
Waktu berlalu...
Orion
"Bi...." Panggilku pada Bintang yang sedang di dalam kamar mandi dan tak keluar hingga 15 menit. Dia mengeluh sakit perut dan aku khawatir padanya dan juga calon anak kami.
Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 10, dan minggu depan harusnya kami sudah kembali menemui dokter.
"Buka pintunya, Bi." Aku terus menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Cklek!
Alhamdulillah akhirnya pintu terbuka.
Wajahnya cemberut. Dia berjalan dengan menghentakan kakinya dan langsung duduk di ranjang.
"Kamu ih! Ganggu aja, aku lagi me time, sayang?"
Me time? Di kamar mandi? Emang ada?
"Are you kidding me, Bi? Me time di kamar mandi? Emang ada? Baru kamu loh sayang?" Aku ikut duduk di sebelahnya.
"Kamu ganggu, Yon!" Dia cemberut dengan kedua tangan di depan hidung menggenggam sesuatu. Dia pegang apa?
"Itu apa Bi?" Aku menunjuk tangannya.
"Jangan ganggu, Rion!" Dia berteriak.
Aku sampai terkejut dan mundur dari dudukku. Mengapa istriku sangar begini?
"Iya, jawab dulu itu apa?" Aku cuma takut itu lem. Iya kali istriku nge-lem.
Aku berdiri di depannya dan ku paksa membuka tangannya. Astaga! Apa ini?
"Sabun mandi batang? Buat apa, Bi?" Aku sedikit berteriak, karena kaget atas apa yang ku temukan.
Bi menunduk dan apa itu? Dia menyeka matanya. Aku menaikkan dagunya dan menatap mata basah itu. Dia menangis? Apa ini yang di maksud mama moodnya akan berantakan?
"Aku suka wangi sabunnya." Dia terisak. "Aku sering tiba-tiba mual, Yon. Tapi wangi sabun bisa buat mualku hilang."
Aku tidak tega. Sabun tidak bahaya kan kalau cuma di cium? Mudah-mudahan tidak, kecuali jika di makan.
Aku tidak tega. Aku menyodorkan kembali sabun itu di hadapannya. Bi menatapku takut, aku mengangguk tanda menginzinkannya mengambil kembali sabun itu.
Bi segera mengambilnya dan kembali menghirup sabun itu. "Aku mual kalau nyium pengharum ruangan di kamar mandi, sementara kalau pup aku gak bisa diburu-buru, Yon."
I know that. Dia kalau lagi pup memang selalu lama semenjak dulu. Mungkin sambil mencari inspirasi atau menyusun rencana. Enthlah, tapi buktinya dia menjadi wanita yang berhasil meraih cita-citanya.
"Cuma 2 hal yang aku suka sekarang dan gak buat aku mual."
"Apa, sayang? Katakan!" Aku mengusap pucuk kepalanya.
"Wangi sabun, sama badan kamu. Cuma itu."
Ya, dia memang makin sensitif sekarang. Bau bumbu masakan dia gak suka, bau parfum menyengat dia gak suka, bau asap kendaraan dia juga gak suka.
"Badanku?" tanyaku heran.
Dia mengangguk. "Peluukk!"
Aku langsung memeluknya. Di menghirup nafas dalam-dalam di dadaku. Ya Allah, apa ibu hamil seajaib ini?
"Sayang..."
"Iya..." Sahutku tanpa mengurai pelukan.
"Aku pengen double date." Bisiknya pelan.
Oh God, ini permintaan pertamanya. Apa ini yang namanya ngidam.
Aku mengurai pelukan dan menatapnya. "Double date? Kamu ngidam sayang?" Tanyaku senang. Aku senang direpotkan olehnya.
"Gak tau, tiba-tiba aja." Dia menggeleng pelan.
"Oke kita double date sama bang Ezra dan kak Zoya ya."
__ADS_1
Dia menggeleng. "Aku maunya sama Nath!"
"Nath jomblo sayang. Masa iya kita pasangin sama Nair."
"Nath suruh sama Tiara, Yon. Ya... ya... ya..." Oh, puppy eyesnya! Buat aku pengen makan kamu Bi.
Aku menyerah, iya kali dia ngidam aku nolak mengabulkannya. Seribu satu cara akan ku tempuh agar aku, istriku, Nath dan Tiara bisa duduk satu meja.
Kita lihat apa yang bisa ku lakukan.
"Malam ini sayang?"
"Iya, kan ini malam minggu." Dia tersenyum lebar.
Aku mengelus perutnya yang mulai tampak membuncit. "Apa pun ayah lakukan buat bunda sama kamu sayang."
Malamnya kami pergi ke salah satu resto mewah, atas permintaan bumil pula. Dia ingin ke resto yang menjual nasi briyani. Ini aneh, kami buatnya di Jeju, tapi ngidamnya khas Timur Tengah. Ada berapa lagi keunikan ibu hamil sih? Aku mau lihat semunya.
"Ayo sayang." Kami masuk ke sebuah restoran mewah. Aku sudah reservasi sore tadi agar dapat tempat yang strategis.
Kami duduk dan dengan sabar istriku menunggu pasangan lainnya datang. "Mereka datang kan sayang?"
"Datang, Bi. Enjoy ya sayang." Aku mengelus punggung tangannya.
Senyumnya mengembang sempurna saat matanya menangkap bayangan dua orang paling ditunggu.
Nath dengan gaya santainya, celana pendek dan sweater hoodie dan Tiara dengan dress sebetis berlengan panjang.
"Sorry, bikin repot kalian." Ucapku pertama kali saat keduanya duduk di depan kami.
Nath cemberut dan Tiara senyum, aku tau senyumnya juga terpaksa.
"Udah tau ngerepotin, masih juga dilakuin!" Gumam Nath.
"Aku yang minta, Nath."
"Iya kakakku sayang. Demi kakak nih aku minjem mobil papa."
"Kenapa naik mobil, Nath?" tanya Bi penasaran.
Nath benar juga. Untung dia inisiatif sendiri.
"Papa ngasih?" Istriku menaikkan sebelah alisnya.
"Iya."
"Kamu bilang buat jemput Tiara?"
"Iya Kak. Iya."
"Fix. Kalian direstui." Bi menjetikkan jarinya hingga berbunyi di depan wajah Nath yang tampak kesal.
"Tau ah. Kita makan apa?"
Pas sekali. Pertanyaan Nath terjawab dengan datangnya seorang pelayan dengan nampan besar berisi nasi briyani untuk 4-5 orang dan pelengkapnya.
"Kita makan ini." Ucap istriku semangat.
"Ini ayam kok." Ucapnya lagi saat melihat wajah Nath yang seperti ragu. Ya, Nath memang kurang suka daging kambing.
Kamu mulai makan, tapi istriku enggan makan.
"Kenapa gak makan, Bi."
"Aroma bumbunya terlalu kuat, Sayang." Jawabnya menutup hidung dan dia segera mengambil sesuatu di tasnya.
Dia bawa sabun? Astaga! Aku memijat keningku.
"Kamu ngajak kesini, harusnya kamu tau sayang, makanan ini kaya bumbu. Jadi udah pasti aromanya kuat sayang." Aku bingung harus bagaimana menghadapinya.
"Aku memang gak pengen makannya. Aku cuma pengen lihat Nath makan semua nasi ini." Tunjuknya pada porsi besar di depan kami. Aku melongo gak jelas dong!
Apa ini, ya Allah?
"Kak, jangan becanda dong!"
__ADS_1
"I'm serious, Nath! Turutin ya... Si dede mau lihat uncle gantengnya makan makanan khas Timur Tengah. Kamu kan gantengnya kayak orang sana, Nath." Tatapan memohon itu. Nath mana tahan.
Hembusan nafas Nath membuatku ingin tertawa. "Iya... Tapi gak semua ya kak. Aku gak sanggup."
"Iya... berbagi deh sama Rion sama Tiara."
"Aku gak mirip orang sana kak. Aku asli Indonesia."
"Iya, iya. Kalau gak mau mirip orangnya, mirip ontanya juga gak masalah."
Aku dan Tiara menahan tawa. Dan Nath semakin kesal.
"Makin parah!" Gumam Nath.
"Tiara mau pesan yang lain?" Tiara menggeleng. "Ini aja kak."
Kami makan tapi Bi malah sibuk merekam. "Anak kamu calon wartawan, Yon." Bisik Nath dan aku hampir meledakkan tawaku.
"Aneh kan?"
"Banget! Kita makan nasi, dia nyium sabun. Dapet istri dimana kamu?"
"Di rumah kamu."
"Lah iya!" Kami tertawa.
"Udah gosipnya?" Ibu hamil sensitif baget sih.
"Heheheh... Udah sayang."
"Pulang, Yuk. Aku gak kuat baunya." Ajaknya padaku yang memang sudah kenyang.
"Lah, ini masih banyak kak!" Tunjuk Nath pada hidangan yang masih setengah.
"Terserah mau dibungkus atau ditinggal."
Bi mengambil uang di dompet dan meletakkannya di atas meja. "Bayar ya Nath! Sekalian beliin makanan buat keluarga Tiara."
"Iya kali gak kamu bawain oleh-oleh. Minimal makanan legend khas ngapel lah. Martabak manis." Dia mengerling dan mengapit lenganku.
"Ayo sayang!"
"Da Nath! Da Tiara! Thanks atas waktunya ya."
"Sehat terus kakak cantik." Tiara tersenyum lebar.
"Pasti onty cantiknya dede."
Kami berjalan meninggalkan restoran dengan suasana bahagia, aman sentosa berbunga-bunga di hati ibu hamil nan cantik ini.
"Happy?" Tanyaku saat masuk mobil.
"Happy dong!"
"Thanks sayang." Dia mencium pipiku.
Dia kesambet setan apa? Ada yang tau?
"Cuma cium?" tanyaku.
"Di rumah, kita gowes 5 km ya."
Penawaran yang tak mungkin ku tolak, walau berkurang 5 km. It's okey lah.
****
Next part Nath ya. Dia ngapain sama Tiara selama di mobil.
Saling cakar?
Saling cium?
atau.....
main ular tangga 😂
__ADS_1