BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
74 Gugup


__ADS_3

Zoya


Setelah sholat Asar, Ezra masuk ke kamarku. Ini untuk pertama kalinya seorang pria asing masuk kesini. Tapi bukankah sekarang Ezra bukan lagi pria asing? Dia suamiku. Dia berhak atas kamar ini dan atas diriku.


Kecanggungan mulai terasa. Apa yang akan kami lakukan? Apa yang akan ku katakan?


Aku duduk di ranjang dengan kaki menjuntai kebawah sementara Ezra duduk di kursi rias. Kami saling berhadapan.


Kami saling diam. Dan membuang pandangan kesekeliling kamar, kemana saja asal tidak berhadapan.


Tapi mau sampai kapan begini terus. Ayolah Zoya! Ezra bukan orang baru bagimu. Dia dulu sangat dekat denganmu.


"Zra..."


"Zoy..."


Ck! Apa-apaan ini? Kami berbicara bersamaan.


"Kamu duluan."


"Kamu duluan."


Aku menggaruk kening sementara Ezra mengusap tengkuknya. Semakin canggung saja suasana kamar ini.


"Aku..."


"Aku..."


Astaga! Aku menggeleng pelan. Ezra juga melakukan hal yang sama. Dan kami menertawakan diri kami sendiri.


Tok... Tok... Tok...


Pintu diketuk dari luar.


Siapa yang berani mengganggu.


"Asik banget ketawa-ketawa. Ikutan dong." Itu suara Rion. Penghuni baru di kamar sebelah.


Kami berdua menatap kearah pintu.


"Kamu ganggu orang lagi buat dede aja, Yon! Masuk ke kandang kamu sendiri." Itu suara Bintang.


Ck! Buat dede katanya? Jauh dari ekspektasimu, Bi!


"Aduh, kakak. Telingaku bisa putus nih." Aku dan Ezra mengulum senyum. Pasti saat ini Bi sedang menjewer telinga Rion.


Rasain! Gimana rasanya ketemu pawangmu, Yon?


Setelah situasi aman. "Kamu dulu." Kata Ezra.


Aku diam sejenak. "Nervous." Aku tersenyum canggung.


Ezra menepuk pahanya. Isyarat apa itu Zra?


Aku mematung di tempatku.


"Gak mau kesini?" Tanyanya setelah beberapa detik aku tak bergerak.


Aku menggeleng.


"Oke. Aku yang kesana."


Ezra berpindah duduk di sebelahku. Dia duduk bersila diatas ranjang


"Cara kamu benar." Aku menatapnya. Pria yang kini hanya memakai celan pendek dan kaos putih polos. Pria yang dulu sangat dekat denganku, menjagaku, mengantarku kemanapun aku mau. Dan kini dia adalah suamiku.


"Tetap diam di tempatmu, Zoy. Apapun yang terjadi kamu adalah rumah. Dan rumah tidak bergerak. Tapi menunggu."


"Tunggu aku sampai sukses. Tunggu aku sampai bisa membahagiakanmu."


"Biarkan aku bekerja dan menjadikanmu ratuku."


Tanganku membelai pipinya. Terasa mulus tanpa bulu-bulu halus sedikitpun. Pasti karena dia baru bercukur.


"Terima kasih mau menerima Zoya Khairumi Bramantyo ini, Zra."


"Aku bahagia." Air mataku menetes. Aku tak percaya ada pria yang meminangku dengan cara yang baik tanpa mempedulikan latar belakangku.


"Dan mulai sekarang hingga kita menutup mata kelak, aku akan berusaha untuk tetap membuat kebahagiaan itu berada dalam genggamanmu." Ezra menarik tanganku yang ada dipipinya lalu menggengamnya erat.


Ezra menarikku, dan mendudukkanku di pangkuannya. Ia memelukku erat dengan dagu yang bersandar dibahuku.


"Jadilah Zoyanya Ezra untuk selamanya."


"Jadi ibu dari anak anakku."


"Kita akan mengisi rumah dengan tawa mereka."


"Semoga Allah menghadirkan keturunan yang soleh dan soleha."


"Amin." Aku menatap wajahnya.


Perlahan wajahnya mendekat dan tangannya berada di tengkukku. Ezra menyentuh dengan sangat lembut. Cukup lama hingga aku hampir kehabisan nafas.


Ezra melepaskanku dan aku langsung menghirup oksigen sedalam mungkin. Ezra juga melakukan hal yang sama. Dadanya naik turun dan sekarang keningnya bertumpu di bahuku.


"Zoy."


"Ehm..."


"Baru menu pembuka saja udah begini. Gimana cara habisin menu utamanya?" Dia menatapku.

__ADS_1


Aku malu.


"Kayaknya harus sering-sering latihan." Ezra mengelus rambutku.


Aku semakin malu. Ku tahu pipiku pasti memerah, karena seluruh wajahku memanas.


Aku mendekat dan mencium keningnya. Turun ke matanya. Ezra langsung menutup kedua matanya. Beralih ke pipinya dan mengecup singkat bibirnya.


Aku tersenyum memandangi wajahnya yang tenang itu.


Ezra membuka mata. "Udah?"


Udah? Aku mengangguk.


"Yaa... kirain ada lanjutannya." Ucapnya lemas.


Lanjutan? Apa ini isyarat bahwa dia menginginkan haknya sebagai suami?


"Kamu mau sekarang?" Tanyaku pelan dan penuh kehati-hatian.


"Apa?"


"Hak kamu?"


"Hak?"


"Sebagai suami." Jawabku.


Zra? Ini bukan kuis yang harus saling melempar clue.


"Malam pertama?"


Aku mengangguk.


Ezra tersenyum. Lalu menggesekkan hidung kami sebentar.


"Aku ingin tapi tidak sekarang."


"Karena ada tugas negara yang jauh lebih penting." Ucapnya padaku.


"Apa?"


"Bersiaplah. Siapa tahu mau ganti pakaian."


Aku melihat outfitku. Baggy pants dan kaos panjang.


"Gini aja boleh?" Tanyaku.


"Boleh. Tapi pakai hijab sama jaket ya. Atau gak cardigan juga boleh."


Ezra membuka kopernya dan mengambil jaket denim miliknya.


"Zra, pakaian kamu belum aku pindahin ke lemari."


Aku dan Ezra keluar kamar. Aku menambahkan hijab pashmina dan long cardigan berwarna biru.


Mama dan papa ada di halaman belakang.


"Pamit mama papa dulu Zoy."


Kami berpamitan dan pergi dengan mengendarai mobil Ezra. Tak semewah dan semahal mini cooperku tapi sagat nyaman.


Kami keluar dari komplek dan masuk ke komplek lain yang letakknya hanya 1 km dari komplek perumahan kami. Tapi komplek ini lebih mewah karena setiap rumah punya halaman yang luas.


Ezra berhenti di sebuah rumah yang sepertinya belum selesai dibangun.


"Ayo!" Ajaknya.


"Ini rumah siapa Zra?"


"Kita masuk dulu ya."


Kami masuk ke dalam dan ternyata banyak pekerja bangunan di dalamnya.


"Selamat sore, pak Ezra." Seorang pria paruh baya menyapa Ezra.


"Selamat sore pak mandor."


Oh, beliau mandor di proyek ini. Proyek? Apa ini pekerjaan Ezra? Atau ini usaha sampingannya?


"Bagaimana pak? Ada kendala?"


"Tidak ada pak. Ini akan selesai tepat waktu pak."


"Senin nanti kita akan lakukan pengecatan interior. Dan eksteriornya sudah finish kemarin."


"Sekarang sedang mengerjakan apa pak?"


"Finishing lima kamar mandi sekaligus pak. Dan sekarang tinggal kamar mandi paling belakang yang bisa digunakan asisten rumah tangga."


"Zra..." bisikku menarik jaketnya. Aku dikacangin.


"Eh, iya pak. Kenalkan ini istri saya." Ezra melingkarkan tangannya di pinggangku. Membuatku malu saja.


Aku menyatukan telapak tanganku di dada. "Salam kenal pak. Saya Zoya."


"Saya Didi, mandor di sini, bu."


"Temani berkeliling, pak."


"Mari."

__ADS_1


Aku dan Ezra berjalan di belakang pria bernama Didi itu.


"Zra ini rumah siapa?" Bisikku.


"Rumah kamu?"


"Aku? Aku gak beli rumah ini?"


"Dari aku untuk kamu."


Aku berhenti sejenak. Aku mulai tertarik melihat rumah besar ini. Ini sangat besar untuk kami berdua.


"Kenapa berhenti, sayang?"


"Eh..." aku terkejut dia memanggilku sayang.


"Zra, ini terlalu besar."


"Iya, kalau untuk kita berdua Zoya sayang."


"Tapi, aku ingin punya anak banyak. Tiga, " Ezra menunjukkan tiga jarinya. "No," Dia menggeleng. "Minimal empat atau lima lah." Ezra menunjukkan lima jemarinya.


Aku menatapnya jengah. "Gak dua belas sekalian, Zra."


"Boleh kalau kamu mau." Ezra meraih jemariku dan menggenggamnya. Kami kembali keliling ruangan di rumah ini.


Kami masuk ke mobil untuk kembali ke rumah. "Ada yang mau dibeli?"


"Gak Zra."


"Oke. Kita langsung pulang ya. Udah mau magrib juga."


Aku mengangguk. "Uang kamu berapa banyak sih Zra. Mahar, cincin kawin dan sekarang rumah." tanyaku penasaran. Aku hanya tak ingin dia terlilit hutang demi membuatku nyaman.


"Kamu tau sejak kapan aku jatuh cinta padamu, Zoy?"


Aku menggeleng.


"Sejak masa kuliah." Aku terkejut. Saat kuliah dulu kami memenag beberapa kali bertemu karena dia ikut bersama Bi. Atau aku yang menemui Bi saat sedang bersamanya.


"Aku mulai mencari tahu segalanya tentangmu melalui Bi."


"Dan dia menceritakan tentangmu. Awalnya hal biasa tapi lama kelamaan ia menceritakan hal diluar dugaanku."


"Kisah orang tua kami?" tanyaku.


Ezra mengangguk.


"Kapan?" Bi, kenapa kamu ternganga membuka aib keluarga kita.


"Saat aku mengatakan padanya bahwa aku mencintaimu. Semester 5 saat kuliah."


"Dia mengatakan bagaimana kalian bisa bersama. Lahir dihari yang sama dari rahim wanita yang berbeda tapi dengan ayah yang sama."


"Aku menangis saat itu Zoy."


"Dia juga bilang kamu orang kaya. Warisan kamu banyak. Masa depan kamu terjamin. Kamu tahu Zoy, saat itu aku merasa kecil. Jauh saat dibandingkan denganmu."


"Tapi itulah Bi. Caranya menyemangatiku sangat tak tertebak."


"Dia memberiku modal dari tabungan uang jajannya."


"Gerobak kebab pertama ku buat. Jualan di jam sore dan malam."


"Dua bulan, modal Bi sudah ku kembalikan. Tapi dia menolak. Buat gerobak baru katanya. Dan aku membuat gerobak baru yang ku minta temanku untuk menjualkan kebabku dengan gerobak itu. Aku dapat untung dan temanku punya penghasilan."


Aku tak percaya ini.


"Lalu dukungan untuk menjadi supir pribadimu. Jujur aku yang minta!" Dia menatapku dan tertawa.


"Serius?"


"Iya." Dia mengangguk.


Ya Allah.


"Demi bisa lebih dekat denganmu, demi bisa melihatmu."


"Dan yaa akhirnya begini." Ezra tersenyum menatapku sekilas.


"Kenapa Bi gak cerita. Dan kamu gak cerita semua secara detail seperti ini."


"Untuk apa Zoy?"


"Ya supaya aku bisa menarik rambut Bi yang kurang ajar merahasiakan kegilaannya dariku, Zra." Aku kesal pada Bi yang diam-diam ikut andil.


"Jangan Zoy."


"Semua karena aku yang minta."


Aku diam. Kulihat dia yang mengemudi dengan sangat hati-hati. "Terima kasih sudah berjuang begitu keras, Zra."


"Ada perjuangan keras lagi yang harus kita hadapi bersama, Zoy."


"Apa?"


"Make five babies."


Ck!


****

__ADS_1


Next kita intip kamar sebelah sebelum akhirnya ke tahap unboxing.


2 pengantin ini loh?


__ADS_2