
Bintang
"Hari ini apa kegiatan kita, pak suami?" Aku menghempaskan tubuhku di atas sofa tempat Rion menonton tv.
Aku baru keluar dari kamar mandi, karena setelah sholat subuh Rion kembali mengajakku gowes 10 km ala dirinya.
"Tes balap liar boleh juga." Jawabnya sebelum memasukkan keripik kentang dalam mulutnya. Matanya masih menatap tv yang menayangkan acara film kartun.
Kami sebenarnya sedang menunggu sarapan. Tapi Rion sudah melahap makanan yang ada karena merasa lapar. Wajar saja, sebab ia selama kurang dari 12 jam sudah melakukan 2 kali gowes 10 km.
"Sofa oke." Rion menepuk sofa putih yang kami duduki.
Aku mengernyit.
"Di karpet, boleh." Tunjuknya pada karpet berwarna krim didepan sofa.
"Bathtube, juga menarik." Liriknya kearah kamar mandi.
"Pilih aja, istri cantikku ini mau dimana?"
"Babang Rion siap melayani." Rion melemparkan senyum.
"Ck!" Aku berdecak. Kenapa fikirannya selalu mengarah kesana? Apa tidak ada aktifitas lain yang bisa dikerjakan selain gowes dan balap liar versinya.
"Luka semalam sama pagi ini aja masih terasa perih." Gumamku pelan. Aku memeluk bantal sofa.
Rion menatapku tajam. "Luka?"
"Iya." Aku menatpnya.
"Coba sini ku lihat kak." Rion menyingkirkan bantal sofa di dadaku lalu segera menarik tali bathrobe yang ku kenakan.
Aku seperti orang gila karena ulah tim sukses dibalik acara ini. Bayangkan saja, hanya ada gamis dan lingerie di dalam koper. Tidak ada baju santai atau minimal piyama tidur yang biasa ku pakai.
"Iisshh. Rion." Aku menghalangi tangannya yang mencoba menyibak bathrobe yang ku pakai. Karena jika dia melihat aku hanya memakai dalaman, ku pastikan keinginan balap liarnya akan terwujud.
"Lihat kak! Sini ku obati." Rion sepertinya panik.
"Au." Keluhku saat aku bergerak cepat untuk menggeser dudukku karena Rion terus memaksa. "Gak perlu, Rion."
"Sakit banget kak?" Tanyanya berjongkok di bawah.
"Iya Rion."
Rion meraih ponselnya diatas meja. Lalu dia mencoba menghubungi seseorang.
"Telpon siapa, Yon?"
"Mami kak. Siapa tahu mami bisa kirim obat buat luka kakak. Nanti biar ku ambil di lobby."
Astaga Rion! Sampai harus menelpon mami.
"Hallo Mi..."
Aku segera merebut ponselnya.
"Ada apa Rion!"
"Ehm... Mi, ini Bi."
"Ya, Bi. Ada apa?"
__ADS_1
"Kak, siniin hp nya." Rion berusaha meminta ponselnya dariku.
"No, Rion."
"Ada apa, Bi? Rion kenapa?"
"Ehm, gak kenapa-kenapa mi. Rion cuma bilang dia kangen mami."
"Anak manja." Mami tergelak di sana.
"Mi, kak Bi sakit. Bisa minta salep luka gak." Teriak Rion.
"Riiiooonn!!!" Aku membungkam mulutnya. "Kamu lihat kondisi dong! Main lapor-lapor aja!" Teriakku padanya.
Namun dia adalah Orion. Bukannya merasa bersalah, dia malah mendekat dan memeluk pinggangku lalu membenamkan wajahnya dinperutku.
"Bi... gak apa-apa nak. Nanti mami kirim ya. Nanti mami hubungi lagi kalau sudah sampai lobby."
Tut... tut... tut...
"Hallo Mi..."
Aku membanting ponsel Rion di sofa. Aku menunduk melihat pria yang malah membenamkan wajahnya di perutku.
Aku menghela nafas. Begini banget nikah sama bocah. Anak kesayangan mami pula.
Aku tahu, sikapnya ini karena dia khawatir padaku. "Rion..." Aku mengusap rambutnya.
"Maaf sudah menyakiti kakak." Dia mendongak menatap mataku.
Bel pintu berbunyi. Sepertinya sarapan kami sudah tiba.
"Iya sayang!" Aku menunduk mencium kepalanya. "Sekarang buka pintunya. Pelayan ada di depan pintu mengantar sarapan kita."
Rion tersenyum senang. "Ayo cepat, Yon."
Rion segera bangun dan membuka pintu. Dan kembali dengan nampan besar di tangannya.
"Sarapan dulu kak." Kami menikmati sarapan pagi pertama setelah menjadi pasangan suami istri.
"Siang ini kita tiduran aja ya kak. Kak Zoya sama bang Ezra juga gak ada tanda-tanda akan keluar dari kamar."
"Heem..."
Malam harinya Rion memintaku berpakaian rapi. Rion memakai jeans dan kemeja lengan panjang yang warnanya senada dengam gamisku. Ini pasti rancangan tante Rara.
"Ayo kak. Sudah siap nge-date pertama sama suami?"
"Ayo..." Aku mengapit lengannya dan berjalan menuju lift. Zoya dan Ezra ternyata juga ikut.
Kami sampai di rooftop dan terkagum dengan pemandangan yang disuguhkan.
"Kak, papi punya satu unit apartemen disana." Tunjuk Rion di salah satu gedung pencakar langit yang letaknya lumayan dekat dengan hotel ini.
"Kita tinggal disana aja, yuk." Lanjutnya.
Saat ini kami sedang duduk berempat menikmati suasana malam penuh bintang.
"Kalian akan tinggal di mana Zoy? Di rumah kamu?" Tanyaku.
"Untuk sementara di rumah Ezra dulu. Nanti saat rumahnya sudah selesai di bangun. Kami akan tinggal disana."
__ADS_1
"Oohhh..."
"Gimana kak?"
"Atau kita tinggal di rumah papi? Ehm maksudku di rumah milik papi. Bukan serumah dengan papi."
"Apartemen seru juga. Gak butuh satpam, gak butuh asisten rumah tangga. Lebih hemat ya, Yon!" Rion mengangguk.
"Bener banget kak. Letaknya juga ditengah-tengah. Antara Orbit sama kampus." Rion benar, ini akan mempermudah kami berdua. Kami bisa berangkat bersama dan pulang juga bersama.
"Boleh deh." Sahutku. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Dan sepertinya tinggal disana adalah pilihan tepat.
Malam panjang berlalu tanpa aktivitas panas. Aku dan Rion tidur nyenyak malam ini walaupun Rion terus menyembunyikan wajahnya di dadaku.
It's okey. Asal dia tidak meminta lebih.
Jam sepuluh pagi, tim tante Rara datang membawa gaun pengantin kami. Aku dan Zoya hanya akan memakai satu gaun berwarna putih. Ezra dan Rion akan memakai setelan jas berwarna hitam.
"Bi... Tim make up datang sekitar jam lima. Jangan sampai mereka datang kalian masih tempur." Peringatan yang sangat bermanfaat tante.
"Noh ngomong sama pak suami, tan." Ucapku yang sedang melihat tim tante Rara meletakkan manekin gaun pengantin di sudut kamar.
"Nah kan, aku lagi." Rion yang sedang bermain game di ranjang mengeluh.
"Udah jadi suami, Yon. Gamenya dikurang-kurangi."
Aku melihat tante Rara yang berdiri menghadap Rion.
"Iya tante. Ini karena lagi gabut, tan." Jawabnya dengan menatap tante Rara sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya.
"Pengantin baru, gabut?"
Tante Rara memerintahkan timnya untuk keluar.
"Kamu datang bulan, Bi?" Ucapnya setelah tim tante Rara keluar kamar.
"Enggak."
"Udah minggu kemarin. Tiga hari lalu udah selesai. Kenapa tan?" tanyaku.
"Gak apa-apa. Heran aja. Ada pengantin baru, tapi gabut." Gumamnya pelan. "Bukannya eksplore gaya baru." lanjutnya pelan tapi aku masih bisa mendengarnya dengan baik.
Ck! Terlihat jelas dia istri siapa kan? Akibat terlalu banyak bergaul dengan om Langit.
"Tante balik dulu. Mama kamu make up disini sayang. Selesai Dzuhur mama papa datang."
Tante Rara bejalankeluar dari kamarku. "Gak ke kamar Zoya tan?"
"Tante udah kesana, Bi."
Aku menutup pintu. Rion memelukku dari belakang. "Tante Rara bener kak."
"Bener apanya?"
"Sekarang jam 10. Dan masih ada 7 jam lagi ke jam 5."
"Teruss?" Ucapku mulai jengah.
"Bayangkan ada berapa banyak style yang kita bisa coba kak?" Bisiknya diteligaku.
"Mulai dari balap Liar, road race, motor cross, Drag bike, Grass Track, Free Style, atau Down Hill kayaknya seru kak."
__ADS_1
Astaga? Style apa itu, Yon? Kenapa kedengarannya aneh dan serem.