BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
32 Aku Mencintainya


__ADS_3

Bintang


Aku membuka pintu dan...


"Taaaadaaaa...!"


"Happy graduation little staaaaar!!!" Teriakan itu sungguh memekakan telingaku namun tak urung mengukir senyum lebarku.


Aku tak percaya ini. Ini bukan mimpi?


Di depanku kini ada Zoya dengan bucket uang seratus ribuan dan boneka kecil bertoga di tengahnya.


Nair merentangkan tangannya sementara Nath sedang merekam dengan ponsel. Di belakang mereka ada mama dan papa. The most romatic couple.


"Aaaaaa... I miss you badly." Aku memeluk Zoya sangat erat. Aku benar-benar merindukannya.


"Miss you too, Bi." Zoya melepas pelukanku dan menyeka air matanya.


"Ayo masuk."


Mereka masuk ke flat kecilku. Hanya ada ruang tv, dapur kecil, kamar mandi dan kamar tidur.


"Pantas aja kak Bi betah disini kak Zoy, enak begini flatnya." Ucap Nath setelah menghentikan rekamannya.


"Mahal ini Nath." Ucap Nair.


"Ho'oh. Sebulannya mungkin setara sama uang sewa 12 unit kostan mama selama sebulan juga." Ucap Nath.


Mereka terbahak.


Aku cemberut. Memang biaya hidup disini sangat mahal. Aku saja harus mati-matian menekan pengeluaranku.


"Nair, lihat sini!" Zoya meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku. Nair dan Nath makin mendekat.


"Gila, bro! Kebanyakan makan roti, mata Bi jadi biru." Ucap Zoya sok drama.


Mereka semua kembali tertawa.


Aku menepis tangan Zoya. "Yang ada aku cacingan disini lama-lama Zoy."


"Makan cuma roti sama butter."


"Kadang makanan kaleng."


"Aaah! Lidahku sampai lupa rasanya gado-gado gimana." Keluhku dengan menyadarkan kepalaku di sofa.


Mereka makin terbahak.


"Alhamdulillah ya Kak, kita mah tiap hari mama masakin yang enak-enak. Berkurang satu anggota, jatah makan kita malah ditambah." Ucap Nath pada Zoya.


"Kakak tahun depan aja kak balik ke Indonya." Ucap Nath menggodaku.


"Iya, terus aku disini kayak Rapunzel yang dikurung di menara. Cuma bisa bengong menunggu pangeran berkuda menjemput. Gitu mau kamu Nath?" Aku mengomel panjang lebar.


"Kalau mau begitu sih boleh. Bakalan sampai beruban gak ada yang jemput." Ejek Nath.


"Mau berhenti usil atau kalian mama tinggal di sini semua."


"Mama papa mau balik ke Jakarta." Ancam mama.


"Tinggal disiniiiiiiiiiiii." Teriak kami kompak.


Mama menggeleng. "Anak-anak kamu, Mas!" gerutu mama.


Hari aku lebih banyak senyum. Ini adalah kejutan luar biasa. Aku tak menyangka mereka datang lebih cepat dengan personil lengkap pula.


Mama dan papa sedang istirahat di atas tempat tidurku. Sedangkan Nath dan Nair tidur di bawah dengan kasur lipat. Mereka pasti lelah setelah menempuh perjalanan lebih dari 16 jam.

__ADS_1


Aku dan Zoya malah memilih menonton film. Kami duduk bersebelahan di sofa minimalis ini.


"Ada cerita apa di Jakarta?" Tanyaku seolah kami tak pernah saling bertukar kabar setelah sekian lama.


"Gak ada." Zoya fokus pada layar tv. "Cuma berita om Bayu dan tante Wilya yang kemarin baru hajatan sunatan anak ke duanya."


Om Bayu dan tante Wilya adalah karyawan di BL Shop saat kami kecil dulu. Mereka bekerja pada mama, sampai akhirnya keduanya memutuskan menikah dan berhenti bekerja.


Aku manggut-manggut.


"Ada lagi sih "


"Kak Elsa baru aja melahirkan putri pertamanya." Lanjut Zoya.


[Ingat kak Elsa? Yaap, anak tante Anna.]


Aku tersenyum lebar. "Waah. Pasti anaknya cantik banget. Kayak mamanya."


"Dulu kami berdua sering main barbie bersama di BL Shop. Dan sekarang dia udah punya baby sementara aku masih gini-gini aja." Aku bertopang dagu dengan tangan yang ku tumpukan di bahu sofa.


"Makanya cari pacar, Bi. Iya kali London isinya bule semua tapi gak ada yang nyantol." Ucap Zoy padaku.


Entahlah Zoy. Gak pernah ada debaran lagi setelah malam perpisahan itu. Batinku.


"Ngelamun, Bi?" Zoya menyenggol lengaku.


"Eh, enggak." Aku terkesiap.


Hening sejenak.


"Hati kamu tertinggal di Jakarta, ya Bi?" Zoya bersandar di bahuku.


"Acara perpisahan sekolah benar-benar jadi malam perpisahan untukmu, Bi." Lanjutnya.


Aku hanya diam dan tak meresponnya. Zoya benar, malam itu aku dan Rion benar-benar berpisah. Tidak ada lagi yang membiarkan kami berhubungan. Bahkan di dunia maya.


"Dia sedang apa, ya Zoy?" Tanpa sadar pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku.


Aku sendiri bahkan terkejut mendengar pertanyaan itu. Tapi mungkin itu yang mewakili perasaanku.


Cerita dengan Zoya mungkin akan mengurangi bebanku.


Zoya menatapku. "Kamu kangen dia, Bi?"


Tak terasa air mataku menetes. Aku mengangguk lemah. Zoya langsung memelukku dari samping.


"Aku merindukannya, Zoy. Rasa kecewa kian terkikis oleh rasa kehilangan. Aku menyesal tidak menemuinya sabelum berangkat kesini. Sebenarnya aku ingin membebaskan hati kami sebelum berangkat."


"Aku ingin kami berpisah tanpa meninggalkan luka."


"Luka yang bahkan masih membekas sampai sekarang."


Zoya menatapku dari samping dan mengelus bahuku.


"Selama berada disini aku menyadari sesuatu, Zoy."


"Aku mencintainya." Bahuku bergetar.


"Tapi dia menyakitimu, Bi. Dia merusak semuanya." Ucap Zoy padaku.


"Lalu ini aku harus bagaimana Zoy? Menyalahkan hati yang mengukir namanya?"


"Lalu bagaimana dengan jantung yang tak lagi berdebar karena pria lain?"


"Lalu bagaimana dengan air mata ini yang mengalir tanpa diminta, Zoy?"


"Jadi setelah kembali kamu ingin menemuinya, Bi?" tanya Zoya.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Untuk apa, Zoy? Aku akan terluka jika aku datang dan dihatinya tidak ada aku lagi."


"Jadi, kamu menyesal meninggalkannya?"


"Gak, Zoy. Gak pernah."


"Aku gak pernah menyesal meninggalkannya karena caranya mencintaiku sangat menyakitkan." Aku menyeka air mataku.


"Dia terlalu egois dan bertindak sesukanya. Dia masih terlalu kekanakan."


"Lalu jika dia masih mencintaimu, bagaimana Bi?"


Aku menatap Zoya. "Dia masih muda, Zoy."


"Perasaannya masih bisa berpindah pada gadis lain."


"Dia punya segalanya."


"Setahun ini, dia pasti sudah melupakanku. Dia sudah berubah, Zoy. Bersama perasaannya."


Aku dan Zoya saling diam.


"Dia masih sama, Bi." Ucapan Zoya membuatku menatapnya tajam.


"Rionmu masih sama, Bi." Aku tersenyum sinis. Tidak mungkin.


"Rion yang memohon untuk kamu terima."


"Rion yang memohon untuk kamu tunggu."


"Rion yang memohon agar kamu tak menerima pria mana pun."


"Zoy...." Aku tak sanggup lagi berbicara.


Zoya tak mungkin berbohong. Tapi juga tak mungkin perasaan Rion masih sama.


"Dan aku harap, pria yang menunggumu disana masih Rion dengan perasaan yang sama tapi dengan pribadi yang lebih baik, Bi."


"Dia gak di Aussie?" Tanyaku kaget.


Malam itu aku ingat, Rion mengatakan akan kuliah di Aussie. Berarti malam itu dia membohongiku?


Zoya menggeleng.


"Kenapa kamu gak pernah cerita Zoy?"


"Mama papa melarang kami semua membahas Rion di depanmu, Bi?"


"Lalu sekarang apa?" Aku berkacak pinggang.


Sedihku berganti marah sekarang. Tapi Zoya malah memasang ekspresi sedih. "Temui dia, Bi!"


Apa maksudmu Zoy?


Aku menggeleng. "Aku berserah diri sama Allah, Zoy."


"Kalau Allah menakdirkan kami bertemu kembali. Aku hanya berharap kami di pertemukan pada waktu dan di tempat yang tepat." Ucapku pada Zoy.


****


Bi udah ngaku Cinta. Tapi masih belum yakin sama Rion?


Bantu Rion meyakinkan Bi, ya 😊


Rion kemana thor?


Rion... anu... 😣

__ADS_1


Masih di sewa orang buat jadi pacar pas malam minggu 😆


__ADS_2