BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
65 Pemandangan indah


__ADS_3

Nath


Aku diberi tugas khusus oleh kak Zoy untuk menyembunyikan tamu yang akan menghadiri lamaran Rion dan Kak Bi di salah satu ruangan di lantai satu. Ruangan yang biasa dipakai untuk meeting para staff restoran.


Kak Zoy terpaksa mengelabui kak Bi untuk masuk ke ruang kerjanya terlebih dahulu, karena kalau langsung ke taman pasti kak Bi akan curiga.


Aku mengkoordinasi tamu yang datang bersama security dan manager restoran. Untung saja aku tidak sendirian.


Dan mataku membulat tak percaya saat security membawa empat orang masuk ke ruangan ini.


Mereka adalah pasangan suami istri, dan dua anak perempuannya yang berusia sekitar 18 tahun dan 7 tahun. Kalian tahu siapa? Tiara.


Oh God. Dunia ini sempit sekali. Mengapa harus satu ruangan dengan si jutek jelmaan mak lampir ini?


"Tiara!" Gumamku tanpa sadar.


"Siapa Nath?" Bisik mama yang berada di dekatku.


"Siapa ma?" tanyaku ulang.


"Iya, Tiara siapa?"


"Tuh." Tunjukku dengan dagu pada gadis berdress pink itu.


"Yang jaga rumah bacanya Rion ma."


"Ooo." Mama manggut-manggut gak jelas.


"Masih lama Nath?" tanya om Ray padaku.


"Harusnya sudah om. Tapi kak Bi dan kak Zoy terlambat 10 menit." Aku sempat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.


"Kak, mau pipis." Astaga suara siapa itu? Aku mencari sumber suara dan ternyata adiknya Tiara yang berbicara padanya.


"Kenapa Naura, Ti?" Tanya ibunya.


"Dia mau ke kamar mandi, Bu."


"Antar ya, Ti."


Ku lihat gadis dengan rambut yang tertata rapi itu mengangguk. Tiara sempat melihat sekeliling lalu netranya menangkap bayanganku.


Aiiishh, dia mendekat. Aku melirik mama yang sepertinya sedang asik bercerita dengan bunda Una.


Tiara berdiri di sebelah kursiku. "Bang toilet dimana?" Bisiknya.


Dari sekian banyak orang, dia bertanya padaku?


Ya, aku faham. Mungkin disini dia hanya mengenalku.


"Kenapa Nath?" Mama pasti mendengarnya.


"Nanya toilet, ma."


"Ayo kak. Ura udah gak tahan nih." Ucapan adiknya membuatku tak tega.


"Antar Nath." Perintah ibu negara, eh, maksudku mama.


Aku mengangguk. "Ayo."


Tiara dan adiknya berjalan di belakangku. "Masih jauh bang?"


"Sebentar lagi lamp-," hampir saja aku keceplosan memangilnya lampir.


"Udah sampai." Aku berhenti di depan toilet wanita.


"Tunggu di sini, bang. Entar aku baliknya nyasar!" Tiara dan adiknya masuk ke toilet

__ADS_1


Lampiiir!! Seorang Nath yang tampan dan wangi ini kamu suruh menunggu di depan toilet wanita. Penghinaan ini namanya.


Tak butuh waktu lama mereka segera keluar. Bersamaan dengan seorang wanita paruh baya.


"Waah. Kalian awet muda sekali?" Tante itu menatapku dan Tiara bergantian.


"Nikah muda ya. Anaknya udah gede gini." Tante itu tersenyum. "Semoga langgeng terus ya."


Sebelum pergi, tante itu berbicara pada Tiara. "Hati-hati mbak, suaminya ganteng. Awas di samber pelakor."


Tiara hanya melongo mendengar penuturan wanita itu yang ku yakin ia salah faham.


Aku nyaris meledakkan tawaku. Aku menikah dengan lampir dan punya anak sebesar ini.


Iya kali tamat SD langsung nikah. Aku mengeleng pelan.


"Ayo ba-." ucapanku terhenti karena melihat Tiara yang berjongkok mengelap ujung gaun adiknya dengan tissu.


"Makanya hati-hati, Ura."


"Iya kak. Tadi gak sengaja kesiram. Bang Ezra marah gak ya sama Ura karena bajunya basah."


"Enggak sayang. Sebentar lagi kering kok."


Aku terus melihatnya dengan posisi berdiri dan bersandar di tembok.


Tapi entah mengapa aku malah terpana melihat belahan dada yang dapat ku lihat dengan jelas dari posisiku berdiri.


Putih, bersih dan *i think it looks like a squishy.


Astagfirullah*. Aku beristigfar. Kenapa otakku jadi mes*m begini. Ini pasti kebanyakan bergaul sama Ethan dan Rion.


Tapi sungguh, pemandangan yang membuatku penasaran.


Dan bodohnya, jantungku berdebar. Seperti pencuri yang takut ketahuan.


Tiara berusaha mengejar adiknya. Tapi dia hampir saja menabrak pelayan yang membawa piring kotor.


Aku menarik lengannya agar tak tertabrak.


Bruuk...


Tubuh Tiara malah membentur tubuhku. Di terkejut dan mematung dengan posisi dalam pelukanku.


Dan kali ini imanku sedang diuji. Squishynya malah menempel di tubuhku dan dari sini aku melihatnya lagi, bahkan dengan lebih jelas.


Astagfirullah. Kenapa si lampir ini membuatku di kelilingi setan sih. Apa jangan-jangan dia beneran lampir yang berteman dengan setan.


"Kalau jalan hati-hati." Aku melepas pelukanku dan berjalan lebih dulu.


Aku perlu menetralkan detak jantungku, menjernihkan pikiranku dan perlu menidurkan cacing besar alaska di bawah sana.


"Iya. iya. Aku mana tahu, pelayan itu tiba-tiba nongol dari balik tembok!" Gerutunya di belakangku.


Dan dari situ sepanjang acara aku beberapa kali melihatnya. Melihatnya ya, bukan squishynya! Jangan berburuk sangka padaku!!


Dan saat ini aku tengah terjebak bersama jelmaan mak lampir.


Setelah acara lamaran yang sukses malam tadi, hari ini Rion kembali merepotkan kami. Kami harus menata ulang, membersihkan dan mempersiapkan rumah baca yang akan kembali dibuka besok.


Rion sejak pagi disini, tapi jam 11 tadi dia harus ke OrBit karena ada hal penting yang harus ia selesaikan. Cih, pemburu rupiah modal kawin. Getol bener yang cari duit.


Aku sedang duduk di lantai memilah buku sesuai jenisnya.


"Kakak mau beli makanan dulu. Kamu bantu Tiara sebentar Nath." Kak Bi bangkit dan bergegas pergi. Menyisakan aku dan Tiara.


Kami tidak benar-benar berdua. Karena Nair dan Rizal ada di lantai 1. Sedangkan kami ada di lantai dua menyusun buku-buku yang di butuhkan anak SMP dan SMA.

__ADS_1


Ya, lantai dua juga akan digunakan karena teryata setelah penyerangan itu, rumah baca ini semakin di kenal dan di dukung. Penyumbang buku terus berdatangan dan akhirnya lantai dua juga di gunakan.


Lantai dua di pilih untuk anak SMP dan SMA karena jika untuk anak-anak kecil cukup beresiko. Terlebih saat mereka saling dorong di tangga.


"Bang. Tolong ambilin buku di dus itu." Ucap Tiara yang berdiri di bangku plastik.


Dia tengah menata buku di rak yang tingginya mungkin hanya sekitar 160 cm. Aku mau tak mau berdiri dan mengangkat buku di dus itu.


Aku berdiri si sampingnya. Sekarang dia lebih tinggi dariku. Aku mendongak menatap wajahnya.


"Nah." Aku menyodorkan dus itu.


"Pegang dulu ya. Biar Tia susun satu-satu."


Apa? Aku harus berdiri di sampingnya dengan memegang dus ini.


"Ngerepotin terus." Sindirku. "Gak tau kalau berat apa?"


"Sebentar doang. Cemen banget. Lemah." Gumamnya pelan.


Dia meremehkanku.


Tia menyusun satu persatu buku dan tinggal buku terakhir.


Aku melempar dus itu sembarangan. Akhirnya selesai juga.


"Astagfirullah." Tiara terkejut saat melihat sampul bukunya. Dia menjadi tidak seimbang dan hampir terjungkal ke belakang.


Aku memeluk pinggangnya. Tubuhnya merapat ke tubuhku. Dan Squishy itu tepat di depan mataku. Hanya satu, dua atau tiga centi saja.


Jantungku, oh tidaakkk!


Cacing besar alaska. Please jangan terpancing keluar dari persembunyian!


Tangan Tiara bertumpu di bahuku.


Aku mengangkatnya dan menurunkanya di lantai. "Selalu ceroboh!" Sindirku.


Aku berjalan meninggalkannya.


Dia duduk di sebelahku. Tak ada rasa canggung sekalipun bahkan saat kami tanpa sengaja berpelukan. Dia tidak peka, terlalu polos, atau dia memang pemain?


"Yang sortir di dus tadi siapa bang?" Tanyanya dan buku terakhir masih ia pegang.


"Akulah. Siapa lagi." Memang aku yang menyortir buku-buku sumbangan di dus tadi.


"Iiihhh!!! Ini tuh gak pantes disini!" Tiara menempelkan buku itu di wajahku.


"Simpan di rumah, di kamar, kalau perlu di bawah kasur kamu."


Tiara pergi meninggalkanku dan kembali menyusun buku di rak.


Apa salahku?


Ku lihat buku bersampul dengan warna gelap itu. Ku baca judul bukunya.


"Kamasutra."


Matilah! Beg*!


***


Karena dia the next generationnya Si Bokap.


Momenntnya juga harus melibatkan *yang dibawah sana. 😅


Semoga suka😁*

__ADS_1


Jejak kalian untuk jelmaan lampir dan pemilik cacing besar alaska. 😚😚😚


__ADS_2