
Ezra
Aku masuk kedalam ruang rawat dimana Zoya dipindahkan. Aku bisa melihat Zoya berbaring dengan mata yang menatap langit-langit kamar.
"Sayang..." panggilku. Aku duduk di sebelahnya.
"Sayang..." balasnya.
"Selamat mamanya Zi, you are the best mama." Aku mencium kening istriku. Ia kembali meneteskan air mata.
"Zi dimana sayang?" tanyanya.
"Zi masih butuh perawatan intensif."
"Mau lihat fotonya gak?" tawarku.
Aku menunjukkan fotonya di ponselku. "Ganteng banget kan, kayak aku."
"Dia kecil banget sayang." Zoya meraba layar ponselku seolah ia sedang menyentuh baby Zi.
"Gak apa-apa sayang, nanti kita kasih yang terbaik buat dia, vitamin, makanan, apapun untuk pertumbuhannya." Ucapku semangat. Aku ingin membuatnya tidak bersedih lagi.
"Kata mama, saat ini makanan terbaik untuknya cuma ASI. Kamu mau kan sayang, sekali lagi berkorban demi dia."
Zoya mengangguk mantap. "Pasti Sayang... aku akan kasih apa yang gak bisa aku rasakan dulu."
"Dulu aku bergantung pada ASI mama Lintang yang dimasukkan dalam botol. Dan sekarang aku akan menyusui baby Zi. Aku berjanji sayang, akan memberikan yang terbaik untuknya."
"Sekarang aku tau, baby Zi hebatnya kayak siapa. Kayak kamu." Aku kembali mencium istriku.
"Aku yakin ini alasannya, kenapa Allah tetap menjaga baby Zi dalam kandungan kamu Zoy, meskipun berulang kali keadaan kamu gak baik-baik aja."
"Allah mau kita menjaganya, melakukan yang terbaik untuknya dan menebus apa yang tidak kita rasakan dulu." Aku mengelus kepalanya.
Hal yang tidak ku rasakan adalah dirawat kedua orang tuaku sejak aku beranjak remaja. Dan jika Allah memberiku umur panjang, aku tak akan melewatkan masa anak-anak hingga dewasa bersama anak-anakku kelak.
"Terus bersamaku sayang, kita rawat dan besarkan anak-anak bersama. Dalam suka dan duka."
"Kita ciptakan keluarga utuh untuknya."
Zoya mengangguk. Aku memeluk tubuhnya dengan hati-hati karena takut melukai perutnya yang terdapat luka jahitan.
Cekleek! Pintu dibuka.
"Zra, menyingkir!"
Ayah Satya! Aku dan Zoya kompak melihat kearah pintu. Ada ayah Satya, bunda Una dan beberapa orang termasuk mama, papa, oma Citra dan Opa Darma.
"Kamu, jangan macem-macem Zra! Puasa 2 bulan." Aku hanya menggaruk tengkukku saat ayah Satya memberi peringatan.
Aku juga tahu Yah. Mana mungkin tega aku melakukan hal itu pada Zoya. Aku akan sabar menunggunya kembali siap.
Aku duduk di sofa, memberi ruang pada bunda dan mama untuk berbicara pada Zoya.
"Babynya mirip Shaka, kok bisa Zra?" tanya Ayah Satya padaku.
Aku mengangkat bahuku. Aku juga tidak mengerti mengapa baby kami mirip Shaka.
"Pas baru lahir mirip Ezra banget malah, Sat." potong papa.
"Oh, ya?" Ayah Satya heran.
"Hemm."
"Udah punya rencana besar dong untuk dia." Ayah Satya bertanya padaku.
"Rencana kedepannya sih pasti ada, Yah. Yang penting sekarang baby Zi harus sehat dulu, cepat nambah berat badannya, dan bisa segera dibawa pulang. Zoya pasti gak sabar pengen gendong." Aku menatap nanar ke arah ranjang dimana istriku sedang terbaring.
__ADS_1
"Nah, Ezra benar kak. Sekarang kita fokus sama kesejatan baby Zi aja dulu. Masa depannya udah terjaminlah pasti." Bunda Una ikut dalam pembicaraan kami. Ada kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Ckleek pintu terbuka.
Pasangan absurd masuk.
***
Bintang
"Haiii kesayanganku." Aku langsung masuk dan berjalan ke ranjang Bi. Mama dan bunda Una sudah berada di sampingnya.
"Hai, Bi."
"Apa kabar baby." Dia mengelus perutku.
"Baik Onty." sahutku berbicara dengan suara anak-anak.
"Sudah lihat baby Zi?" tanya mama.
"Udah dong! Mirip Shaka parah!" Sahutku excited.
Mama dan Bunda Una tertawa. "Kamu ngidam apa Zoy? Kenapa malah mukanya Shaka yang nemplok di mukanya baby Zi?"
Zoya mengangkat bahu. "Padahal aku suka usilnya sama Nath, loh."
"Nah iya. Semua orang sih pengennya emang ngusilin dia." Kami semua tertawa.
"Sekarang dia kemana? Kampus libur kan?"
"Di kamar aja dari kemarin, Zoy. Trauma sih kayaknya lihat kamu mau ngelahirin." Sahut mama.
"Lah, gimana kalau dia punya istri nanti, Ma."
"Bakalan pipis di celana kali, Zoy." Lagi lagi kami tertawa dan objeknya adalah Nath.
"Belum, Bi. Belum ada waktu luang juga. Nath nya juga belum ingin cerita sepertinya."
"Berat banget ya ma masalahnya?" tanyaku sendu.
Mama tersenyum dan menggeleng. "Gak tau, Bi. Mudah-mudahan bukan hal serius sih."
"Semoga aja, ma."
"Apapun masalahnya, Una harap gak separah kakak ngediemin Bi sama Zoy kayak dulu, kak." Bunda Una berbicara pada mama.
Mama tersenyum. "Insya Allah, Na."
***
Zoya
Sorenya mama dan seorang suster membantuku memompa ASI untuk diberikan pada baby Zi. Aku ingin menangis saat ini. Harusnya aku bisa menyusuinya langsung, tapi keadaannya belum memungkinkan.
"Ini gak akan lama kan sus?" tanyaku.
"Enggak kok, Bu. Kalau keadaannya sudah membaik, dia bisa menyusu langsung dari tubuh ibu. Yang terpenting, ibu rutin memompa ASI supaya tidak kering."
Aku mengangguk faham. Ezra dan mama ikut suster ke ruang NICU dimana baby Zi di rawat.
Tak berselang lama. Mereka kembali dengan wajah bahagia.
"Happy banget ma."
"Baby Zi pinter banget, Zoy. Kenyang minum ASI dia senyum-senyum tau gak? Mama jadi gemes pengen gendong." Ucap mama antusias.
"Emangnya belum boleh di gendong, ma?" tanyaku heran, apa tidak bisa diusahakan agar mama atau Ezra bisa menggendong baby Zi.
__ADS_1
"Mama gak mau ambil resiko, sayang. Baby Zi masih rentan. Takut mama juga bawa virus dan bakteri. Mama kan seharian disini dan belum ganti baju."
"Jadi, kita cuma lihat dari depan ruangan aja. Kata suster, baby prematur itu mudah stres kalau terlalu banyak dapat sentuhan, sayang."
Terima kasih, ma. Sudah memikirkan sejauh itu untuk anak Zoy.
"Minumnya masih pakai selang kan ma?" tanyaku.
"Masih sayang. Dia belum bisa menghisap dengan baik, Nak." Mama mengelus kepalaku.
Aku menatap lurus kedepan. Cepat sehat sayang. Supaya kita bisa segera bertemu dan pulang ke rumah.
"Jangan sedih sayang. Aku udah izin dokter, sore nanti kamu bisa ketemu baby Zi."
Aku menatapnya bahagia. "Beneran sayang?"
Ezra mengangguk.
Sore hari...
Aku duduk di sebuah kursi roda dengan infus yang menggantung. Ezra dengan sabar membawaku ke ruangan NICU tempat baby Zi di rawat. Disini ada 3 baby yeng di rawat. Dan ketiganya adalah bayi prematur.
Aku menatap wajah putraku yang sedang membuka matanya di dalam inkubator.
"Assalamualaikum, baby Zi." Aku menyapanya seolah dia bisa melihatku.
"Cepat sehat ya sayang." Aku tersenyum melihatnya yang menggerak-gerakan tangan dan bibirnya.
"Dia tau kalau di sapa mama nih." Ucap Ezra bahagia.
"Mamanya mau gendong?" tanya dokter yang menanganiku dan baby Zi. Dokter sengaja mendampingi kami.
Aku mengangguk senang.
Dokter membuka kancing bajuku agar baby Zi bisa langsung menyentuh kulitku.
Dokter wanita itu meletakkan baby Zi di dadaku. Aku menyentuh dan mendekap tubuh mungilnya. Debaran jantungku tak terkendali lagi.
"Hai sayang...." sapaku.
Baby Zi menggerak-gerakan tangannya di dadaku.
"Dia tau nih lagi di gendong mamanya." Dokter tertawa kecil.
"Setelah keadaannya membaik, dia bisa di bawa pulang. Tapi dengan catatan, tetap harus di pasang alat untuk memantau organ organ penting dalam tubuhnya."
"Keadaan yang membaik itu seperti apa dok?"
"Nah, biasanya kan baru bisa di bawa pulang setelah usia 36 minggu. Tapi, jika babynya bisa bernafas tanpa alat bantu dan bisa menghisap put*ng ibu atau dot, atau berat badannya sudah cukup, bisa dibawa pulang kok, Pak."
"Terima kasih dok."
"Setelah saya pulang, saya bisa kesini setiap hari kan dok?"
"Harus bu. Peran orang tua sangat penting untuk kesehatan baby saat ini."
Dokter kembali meletakkan baby Zi ke inkubator saat bayi merah itu sudah terlelap.
Kami kembali ke ruang rawatku. "Baby Zi pinter banget kan, Sayang."
"Mamanya banget." Ezra membantuku naik ke ranjang.
"Iya dong." Aku terkekeh. "Aku cuma gak terima dia mirip Shaka." Aku pura-pura merajuk.
"Apa lagi aku, muka bapaknya cuma nempel sedikit di sana."
"Sedikit tapi ada Zra. Aku yang mengandung dia. Gak ada sedikitpun miripnya sama aku."
__ADS_1
Mama dan Ezra tertawa mendengar ucapanku.