bi. Udah end aja."


Aku ingin tertawa, tapi ku tahan. Entahlah, menikah dengannya dan menjadi istrinya sama sekali tidak mengubah apapun dalam hubungan kami. Kecuali pertempuran.


Kami berperan sebagai teman, kadang aku jadi kakak dan dia adik. Kadang dia jadi abang, atau ayah. Tapi dia lebih sering memposisikan dirinya sebagai suami. Lah, dia kan memang suamiku.


"10 menit atau gak sama sekali." Penawaran terakhirku.


"Tambah 10 menit lagi lah, aku kasih ceban lagi deh." Penawaran apa itu, Yon!


Nih anak kecilnya kebanyakan rental PS apa gimana sih!


"10 menit atau gak sama sekali!" Ulangku.


Rion makin galau. Dia bimbang. Apa susahnya ambil yang sepuluh menit sih? Masa iya aku berhenti sementara dia belum sampai ke finish. Mana tega, sayang.


Aku menggigit bibirku menahan tawa. Sebegitu menghargainya dia, sampai-sampai dia masih menimbang penawaran yang gak masuk akal dariku.


Rion bergeser dan berbaring di sebelahku. "Lebih baik enggak deh, dari pada berujung di kamar mandi bersama sabun." Rion memejamkan matanya.

__ADS_1


Aku bangun dan duduk bersandar di headboard. Aku mengangkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuanku yang sebelumnya sudah ku letakkan bantal di atasnya.


Rion tiduran tengkurap dengan wajah menatap kesamping. Tangannya memeluk pinggangku


Aku suka dia yang bermanja padaku. Aku tak melewatkan momen mengelus rambutnya yang terasa lembut. Mungkin ini efek dia yang belum memakai pomade.


"Kak Zoy sama bang Ezra bentar lagi punya anak, Bi."


"Iya... aku bahagia sayang. Akhirnya Ezra dan Zoya merasakan kebahagiaan luar biasa."


"Kamu ingin, Bi?" Rion berbalik dan menatap wajahku. Tangannya terulur mengelus pipiku.


Aku tersenyum menatap wajahnya yang terlihat terbalik saat ini. Aku masih mengusap rambutnya. Kadang memutar poninya dengan jari telunjukku. Walaupun agak sulit karena rambutnya pendek, tapi tetap ku lakukan.


"Ingin, sayang. Sangat malah."


"Karena aku tahu baby kita pasti akan di sambut hangat oleh kedua keluarga kita."


"Kalau kamu?" tanyaku balik.


"Mau sih. Tapi pacaran dulu lebih seru."


"Berdua dulu, nikmati masa-masa yang kita gak jalani sebelumnya."


"Masuk bioskop sambil pegangan tangan. Duduk dibangku pojok, nonton film romantis sambil cium*an!" Aku memukul lengannya.


"Selalu mes*m!" Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku.


Rion memegang tanganku yang berada di mulutnya dan menggenggamnya. "Percayalah, kemes*man ini hanya untukmu."


Belajar gombal dimana suamiku ini?


"Untukku, padaku, dan bersamaku. No debat!" Sambungku.


"Pasti donk!"


"Rion...!


"Ya...."


"Janji ya, uban kita entar numbuhnya barengan." Ucapanku membuatnya tergelak.


"Kan!" Aku memukul lengannya lagi. "Malah ketawa." Aku cemberut.


"Ya habisnya kamu aneh banget, Bi." Dia masih tergelak.


"Janji itu sehidup semati, jangan ditinggalin. Jangan selingkuh walaupun kepepet. Jangan pergi walaupun sedang ada masalah berat."


"Ini malah mikirin uban." Rion kembali tengkurap dan memeluk pinggangku.


Rion, kenapa selalu menjengkelkan sih?


"Ya siapa tahu kalau ubanku lebih dulu tumbuh, dan saat itu kamu cari yang lain." Aku mengelus rambut hitamnya.


"Kan lebih baik kalau uban kita tumbuhnya barengan, Yon!"


Rion makin tergelak. Sebenarnya apa yang salah dari perkataanku?


"Isshhh! Ketawa terus!" Aku mencubit punggungnya yang terasa keras.


****


Jejak kak 😊

__ADS_1


__ADS_2