BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
36 Strong


__ADS_3

Orion


Aku keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru. Yang ada difikiranku hanya satu. Selamatkan Kak Bi, Ya Allah.


Tapi aku melihat Ethan dan kedua orang tuaku ada di lantai dua cafe. Beberpa meter dari ruangan kerja papi.


Aku berjalan ke arah mereka. Dan ku lihat Ethan tersenyum. Mami dan papi juga tersenyum. Tapi mami juga menangis.


Seketika aku sadar. Aku bisa berjalan tanpa tongkat?


Aku melihat kedua kakiku yang menapak sempurna. Aku melihat kakiku berdiri tegak. Aku beralih menatap mereka.


Mami merentangkan tangan. Aku langsung berjalan lambat masuk ke dalam pelukan hangatnya. "Anak mami hebat!" Bisiknya di telingaku.


Papi menepuk bahuku. "Anak laki harusnya begini, Yon! Strong!"


Aku menatap papi, "Maaf selama ini merepotkan kalian."


"Terima kasih sudah merawat Rion, mi."


Aku teringat sesuatu, "Than, ayo. Katanya mau ke bandara?"


Ethan malah berjalan meninggalkan kami. "Ethan!"


"Mikir, Yon!"


"Masih beg* aja!" Ethan menggerutu.


"Om, anaknya banyakin minum vitamin sama minyak ikan. Ikan duyung kalau ada." Ethan menuruni anak tangga.


Aku tercengang dan mulai menyadari sesuatu. Dari story Nath, dia masih di London. Dan pesawat apa yang... Sialan! Jadi dari tadi dia mengerjaiku?


Aku berjalan pelan meninggalkan mami dan papi. "Ayo pulang, Mi, Pi." Aku kesal pada Ethan.


"Tongkat, Rion?" ucap mami.


"Udah gak butuh, Mi." Ucapku.


Mami berjalan mengikutiku. Papi juga.


"Strong boleh, sombong jangan, Yon!" Ku dengar suara papi di belakangku.


***


Malam ini bukannya tidur, aku malah membuat banyak rencana. Hanya karena aku bisa berjalan lagi, seolah semua harapan masih ada.


Semua impian perlahan kembali masuk dalam fikiranku.


Esok paginya, aku langsung ke rumah sakit untuk memberi kejutan dokter yang selama ini merawatku.


Aku muncul di ruangannya pada jam istirahat dan duduk di atas mejanya.


Dokter bername tag Arjuna itu langsung menatapku takjub.


"Jangan terpesona, Om. Aku masih doyan perempuan."


"Songong!"


"Mau apa kesini? Kaki udah aman, ya?" Lanjutnya lagim


"Aman, om!" Ucapku mantap.


"Besok-besok diulang lagi. Biar om ganti pakai kaki sapi di pemotongan hewan!"


Maksudnya yang di ulang lagi adalah kebut-kebutan di jalan raya.

__ADS_1


"Wiiih, kaki sapi? Enak tuh!"


Setelah mengobrol yang tak serius, aku keluar dari ruangannya karena dokter juga butuh istirahat.


Aku langsung pergi ke satu tempat. Mall xxx. Disana aku akan menemui seorang pria yang nasipnya tak jauh berbeda dariku.


Aku memasuki area food court. Dan berhenti di gerai yang pelayannya semua adalah laki-laki.


"Bang Ezra." Sapaku pada pria yang tengah berdiri di dekat pintu masuk gerai tersebut. Pria tampan yang memakai kaos dan celana cargo pendek.


"Eh, " Dia menatapku dari atas ke bawah.


"Mantap bro!" Dia menepuk bahuku begitu menyadari aku bisa berjalan tanpa tongkat.


Aku memintanya untuk mengobrol sebentar. "Ada apa, Yon?"


"Gak ada. Salut aja sama abang."


"Salut?"


Aku mengangguk. "Strategi marketingnya ajib!" Aku mengacungkan jempolku. "Pekerjanya ganteng-ganteng. Pelanggannya cewek semua pasti."


Dia tertawa. "Temen semua, Yon. Lumayan bayar gajinya murah!" Ucapnya agak pelan. Aku tahu dia hanya becanda.


Aku bingung, mau mulai cerita dari mana.


"Bang, kalau anak di jalanan yang pada ngamen, sama jualan itu kira-kira pada sekolah gak, bang?"


"Kenapa?" Dia menautkan alisnya.


"Pengen bantu bang."


"Aku pernah ketemu beberapa orang dari mereka ada di masjid, bang. Kutanya kenapa jualan, karena mau bantu orang tua."


"Terus pas ku tanya pada sekolah atau enggak. Ada yang mengangguk, ada yang diam aja bang."


Aku mengangguk.


"Begini Yon. Masalah mereka terlalu komplex untuk kamu selesaikan sendiri." ucapnya.


"Mereka yang mengemis, mengamen dan berjualan terkadang ada yang memiliki orang tua dan keluarga. Bahkan ada yang bisa di bilang gak miskin-miskin banget."


Aku terkejut. "Jadi mereka melakukan itu untuk apa bang?"


"Ya mungkin untuk uang jajan mereka sendiri. Tapi ada juga sih yang memang benar-benar dari keluarga gak mampu." Ucap bang Ezra.


"Aku cuma kasian sama mereka bang."


"Masih anak-anak, tapi sudah menjalani kehidupan yang keras."


"Waktu belajar dan bermain mereka jadi berkurang."


"Jangan terlalu masuk ke dalam kehidupan mereka, Yon. Iya kalau orang tuanya suka. Kalau gak? Kamu bisa jadi sumber masalah bagi keluarga orang."


"Tapi aku pengen melakukan sesuatu untuk mereka."


Bang Erza diam. "Kamu bisa mulai dengan perpustakaan, Yon."


"Perpustakaan?"


Bang Ezra mengangguk. "Pinjamkan buku gratis pada mereka. Jika perlu, cari relawan. Bisa teman dekat atau teman kampus untuk mengajari mereka minimal sekali seminggu."


"Kayak les gitu bang?" tanyaku.


Bang Ezra mengangguk. "Akan ku fikirkan bang." Bang Ezra ada benarnya juga. Kalau aku mau membantu dengan uang, perlu berapa banyak dana? Lagi pula pemerintah juga gak mungkin berpangku tangan melihat rakyatnya kesusahan.

__ADS_1


"Dan satu lagi, aku mau buka usaha supaya punya penghasilan lebih banyak untuk membantu orang-orang seperti mereka, Bang."


"Kira-kira kalau aku buka distro gimana bang?"


Bang Ezra diam. Dia mungkin berfikir. "Sekalian clothing lin**e, Yon."


"Buat bajunya sendiri, jual di distro sendiri sama cari reseller. Kamu bisa jual online."


"Nitip di olshop tante Lintang kira-kira bisa gak bang."


"Boleh asal cocok bagi hasilnya." Dia nyengir. Jelas bang! Iya kali aku ngajak kerja sama tapi gak kasih hasil ke mereka.


"Dimulai dari kaos cowok mungkin, ya bang."


Bang Ezra mengangguk. "Coba kaos sablon dengan desain berbeda. Buat dalam jumlah sedikit setiap desainnya."


"Biar murah, tapi limited."


"Butuh tim desain dong?" Tanyaku.


"Jelas. Mesin sablon, pabrik textile untuk supply bahan baku, sama penjahit dan ada beberapa hal lagi yang harus difikirkan secara rinci, Yon."


"Sebenarnya bisa beli kaos jadi, kamu tinggal sablon. Tapi kurang pas aja kayaknya."


"Dengan buat pabriknya sendiri, kamu bisa tuh rekrut penjahit yang di pinggiran kota. Lumayan mereka jadi punya pekerjaan tetap."


"Soal jahit dan segala macamnya, coba tanya tante Rara. Dia asyik juga kok di ajak sharing."


Ini yang ku suka dari Ezra, kalau bicara gak pakai basa-basi langsung ke intinya.


"Jadi ke tante Rara lagi, nih?"


"Iyalah, kalau ke mami kamu, yang ada jahit luka Yon. Bukan jahit baju." Aku tertawa. Ada-ada aja bang Ezra.


"Boleh nitip gak, Yon?"


"Apaan bang?"


"Nitip teman, untuk bagiaan sablon atau setrika juga gak apa-apa. Kasihan yang masih kerja nguli di pasar."


"Abang mau buka cabang tapi masih perlu nafas lah sebentar. Keuangan agak oleng." Dia tertawa pelan.


"Sip bang, aman!"


Bang Ezra, lelaki yang sama sepertiku. Mencintai seorang gadis sampai mentok kepojokan. Gak bisa geser kelain hati lagi.


Entah mengapa kak Zoya menolaknya. Padahal mereka terlihat serasi. Kalau soal harta, ku yakin bukan itu alasannya.


Dan aku salut pada bang Ezra yang bisa bangkit dengan cepat. Semoga aku bisa mengikuti jejaknya.


Karena benar kata Ethan, aku harus menjadikan diriku layak. Layak untuk gadis manapun, tak terkecuali kak Bi.


Dan doaku masih sama. Semoga Allah menyatukan aku dan kak Bi suatu saat nanti.


****


Jejak jangan lupa kak 😀


Beberapa bab Lagi Rion dan Bi akan bertemu 😚


Gak langsung di lamar, gak di tampar juga 😂


Jadi di apain Thor?


Di apainya? 😎 Tunggu aja kelanjutannya kak 😊

__ADS_1


Othoor Kampr**t 😡😡


__ADS_2