
Orion
Tok... tok... tok...
Pintu kamarku diketuk. "Kamu niat nikah gak sih, Yon. Habis sholat subuh bukannya standby malah tidur lagi." Teriakan mami terdengar dari luar.
"Sadaqallahul'adzim." Aku menutup Al-Quran yang ada di depanku. Meletakkannya kembali ke rak buku.
Aku berjalan kearah pintu dan membukanya.
Aku melihat mami yang memasang wajah kesal. "Kamu tidur lagi, Yon?" tanya mami.
"Enggak mi. Rion baru selesai mengaji."
Aku mengaji demi menenangkan fikiranku. Jika kemarin-kemarin aku dengan gagah berani dan yakin seyakin yakinnya menghadapi akad nikah. Maka hari ini aku merasa sangat gugup dan khawatir.
"Cepat bersiap, Yon. Mama bantu, yuk." Mama menarikku ke dalam kamar. Mama sudah siap dengan gamis dan hijabnya. Make up mami juga sudah sempurna.
"Rion bisa sendiri, mi."
Tapi mami sama sekali tidak menggubrisku. Mami membuka baju koko dan sarung yang ku pakai. Untung saja aku pakai boxer.
"Mi..."
"Let me do it, Yon!"
"Kedepannya mami tidak akan mungkin melakukannya."
"Ini mungkin yang terakhir." Mata mami berembun.
"Besok, udah gak ada yang teriak, kaos kaki Rion dimana, Mi?"
"Hoodie Rion yang warna navi dimana, Mi?"
"Mi, Rion mau ganti handuk nih."
"Gak ada lagi sayang." Kemeja putih berhasil terpasang di tubuhku setelah kaos polos.
Aku menatap wanita yang paling ku cintai ini. Padahal malam tadi kami sudah menumpahkan air mata sebanyak mungkin saat mami dan papi masuk ke kamarku. Tapi mengapa ada air mata lagi?
"Mi, Rion tetap anak mami kan?"
Mami mengangguk mengelus pipiku.
"Sekali lagi nak, jadi suami yang baik ya. Ini pilihan kamu. Jangan pernah mundur meskipun nanti ada batu sandungan dalam pernikahan kalian."
Aku menggenggam tangan mami yang masih setia di pipiku. "Rion janji mi. Rion akan berusaha menjadi suami yang baik. Rion akan jaga nama baik keluarga."
Mami memberiku celana yang harus ku pakai. Mami juga memakaikan ikat pinggang. Serta jas.
"Kamu udah cuci muka kan, Yon?"
"Udah mi."
"Mami bedakin dikit ya."
__ADS_1
Aku menggeleng. "Udah ganteng mami." Aku memeluk mami.
"Happy wedding sayang."
"Sudah siap melangkah ke gerbang pernikahan?"
"Siap, Mi."
Aku dan mami turun setelah menyempurnakan penampilanku. Mami sedikitpun tak pernah melepaskan rangkulannya di lenganku.
"Siap tempur?" Tanya papi merangkul bahuku.
"Siap, Pi."
"Ray, janji setia dulu, baru tempur!" Mami meralat ucapan papi.
"Iya sayang, iya."
"Koper siapa, Mi?" tanyaku saat melihat koper sudah standby di teras rumah.
"Punya kamu lah."
"Memangnya setelah nikah kita gak bawa kak Bi kesini?" tanyaku penasaran. Karena sesuai kesepakatan kemarin, sore hari setelah akad aku boleh membawa kak Bi ke rumah.
"Rencana berubah di detik-detik terakhir." Ucap papi tersenyum padaku.
"Berubah? Kok Rion gak tau?" Aku menatap papi.
"Ini hasil diskusi para orang tua, Yon." Jawab papi. "Tenanglah. Kamu pasti suka."
"Ayo berangkat, udah hampir jam 8 nih."
Tiba di kediaman om Akhtar kami langsung di sambut meriah oleh keluarga besar mereka. Kami langsung dipersilahkan masuk. Dan ternyata keluarga bang Ezra sudah lebih dulu tiba.
"Deg-degan bang?" bisikku pada bang Ezra saat kami bersalaman.
"Banget, Yon! Lebih mendebarkan dari pada dikejar satpol PP."
Aku tertawa pelan. "Sukses bang!"
"Sama. Kamu juga, Yon!"
Jam 9 tepat, acara segera di mulai. Aku duduk di depan petugas KUA yang mendampingi seorang kakek yang ku tahu adalah opa kak Bi. Beliau adalah ayah dari papanya kak Bi.
Karena wali nikah kak Bi telah tiada, yaitu papa kandungnya, maka wali nikah akan di gantikan oleh opanya. Yaitu opa Darma.
Aku menjabat tangan beliau. Sedikit bergetar, sama sepertiku. Matanya berkaca. Aku tahu beliau sedih karena harus menggantikan tugas putranya.
"Saya nikahkan engkau ananda Orion Arrayan Danadyaksa bin Arrayan Danadyaksa dengan cucu kandung saya Bintang Alkhaleena binti Rezki Putra Darma dengan mahar Empat ratus sepuluh juta delapan ratus tiga puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh rupiah tunai."
"Saya terima nikahnya Bintang Alkhaleena binti Rezki Putra Darma dengan mahar Empat ratus sepuluh juta delapan ratus tiga puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh rupiah tunai."
Janji suci dihadapan Allah yang ku ucap hanya dengan satu tarikan nafas. Semoga Allah memberkahi pernikahan kami.
"Bagaimana saksi?"
__ADS_1
"Sah."
"Alhamdulillah."
Doa pernikahan dibacakan dan dilanjutkan akad bang Ezra dan kak Zoy. Bang Ezra tak kalah tangguh, dia benar-benar menghilangkan kegugupannya demi mengikat janji pada kak Zoya.
Mahar kami, adalah jumlah tanggal lahirku dan kak Bi. Bang Ezra juga memilih menggabungkan tanggal lahirnya dan kak Zoy. Hanya saja kami menambahkan satu nol di bagian belakang hingga jadilah angka ratusan juta.
Pilihan itu adalah ide kak Bi. Agar tak memberatkan bang Ezra. Agar tak ada perbedaan diantara mahar untuk kak Zoy dan kak Bi.
Karena mahar yang kami berikan tidak dilihat dari jumlahnya tapi makna dibalik angkanya.
Setelah akad, barulah kak Bi dan kak Zoya turun. Jika ini sosok bidadari, maka betapa beruntungnya aku telah melihatnya selama 19 tahun.
Aku memasangkan cincin di jari manis kak Bi. Begitu juga kak Bi yang juga memasangkan cincin di jariku.
"Cium tangan suaminya." Bibir lembut itu menyentuh punggung tanganku. Sekarang seluruh lahir dan batinnya adalah milikku, tanggung jawabku. Kini aku telah halal untuk memyentuhnya.
"Sekarang cium kening istrinya, mas."
"Dengan senang hati," bisikku di hadapan kak Bi yang tersenyum kecil.
Tapi sebelum ku kecup keningnya. Aku membacakan doa dengan meletakkan tangan kananku di ubun-ubunnya.
"Titip Bi ya, Rion. Sejatinya biduk rumah tangga akan tetap diterjang ombak. Tapi percayalah, kesetiaan dan saling percaya akan membuat kalian mampu bertahan sebesar apapun guncangan itu." Bisik mama Lintang padaku.
"Insya Allah ma."
"Jaga putri papa, Yon. Bimbing Bi, dan tetap saling berpegang tangan. Jangan biarkan waktu menggerus cinta kalian yang akan berujung pada terlukanya putri papa."
"Insya Allah pa."
"Jaga istrimu, Yon. Tanggung jawab atasnya sudah berpindah padamu."
"Iya, mi. Insya Allah."
"Ingat nasehat papi. Laki-laki harus gantle. Sekali aduk harus langsung jadi. Buktikan anak papi jagoan!"
Papi selalu memberi nasehat antimainstream ya pi.
"Iya... pi." Lenyap sudah suasana haru karena bisikan papi.
Selanjutnya kami berkeliling menyalami semua tamu yang hadir.
"Yon, lihat sana." Kak Bi menunjuk seorang fotografer.
"Dia bukan fotografer EO kak."
"Elah, senyum aja kenapa sih Yon. Anak magang special nih." Ucap Ethan padaku.
"Rion, lihat fotografer yang pakai seragam khusus." Itu perintah tante Nathali. "Yang itu gak usah di peduliin, Yon. Biar aja dia dapatnya foto candid." Tante Nathali menunjuk putranya, Ethan.
"Yon, jadikan aku fotografer special edisi unboxing dong. Lama nih gak dapet job."
"Ethan, gelut di luar yuk."
__ADS_1
***
Belum sampai tahap buka segel. Sabar ya 😊