BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
23 Perjalanan masih panjang


__ADS_3

Satya


Aku langsung memberondong Akhtar dengan banyak pertanyaan setelah Bunga memutuskan untuk langsung ke kamar Bintang.


Akhtar menjelaskan secara detail. Dan aku memahami perasaan Lintang.


Entah bagaimana Bunga membujuk Bintang. Hingga akhirnya kami pergi hanya untuk sekedar membeli makanan untuk sarapan.


Akhtar bahkan tak menghalangi sedikitpun. Dia malah mengirim pesan padaku.


Ajak Bi ngobrol, Sat.


"Mau kemana princesses?" tanyaku pada keduanya.


"Makan dulu, yah." Rengek Zoya.


"Dimana princess Zoya?"


"Rumah oma, ayah!" Bi berbicara pelan. Tapi berhasil menemukan pandangan mataku dan Zoya di spion tengah.


"Okeee!! Let's go!" Ucapku riang.


Sepanjang jalan hanya Zoya yang lebih dominan. Dia berbicara apa saja untuk menghibur Bintang.


Bintang, sejak kecil dia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Hanya karena ayahnya meninggal, itu yang membuat keluarganya tak sempurna.


Lintang adalah hidupnya. Jadi, saat Lintang menjauh darinya, hidupnya terasa hampa. Lintang marah padanya, dia terluka. Dan dia tak bisa menyembunyikan luka itu.


Berbeda dengan Zoya yang terbiasa terluka. Sejak mengetahui bagaimana dia hadir di dunia ini, dia hidup dalam rasa bersalah karena mamanya. Tapi dia pintar menyembunyikannya.


Zoya hidup dalam kesedihan, tapi dia selalu bersyukur. Dia punya tujuan hidup, yaitu Arumi Resto. Dia juga tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang Allah beri untuknya.


Dia berusaha hidup dengan baik bersama Lintang dan Akhtar yang memberinya keluarga yang utuh.


Kami sampai di tempat tujuan kami. Pasangan lansia yang berusia hampir 70 tahun itu menyambut kedatangan kami.


Zoya dan Bintang turun dari mobil dan langsung memeluk pasangan renta itu.


"Sudah berapa lama gak kesini, cucu-cucu oma?"


Zoya menggaruk keningnya lalu menyengir. "Hampir sebulan, oma."


"Begitu datang, pada mau numpang sarapan, Ma." Ucapanku membuat keduanya menatapku tajam.


"Ayo, masuk."


"Oma sama opa juga belum sarapan."


Kami masuk dan menikmati sarapan pagi bersama. Bintang tetap makan walaupun sedikit. Tapi lumayan ada yang masuk ke perutnya.


Selesai makan, Bintang meminta izin untuk masuk ke kamar almarhum Rezki.


"Kenapa, Bi?" tanya mama.


Bintang menggeleng. "Cuma mau cerita sama papa, oma."


Aku memberi isyarat pada mama dan papa agar menyetujui keinginan Bintang.


Kami akhirnya menuju lantai dua dimana kamar almarhum Rezki berada. Kamar yang masih di rawat dengan baik.


Bintang duduk di karpet menghadap figura besar yang terpasang di dinding. Foto Rezki sedang memakai toga. Zoya ikut duduk di sampingnya.


Sementara kami duduk di sofa dengan mama duduk di tengah. Mama dan papa masih bingung, "Bintang sedang ada masalah sama Lintang, Ma, Pa." Keduanya langsung mengangguk faham.


"Apa kabar, pa?" Bintang mulai bicara. Aku langsung merekamnya.


"Apa kabar juga, papa." Kali ini giliran Zoya. Mereka selalu bertanya seperti itu terlebih saat sedang di makam.


"Semoga papa bahagia disana." Ucap Bi lagi.

__ADS_1


"Sampaikan salam Zoy sama mama, pa." Bintang menatap Zoya. "Semoga mama selalu bahagia."


Bahu mama mulai bergetar. Aku dan papa berusaha menenangkan mama.


"Pa, mama marah sama, Bi." Suaranya bergetar, dia menahan tangis.


"Sama Zoya juga." Zoya cemberut. Dia bicara seperti anak kecil yang merajuk.


"Bi juga kecewa sama papa Akhtar."


"Kalau Bi menikah nanti, harusnya papa kan yang menikahkan?" Bi menghela nafas. "Tapi gak apa-apa. Bi tetap sayang papa."


"Terima kasih sudah menghadirkan Zoya untuk Bi." Bintang merangkul bahu Zoya. "Sampaikan terima kasih juga sama mama Arum, pa."


Zoya memeluk Bintang. Lalu tak lama mereka melepas pelukan.


"Pa, ada pria yang datang melamar Bi. Tapi Bi tolak. Dia guru di sekolah tempat Bi mengajar."


"Lalu ada lagi yang menyatakan cinta sama Bi. Dia 5 tahun lebih muda pa."


"Namanya Rion."


Mama papa menatapku. Aku mengangguk memberi isyarat agar membiarkan Bi bercerita.


"Dia cium Bi." Bintang menangis.


"Dia buka jaket Bi. Tapi tujuannya untuk memakaikan kaos di badan Bi. Karena tubuh Bi yang harusnya tertutup masih bisa terlihat dari cela kancing jaket itu, pa."


Bintang terus bicara. Aku mengerti sekarang, dia hanya ingin bercerita tanpa ada yang menyanggah, atau bahkan memberinya saran dan nasehat. Untuk itu dia memilih kesini.


"Dan mama salah faham."


"Mama marah."


"Zoya juga dimarah karena pakai pakaian yang terlalu pendek, pa." Ucap Zoya.


Mama dan papa kembali menatapku.


"Tapi sekarang mama meminta kami melupakan semuanya, termasuk syarat itu."


"Bi sebenarnya gak masalah soal itu, pa."


"Bi cuma sedih karena mama gak mau bicara sama, Bi." Bahu gadis itu berguncang.


"Zoya juga sedih, tapi Zoya tahu kalau Zoya salah pa. Zoya janji akan berubah menjadi lebih baik demi membalas kebaikan mama Lintang dan papa Akhtar."


Keduanya diam cukup lama. Aku sudah mengirim rekaman itu pada istriku.


"Sudah ceritanya, Bi?" tanya Zoya.


Bintang kembali menatap foto itu. "Bi kangen lihat wajah papa. Makanya Bi milih kesini dari pada ke makam. Tapi Bi selalu doain papa kok setiap habis sholat."


Keduanya berdiri, lalu mama meminta mereka untuk duduk bergabung dengan kami. Keduanya memilih duduk di bawah sambil bersandar di lutut mama.


"Kalian tahu? Cinta itu tau kemana dia harus pulang." Keduanya menatap mama.


"Seperti cinta papa Rezki yang akhirnya kembali ke mama Arum."


"Cara mereka salah, tapi cinta mereka tak pernah salah. Cinta pertama yang tidak pernah lekang oleh waktu." Keduanya masih mendengarkan.


"Kalian tahu, ayah Satya dan bunda Una bersatu setelah berpisah selama lima tahun." Mereka menatapku. Aku mengangguk.


"Dulu, ayah bertemu bunda Una saat bunda masih berusia 17 tahun."


"And I stole her first kiss."


*dan aku mencuri ciuman pertamanya.


"Di pertemuan pertama." Aku tertawa tanpa suara.

__ADS_1


Mata keduanya membulat.


"Kami back street hampir 2 tahun. Lalu mama Arum dan papa Rezki meninggal."


"Bunda menyerah, karena hubungan kami salah."


"Kami terpisah dengan rasa yang gak pernah berubah."


"Dan bunda masih ingin menguji cinta kami."


"Bunda memilih kuliah di luar negeri dan tak ingin bertemu ayah selama dua tahun."


"Ayah turuti selama dua tahun. Dan kami pertama kali dipertemukan setelah dua tahun di acara aqiqahan Nath dan Nair."


"Dan perasaan kami masih sama. Lalu setelahnya kami menikah."


"Bi, Zoya, dengar nak."


"Cinta mama Lintang adalah kalian."


"Cinta itu akan membawa mama kembali."


"Mama cuma perlu waktu."


"Dan soal Rion. Bagaimana perasaan kamu, Bi?"


Bintang dia menatapku. Lalu menggeleng.


Aku tersenyum. "Kamu percaya dia gak akan melakukan lebih malam itu, Bi?" Maksudku adalah saat di cafe.


Bintang mengangguk walau terlihat ragu.


"Kamu berniat menunggunya jika dia meminta?"


Bintang tak merespon. Dia pasti bingung.


Aku tersenyum membelai rambutnya. "Mungkin Bi belum cinta."


"Tapi ayah yakin, Bi sayang sama Rion. Entah itu sebagai teman atau adik."


"Karena terbukti Bi gak menjauhi Rion setelah dia mengatakan soal perasannya."


"Bi, jika Rion tulus mencintaimu. Dia akan menunggumu."


"Dia akan melewati segala rintangan yang ada di hadapannya."


"Biarkan dia membuktikan perasaannya."


"Tapi jika Bi memang sama sekali tidak ingin hidup dengannya, tolak dengan tegas, Bi."


"Ayah, Bi cuma kepikiran mama yang kecewa sama Bi." Bintang kembali berkaca-kaca.


"Umur Bi baru 23. Perjalanan masih panjang."


"Masih ada waktu untuk memperbaiki diri."


"Berfikir positif dan lihat kedepan. Bi ingin menjadi apa kedepannya. Bi ingin seperti apa."


"Ayah benar, Bi." Ucap papa.


"Percayalah, sejauh apa kamu pergi, jika Rion jodohmu maka kalian akan kembali di pertemukan."


"Dan mudah-mudahan saat itu, kalian sudah sama-sama menjadi manusia yang lebih baik."


****


Weekend aku doble up 😁


Menemani kalian yang lagi kongkow2 cantik di rumah.

__ADS_1


Bareng anak, suami atau pacar.


Dan yang jomblo, aku mau sewain Rion yang kebetulan belum boleh muncul hari ini 😂😂


__ADS_2