
Orion
Aku melihat kak Bintang dan Bu Alya sedang berada di cafe, tepatnya di lantai dua. Satu lantai dengan ruangan papi dimana saat ini aku berada.
Aku kesini hanya untuk sekedar melihat-lihat. Sudah seminggu aku tidak menginjakkan kaki di rumah om Akhtar sejak kejadian malam itu.
Aku menghindar dari kak Bintang karena malu dan takut dia merasa illfeel padaku. Tapi aku selalu melihatnya dari jauh. Aku selalu mengikutinya sampai ia pulang ke rumah sepulang sekolah.
Aku mengintipnya dari balik pintu. Sekilas aku mendengar mereka membahas pak Vano. Dan itu berhasil membuat emosiku memuncak.
Aku ingin keluar dan menemuinya, tapi aku belum siap. Jujur, aku merindukannya.
Aku duduk di kursi kerja papi. Aku hanya diam dan berfikir. Sesekali menyesap cappucino yang sudah mulai dingin yang sedari tadi terletak di atas meja.
Ini gak bisa dibiarin. Semakin aku menghindar, kak Bi akan semakin menganggapku hanya main-main. Dan pasti akan semakin banyak pria yang mengejarnya.
Aku harus datang dan meyakinkannya. Aku tak boleh kalah sebelum berperang. Dan tak boleh menyerah sebelum memulai. Tekatku dalam hati.
Aku keluar dari ruangan papi dan mendapati kak mereka baru menuruni anak tangga, mereka akan pulang.
Aku masuk kedalam mobil. Kali ini aku memakai mobil Papi. Aku mengikuti mereka dari kejauhan.
Kak Bintang mengantar Bu Alya terlebih dahulu. Dan aku masih setia dibelakangnya.
"Apa-apaan ini?" gumamku panik saat kak Bintang memilih jalan pintas yang lumayan sepi.
"Kak, nekat banget sih lewat sini?"
Aku mengikutinya di jarak 50 an meter. Dan tiba-tiba kak Bintang menghentikan motornya. Dia turun dan berjongkok.
"Apakah ban motornya bocor?"
Kak Bi tampak mengambil sesuatu dari tasnya, sepertinya ponsel. Dan benar saja, dia mengirim pesan di grup wa dan meminta bantuan. Tapi tak ada yang membalas.
Aku melihat tiga pria menghampirinya. Gawat!
Dan aku langsung keluar dari mobil saat salah satu pria itu menarik tangan kak Bintang. Dan kak Bintang lari kedalam taman yang penuh pepohonan.
Lari kak! Sembunyi! Sial! Aku parkir terlalu jauh!
Aku terus memaki diriku.
Aku berhasil melihatnya. Dan seorang pria menarik rambutnya hingga kak Bintang mundur kebelakang dan tak bisa lagi berlari.
Baj*ngan! Aku tak terima dengan perlakuan mereka.
Aku berlari sebisaku dan menendang mereka satu per satu hingga ketiganya tersungkur. Ku raih tangan kak Bintang yang gemetar hebat.
"Rion!" Dia terkejut saat melihat aku yang menariknya.
"Ayo lari kak!" Kami terus berlari memasuki pepohonan. Gerimis sepertinya mulai turun karena tetesan air yang sesekali mengenai wajahku. Dan angin meniup dedaunan hingga terdengar suara berisik dedaunan dan ranting yang saling bergesekan.
Kak Bintang tiba-tiba berhenti dengan nafas tersengal. Aku menariknya ke sebuah pohon besar yang batangnya cekung ke dalam. Hingga ada ruang untuk kami bersembunyi.
__ADS_1
Aku bukan tak berani melawan mereka. Hanya saja aku tak ingin ambil resiko. Aku takut jika salah satu dari mereka berkesempatan melukai kak Bintang.
Aku mengukung tubuh gadis yang lima tahun lebih tua dariku. Nafasnya masih tersengal dan tubuhnya gemetar. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Aku dapat melihatnya karena seberkas cahaya dari lampu yang ada di taman ini.
Kak! Aku tak sanggup melihatnya sekacau ini. Baju sobek di bagian pundak dan rambut yang acak-acakan.
Aku memeluknya erat. Bukan untuk mencuri kesempatan. Tapi aku hanya ingin melindungi dan menengangkannya. "Tenang kak. Aku ada disini."
"Kemana mereka! Cari!" Samar-samar terdengar suara pria tadi.
"Sebaiknya kita segera pergi, Bang! Bahaya kalau mereka lapor polisi."
Aku dan kak Bintang diam mematung di balik pohon. Ya Allah, selamatkan kami!
"Iya Bos! Lumayan dapet motor sama Hp," ucap yang lain.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku mengintip dari balik pohon. Dan ketiga pria itu berlari menjauh dari kami.
Aku bernafas lega. Kak Bintang berjongkok dan menangis. "Kak, ayo kita pulang." Aku mengulurkan tanganku.
Kami berlari kecil menuju mobil. Aku menutup kepala kak Bintang dengan jaketku.
Saat masuk ke dalam mobil, ponsel yang ku letakkan di dashboard mobil sudah penuh dengan notifikasi grup.
Caraka : Kak, aku di rumah eyang.
Zoya : Aku suruh Nath sama Nair kesana, Bi.
Nath : Kak, tunggu sebentar. Kami kesana.
Nair : Kak, balas chat kami.
"Grup udah rame kak. Aku telpon Nath dulu, biar mereka gak khawatir." Kak Bintang mengangguk.
Dering pertama langsung diangkat.
"Nath, kak Bintang sama aku."
"Loh kok bisa? Sebentar lagi kami sampai Yon!"
"Kalian balik aja. Ceritanya panjang! Aku antar kak Bi sekarang!"
"Thanks, Yon."
Aku kembali meletakkan ponselku. Ku lihat kak Bintang menatap kedepan dengan pandangan kosong.
Aku melihat kaki dan tangannya. "Ada yang luka gak kak?"
Tapi aku dikejutkan dengannya yang memelukku erat. Kak Bintang terisak. Bahunya bergetar naik turun.
"Terima kasih Rion. Terima kasih. Aku... aku gak tau apa yang akan terjadi kalau kamu gak datang tepat waktu."
Aku membalas pelukannya dengan ragu. "Aku akan melindungi kakak sebisaku. Karena..."
__ADS_1
Kak Bintang mengurai pelukannya saat aku tak melanjutkan ucapanku. "Karena apa Rion?" Dia menatapku dengan mata sembabnya.
Kami saling pandang. "Because i love you. And I wanna spend every single day, for the rest of my live with you." Ucapku pelan.
*Karena aku mencintaimu. Dan aku ingin menghabiskan setiap hari, selama sisa hidupku bersamamu.
Aku segera menyalakan mesin mobil dan segera pergi, sebelum penjahat yang lain datang dan kembali menyerang kami.
Kami tak ada yang bicara, hujan deras yang mengguyur menjadi back song keheningan kami.
"Kita berbeda, Rion!" Kak Bintang membuatku beralih menatapnya sebentar, lalu aku kembali fokus pada jalan raya.
"Kita sama kak. Apa yang berbeda?"
"Usia Yon. Usia." Bentaknya.
"Cuma lima tahun kak." Ucapku tegas. Bukankah di zaman ini sudah sangat biasa hubungan beda usia?
"Sekarang belum terlihat, Yon. Tapi beberapa tahun lagi, aku akan menua sementara kamu masih akan terlihat muda."
Kaaaaak! Stop mikir begitu!
"Kamu harus menyelesaikan pendidikan, perjalananmu masih panjang, Yon."
"Perasaanmu bukan cinta, Yon. Itu hanya rasa tertarik dan kagum."
"Kamu seusia Nath dan Nair. Cari perempuan lain yang lebih pantas!"
Aku mencengkram erat stir kemudi. Kak Bintang selalu mengatakan omong kosong yang membuatku tak tahan lagi.
Aku menghentikan mobil beberapa meter sebelum gerbang kompleks menuju rumah om Akhtar.
"Lihat aku sebagai seorang pria, Bi. Bukan sebagai teman adikmu! Sekali saja, maka kamu akan melihat besarnya rasa cintaku." Aku memegang bahunya, membuatnya duduk berhadapan denganku.
Aku tak lagi memanggilnya kakak.
"Please, Rion. Jangan aku! Kamu salah jika mencintaiku." Kak Bintang menunduk. Dia menangis lagi.
Aku tak menyangka hubungan kami yang dulunya akrab dan terasa hangat menjadi hancur berkeping begini hanya karena aku mengungkapkan perasaanku.
"Tapi ini juga bukan salahku, Bi. Siapa yang harus disalahkan saat aku sudah kehilangan hatiku sejak lama. Dan saat remaja aku baru menyadari. Hatiku tercuri olehmu!" Ucapku tegas penuh penekanan. Aku tak membentaknya. Aku tak sampai hati melakukannya.
Aku kembali melajukan mobil, berdebat dalam keadaan seperti ini sepertinya hanya akan memperkeruh suasana.
"Aku akan terus maju, Bi. Aku akan terus mencintaimu sampai aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, seorang pria bersanding denganmu di plaminan."
"Tapi aku mohon, jangan menjauh dariku."
Kak Bintang hanya diam. "Dan ku pastikan, jika saat itu datang. Aku akan pergi jauh. Karena aku gak akan sanggup melihat kamu bahagia dengan pria lain."
Kami tiba di depan rumah om Akhtar. Pintu depan terbuka dan semua orang menunggu di dalam. Terkecuali tante Lintang ysng mondar-mandir di depan pintu.
Aku turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Kak Bi masih mematung. "Keluarlah kak. Mereka sudah menunggu."
__ADS_1
Kak Bintang langsung keluar dari mobil dan berlari ke teras rumah.
"Maaaaa." Suara tangis kak Bintang pecah saat tante Lintang menariknya dalam pelukan.