
Bintang
Kami tiba di ruko dua lantai yang menurutku sebenarnya kurang cocok dijadikan sebagai rumah baca. Karena lokasinya kurang luas.
Tapi mungkin tempat ini paling strategis karena dekat dengan anak-anak yang kurang beruntung itu.
Aku dan Rion masuk ke dalam. Yang pertama kali ku lihat Nath menekuk wajah menghadap Tiara yang sedang membaca.
Kemudian keduannya menatap ku dan Rion.
"Kak? Kok bisa?" Pertanyaan Nath membuat Tiara melihat ke arahku. Gadis itu melihat kami berdua dengam raut wajah penuh keheranan.
"Kak..." Tiara mungkin lupa namaku. "Kak Bintang?"
Aku tersenyum. Rion langsung masuk dan menarik kursi untukku. "Duduk kak." Perintahnya.
Suami idaman. Batinku.
"Kakak kenal bang Rion?" tanya Tiara padaku. Nath memasang wajah juteknya karena aku tak menjawab pertanyaannya.
Aku mengangguk. "Kalau yang ini?" Tiara menunjuk Nath dengan lirikan matanya.
Aku tertawa. "Dia peliharaanku Ra."
"Pantesan jinak. Ada majikannya toh?" Tiara manggut-manggut.
Aku tertawa menutup mulutku. Rion juga ikut tertawa.
"Tau ah!" Nath berpindah duduk di lantai. Berusaha membuka kotak kardus berukuran agak besar.
Rion menghampiri anak-anak. "Kalian baca apa?" Rion ikut duduk lesehan bersama mereka.
"Buku cerita bang."
"Dongeng kancil bang."
"Buku pelajaran IPA bang."
"Sejarah kerajaan Majapahit bang."
Mereka menjawab dengan semangat. Aku melihat interaksinya bersama anak-anak itu. Tak ada rasa canggung sedikitpun.
Mungkinkah suatu hari akan ku saksikan pemandangan seperti ini di rumah? Melihatnya berinteraksi dengan anak-anak kami?
"Pada lapar gak?" Pertanyaannya membuatku terhempas dari anganku.
Semua anak-anak mengangguk. "Ayo kebelakang dulu, cuci tangan."
"Abang bawa makanan. Tapi bukunya ditinggal dulu ya. Nanti kotor kena makanan kalian." Ucap Rion penuh kelembutan.
"Tiara, tolong bantu Ti." Perintahnya pada Tiara.
Aku ikut menyusul Tiara yang berjalan di belakang anak-anak.
"Mau kemana kak?" Tanya Rion ysng bersiap membawa plastik berisi makanan itu.
"Ikut kebelakang, boleh kan Yon?" tanyaku.
"Boleh. Ayo kak." Rion berjalan di depanku.
Kami masuk ke sebuah pintu yang letakknya agak di belakang. Tepatnya dekat anak tangga.
Dan di dalamnya ada dapur mini dan kamar mandi. Tertata rapi dan bersih.
"Kalian cuci tangannya gantiaan ya."
"Boleh di washtafel, boleh juga di kamar mandi." Perintah Tiara.
__ADS_1
"Sabunnya ada kak?" tanya salah satu anak.
"Ada. Gantian ya." Tiara memberikan sabun cair pada mereka.
Rion meletakkan plastik di meja. "Pakai tikar aja ya kak."
"Kursinya gak cukup untuk anak-anak."
Aku mengangguk karena hanya ada satu meja kecil dan dua kursi disini sementara anak-anak berjumlah hampir sepuluh orang.
Anak-anak duduk dengan tertib. Tiara mengambil air mineral dalam kemasan cup dari dalam lemari es. Lalu membagi pada anak-anak.
"Hari ini kita dapat rezeki. Ada yang kirim makanan untuk kita." Ucap Rion sambil membagikan satu per satu kebab pada anak-anak. Aku ikut membantunya.
"Terima kasih bang."
"Terima kasih kak." Ucap mereka padaku.
Aku tersenyum. Kebahagiaan datang dengan cara sesederhana ini.
Rion duduk di sebelah kananku dan Tiara di sebelah kiriku.
Aku menyodorkan satu untuk Tiara. "Makan, Ra."
Dia menerimanya sambil tersenyum, "Makasih kak."
Anak-anak makan setelah membaca doa.
"Enak bang."
"Iya, enak."
"Aku belum pernah makan yang kayak begini."
"Ini mahal." Ucap satu anak pada temannya.
"Aku mau sisain setengah untuk abang di rumah. Abang pasti belum pernah makan makanan kayak gini." Ku lihat anak perempuan yang usianya sekitar 8 tahun itu membelah kebabnya lalu menyimpan setengahnya.
Aku menatap kebabku yang belum ku makan. Ada rasa nyeri di sudut hatiku. Aku menatap Rion yang juga merasa sesuatu menusuk hatinya.
Aku memberikan kebabku padanya. Masih terbungkus rapi dalam kemasannya. "Ini untuk abang kamu." Anak itu menatapku.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Ambil."
"Kamu habiskan punyamu." Anak itu menatap Rion seperti meminta persetujuan. Aku menatap keduanya bergantian. Dan saat Rion mengangguk. Anak itu mengambilnya dariku, "Terima kasih, kak."
"Kakak makan apa?" Tanyanya.
Aku bingung harus jawab apa. "Kakak..."
"Kakak bagi dua sama abang." Rion membuatku menoleh kearahnya. Rion tengah membelah kebabnya menjadi dua.
"Abang kenyang, tadi udah makan siang di kampus." Rion mengulurkan kebab di tangannya kepadaku.
Aku menerimanya.
Setelah selesai dan mencuci tangan, kami kembali ke depan.
Nath masih fokus pada tumpukan buku. Dia sibuk men-stample buku-buku itu.
Tiara ikut duduk dengan membawa buku besar dan mencatat nama buku yang akan di data.
Rion mengisi data stample yang harus diisi seperti tanggal pendataan, sumbernya dari mana, apakah beli atau sumbangan serta nomor buku.
Aku ikut duduk dan membantu mereka.
Semua selesai sekitar jam 5 sore. Bertepatan dengan jam tutup rumah baca..
__ADS_1
Nath ditugaskan mengantar Tiara. Awalnya dia menolak. Tiara juga. Tapi aku memaksa karena cuaca mulai mendung.
Dan Nath tak bisa berkutik lagi.
"Aku antar kakak pulang." Ucap Rion saat kamu mulai membelah jalanan.
Aku tertawa. "Kamu pulang naik apa? Harusnya aku yang antar kamu pulang."
"Aku dijemput supir kak."
Rion melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Kak, boleh minta pendapat gak?" Rion berbicara setelah kami diam cukup lama.
"Apa?" Aku menatapnya.
"Clothing line yang baru mulai ku rintis, pemasarannya lebih bagus fokus secara online atau aku fokus ke distronya aja ya kak?" Tanyanya padaku.
"Ya menurut kamu gimana?" Tanyaku balik.
"Aku sih udah tanya tante Rara sama bang Ezra, kalau bisa dua-duanya jalan barengan, itu lebih bagus."
"Nah, menurutku sih gitu."
"Zaman udah canggih, Yon. Belanja online itu udah kaya virus yang menjangkit hampir semua orang."
"Ya, dimanfaatkan dong. Kamu bisa belajar dari mama yang lebih berpengalaman."
"Kalau distro aku rasa juga perlu. Karena segelintir orang kalau belanja kadang gak puas kalau gak lihat langsung produknya." Aku memberikan pendapatku.
"Sudah berapa persen?" Tanyaku.
"Masih lama kak. Mesin sablon baru tiba 2 hari lagi."
"Belum perakitan dan lain-lain."
"Mudah-mudahan bulan depan udah bisa jalan kak."
"Amin. Semoga lancar, Yon."
Dia tersenyum menatapku sekilas. "Semoga sukses juga kak. Biar bisa wujudkan dream wedding kakak."
Aku tertawa. Pernikahan impian? Belum pernah sekalipun menyelinap masuk dalam fikiranku.
"Kenapa ketawa, kak?" Tanyanya heran.
"Gak punya pernikahan impian, Yon."
"Asal sah dimata hukum dan agama. Udah alhamdulillah."
"Sederhana banget kak." Ucapnya heran.
"Kalau oneday ada yang kasih wedding party waaahh. Ya ku anggap bonus." Ucapku pada Rion.
"Kalau ada yang kasih paket honeymoon gratis, ya berangkat."
"Hidupku sesimple itu, Yon." Aku menatap lurus kedepan.
Aku takut berharap terlalu banyak. Karena bagaimana pun pernikahan mama dan papa Rezki menjadi momok bagiku.
Aku hanya takut, sejarah kembali terulang.
****
Jangan tunggu up ke dua sayangπ
Karena Gak ada π
__ADS_1
Jejak kalian, plisss ππ