BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
34 Jadikan dirimu layak


__ADS_3

Orion


Aku menatap deretan angka di berkas yang terletak di atas meja. Aku sekarang sedang berada di R Cafe padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Setahun berlalu, aku hampir mati. Hidupku jungkir balik. Tapi satu hal yang ku syukuri. Aku masih bernafas sekarang.


Aku hidup tapi terasa mati. Aku hidup tapi sudah tak berarti lagi. Hidupku tidak ada artinya lagi semenjak malam itu. Malam dimana aku sendiri yang menghancurkan hatiku.


Aku menatap ponselku yang bergetar. Sebuah pesan dari Chia. Tanganku terulur dan ku raih ponsel itu.


Chia mengirimkan sebuah foto. Sebuah hasil screenshoot story Wa Nair. Dimana ada foto mereka sekeluarga dengan kak Bi berada di tengah. Aku tau itu kak Bi karena Nair memberi sticker love tepat di wajahnya.


Masih tak mengizinkan ku melihat wajah kak Bi, rupanya.


Dengan keterangan foto. Happy graduation our Star.


Aku menghela nafas berat. Kak Bi sudah lulus S2. Sementara aku masih mau memulai semester satu. Itu pun di kampus swasta.


Kita semakin jauh kak. Kakak semakin jauh dan sulit untuk ku raih.


Nair dan Nath adalah benteng pertama penghalang antara aku dan kak Bi. Dan setelahnya ada keluarga dan takdir.


Aku sudah menyadari kesalahanku pada malam itu. Aku terlalu terburu-buru. Aku terlalu egois hingga semua berakhir begini.


Tok... tok...


Pintu di ketuk dari luar. Aku bergeming. Karena aku sudah menitip pesan pada manager cafe akan keluar sebelum jam tutup. Jadi untuk apa dia kesini.


Tok... tok...


Pintu di ketuk dan makin keras. Aku terpaksa membukanya karena aku menguncinya dari dalam.


Ku raih kruk yang ku sandarkan di sisi meja. Ku selipkan di bawah ketiakku dan berjalan pincang menuju pintu.


*Kruk adalah tongkat/alat bantu jalan.


Ya, inilah aku sekarang. Orion yang cacat dan tak bisa berjalan tanpa alat bantu.


Dan ini sudah jauh lebih baik karena selama 8 bulan aku hanya duduk di kursi roda.


Setelah malam perpisahan itu aku tak lagi bisa bertemu dengan kak Bi. Semua akses tertutup. Bahkan aku tak lagi di terima di rumah om Akhtar.


Padahal papi sudah membereskan masalah itu. Tapi kak Bi tetap keluar dari Cahaya Bangsa.


Hampir tiga bulan tanpa kabar darinya. Aku mencoba kembali datang, tapi rumah itu kosong. Tak ada siapapun di dalam. Begitu kata mang Joko. Dan saat ku tanya jawaban mang Joko hanyalah, semua orang pergi, mas.


Iya, tapi kemana?


Karena kekalutanku dan rasa putus asa yang menderaku aku memacu kuda besiku di lengangnya jalan raya.


Aku semakin menekan tanganku, hingga kecepatan sepeda motor berada di angka 100 km/jam.


Masih belum lega. Aku menambah hingga angka 150 km/jam. Aku terasa terbang. Dan cahaya menyilaukan dari arah depan membuatku hilang kendali.


"Braaakkk!!!! Sreettt!!!" Aku merasa tubuhku terseret jauh dan akhirnya gelap.


Aku bangun seminggu kemudian dengan kaki yang sulit di gerakkan. Apa aku lumpuh?


Jika ada sianida, aku lebih baik menenggaknya saat itu juga. Karena lebih baik hidupku berakhir dari pada menanggung semua ini.


Tapi aku melihat Nair dan semua keluarganya ada disini kecuali kak Bintang. Mereka memaafkanku? Apakah hanya karena rasa kasihan, aku tak tahu.


Aku memohon maaf pada om Akhtar dan tante Lintang.

__ADS_1


Tante Lintang memelukku. "Kamu tante anggap seperti anak tante sendiri, Yon."


"Tapi kamu juga menyakiti anak tante, yang lain."


"Tante memaafkanmu."


"Ka... kak Bi." Aku terbata.


"Kak Bi sudah di London Rion."


"Fokuslah pada kesehatanmu."


Sejak saat itu aku dan keluarga fokus pada kesehatanku. Dua bulan dirawat tapi tak ada perkembangan yang signifikan. Hingga mami papi membawaku ke luar negeri.


Dan aku kembali 4 bulan lalu setelah 6 bulan di luar negeri. Saat itu aku masih butuh dua tongkat dan sekarang aku hanya butuh 1 tongkat.


Aku merasa kesembuhanku sudah st**uck disini. Karena saat ku paksa berjalan akan semakin sakit. Dan sekarang aku tidak pernah memaksakan diriku lagi.


Aku membuka pintu dan wajah tengil yang ku lihat. "Mau apa?"


"Mau masuk lah." Ethan melewatiku begitu saja.


Aku masuk dan duduk di sofa bersamanya.


"Lihat ini!" Ethan menunjukkan foto yang sama seperti yang Chia kirim.


"Aku sudah tau!" Jawabku singkat.


"Hem.." dehemnya dengan senyum sinis.


"Masih beg* ternyata." sindirnya.


Aku menatapnya tajam. Tak terima dengan ucapannya.


"Masih beg*. Lihat Rion, buka matamu." Ucapnya penuh penekanan.


"Dan kamu masih berdiri dengan benda bodoh ini." Ethan melempar tongkatku sangat jauh. Hingga membentur pintu toilet.


"Ethan!" Bentakku.


Ethan berdiri di depanku. "Bangun Rion! Kak Bi akan segera kembali dan lihat dirimu." Dia menunjukku dengan kedua telapak tangannya.


"Berdiri saja masih belum becus!" Dia tersenyum mengejek.


Aku geram. Dia fikir aku tak pernah berusaha. dia fikir aku selama ini diam saja. Aku juga sudah bosan dengan tongkat itu.


"Masih cinta?"


Apa masih pantas aku mencintainya?


Aku mengangguk lemah.


"Sudah menjadi pribadi yang lebih baik?"


Aku mengangguk lemah. Percaya atau tidak semenjak kecelakaan itu, sholatku tak pernah tinggal meski aku duduk di kursi roda.


Karena tante Lintang berkata, "Perbaiki diri, mulailah dari sholatmu, maka semua akan mengikuti."


Benar saja, sejak Sholat lima waktu ku jalankan, sholat sunah juga perlahan ku lakukan. Aku ikut mengaji. Dan sejak dua bulan lalu aku rutin ke panti asuhan untuk berbagi.


"Sekarang berusahalah untuk tak bergantung pada tongkat itu, Rion!" Bentak Ethan.


"Sudah ku coba, Than!"

__ADS_1


"Oke kita coba lagi." Ethan membantuku berdiri.


Aku berdiri perlahan dan Ethan berdiri dua meter di depanku.


"Sekarang berjalan, Rion!" Perintahnya.


Aku mulai menekan kaki kiriku untuk berjalan. "Sakit Than!" Keluhku.


"Apakah lebih sakit dari hati kak Bi karena ulahmu?"


Tidak. Sakit ini tak seberapa.


Aku melangkah dengan kaki yang masih sedikit terseret.


"Sulit Rion?"


Aku mengangguk. Tapi dia tersenyum. Sahabat kurang ajar.


"Apakah lebih sulit dari kak Bi untuk mengembalikan nama baiknya?"


Aku terpaku. Tidak. Tidak sesulit itu.


Aku maju selangkah lagi. Tidak terlalu ku seret. Masih sakit tapi aku mulai terbiasa.


"Masih bisa lagi, Yon?"


Aku mengangguk dan melangkah. Sakit. Aku berpegangan pada nakas.


"Lepas, Yon! Buat ini mudah, semudah kamu membuat kak Bi malu." Teriak Ethan.


Aku marah. Aku menyesal. "Aaaargggh.." Aku menjambak rambutku sendiri. "Kaaak Bi..." Tangisku.


"Jika keadaan tidak bisa seperti dulu. Setidaknya kamu bisa menemuinya dan meminta maaf langsung, Yon!"


Aku mengangguk. Ethan benar. "Aku harus minta maaf, Than!"


"Jika bisa." Sahut Ethan.


"Harus bisa." Aku optimis.


"Kamu fikir keluarga kak Bi akan membiarkanmu menemuinya begitu saja?"


Aku terdiam.


"Kamu bisa kembali pada kak Bi, Yon!" Ucap Ethan kemudian.


Aku menatapnya.


"Caranya, jadikan dirimu layak."


****


Nah, Babang Rion udah nongol 😊


Tapi dia sakit. 😭


Mungkin karena dia terlalu sering menyakiti 😥😥


Please jangan demon aku 😂


Babang Rion tetep ganteng kok. Entar dia juga sembuh 😊 Bapak dia punya rumah sakit, kalian tahu itu.


Dia harus sembuh, iya kali mau nga-nu sama kak Bi tapi kakinya sakit 😂😂 Bingung dong atur formasinya gimana 😆

__ADS_1


Udah ah, Hari minggu mau full istirahat 😊


Jejaknya jangan lupa ya 😁


__ADS_2