BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
40 Waktumu satu tahun


__ADS_3

Orion


Aku berjalan di belakang orang tuaku bersama Chiara saat memasuki teras rumah om Akhtar.


Aku berdebar.


"Bang, mukanya biasa aja."


"Jangan kayak ngambil kelulusan gitu, dong!" Bisik Chia saat kami mulai memasuki ruang tamu.


Aku menempelkan telunjukku di bibir, tanda menyuruhnya untuk diam.


Anu memang sedang tegang. Ah, maksudku aku. Begini nih kalau lagi tegang, suka salah.


Kami langsung menuju meja makan. Dan ternyata tak ada siapapun.


"Pi, siapa aja yang diundang?" Bisikku pada papi karena tak menemukan tamu yang lain disini.


Papi mengangkat bahu.


Om Akhtar mempersilahkan kami duduk. Tante Lintang dari arah dapur membawa menu yang akan kami santap nanti.


"Ayo dong, Biiiii." Itu suara kak Zoya. Aku melihat keduanya menuruni anak tangga. Kak Zoya memaksa kak Bi turun.


"Aku belum lapar Zoy, sore tadi aku di traktir tante Raraaaa." Suara kak Bi terdengar lagi di telingaku setelah setahun lebih.


Suaranya masih sama.


"Kak Bintaaaang." Jerit Chia saat melihat kak Bi dan kak Zoya menuruni anak tangga.


"Chiaaaaa!!!" Kak Bi berteriak berlari ke arah Chia yang duduk di sebelahku.


Mereka saling berpelukan. "Miss you Chia ku, my sun shine." Parfum kak Bi menerobos masuk ke indera penciumanku.


Aku merindukan harum parfum ini.


Bukan, aku menindukan orang yang memakainya.


"Kak, akhirnya ketemu juga. Padahal kakak sudah dua minggu di Jakarta, kan?" Ucap Chia.


"Iya, maaf ya. Kak Bi-nya lagi sibuk." Aku tak berani menatap wajahnya. Aku hanya diam menatap arah lain selain wajah yang ku rindukan disebelahku ini.


"Gayaan sibuk. Sibuk jadi pengganggu, iya!" Aku dengar kak Zoya menggerutu.


"Ayo makan dulu." Ucap tante Lintang saat Nath dan Nair tanpa permisi duduk di kursi mereka.


Terjadi kecanggungan antara aku dan kak Bi. Kami tak saling sapa, hanya saja saling melempar senyum.


Acara makan malam berlangsung hening. Aku makan dalam diam. Sesekali melirik kak Bi yang terlihat malas mengunyah makanannya.


Apa karena ada aku disini?


Makan malam selesai. Semua perempuan membereskan piring kecuali Chiara yang memang di larang mami. Kami langsung menuju ruang keluarga di rumah ini.


"Jaim banget, kutu kupret." Ucap Nath meninju lenganku.


"Sedang bernostalgia dengan kesalahan, Nath." Ucap Nair penuh sindiran.


Aku membuang muka, lebih memilih untuk tiduran di karpet bulu nan lembut ini.


"Habis makan tidur, pamali bang. Entar buncit." Ucapan Chia membuat Nath tertawa.


"Olah raga sejam langsung six pack lagi, Chi." ucapku asal.


Mami dan tante Lintang kembali. Tapi tidak dengan kak Bi dan kak Zoy. Apa mungkin mereka langsung masuk ke kamar? Tapi tidak terlihat menaiki anak tangga.


"Sibuk apa, Yon?" tanya tante Lintang padaku.


Aku langsung duduk. "Masih kuliah tan."

__ADS_1


"Rumah baca aman, kan?"


"Aman banget tan. Terima kasih kalian banyak membantu." ucapku tulus.


"Ma, amaaaan!" Kak Zoya menaiki anak tangga dengan mengacungkan jempolnya.


Aku tidak faham apa maksudnya.


Tante Lintang menatapku, "Temui Bintang, Yon! Kalian harus bicara." Aku menatap wanita berhijab ini.


"Ayo, Yon!" Ucap om Akhtar. "Keburu masuk, Bi-nya."


Aku melihat papi dan mami mengangguk.


Aku segera bangun dan berjalan kearah belakang. Ku lihat kak Bintang menatap langit bertabur bintang. Gadis itu duduk di kursi panjang terbuat dari besi itu.


Aku menghembuskan nafas berat. "Ayo Rion. Semoga berhasil."


Aku berjalan kearahnya. Tapi kak Bi bergeming. Dia masih setia menatap langit.


Aku duduk di sampingnya, dan dia melihatku sekilas lalu kembali menatap langit.


Aku harus bicara apa? Harus ku mulai dari mana?


Apa kabar kak? Basa-basi yang sudah basi.


Aku minta maaf kak. Jangan Yon. Kamu mengingatkannya pada luka.


Aku belum juga membuka mulut setelah hampir lima menit duduk di sampingnya.


"Kamu bahagia, Rion?" Suara lembut itu membuatku menoleh. Tapi sang pemilik suara masih setia menengadahkan wajahnya ke langit. Kali ini matanya tertutup.


Pertanyaan yang bahkan tak berani ku tanyakan padanya. Apakah kakak bahagia? Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya tidak. Karena dia pergi dengan luka.


Tapi mungkin dia bahagia jika dia sudah menemukan obatnya, penyembuh lukanya.


"Entah harus ku jawab apa kak."


"Tapi tawamu bersama anak-anak menunjukkan bahwa kamu bahagia." Bibir itu bergerak.


Anak-anak? Yang di masjid?


"Yang di masjid?" tanyaku tanpa beralih dari wajahnya. Jika mata indah itu terbuka, akankah aku sanggup menatapnya?


Dia mengangguk.


Aku menatap lurus ke depan. Berpaling dari wajahnya. "Kakak benar. Aku bahagia bersama mereka, kak. Tapi sesaat."


"Setelahnya aku kembali pada Rion yang di tinggalkan."


"Rion yang dipenuhi rasa bersalah."


"Rion yang kehilangan cinta."


"Rion yang menyesali kebodohannya."


"Dan Rion yang putus asa."


Aku menatap kak Bi sekilas, ternyata dia sedang menatapku.


"Kakak benar, perjalananku masih panjang."


"Aku bahkan baru mulai melangkah, belum sampai di mana-mana."


"Sedangkan kakak sudah sampai titik yang sangat jauh di depanku."


"Kita berbeda kak."


Hening...

__ADS_1


Kak Bi menatapku. "Kemana Rion yang percaya diri?"


"Kemana Rion yang dulunya mengatakan, apa yang berbeda? " Kak Bi menirukan cara bicaraku malam itu, malam di mana kami sempat berdebat setelah dikejar orang jahat.


Kak Bi tertawa pelan, "Maaf tidak kembali saat kamu kecelakaan."


Kami saling tatap. "Karena aku baru tahu siang tadi, saat mendengar pembicaraanmu dengan anak-anak."


Aku membuka mataku lebar. Aku tak percaya ini. Kami dekat, tapi tak saling menyapa siang tadi?


"Aku bahkan tidak tahu kamu tak bisa berjalan selama setahun." Lanjutnya.


"Entah mengapa semua orang merahasiakan ini dariku."


Jadi selama ini kak Bi gak tahu kondisiku? Mereka benar-benar menutup semuanya dengan rapi.


"Tapi mungkin itu yang terbaik."


"Dan sekarang, mereka semua menjebakku bersamamu disini." Kak Bi tertawa tanpa suara.


Kak Bi melihatku, "Kita selesaikan sekarang, Yon!"


Apanya kak?


"Aku memaafkanmu, Yon."


"Aku juga minta maaf atas kesalahanku selama ini."


"Sekarang kita sama-sama dewasa. Kamu sudah menemukan jalanmu. Dan aku akan mencari jalanku sendiri."


"Dan seharusnya dari dulu memang begitu." Kak Bi berdiri, jangan pergi kak.


Mikir Yon!!!


"Apa kita gak bisa berjalan di jalan yang sama kak. Dengan saling menautkan jemari?"


Kak Bi menoleh ke belakang.


"Perasaanku masih sama, Kak."


"Masih seperti dulu. Tunggu aku sebentar lagi, kak. Aku sedang berusaha memantaskan diri agar bisa berjalan di samping kakak."


Hening, kak Bi berdiri di sana, sekitar dua meter di depanku. Mungkinkah dia sedang berfikir?


Kak Bi tersenyum. "Buktikan Rion!"


"Waktumu setahun."


"Cintai aku tanpa batas."


"Beri aku kebebasan dan buat aku nyaman."


"Jadikan aku istimewa dan satu-satunya."


Kak Bi berbalik dan meninggalkan aku.


Aku ingin berteriak sekarang. Apa ini kesempatan?


Kak Bi ingin diperjuangkan?


Aku menatap langit. Kak tunjuk bintang mana yang kakak suka. Aku akan ambil jika aku bisa.


Rioooon!! Congratulatiooooon!!!! Jeritku dalam hati.


****


Ucapin selamat dong sama Rion.


Next bab kita masuk pov nya Bi ya. Biar gak penasaran 😊

__ADS_1


Jejaknya di tinggal kak 😊


__ADS_2