
Bintang
Pesta pernikahanku sudah berlalu. Dan siang ini kami check out dari hotel. Aku dan Rion di jemput dengan mobil dari rumah papi Ray. Sedangkan Ezra dan Zoya dijemput oleh mang Joko. Supir dari rumah mama.
Aku dan Rion kembali ke rumah orang tua Rion. Zoya dan Ezra langsung pulang ke rumah Ezra. Kami memang tidak harus pulang ke rumah mama dulu, karena malam tadi setelah resepsi Ezra dan Rion sudah meminta izin untuk langsung membawa kami ke rumah mereka.
"Bawa istri kalian kemana pun kalian mau. Mama percaya kalian bisa menjaga anak mama."
"Bi, jangan manja di rumah mertua kamu." Nasehat mama yang paling ku ingat.
"Zoya, urus suami kamu dengan baik." Nasehat mama pada Zoya. Mama paham, tidak ada asisten rumah tangga di rumah tipe 36 yang disewa Ezra.
"Welcome home, sayang." Ucap Rion saat kami turun dari mobil.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Mami dan papi langsung menyambut kami.
Kami menyalami keduanya. "Gak pada kerja, Mi, Pi?"
"Jadwal mami sore, Yon."
"Jadwal papi, bebas." Kami tertawa mendengarkan jawaban papi.
"Ayo masuk. Belum makan siang kan?"
Aku dan Rion saling tatap. Gimana makan siang, Mi. Sarapan aja terlambat 3 jam. Batinku.
Adalah ulah Rion yang mengajak gowes 2 x 10 km tanpa jeda.
"Sebagai penebus liburku 2 malam ini kak." Alasan yang masuk akal brondong manis.
Aku mengangguk saat Rion memintanya pagi tadi. Aku yang sudah mandi harus mandi lagi. Untung saja masalah gaun dan semua barang-barang yang menyangkut acara malam tadi sudah di bereskan. Sehingga pertempuran kami tak ada yang mengganggu.
"Boleh, mi." Jawabku. Padahal aku masih kenyang, tapi demi menghargai mereka aku menyetujuinya.
"Kak, kita kan baru makan?" bisik Rion padaku. Saat mami dan papi berjalan di depan kami.
"Gak masalah, sayang." Aku mengelus pipinya. "Hargai mami dan papi yang sudah meluangkan waktunya."
Kami berjalan menyusu keduanya. Saat sampai di meja makan aku terheran dengan banyaknya hidangan yang mereka persiapkan.
"Chia mana, Mi?"
"Masih sekolah, Bi."
"Oh." Aku mengangguk.
"Ayo di makan, Bi."
"Iya, mi." Kami memulai setelah membaca doa.
Aku mengambil piring Rion dan mengisinya dengan nasi. "Sedikit aja kak."
"Yang banyak, biar kenyang, Yon."
"Kaaak...." Rion memohon.
Aku tertawa melihatnya. "Iya... iya... Manja banget anak mami."
"Emang anak mami. Kan yang ngelahirin, mami, kak. Bukan papi."
"Iya... iya... Makan dulu ya. Biar kuat pas berdebat nanti. Oke."
Mami dan papi tertawa melihat tingkah kami.
"Kita yang sahabatan, terus nikah aja seru ya Ray. Apa lagi mereka yang udah kayak kakak adik dari kecil."
"Pasti seru, nih." Ucap mami.
Aku melihat mami dan papi saling melempar senyum. Aku tau bagaimana hangatnya keluarga ini. Bagaimana serunya keluarga ini saat berkumpul. Bagaimana sikap kedua orang tua yang cenderung santai mendidik anak-anak mereka. Dan sekarang aku ada di sini menjadi bagian dari mereka.
Alhamdulillah ya Allah, aku hadir di tengah-tengah keluarga yang hangat.
Aku tidak pernah bermimpi sekalipun akan mendapatkan rezeki sebesar ini. Menjadi menantu di keluarga Danadyaksa. Dimana suamiku sudah terjamin masa depannya.
Mami, papi masih merestui dan mendukung Rion yang memperjuangkanku. Aku yang pernah meninggalkannya dan secara tidak langsung menjadi penyebab kecelakaan yang menimpanya.
__ADS_1
Aku merasa sangat dihargai di sini. Acara lamaran, hantaran, mahar dan acara pernikahan, semua menelan biaya yang tak sedikit, dan mereka sepertinya tidak ada yang memepermasalahkan hal itu.
Terima kasih ya Allah. Semoga aku bisa menjadi istri dan menantu yang baik dirumah ini.
Tanpa terasa air mataku menetes saat aku masih mengunyah makananku. Aku buru buru menyekanya, tapi percuma karena Rion melihatnya.
Rion memegang bahuku. "Ada apa kak?"
"Masakannya gak enak? Atau kangen rumah?"
Aku menatapnya dan menggeleng. "Gak Yon. Aku gak apa-apa."
"Yakin?"
"Iya."
Selesai makan siang kami duduk di ruang keluarga karena mami ingin bicara hal yang sepertinya lumayan serius.
"Kalian mau ke kamar dulu?"
"Obrolan mami masih bisa ditunda sampai malam kok."
"Gak Mi, nanti aja."
Aku duduk di sebelah Rion, mami dan papi juga duduk bersebelahan di sofa yang lainnya.
"Mami mau bicara apa, mi?" tanya Rion.
"Gak terlalu penting sih, tapi lumayan penting. Mami gak tau kalian pernah membahas hal ini atau gak."
"Bi, mami mau tanya. Kapan terakhir kali kamu datang bulan?"
Aku sedikit tersentak dengan pertanyaan menohok yang di ucapkan mami. Apa mami berfikir kami pernah melakukannya sebelum menikah, lalu meminta segera menikah karena khawatir hamil dan membuat malu keluarga?
Aku diam sejenak.
"Mami gak ada maksud apa-apa, Bi."
"Ehm, sekitar 10 hari sebelum akad mi. Dan 3 hari sebelum akad, Bi sudah bersih."
Mami dan papi saling melempar senyum.
Obrolan apa ini, Mi? Di lakukan di depan Rion dan papi. Mami pasti biasa dengan obrolan seperti ini. Ya tentu, mami kan dulu bidan. Dan sekarang sudah menjadi dokter spesialis kandungan walau dengan mengulang pendidikan dari awal yaitu Kedokteran dan lanjut ke dokter spesialis.
"Gak ada yang menunda, Mi." Jawabku.
"Iya. Kita ngalir aja kayak air." Rion bersandar di sofa.
"Jadi kalau kamu hamil dalam waktu dekat, bagaimana dengan pekerjaan yang masih kamu mulai, Bi? Mami hanya tidak ingin kamu mengabaikan cita-citamu, kesukaanmu demi mengandung cucu mami dan papi."
"Gak masalah, mi. Kalau masih bisa kerja, ya Bi kerja. Kalau gak bisa kerja karena keadaan, Bi bisa berhenti untuk sementara atau selamanya."
"Ada Rion yang cari uang. Bi ngurus anak di rumah. Ya kan Yon?" Aku menatap Rion yang tersenyum senang mendengar jawabanku.
"Bener banget."
"Doain papa rezekinya lacar ya, sayang." Rion mengelus perutku.
Mami dan papi tertawa melihat tingkah Rion.
Aku memukul tangannya. "Ada mami sama papi, Yon!"
"Ck! Kakak belum lihat aja, gimana lebih kurang ajarnya papi pas Rion jomblo." Rion menggesekkan hidungnya di bahuku. Dia sesekali juga menghirup nafas dalam-dalam. Mungkin dia suka aroma parfumku.
"Gak apa-apa, Bi."
"Yon, sudah siap jadi ayah?" Tanya papi pada Rion.
"Siap pi." Sahutnya semangat.
"Ya sudah istirahatlah. Mami akan siap-siap ke rumah sakit. Mami cuma mau bahas itu. Karena mami gak ingin cucu mami lahir saat orang tuanya belum siap atas kehadirannya. Terlebih kalian masih sangat muda."
"Dan ternyata kalian siap lahir batin. Jadi, mami cuma bisa berdoa semoga kalian bahagia dan segera diberi momongan."
"Amin."
Mami pergi menunu kamar disusul oleh papi. "Semangat pejuang dede bayi." Papi mengepalkan tangannya ke atas memberi semangat pada kami.
__ADS_1
"Rion..." Panggilku saat Rion sedang tiduran memeluk guling. Saat ini kami sudah berada di kamar Rion.
"Ya..." Sahutnya tanpa bergerak sedikitpun.
Aku yang duduk bersandar di headboard langsung memukul pahanya.
"Aduuh."
"Rasain." Cibirku.
"Ada apa sayangnya Rion." Rion langsung memeluk pinggangku. "Nyonya Orion kenapa sih, marah mulu."
Dia suka sekali menyembunyikan wajahnya di perutku. Dan aku merasa nyaman-nyaman saja atas kelakuannya yang satu ini.
"Rion, kalau bisa, sebelum hamil dan aku berhenti mengajar, kita pindah dari sini, ya."
"Kenapa kak?" Rion menatapku.
Aku mengusap rambutnya. "Kita kan gak tau rezeki itu datangnya kapan, Yon. Kalau segera ya Alhamdulillah."
"Dan wanita hamil itu beda-beda, Yon. Ada yang sehat tanpa keluhan, ada yang mengalami morning sickness yang parah, ada juga yang harus bedrest."
"Mami di usia segitu masih kerja. Dan kalau nanti aku hamil dan harus istirahat dari pekerjaanku. Ada rasa gak enak hati, Yon. Masa mami kamu kerja, aku malah di rumah terus."
Semoga Rion faham maksudku. Sebaik apapun orang tuanya, sedekat apapun orang tua kami. Tetap saja perasaan tidak enak hati itu muncul dalam benakku.
"Iya kak. Aku mengerti posisi kakak, kok."
"Kita tinggal di apartemen papi aja, ya."
Aku mengangguk.
"Terima kasih, Yon."
"Sayang papa, nanti kalau pengen apa-apa jangan yang aneh-aneh, ya."
"Aku belum hamil, Yon." Protesku saat Rion seolah mengajak bicara janin di rahimku.
"Gak apa-apa kak. Siapa tahu aja yang pagi tadi langsung jadi."
"Rion... Rion... Kamu nih!" Aku mencubit hidungnya.
"Kak ada pepatah, usaha tidak akan menghianati hasil kan kak?"
Aku mengangguk.
"Supaya bulan depan hasilnya sesuai harapan, kita usaha lagi, yuk!" Aku tau arah bicaranya kemana.
Rion memang masih belum dewasa, tapi soal stam*na, dia termasuk oke walaupun masih dalam tahap belajar. Kalian tau kan, belajar apa?
"Kamu pengen banget punya anak, Yon?" Tanyaku karena aku khawatir ia kecewa jika hasilnya belum ada. Ditambah lagi kami menikah berbarengan dengan Zoy-Ezra. Dan jika kami tertinggal selangkah dari mereka, apakah Rion dan keluarganya bisa menerima hal itu.
"Gak banget sih kak. Sedikasihnya aja." Rion menutup matanya. Dia men*kmati setiap sentuh*nku di rambutnya.
"Kalau Zoya dan Ezra lebih dulu dipercaya, bagaimana Yon?"
Rion bangun dan duduk menghadapku. "Kak, kenapa kakak khawatir berlebihan? Kita masih muda kak."
"Itu artinya kita harus coba lagi, lagi dan lagi."
"Kita nikmati masa pacaran yang gak pernah kita lewati, ya kak."
"Jangan memikirkan hal yang sudah diatur Allah kak."
Aku memeluknya. "Sayang kamu banyak-banyak." Aku mencium wajahnya bertubi-tubi dan dia dengan senang hati menerimanya.
****
Mereka sudah bersatu sekarang. 😚
Dan next aku punya beberapa plan.
*Lanjut kisah rumah tangga mereka.
*Lanjut season 2 fokus ke kisah Nath dan Tiara
*Atau kisah Nair-Naira
__ADS_1
Kira-kira Kalian suka yang mana? 😊😊😊
Jejaknya di tinggal ya kak 😚