
Zoya
Minggu siang, aku duduk selonjoran di sofa. Tanganku men-scroll layar ponsel dengan kecepatan tinggi tanda tak ada apapun yang menarik di sini. Aku meletakkan ponselku di atas meja.
Gabut! Inilah yang ku rasakan saat ini. Berdiam diri di rumah sendirian. Karena Ezra harus ke mall memeriksa gerainya di sana. Lalu lanjut ke Arumi Resto untuk mengambil berkas yang harus ku tanda tangani.
Tok... Tok... pintu di ketuk dari luar.
"Assalamualaikum, Zoy!"
"Mamaa!" Alhamdulillah, akhirnya ada manusia yang bisa ku ajak bicara. Aku perlahan berjalan ke arah pintu dan saat ku buka.
"Tadaaaaaaaa!!! Surprise!!!!" Teriak serombongan tamu di depan pintu rumahku. Ada satu, dua, tiga, aku terus menghitung dan jumlah mereka hampir sepuluh orang.
"Masuk..." Aku minggir sedikit dan mempersilahkan mereka masuk.
Nair, Nath, Shaka, Caraka, Lovely, Syakilla, mama, bunda una, tante sora, papa, om Abi, dan ayah Satya masuk satu persatu.
"Anak ayah sehat." ayah merangkul bahuku. Dan kami berjalan bersama. Aku menempelkan kepalaku di lengannya.
"Sehat, ayah." Aku tau dia menyayangiku, sangat malah. Entah mengapa ayah Satya adalah sosok yang sangat penting bagiku setelah almarhumah oma. Mungkin karena darinya aku mengenal sosok mama, masa kecil mama lewat semua ceritanya.
Para anak muda duduk di lantai dengan membentang karpet yang ada di sudut ruangan. Dan orang tua duduk di sofa.
"Tumben banget pada ke sini, ma?" Aku memeluk mama.
"Ck! Emangnya kakak gak bosen sendirian di rumah?" tanya Nath.
"Banget!" Sambarku.
"Jelas dong, Nath! Gimana gak bosen, biasanya jam segini kaki panjangnya udah entah sampai kemana-mana." Papa menyindirku yang tak bisa diam.
"Hahahah..." Semua orang tertawa.
"Kalian gak ada yang hubungi Bi. Kangen dia, ma." Tanyaku sambil melihat Bunda yang membuka bungkusan berisi makanan yang mereka bawa. Padaha baru beberapa hari kami ketemu.
"Kak Bi sakit, Kak!" Sahut Lovely cepat dan gadis itu refleks menutup mulutnya.
"Sakit?" Mama.
"Sakit?" papa.
"Kak Bi sakit?" Nath.
"Rion gak ada hubungin kamu kan Nath?" tanya Nair panik.
"Eh... bukan gitu semuanya." Lovely menggaruk kepalanya. Dari ekspresinya sepertinya ia salah bicara tadi. "Maksudku, gak enak badan. Ya, gak enak badan." Dia mendadak gugup. Kami semua menatapnya.
"Kamu tau dari mana, Lov?" tanya bunda Una.
"Itu, bun. Dari Chiara! Tadi Lov sempat chat Chia, terus bilang kalau kita mau kesini, siapa tahu dia bisa ikut sama kak Bi."
"Tapi Chia bilang kak Bi sakit." Lovely berusaha menjelaskan apa yang kita tahu.
"Sakit apa ya, Mas?" Mama langsung khawatir. "Beberapa hari lalu kita video call dia sehat-sehat aja kan mas?"
"Iya..."
"Biar ku coba telpon." Papa mengambil ponsel di kantong celananya.
Papa menari-narikan ibu jarinya di layar ponsel miliknya. "Gak diangkat!"
Mama mencoba dengan ponselnya. "Sama, gak diangkat juga Mas."
"Aku coba hubungi Rion deh."
Nath mencoba menghubungi Rion. "Diangkat." Ucap Nath cepat.
Nath mengarahkan ponsel ke wajahnya.
"Ada apa, Nath? Hoaaamm...." Ucap Rion sepertinya sambil menguap.
"Tidur, Yon."
"He'eemm..."
"Kak Bi mana."
"Nih, tidur."
"Sakit?"
__ADS_1
"Enggak, lagi males-malesan aja."
"Kita di rumah kak Zoy, nih. Kesini gih!"
"Entar, aku bangunin dulu."
"Jangan Yon!" Ucap mama dan Nath langsung memberikan ponselnya pada mama.
"Biarkan saja."
"Iya ma." Aku melihat muka bantal Rion. Dan Bi yang meringkuk di sebelahnya mulai terusik.
"Ada apa, yang!"
"Bangun woi... Dilihatin banyak orang nih." Ucapku agak keras.
"Zoy!" Dengan mata sayupnya, Bi menatap ke layar. "Haaaiii."
"Bi, mabok?" Aku tergelak.
"Mereka disini nih. Bunda Una bawa asinan mangga sama kedondong. Enak tau!" Aku mengangkat cup berisi asinan yang dibawa bunda Una. Padahal aku sendiri bekum mencicipinya.
Mata Bi langsung terbuka lebar. Mama, tante Sora dan bunda sampai tertawa.
"Riooon! Kita kesana, sekarang!" Perintahnya saat itu juga.
Panggilan langsung dimatikan.
"Dih, giliran makanan langsung jreng matanya, ma."
"Sudah hafal mama, Zoy." Kami senua tertawa.
"Keadaan kamu sudah lebih baik kan sayang?" tanya mama mengelus bahuku.
"Udah ma. Kadang kalau siang gini, Zoy bisa makan sedikit-sedikit."
"Alhamdulillah."
***
Bintang
"Assalamualaikum!" Teriakku sambil membuka pintu rumah Zoya.
Mama, tante Sora dan bunda serta Zoya duduk di ruang keluarga dengan Tv yang menyala. Para pemuda dan gadis, lesehan dengan karpet di depan tv.
"Mana.... mana asinannya!" Aku langsung duduk di dekat bunda Una. Terlihat beberapa cup di atas meja. Aku memilih yang mangga.
"Rion! Ambilin sendok dong!" Perintahku dan mama melotot.
"Gak boleh begitu sama suami, Bi!" Aku nyengir.
"Nih! Jangan banyak-banyak sayang, entar sakit perut!" Suami tersayang memberikan sendok kepadaku.
"Terima kasih bos suami!" Ucapku tanpa beban.
"Sama-sama Nyonya Orion!" Rion membalas dengan senyum mengembang.
"Hoeekk!!!" Nath pura pura mual. "Sungguh kebucinan yang menusuk lambungku!" Ucapnya tanpa menatap kami.
"Awas sampai lu bucin, ntar!" Aku membuat tissu yang masih tebal itu mendarat mulus di kepalanya. Syakilla dan Lovely sampai cekikikan.
"Gak bakal!" Ucapnya yakin.
Aku mencebikkan bibir. Rion ikut bergabung bersama papa dan yang lain. Sementara aku memilih menikmati asinan yang berhasil membuat liurku hampir menetes.
Sesuap, uh! Enak sekali. Perpaduan asam, manis dan pedas menyentuh seluruh rongga mulutku. Menciptakan sensasi rasa segar dan membuat pahit di lidahku akibat muntah malam tadi hilang seketika.
"Pelan-pelan, Bi." Tante Sora tertawa melihatku yang lahap menyuapkan potongan buah mangga ke mulutku.
"Enak, tante! Recomended nih!"
"Recomended karena gratis, Bi?" Zoya meledekku.
Aku meletakkan cup yang sudah habis isinya itu ke atas meja. "Seorang Nyonya Orion mana level gratisan, Zoy! Emangnya aku sejenis Nath!" Aku tak terima, gengsi dong gratisan.
"Laaah! Aku lagi!" Keluh Nath. Ia tak terima namanya ku sebut.
"Kamu kan suka gratisan, Nath!"
"Buka gratisan kak, tapi hadiah. Hadiah pulsa dari kak Zoy, kuota dari kak Bi, kaos dari Rion! Uh! Itu hadiah kak." Dia membela diri.
__ADS_1
"Dih, sama aja Nath!"
"Bi, jangan diladeni, sayang!" Ucap Rion padaku. "Entar kamu capek."
Rion benar, berdebat dengan Nath sama saja seperti lari maraton 5 km, capek.
"Ma, perut Bi kok panas ya?" Tanyaku pada mama. Perutku memang terasa panas dan sedikit mulas, apa efek makan pedas?
"Kamu kebanyakan makannya. Minum air putih, Bi." Mama memberiku segelas air putih.
"Sayang, kenapa?" Rion langsung datang dan berlutut di depanku.
"Sakit perutnya?" Tanyanya khawatir. Aku melirik yang lain dan mereka menatap kami curiga. Kehamilanku memang belum ku umumkan. Aku ingin memberi surprise, tapi tidak sekarang.
"Gak apa, sayang. Sedikit aja kok." Tapi aku nyengir menahan sakit.
"Kita ke rumah sakit, ya!" Rion semakin khawatir.
"Gak perlu, sayang." Aku berdiri dan berlari ke belakang.
"Mau apa, Bi?" Rion mengikutiku sampai kamar mandi yang pintunya baru saja ku tutup.
"Aku mau pup, bentar!" teriakku dari dalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit aku keluar dari kamar mandi dan ku temukan Rion berdiri di depan pintu dengan raut wajah khawatir.
"Gak apa-apa kan sayang? Gak ada darah atau tanda yang membahayakan dia?" Rion mengelus perutku.
Aku kaget atas tingkahnya, tapi usapan lembut tangannta membuatku nyaman.
"Gak apa-apa sayang." Rion meraih pinggangku dan mengajakku kembali bergabung.
"Makin bucin, ya Yon! Sampai pup aja di tungguin!" Caraka berhasil memancing tawa mereka.
Rion tak peduli, dia menuntunku duduk di sofa dan ikut duduk di bahu sofa.
Rion berlebihan sayang, mereka bisa curiga. Gagal deh kita kasih kejutannya.
"Beeh! Bener Cak! Di depan kamar mandi gayanya kayak di depan ruang operasi menunggu istrinya lahiran!" Kelakar Nath semakin membuat mereka tertawa.
"Entar kamu juga ngerasain, Nath. Kalau Tiara hamil!"
"Laah apa urusannya sama aku!" Potong Nath cepat.
"Tunggu! Kamu bilang hamil?" Astaga! Bunda Una menyadari ucapan Rion yang menyebut kata hamil.
"Iya!" Sahut Rion tanpa beban.
Semua orang sepertinya mulai menyadari sesuatu. Sesuatu yang masih ku sembunyikan.
"Bintang hamil, Yon!" Tanya bunda Una bersamaan dengan mama.
"Kamu hamil, Bi?" Mama sampai berdiri dari duduknya.
"Bi?" Zoya menatapku tajam.
"Ada yang bilang, Bi hamil?" Papa sampai berjalan mendekat.
Astaga Rion! Aku menatap tajam pada suamiku yang hanya bisa nyengir menunjukkan gigi putihnya.
Mau tak mau deh ngaku!
"I... iya ma."
Papa menarik kerah baju Rion, hingga ia berdiri dan menjauh dari sofa. Papa langsung menggantikan posisinya dan memelukku erat.
"Anak papa, dua-duanya hamil. Alhamdulillah!" Ucap papa. "Kita punya dua cucu, Lin."
Mama juga mendekat, "Selamat sayang!"
Semua orang mengucapkan selamat padaku.
"Wooiii... Aku gak diselamatin nih?" Suamiku duduk di karpet seperti orang bod*h."
"Ah iya, lupa abang ipar!" Nath, Nair, Shaka dan Caraka menubruk tubuh Rion hingga terjengkang.
"Selamat, Bro! Gak nyangka bibit kamu mantap juga!" Caraka berada paling atas.
"Bang Caraka berat, tau!" Keluh Shaka yang ditindih Caraka.
"Cak! Sadar diri dong! Kamu berat!" Ya, memang tubuh Caraka paling berisi diantara semuanya.
__ADS_1
"Wooiii... Asetku bisa pecah di bawah nih! Aku masih mau punya anak ke dua!!" Teriaknya yang terhimpit paling bawah.
Kami semua tertawa melihat kelakuan mereka Dan kejutan yang sudah ku rencanakan gagal karena suamiku sendiri. Huuh!