BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
85 Sayang...!


__ADS_3

Nath


"Zal, baru nyampe juga." Sapaku pada Rizal yang baru saja tiba di rumah baca.


"Iya bang. Kesini juga bang?"


"Iya, Zal. Udah beberapa hari gak kesini. Kamu kesini setiap hari?" tanyaku sambil merangkul bahunya menuju pintu masuk. Tinggi Rizal sekitar 165 cm padahal dia masih SMP.


"Iya bang. Kasihan kak Tiara sendirian. Setiap hari makin banyak yang datang, apa lagi anak SMP sama SMA."


"Oh, ya." Aku baru tahu. Aku dan Rizal kompak membuka sepatu dan meletakkan di rak yang sudah disediakan.


"Iya bang. Pasti gara-gara kak Tiara cantik." Kami tergelak dan masuk kedalam.


Cantik apaan?


"Kalau urusan kalian sudah selesai, silahkan naik ke atas atau keluar."


"Aku sedang sibuk." Wajah Tiara sangat tidak bersahabat. Di depannya ada 2 orang remaja pria dengan seragam SMA. Gaya keduanya seperti bukan pelajar yang baik. Terlihat dari cara mereka berpakaian.


Aku dan Rizal melewati meja Tiara yang memang letaknya paling dekat dengan pintu. Kami duduk di meja kecil berbentuk bundar tempat anak-anak membaca dan duduk lesehan.


"Lama gak ketemu kakak makin cantik."


"Kapan-kapan jalan, Yuk."


"Udah putuskan ya sama bang Toni? Yang pegawai kebab itu." Ucap yang satunya lagi. Dan keduanya tertawa.


Toni? Pegawai kebab? Apakah yang di gerai bang Ezra yang di mall waktu itu?


"Lihat, bang. Ini yang sering kak Tiara alami. Makanya aku selalu ke sini."


"Sering?"


Rizal mengangguk. "Beberapa kali sih, tapi yang ini kayaknya udah kelewatan!"


"Sudah selesai kan?" tanya Tiara lagi.


"Itu pintu keluar." Tunjuknya kearah pintu. "Disana tangga untuk naik ke atas." Tiara menujuk tangga.


"Kita maunya disini."


"Hanya ada dua pilihan." Tiara mulai geram.


Keduanya masih santai dan memainkan ponsel mereka.


Tiara berdiri. "Aku mohon keluarlah. Kalau pemilik tempat ini tahu aku bekerja sambil main-main, aku bisa dipecat." Nadanya mulai meninggi.


Keduanya menatap Tiara. Tapi aku malah melihat mereka seperti menatap dada dan perutnya.


Tiara saat ini memang memakai jeans dan kaos lengan pendek yang pas dengan tubuhnya.


Aku tak tahan melihat aksi remaja mata keranjang ini. Aku berdiri dan berjalan kearah belakang kursi Tiara. "Hajar bang!" Bisik Rizal yang membuatku hampir tergelak.


Bukan hakku menghajar dua orang pelajar itu. Tapi kewajibanku menciptakan kenyamanan dan menjaga nama baik tempat ini. Susah payah Rion dan kami semua menciptakan image positif. Mereka malah menjadikan tempat ini untuk menggoda seorang gadis.

__ADS_1


Ditambah lagi di tempat ini banyak anak-anak di bawah umur. Untung saja mereka duduk sedikit ke arah belakang dan di bagian sudut ruangan. Jadi pembicaraan Tiara tidak terlalu terdengar.


"Sayang..." Panggilku mesra pada Tiara. Dari arah pandangku aku bisa melihat Rizal menutup mulut dengan tangannya dan mengacungkan jempol dengan tangan satunya.


Sementara Tiara menoleh dengan wajah terkejutnya. Dan dua remaja itu menatapku dari atas sampai ke bawah.


Alhamdulillah. Untung aja styleku gak gembel-gembel banget.


Aku memakai jeans dan kaos putih dan kemeja yang ku buka kancingnya saat keluar dari kampus tadi.


"Siapa lo!" Ucap remaja dengan rambut seperti mi instan yang mulai mengembang tersiram air panas.


"Heem!" Aku tersenyum miring. "Sama seperti kalian, pengunjung tempat ini." Jawabku santai. Aku menekan bahu Tiara pertanda menyuruhnya duduk.


"Kenapa kalian malah nangkring di sini? Bukannya ke atas. Buku bacaan usia 12 keatas ada di lantai dua." Aku membuka kemejaku.


"Gak usah ngajarin! Gue udah tau!" Ucap pria berambut lurus dengan kuah rendang diatasnya. Yups! Pirang di ujung doang. Hahahah...


"Kalau udah tau, kenapa masih disini." Tanyaku sambil mengalungkan kemejaku di tubuh Tiara. Saat ini aku berdiri di belakang gadis jelmaan mak lampir yang masih saja diam. Dan gerakanku ini seperti seorang tukang pangkas yang memperlakukan pelanggannya. Oh Nath!!!


Aku berjalan dua langkah dan berdiri di samping Tiara. Sekilas aku melihat Rizal yang memegang buku untuk menutup setengah wajahnya. Aku tau, dibalik buku itu dia tengah menahan tawanya.


"Kita mau minta nomor hp kak Tiara. Dia dulu kakak kelas kita." Ooh, jadi ini drama adik dan kakak kelas toh. Aku mulai faham sekarang.


"Aku gak punya hp." Jawab Tiara cepat. Dia gugup sepertinya.


Wahai lampir Tiara yang juteknya minta ampun. Itu hp kamu ada di meja. Kau kalau mau bohong yang pinter sedikit dong. Lagi pula di jaman yang sedikit-sedikit rekam-cekrek ini, hampir tidak ada remaja yang tidak punya hp.


"Itu hp siapa?" tanya si rambut mi instan sambil menunjuk ponsel diatas meja.


"Itu... itu ponsel pacarku!" Jawabnya cepat dengan melirikku. "Ya kan sayang...."


Aku menatapnya dan kedua remaja di depan kami bergantian. Dan dibawah sana kaki Tiara bekerja keras menginjak kakiku. Itu adalah perintah untuk aku turut dalam dramanya.


"Iya..."


"Iya... Dia pacarku dan ini ponselku." Aku mengambil ponsel diatas meja.


Keduanya menatap kami penuh telisik. "Gak percaya." Ucap si rambut dengan topping kuah rendang.


"Terserah sih. Percaya atau gak itu bukan urusan kami." Jawabku dengan meletakkan sebelah bok*ngku di atas meja.


"Songong lo!" Pria itu menunjuk wajahku.


"Kalian, kalau mau ribut please, lihat tempat dong."


"Beberapa minggu lalu ada preman yang masuk sel loh gara-gara bikin rusuh disini."


"Kalau mau kenalan lebih jauh, datang ke rumahnya dan kenalan sama ibu dan ayahnya."


"Cih! Kebuktikan lo bukan pacarnya!"


"Pelankan suara kamu. Banyak anak-anak di sini." Aku memperingatkan mereka.


"Apa alasan kamu berpendapat seperti itu?" tanyaku. "Aku pacarnya atau bukan juga bukan urusanmu!"

__ADS_1


"Ya, karena mana ada cowok yang nyuruh cowok lain datang ke rumah ceweknya."


Aku tertawa pelan. Aku menunduk melihat kakiku dan kaki Tiara yang ukurannya seperti pisang goreng dua ribuan vs pisang goreng lima ratusan.


Nath! Malah mikirin gorengan!


Aku kembali menatap remaja itu. "Itu namanya persaingan bro!"


Aku melihat Tiara yang menatapku geram. Ya, aku seperti mengundang dua kucing garong ke rumahnya.


"Kalau merasa pantas, ya maju aja."


"Entar dia sama orang tuanya yang nentuin pilihan."


"Gak usahlah ganggu waktu dia kerja. Kalau dia dipecat, kalian bisa jamin uang jajan sama biaya hidup dia?" tanyaku.


"Lah, lo juga disini."


"Ini tempat, punya temen gue. Gue disini mau baca sekalian ngerjain tugas adek gue. Noh, orangnya udah nunggu." Aku menunjuk Rizal yang mengintip di balik buku.


"Kalian lihat keatas." Tunjukku random pada cctv di beberapa titik.


"Ini cctv canggih yang juga merekam suara."


"Kalian bisa diblacklist dari tempat ini. Dan Tiara bisa dipecat."


Wajah keduanya mulai menunjukkan tanda-tanda akan mengibarkan bendera putih.


"Jadi tolong, demi kenyamanan bersama. Bertingkah sewajarnya. Kalau mau baca, silahkan. Kalau mau pacaran, apelin di rumahnya. Salim ke ayah ibunya. Itu baru pria dewasa."


"Maaf kak Tiara." Ucap si rambut mi instan.


"Iya kak. Aku juga minta maaf."


"Kita boleh main ke rumah kakak kan?"


Aku melihat Tiara yang mengangguk ragu. "Kalau perlu apa-apa. Ini nomor telpon tempat ini." Tiara menunjukkan sebuah nomor ponsel yang tertulis di kertas.


Ya, sejak di buka kembali, rumah baca ini sudah memiliki telpon sendiri, bukan menggunakan hp lagi. Pendataan juga sudah menggunakan komputer. Dan ada satu hal yang akan ku usulkan pada Rion, yaitu seragam untuk Tiara dan siapapun yang akan menjaga tempat ini.


Selama ini Rion membebaskan pakaian yang di pakai Tiara selalu penjaga tempat ini sebagai bentuk memberi kenyamanan pada gadis itu.


Dan lihat sekarang, pakaiannya justru mengundang mata kucing garong.


Aku berjalan meninggalkan Tiara, karena kedua remaja itu sudah pergi.


"Bang, hp ku." Ucapnya cepat.


Perlahan kepalaku bergerak menunduk melihat hp yang masih ku pegang. Huhh! Kelupaan Nath?


"Nah..." Dengan wajah datar, aku memberikan hp itu padanya.


"Makasih." Ucapnya sambil menunduk.


****

__ADS_1


Nath santuy banget ya? Padahal pas duduk di meja dia lihat squshy tuh 😅😅😅


Nath : Sssttt! Jangan bilang-bilang Thor 😔😔


__ADS_2