BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
111 Baby Shaqueena


__ADS_3

Bintang


Aku tertegun mendengar mami mengatakan bahwa persalinan masih lama. Bahkan aku bisa menunda untuk ke rumah sakit.


Ya Allah, pembukaan dua saja rasnya seperti ini. Dan bagaimana lagi aku melalui 8 pembukaan berikutnya.


Setelah subuh, sakit yang ku rasa semakin tak tertahankan. Aku berdiri dan berpegangan pada sisi ranjang, Rion selalu setia mengusap lembut punggung bawahku.


"Bi, ke rumah sakit, Yuk." Ajaknya yang ke sekian kali.


Aku meringis dan seperti ada yang meletup di bagian bawah tubuhku dan setelahnya air berceceran di lantai.


"Bi... Ini apa?" tanya Rion terkejut.


"Air ketuban!" Aku juga terkejut. Kenapa cepat sekali ketubanku pecah. Aku duduk di sofa dan Rion dengan telaten membersihkan kaki hingga ke area sensit*fku.


"Kita ke rumah sakit, Yon!" Aku menahan sakit tak terkira. Aku bahkan sampai meremas dasterku.


"Aku panggil mami dulu, Bi." Rion segera turun dan tak berselang lama ia kembali masuk ke kamar.


Dia menggantikan ku daster panjang berbahan katun untuk membuatku nyaman. Dia juga memakaikan hijab padaku.


"Mau make up bumil kesayangan?" tawarmya sambil terkekeh.


Aku ikut tertawa. "Tetep aja kalah cantik sama babynya."


Rion membantuku turun, dan Chiara menggeret koper yang akan ku bawa. Koper yang berisi semua perlengkapanku dan bay saat di rumah sakit nanti.


"Jangan panik, Bi. Releks ya..." Mami ikut menuntunku ke arah teras.


Papi standby di balik kemudi. Mami dan Rion menemaniku di kursi penumpang.


"Eeegghh! Ssstt!" Desisku setiap kali kontraksi datang. Kadang daster, kadang bahu dan rambut Rion menjadi sasaran empuk cengkramanku.


Kami tiba di rumah sakit. Ruangan persalinan dengan pelayanan terbaik yang kuterima saat ini. Bagaimana tidak, jika ini merupakan sejarah besar bagi rumah sakit, dokter dan petugas medis terkait. Cucu pertama pemilik rumah sakit yang akan mereka bantu kelahirannya.


Matahari mulai terlihat dan cahayanya mulai menembus kaca jendela besar dalam kamar yang sangat besar ini.


Persalinan akan dilakukan di kamar ini. Ada dua ruangan di kamar besar ini. Satu ruang persalinan dan satu lagi ruang untuk keluarga menunggu selama proses persalinan.


Sakit yang kurasa semakin sering dan tak tertahan lagi. Entahlah, rasanya aku sudah tidak kuat lagi.


****


Orion


Aku ingin sekali meminjam alat canggih yang doraemon punya. Alat yang bisa mempercepat waktu atau yang bisa mengurangi rasa sakit. Aku frustasi melihat Bi yang... isshhh entahlah aku tak sanggup lagi menjelaskannnya.


Kedua orang tuaku, dan orang tua Bi selalu mendampingi. Mama dan papa langsung datang saat papi mengabari mereka bahwa kami sudah berada di rumah sakit.

__ADS_1


Entah disebut sarapan atau makan siang, aku sempatkan menyuapi Bi yang sudah dibanjiri keringat. "Sedikit aja sayang." Aku menyuapkan sesendok bubur ayam yang dibawa bunda Una dari rumah.


Tiap satu suapan, kontraksi datang. Makan 5 suap saja rasanya sangat lama.


"Udah, Yon." Bi menolak suapan ke enam.


Aku turuti kemauannya. Aku kembali meletakkan mangkuk bubur di atas meja. Bi perlahan berjalan dengan berpegangan pada dinding sementara aku mengikuti kemanapun dia bergerak.


Bi masuk ke toilet. "Mau apa sayang?" tanyaku.


"Mau pup."


Aku menunggunya dan ikut masuk ke dalam toilet. Aku berlutut di depannya. Bi mencengkram bahuku sekuat tenaganya. Tak masalah jika itu bisa membuatnya tahan terhadap rasa sakitnya.


Aku memegangi perutnya. "Cepat keluar dong sayang, ayah sama bunda udah gak sabar loh ketemu kamu." Aku bicara pada bayi dalam perutnya.


"Kamu lagi cari jalan mau keluar ya? Terus berusaha ya sayangnya ayah." Aku mencium perut yang terasa kencang itu.


Cukup lama kami di dalam sampai suara mama terdengar di luar toilet. "Yon, ngapain?"


"Bi mau pup ma," teriakku dari dalam toilet.


"Bisa bi?" mama ikut masuk.


Bi menggeleng pelan. "Gak keluar, Ma. Tapi sakit banget ma. Gak ada cela lagi. Terus sakit maaaa."


"Mungkin udah pembukaan lengkap, Bi." Aku dan mama membawa Bi keluar dari toilet. Mami dan dokter serta beberapa suster yang sedari tadi ada di dalam ruang persalinan bersiap melakukan tugasnya.


Aku dan mama ada di samping kepala Bi. Sementara mami dan dokter melihat jalan lahir. "Pembukaan 8, Dok." Ucap dokter yang menangani Bi pada mami.


Sudah pembukaan 8 dan Bi sepertinya sudah lemas dan tak mampu menahan sakit lagi. Tim medis memutuskan untuk memasang infus guna menjaga kecukupan cairan selama proses persalinan yang melelahkan.


"Sakiit, ma." Rintihnya pada mama yang terus menyeka peluh di dahinya.


"Aahh! Sakiiitttt Yon!" Mulutnya terus merancau. Tangannya terus mencengkram erat tanganku. Ya, saat ini aku tangan kamu saling menggenggam erat.


"Mi, kita caesar aja, Mi. Rion gak kuat Mi." Aku putus asa tak sanggup lagi melihatnya kesakitan. Aku entah sejak kapan menangis.


"Huus! Gak boleh ngomang begitu. Kamu harus semangati istri kamu, Yon." Ucap mama padaku.


"Rion! Jangan bikin istri kamu down. Perjuangannya sedikit lagi ini loh." Mami menasehatiku. "Semua perempuan yang akan melahirkan pasti merasakan sakit, Yon." Lanjut mama.


"Kamu kuat sayang." Bisik mama pada Bi. "Istigfar nak, berzikir terus. Baca doa Nabi Yunus, Bi. Berdoa semoga dimudahkan persalinannya, nak."


"Laa illahaila anta subhaanaka innii kuntu minad dzoolimiin." Kak Bi langsung mengucap doa itu. Doa yang sering ku dengar saat dia akan tidur, bahkan saat menoton tv dia sereng mengucapkannya sambil mengelus perut besarnya.


"Bersiap, bunda, atur nafasnya ya... Pembukaan sudah lengkap dan bayi sudah siap lahir." Dokter mulai memberi aba-aba pada Bi.


"Aaargggh!" Bi kembali menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Bi... sayang... Ayo Bi, kamu bisa sayang!" Aku berbisik di telinganya, mencium pelipisnya dengan hati yang tak henti berdoa.


"Jangan menjerit, Bunda. Ditahan suaranya, dagunya nempel ke dada, lihat perutnya ya... Lihat dede yang udah bersiap keluar."


"Kayak ada yang dorong, Dok." Sahut Bi cepat.


"Tarik nafas bunda... mengejan!"


Bi mengikuti instruksi dari dokter. Ia mengejan semampunya tapi belum juga dapat mengeluarkan bayi kami. Kepala Bi terkulai lemah di ranjang persalinan.


Aku, jangan ditanya! Kakiku sudah bergetar dan rasanya lantai tempatku berpijak akan runtuh dalam sekejap.


"Maaaa." Aku malah merengek pada mertuaku.


"Dedenya masih malu, Bun." ucap dokter berusaha mengurangi ketegangan. "Sekali lagi ya, Bun."


"Sekali lagi sayang." Bisikku dengan suara bergetar.


Bi mengejan sekali lagi saat kontraksi datang.


"Kepalanya sudah kelihatan, Bi." Suara mami bak angin surga. Menyejukkan.


"Sedikit lagi, Bunda." Dokter ikut menyemangati.


"Ayo sayang! Dia juga sedang berjuang untuk keluar, Bi."


Bi kembali mengejan, masih belum. "Rambutnya tebal, Bi. Ayo sayang! Sekali lagi pasti bisa nak!" Mami kenapa hebohnya seperti suporter sepak bola.


Bi mengejan sekali lagi. Dan kepalanya kembali terkulai lemas dengan nafas memburu dan peluh membanjiri seluruh tubuhnya seiring dengan tangis malaikat yang terdengar nyaring.


"Alhamdulillah...." Seisi ruangan mengucap syukur.


Aku bisa melihat bayi merah itu menangis dan kini sedang dibersihkan oleh suster.


Semua berjalan tak semenegangkan tadi. Plasenta keluar dengan mudah dan semua berjalan lancar.


Bayi cantik itu kini tengah tengkurap di atas dada istriku. Aku mengumandangkan azan di sebelahnya dengan penuh kelembutan. Bayi cantik itu menggerak-gerakan tangan dan kakinya. Kepalanya juga bergerak mencari sumber kehidupannya.


Setelah selesai mengazankan, aku tak bersegak sesenti pun. Aku melihat bagaimana usaha bayi ajaib itu berusaha melahap tubuh istriku.


Dan berhasil. Aku mencium kening Bi. "Terima kasih untuk keajaiban luar biasa ini, sayang. I love you."


"Love you too, sayang."


Aku beralih pada pipi gembul yang sangat lembut milik putriku. "We love you, baby Shaqueena Aludra Danadyaksa."


***


Udah lahir nih dede queennya ya... 😊

__ADS_1


Mirip siapa kira-kira ya 🤔


__ADS_2