BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
94 Menghebohkan


__ADS_3

Bintang


Hari terus berlalu, hingga jadwal datang bulanku mundur hampir 2 minggu. Aku kembali membeli tespack dan akan menggunakannya besok pagi. Dan jika hasilnya negatif aku akan segera ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Karena aku tidak pernah terlambat selama ini.


Malam ini aku turun ke dapur, salah, bukan malam tapi dini hari karena jam di dinding menunjukkan angka 2.15 . Aku akan mencari salad buah di dalam kulkas. Makanan yang memang lebih baik dari keripik kentang. Jika tidak salad buah, aku kadang lebih suka biskuit yang ku celupkan ke susu atau coklat panas.


Aku membuka kulkas dan ku temukan salad buah yang berhasil membuat liurku nyaris menetes. Aku mengambil sendok dan duduk di lantai. Ku buka cup ditanganku.


"Bi..." suara yang ku kenal.


"Astagfirullah!" Aku kaget setengah mati saat mendapati Rion duduk di atas pantry dengan muka bantal dan rambut seperti sarang burung itu.


"Kagetnya biasa aja." Dia nyengir.


"Ck!" Aku berdecak. Aku kembali fokus pada cup di depanku sebelum seleraku hilang karena suami tengilku.


"Enak banget, Bi."


"Ambuil sendili dialam tultas!" Mulutku penuh tapi aku tetap menanggapinya.


"Kamu ngomong apa sayang."


"Ummh... umhhmm... uhmmmh..." Aku terus mengunyah dan bergumam tak jelas sambill menunjuk kulkas.


Rion turun dari pantry dan membuka pintu kulkas. Rion berdiri cukup lama. Dan mataku membulat sempurna saat dia malah mengeluarkan sebutir telur, daging beku dan sosis serta bumbu pelengkap seperti cabai dan tomat.


Rion beralih ke depan kompor, mengisi panci dengan air dan meletakkannya di atas kompor lalu menyalakannya.


Tangannya terulur ke lemari atas dan dia mengambil sebungkus mie instan rasa kari ayam.


Rion meracik bumbu lalu menghaluskannya dengan blender, memotong sosis dan daging. Lalu mulai memanaskan minyak.


Kepalaku bergerak seiring tubuhnya yang juga bergerak. Aku melihat tiap pekerjaan yang dia lakukan. Salad buahku sudah tandas dan sekarang aku duduk di minibar agak jauh dari kompor. Aku melihatnya sambil menopang daguku.


"Masak apa sayang." Tanyaku tanpa niat membantu.


"Mi pakai kuah pedas mamp*s!"


"Namanya agak keren dikit dong, yang!" Ucapku sambil mengetuk-ngetuk meja.


"Sreeeeng!" Rion mulai menumis bumbu halus. Awalnya biasa saja tapi lama kelamaan aromanya menusuk hidungku dan membuat semua salad yang mungkin saat ini sedang antri dalam lambungku menunggu proses pencernaan perlahan meminta dikeluarkan.


Aku lari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. "Hoeekk! Hoeekk!"


"Bi..." Rion berlari kearahku. "Kenapa, Sayang?" tanyanya dengan khawatir.


Aku terus saja berusaha mengeluarkan isi perutku seperti ada yang menariknya keluar. Dan aroma semakin menyengat dan menusuk di hidung hingga aku dan Rion kompak bersin-bersin.


"Kompor gak kamu matikan, Yon." Ucapku ditengah-tengah bersin dan rasa mualku.


"Astaga!" Rion berlari kearah kompor dengan bumbu yang sudah gosong sepertinya.


"Ya Allah, ada apa ini?" Itu suara papi. "Bau menyengat apa ini, Yon? Hachiiii... hachiii." Papi ikut bersin-bersin.


"Rion, kamu masak apa malam-malam begini?"


Mami dan papi sampai bangun dan keluar dari kamar yang memang terletak di lantai bawah.

__ADS_1


"Bi muntah-muntah, ma." Rion kembali ke kamar mandi dan memapahku untuk duduk di meja makan. Tubuhku terasa lemas. Kepalaku malah sekarang terasa berputar.


"Bi... minum dulu." Mami memberiku air putih dan baru beberapa teguk aku kembali lari ke kamar mandi.


"Hoekkk!"


Aku menyeka mulutku dan membasuhnya dengan air kran. Rion mengangkat tubuhku ke sofa. Mami dengan sigap meletakkan bantal sofa di kepalaku.


Aku mengatur nafasku. Muntah berkali-kali membuatku lemas.


Papi memberikan minyak angin dan Rion langsung mengusapkannya di perut dan bawah hidungku.


"Udah, yang." Ucapku pelan.


"Sebenarnya ada apa sih, Yon?" Mami dan papi duduk di sofa meminta penjelasanku.


"Tadi, Rion lihat Bi keluar dari kamar, mi."


"Rion udah tebak, dia pasti ke dapur. Dan kebetulan Rion juga lapar. Jadi aku ikut turun."


"Aku lihat dia makan salad lahap banget, Mi. Tapi pas buka kulkas aku lihat sosis sama daging, tiba-tiba pengen makan mi kuah." Aku mendengarkan setiap perkataan Rion meski mataku tertutup rapat.


"Pas aku numis bumbu, Bi langsung lari ke kamar mandi dan langsung muntah-muntah."


"Bumbu kamu bau banget, Yang! Kebanyakan bawangnya pasti." Sambarku.


"Enggak, Bi. Cuma 2 siung bawang merah, 1 siung bawang putih. Gak lebih." Rion meyakinkanku.


"Tapi Mi. Baunya nusuk-nusuk di hidung." Aku mencari pembelaan.


"Sekarang kamu pusing, Bi?" tanya mami.


"Kamu coba cek lagi deh, mami sangsi kamu hamil Bi."


"Bi udah beli tespacknya mi. Rencanaya nanti sebelum subuh, Bi mau pakai lagi."


"Kamu beli, Bi? Kok aku gak tau?" Tanya Rion.


"Aku tadi sempat ke apotek depan kampus, Yon. Beli vitamin jadi sekalian aja aku beli." Aku memang sempat membelinya saat menunggu Rion menjemput. Jadwal Rion lebih cepat 2 jam dari jadwalku, jadi dia sempatkan ke Orbit dan kembali menjemputku.


"Sekarang ada dimana, biar ku ambil."


"Di tas." Rion segera berlari menaiki anak tangga.


"Apa yang buat kamu akhirnya memutuskan untuk beli tespack lagi Bi?" Pertanyaan mami membuatku membuka mata. Kepalaku masih pusing. Aku berusaha untuk duduk dan mami langsung membantuku.


"Bi takut ada penyakit dalam tubuh Bi, Mi. Bi gak pernah terlambat selama ini."


"Kalau kamu hamil bagaimana?"


"Kalau hamil ya Alhamdulillah, Mi. Bi berharap alasannya karena kehamilan dan bukan penyakit seperti yang Bi khawatirkan."


Rion turun dan langsung berjongkok di depanku. Rion mengambil semua testpack yang ku beli.


"Banyak banget, Bi?" tanya mami.


"Supaya hasilnya lebih meyakinkan, Mi. Bi juga pilih dari yang murah sampai yang mahal."

__ADS_1


Rion menuntunku ke kamar mandi. Aku tak kuat berdiri terlalu lama karena kepalaku masih pusing. Aku hanya menampung urinku.


Rion berjongkok di depan kamar mandi, dengan aku yang duduk di kursi dan mami papi berdiri di dekatku. Rion menggunakan 5 testpack sekaligus atas arahan mami.


"Sebentar aja, Yon. Gak perlu terlalu lama." Ucap mama.


Rion mengangkat dan menatap kelimanya dengan tangan bergetar.


"Kenapa, Yon!" Mami merebut testpack yang di pegang Rion. Rion langsung menangis dan berjongkok di depanku. Suamiku itu memelukku erat.


Air mataku menerobos keluar. "Kenapa, Yon?"


"Aku kemungkinan besar, sakit?" tanyaku dengan nada bergetar. Aku menduga Rion mendapati hasil negatif.


"Alhamdulillah...." Teriakan papi menggema di dapur ini. Aku menatap papi dan ternyata kedua orang tua Rion sedang menatap alat yang membuat putra mereka menangis.


Mami menunjukkannya padaku. Memegang kelimanya tepat di depan wajahku.


Aku menatap satu persatu benda kecil itu. Garis dua, dua, dua, dua dan dua. "Yon...!" Aku mengguncang bahu Rion yang masih memelukku.


Rion bangun dan mencium keningku. "Selamat sayang. Selamat menjadi ibu dari anakku." Kami saling berpelukan.


"Selamat, Bi, Rion!" Mami memelukku dan papi memeluk Rion. Keduanya tampak meneteskan air mata.


"Bawa Bi istirahat, Yon. Senin nanti mama buatkan janji dengan dokter terbaik di rumah sakit."


Rion langsung menggendongku dan membawaku ke kamar. Aku merasa lega karena kekhawatiranku ternyata berlebihan.


"Lega?"


Aku mengangguk.


"Maafkan bunda yang gak menyangka kamu ada di dalam ya sayang." Rion mengelus perutku.


"Sehat terus, Nak."


"Ayah ganteng akan selalu jaga kamu sama bunda."


Aku mengusap rambutnya. "Terima kasih selalu melakukan yang terbaik, Yon."


"Sudah tugasku, yang." Rion mencium seluruh wajahku. "Terima kasih sudah mau mengandung keturunan Danadyaksa, calon pengusaha muda dan tajir di masa depan." Bisiknya.


Aku hampir meledakkan tawaku. Anakku belum lahir dan dia seperti peramal yang menebak akan jadi apa anak kami nanti.


"Sudah tugasku, sayang. Sebanyak apapun kamu mau."


"Enam." Rion menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leherku.


"Dua belas." Balasku dan dia menatapku lalu kami tertawa bersama.


****


Setelah ini kita ke Enzoy Ya. Intip baby kebab.


atau sekalian kita intip baby gowes 😂 Oh no! nama babynya Orbit aneh banget 😂


Baby free style atau baby balap Liar. Terserah kalian mau kasih nama apa. Yang penting bapaknya brondong ganteng. 😍

__ADS_1


Jejak di tinggal ya sayang 😚 buat naikin mood.


__ADS_2