BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
71 Tanpa sayap


__ADS_3

Zoya


Didalam kamar aku menatap kebaya gamis yang akan ku pakai besok. Pakaian serba putih dengan payet yang disusun dengan sangat mewah. Aku tersenyum menyentuhnya pakaian yang terpasang rapi di sebuah manekin ini.


"Tangan tante Rara memang ajaib." Pujiku karena 3 hari lalu saat fitting, gamis kebaya ini belum mendapat sentuhan akhir. Aku dan Bi hanya mencoba ukurannya saja. Dan semua sudah pas tanpa harus ada perombakan lagi.


Aku segera mandi dan berganti pakaian. Karena waktu magrib akan segera tiba.


Selesai sholat magrib, makan malam dan sholat Isya, aku dan Bi kembali ke kamar kami. Kami perlu istirahat. Dan para orang tua tidak ada yang mengizinkan kami begadang hingga larut.


"Besok, jangan sampai mata kalian bengkak karena begadang." Itu pesan mama.


"Jangan sampai kalian menguap sepanjang acara. Jelek ntar di foto." Ucap bunda Una.


"Awas kalau muka kalian gak fresh ya! Jangan sampai baju rancangan tante Rara yang terbaik sepanjang sejarah gak match sama wajah lelah kalian!" Ck! Narsis banget istri om Langit.


"Iya... iya..."


Aku duduk di atas ranjang, menatap kamar yang selama ini menjadi tempatku terlelap. Kamar yang menjadi saksi tulusnya kasih sayang mama Lintang, saksi pertengkaran aku dan Bi dan masih banyak lagi kenangan di kamar ini.


Aku beralih menatap foto papa Rezki dan mama arum yang ku kolase dalam satu bingkai.


Ku raih foto yang berdiri tegak di nakas itu. Ku peluk dan aku menumpahkan air mataku.


"Mama, papa. Zoya akan menikah besok." Aku mengelus permukaan foto.


"Mama papa datang ya..." Aku tersenyum menatap foto yang kacanya sudah basah oleh air mataku.


"Lihat Zoya dan Bi menjadi pengantin."


"Tanpa papa." Bahuku bergetar hebat.


Dinikahkan langsung oleh sosok papa. Itu hanyalah mimpi bagiku dan Bintang.


Jika papa masih ada, aku juga tidak akan bisa dinikahkan langsung olehnya. Karena aku tidak dinasabkan pada papa. Melainkan pada mama.


Aku meringkuk di atas ranjang. Selama ini aku bisa mendapat kasih sayang luar biasa dari papa Akhtar dan mama Lintang. Tapi entah mengapa menjelang hari bahagiaku sosok mama menjadi sangat-sangat ku rindukan.


Terlebih saat dengan hangat ayah Ezra memeluknya. Meski tanpa mama setidaknya dia masih punya ayah.


Aku? Semuanya sudah pergi bahkan saat aku baru di lahirkan.


Mempersiapkan pernikahan tanpa sosok mama dan papa juga membuatku bingung tiap kali aku mengambil keputusan. Mama Lintang dan Papa Akhtar sudah sangat sibuk dengan segala persiapannya.


Kalau seandainya mama Arum dan papa Rezki masih ada, mugkin semuanya akan jauh lebih membahagiakan.


Ayah Satya dan Bunda Una memang membantuku. Semua orang berusaha agar aku dan Bi tidak terlalu sibuk dan repot.


Bukan tidak bersyukur, hanya saja aku baru merasakannya sekarang. Jika orang tua adalah sayap bagi anak-anaknya. Maka aku baru menyadari bahwa kedua sayapku telah lama patah. Atau mungkin aku memang dilahirkan tanpa sayap?


"Ma, peluk Zoy sekali saja." Rengekku.


"Oma juga sudah pergi ma."


Aku merasakan ranjangku tergoyang. Dan pelukan hangat berasal dari arah belakang. Aku berbalik.


Bintang dengan air mata yang menggenangi pipinya juga sedang terisak.


"Do we feel the same?" tanya Bintang.


*apa kita merasakan hal yang sama?

__ADS_1


Aku dan Bi duduk bersila di atas ranjang.


"Hai pa..." Bi mengambil bingkai di tanganku.


"Baru kali ini papa Akhtar tidak bisa menggantikan papa." Bahunya berguncang.


"Baru kali ini papa Akhtar tidak bisa menjadi superhero kami."


"Dan besok, papa Akhtar tidak bisa menggantikan papa menjabat tangan Rion untuk Bi." Bintang menyeka air matanya. Aku bersandar di bahu Bintang.


"Pa, baru kali ini semuanya begitu terasa melukai Bi."


"Jika cinta mama Lintang dan papa Akhtar adalah penawar luka, maka besok akan ada luka tanpa penawar."


"Bi..." Aku mengusap lengan Bintang. "Semua akan baik-baik saja."


"Selangkah lagi kita akan melepas masa lajang."


"Semoga lingkaran setan tak terulang, Bi."


"Jangan jadikan diri kita 'Lintang dan Arum' yang lain."


"Jangan hadirkan 'Zoya dan Bintang' yang lain."


Bintang mengangguk.


"Kita menikah karena pilihan kita Zoy."


"Kita menikah dengan cara yang baik, Insya Allah."


Aku mendengar suara isak tangis yang lain. Dari arah luar. Aku dan Bi saling tatap. "Mama." ucap kami bersamaan tanpa suara.


Kami langsung melompat dari atas ranjang. Aku memegang handle pintu, ternyata pintu sudah terbuka sedikit.


Isak tangisnya menandakan dia mendengar semuanya.


"Mamaaaaa..." Kami langsung memeluk mama.


Hanya isak tangis yang saling bersahutan yang terdengar.


"Maafkan mama, sayang."


"No, ma!"


"Gak, ma. Mama gak salah."


"Ayo ma." Aku dan Bi menuntun mama ke dalam kamar.


"Kita ke bawah ya sayang. Ada oma Citra di bawah. Oma juga sepertinya tidak baik baik saja." Ucap mama di tengah isak tangisnya.


Apa oma Citra mengenang sosok papa yang harusnya besok jadi bagian penting?


Kami berjalan ke halaman belakang. Karena bagian dalam rumah akan di dekorasi seluruhnya. Petugas EO kembali melanjutkan tugasnya setelah sholat Isya.


Oma Citra duduk di sofa yang memang di pindahkan di belakang.


Mama mengelus kepala kami agar segera menemuinya.


"Oma..." Aku dan Bi duduk mengapit oma.


"Gimana? Deg-degan ya?" Aku tahu pertanyaan itu hanya untuk mengalihkan kesedihannya.

__ADS_1


"Banget." Kami memeluk oma yang kulitnya sudah mulai keriput dan tubuh yang kian kurus karena penyakit diabetes yang oma derita.


"Oma, besok banyak cake loh."


"Ya, terus?" tanya oma pada Bi.


"Jangan makan banyak-banyak ya." Aku tertawa mendengar Bi yang seolah-olah sedang menasehati bocah.


"Nanti gula darah oma naik lagi." Oma mengangguk.


"Oma harus tetap sehat. Siapa tahu tahun depan Zoya udah kasih cicit." Tunjuk Bi padaku.


Aku menegakkan dudukku. " Kok aku sih, Bi."


"Lah, kan Ezra udah dewasa Zoy. Sekali aduk jamin deh langsung jadi."


Oma tertawa mendengar kami berdebat. Padahal mata merah dan bengkak milik Zoya masih terlihat jelas.


"Rion juga bisa Bi buat kamu hamil."


"Tapi kan bibitnya belum matang kayak si Ezra."


Oma makin tertawa.


"Tuh kan? Oma aja setuju kalau kamu kasih cicit lebih dulu."


"Oma bahagia punya cicit?" Tanyaku saat wajah muram itu berubah menjadi tawa bahagia.


Oma mengangguk. "Bahagia, sayang." Tangan lembutnya mengelus kepalaku.


"Oke oma. Cicit oma segera on the way." Aku memeluk oma.


"Jangan sedih lagi ya, Oma."


"Zoya sama Bi baik-baik aja kok."


"Oma kangen papa kan?"


Oma menatapku dan Bi bergantian. Lalu mengangguk.


"Rasanya memang berat oma." Bi menggenggam tangan oma.


"Tapi besok hanya sehari. Kita semua bisa berdiri tegak tanpa papa selama 24 tahun."


"Kita pasti bisa melewati hari esok." Lanjutku.


Aku dan Bi saling tatap. Dan aku melihat keraguan dimatanya.


Sama sepertiku. Tak yakin apakah esok akan mudah dilewati.


****


Aku mewek pas nulis part ini 😭


Kayak ada di posisi Zoy 😭


Jejak sayang. 😚


Bersiap ke akad nikah Or-Bit sama En-Zoy 😂


Bawa kresek, siapa tahu bisa masukin cake kedalem tas.

__ADS_1


Eh 😂


__ADS_2