
Bintang
Sudah sebulan sejak aku menginjakkan kaki di rumah baca ini untuk pertama kali, sekarang aku sering berkunjung kesini. Seminggu bisa tiga sampai empat kali.
"Assalamualaikum, Ra." Ucapku saat mendorong pintu kaca itu.
"Waalaikum salam, kak." Jawabnya.
Aku kesini hanya sekedar singgah. Aku hanya duduk di depan Tiara sambil sesekali bercerita. Sesekali juga membantu anak-anak yang kesulitan mengambil buku di rak yang agak tinggi.
Aku melihat seorang anak yang duduk di luar rumah baca sambil melihat kearah dalam.
Aku keluar untuk menemui anak perempuan yang usianya sekitar 7 tahun.
"Hai, cantik." Sapaku padanya.
Gadis itu mundur selangkah lalu menunduk.
Aku berjongkok untuk bisa melihat wajahnya. Dia cantik. matanya bulat dan kulutnya bersih. Hanya saja pakainannya yang bisa di bilang lusuh.
"Kenapa diluar? Ayo masuk?" ajakku.
"Siti." Panggil seorang kakek dan nenek yang membawa karung di punggung mereka.
Anak kecil ini menoleh ke asal suara. Lalu menghampiri kakek dan nenek itu.
"Kakek, nenek. Ini cucunya ya?" tanyaku.
"Iya, nak."
"Dia dari tadi lihat ke dalam terus. Saya ajak masuk malah gak mau."
"Dia sebenarnya ingin masuk dan belajar bersama yang lain."
"Tapi uang kami hanya cukup untuk makan, nak."
"Tidak bisa untuk membayar biaya masuk ke dalam." Ucap nenek itu.
Aku tersenyum. "Adiknya juga diajak kerja nek. Mamanya kemana?"
"Kalau ditinggal gak ada yang jaga. Mamanya sudah meninggal. Ayahnya entah kemana perginya. Sudah empat tahun tidak pernah ketemu."
Hatiku teriris mendengar ungkapan nenek renta yang ada di depanku.
"Nek, masuk ke dalam sana gratis. Gak di pungut biaya satu rupiah pun."
"Adiknya boleh masuk kapan aja kalau tempat ini buka." Ucapku.
Senyum kecil terbit di bibir gadis kecil itu. "Adik mau masuk?" tanyaku. Dan gadis itu mengangguk lemah.
"Kek, Nek, kalian kerja saja. Siti bisa di tinggal di sini selama kalian kerja."
"Kasihan dia harus panas-panasan."
"Tempat ini buka jam 9 dan tutup sekitar jam 5."
"Kalian bisa jemput sebelum tutup dan bisa nitip pesan sama yang jaga di dalam untuk tidak membiarkan Siti keluar sebelum kalian jemput."
Akhirnya aku membawa Siti masuk ke dalam. Tapi aku menyuruh gadis itu mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun di kran air yang sudah tersedia di depan.
"Kamu sekolah?" tanyaku padanya saat Tiara mendatanya di buku tamu.
Anak itu mengangguk.
__ADS_1
"Kelas berapa?"
"Satu."
"Pengen banget masuk kesini?"
Anak itu kembali mengangguk. "Kenapa?" tanyaku padanya.
"Pengen diajari baca." Jawabnya sambil menunduk.
Aku dan Tiara saling tatap. "Adik belum bisa baca?" Tanya Tiara.
"Belum lancar kak." Jawabnya malu.
Aku membawa gadis itu duduk lesehan di depan meja kecil, bergabung dengan yang lain.
"Kak, aku mau jadi seperti kancil yang pintar." Ucap seorang anak laki-laki saat aku sedang mencari buku yang pas untuk Siti belajar membaca.
Aku tertawa, "Kenapa kancil kamu sebut pintar?"
"Iya dong, kancil bisa mengalahkan buaya. Padahal kakinya sudah digigit sama buaya itu." Jawabnya riang.
Aku senang, anak-anak belajar dengan baik. Mereka membaca sungguh-sungguh hingga bisa menyampaikan isi buku yang mereka baca.
"Nah, jadilah seperti kancil yang lebih memakai otak dan fikirannya untuk menyelesaikan masalah. Bukan dengan ototnya. Kamu faham kan?"
Anak itu mengangguk. Dan ku lihat Rizal sampai menoleh ke arahku. Padahal dia sedari tadi serius menulis tugasnya.
Rizal, bocah SMP yan kerap kali kesini untuk mengerjakan tugas sekolah. Mencari materi di buku yang tersedia disini.
Saat aku sedang mengajari Siti membaca. Suara pecahan kaca terdengar nyaring dan mengagetkanku.
"Prraaaanngggg!"
Anak-anak berhamburan memelukku. Mereka bahkan ada yang menangis.
"Kalian kebelakang. Siti, ikuti yang lain!" Perintahku pada mereka. Aku menyuruh anak-anak untuk masuk ke belakang. Tepatnya bagian dapur.
"Mana Boss kalian?"
"Mana pemilik tempat sampah ini!!" Teriak pria yang memegang linggis.
Tiara berlari kearahku. "Kak."
Aku berusaha untuk tenang. Tapi tetap saja jatungku berpacu lebih cepat.
"Orang yang kalian cari gak ada, Bang." Ucapku tenang.
"Mana dia? Gara-gara tempat ini tuh anak-anak pada males jualan! Pada ogah-ogahan disuruh ngemis! Pada gak mau ngamen! Gua jadi kehilangan banyak duit!"
Aku mengambil kesimpulan, mungkin mereka preman yang suka malak anak-anak. Atau mereka yang memodali anak-anak berjualan lalu menggaji anak-anak sesuka mereka.
"Gak ada bang!" Ucapku lagi.
"Atau jangan-jangan lu pemiliknya!"
"Bu-bukan Bang." Ah, kenapa harus gugup sih.
Plaaaakkk! Tamparan melayang di pipiku.
Aku memegang pipiku yang terasa panas dan sudut bibirku yang terasa perih.
"Gak mau ngaku lu!" Tuding seorang pria padaku.
__ADS_1
"Lakik lu kan yang punya tempat ini!" Teriaknya.
"Yang sopan bang! Sebaiknya kalian pergi atau saya akan lapor polisi." Ucap Tia dengan mengacungkan penggaris besi pada pria itu.
Plaaakkkk!
Bruuukkk!
Salah satu preman menampar Tiara hingga gadis itu tersungkur menabrak rak buku.
Aku segera membantunya untuk bangkit. Dan aku terkejut saat melihat darah mengalir di kening Tiara.
Braakk!!
Braakk!!
Braakk!!
Preman-preman itu menghancurkan meja-meja kecil yang dipakai anak-anak untuk membaca. Mengacak-ngacakbuku yang tersusun rapi di rak hingga tercecer di lantai.
"Berehenti kalian pemerk*sa!!"
Aku menoleh pada Rizal yang berteriak cukup keras.
"Heh! Ngomong apa lu bocah!" Seorang pria bertato di lengannya menarik kerah seragam Rizal.
"Boss lu pemerk*sa. Kakak gue mati gara-gara dia!" Teriakan Rizal memancing kemarahan pria yang ditunjuk sebagai Bos. Yaitu pria yang dengan santainya duduk di kursi melihat kinerja anak buahnya.
Air mata Rizal menetes. Matanya memancarakan kemarahan.
"Hajar!" Perintahnya.
Braaakkkk!!
Tubuh Rizal terpental menghantam rak di dinding.
Aku dan Tiara berlari mencoba menolong Rizal yang meringis kesakitan.
"Pemerk*sa. Biadap!" Rizal masih sempat memaki. Aku heran mengapa dia seberani ini.
"Hahahah... Lu gak punya bukti!"
"Lu gak akan bisa penjarain gue!" Ejek preman itu. Astagfirullah!
"Gimana kakak lu, gue denger bunuh diri karana mengandung anak gue!" Ucap bos preman itu tanpa beban.
"Gue akan kirim lu ke neraka dengan tangan gue sendiri!" Teriak Rizal sambil berusaha bangkit.
Braaakk!!
Sebuah bangku plastik yang di duduki boss mereka melayang ke tubuh Rizal yang belum seimbang berdiri.
"Astagfirullah! Rizaal."
"Rizaaall." Aku dan Tiara berteriak.
"Polisi! Polisi!" Teriakan orang yang mulai berkumpul di depan mau tak mah membuat preman itu kalang kabut.
"Ini peringatan pertama dan terakhir!" Preman-preman itu segera kabur meninggalkan ke kacauan yang mereka buat.
"Kak, tolong! Rizal minta rekaman cctv untuk menegakkan keadilan untuk mendiang kak Rita." Ucap Rizal sebelum matanya benar-benar terpejam.
"Rizaaaall." Aku berusaha menepuk pipi Rizal yang sudah pingsan.
__ADS_1