BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
88 Bonus


__ADS_3

Bintang


"Wah... wah... honeymoon beberapa hari aja muka kami langsung glowing, Yon!"


Sambutan pertama kali ku dengar dari Nath yang sedang menonton TV.


Kami melewatinya begitu saja karena menyalami mama dan papa lebih penting dari pada mendengar sapaan Nath yang lebih cocok disebut ejekan itu.


"Assalamuallaikum Ma, Pa."


"Waalaikum salam..."


Kami duduk di sebelah mama dan papa.


"Gimana gak glowing Nath, bulan madunya kan cuma ngurung diri di kamar."


Kami semua menatap Om Langit yang duduk di bahu sofa yang diduduki Nath.


"Lihat aja rambut Rion, Nath?"


"Kenapa rambutnya Om?" Si Nath malah nurut lagi, dia melihat Rion penuh telisik dan fokus ke rambut Rion yang rapi dan fresh karena pomade yang ia pakai.


"Hitam berkilau karena kebanyakan keramas. Hahahahah." Tawa om Langit membuat kami jengah.


"Waah, ampun om! Nath belum sampe kesana ilmunya." Bagus adikku tersayang, jangan lagi tanggapi Om Langit.


Nath bangun dan meninggalkan kami, Nath berjalan menaiki anak tangga, mungkin akan ke kamarnya. "Nath ngertinya masih pake sabun, om!" Teriaknya sambil berlari.


"El Nath Alvarendra!" Mama marah, tandanya adalah disebutnya nama lengkap Nath.


"Nath!" Teriak papa berbarengan dengan mama.


"Hahahahahah..." Tawa om Langit dan Rion pecah.


"Langit! Kamu kebiasaan ngomongnya ngoco sama anak-anakku."


"Kenapa salahku sih kak. Pendidikan seperti itu penting untuk anak-anak seusia mereka kak."


"Tapi cara kamu salah, Langit!"


"Iya... iya... Zoya sama Ezra belum sampe? "


"Belum." Jawab papa, "mungkin masih di jalan."


"Assalamuallaikum." Suara dari arah depan.


"Waalaikum sallam."


"Panjang umur, nih. Baru juga di omongin." Ucap om Langit.


"Dari tadi om?" Tanya Zoya saat sudah menyalami mama dan papa serte om Langit.


"Belum, Zoy."


"Kita bahas di sana, Om." Tunjuk Zoya ke arah ruang tamu


"Boleh."


"Urusan apa, Zoy?" tanya papa.


"Pembangunan resto, pa." Jawab Zoya.


Zoya dan om Langit pindah ke ruang tamu. Sementara Ezra ikut bergabung.


"Papa dengar minggu depan Zoya akan ke Surabaya, Zra?"


"Iya pa. Kunjungan rutinnya."


"Gak bisa ditunda Zra? Kalian baru nikah loh, masa udah mau pisah beberapa hari." Tanya mama.


"Ezra ikut ma."


"Kamu gak sibuk, Zra? Pekerjaan kamu?" Tanya papa.

__ADS_1


"Ada anak-anak lain yang urus, Pa."


"Kita sekalian mau honeymoon ke Bali."


"Wooohh! Mantap bang! Jangan kasih kendor!" Tanpa sadar Rion berteriak. Aku langsung mencubit pahanya.


"Hehehehe..."


"Maaf Pa, Ma." Rion cengengesan melihat ekspresi terkejut mama dan papa.


"Siapa tahu mama sama papa bulan depan langsung dapat 2 cucu." Ucap Rion mulai menurunkan suaranya.


Papa dan mama saling pandang. "Amin..." Lanjut keduanya.


****


Hari berganti dan Senin ini adalah hari pertamaku dan Rion kembali ke kampus setelah cuti.


Aku dan Rion berangkat dengan mobilnya. "Siang nanti kita makan di cafe depan, Yang." Ajak Rion padaku.


"Siip bos suami!" Aku menatapnya.


Mobil berhenti di parkiran khusus mahasiswa. Kami membuka seatbelt. "Tunggu, sayang." Ucap Rion memegang tanganku.


"Salim dulu sama suami!" Rion menyodorkan tangannya.


Aku tersenyum meraih tangannya dan mencium punggung tangan Rion. "Semangat belajarnya sayang."


Rion menunjuk pipinya. Aku melihat kanan kiri, depan belakang. Aman.


Aku mengecup kedua pipinya. Gini amat mau ciuman doang!


"Cepat lulus ya sayang. Matanya dijaga. Banyak cewek cantik loh di luar."


"Pasti sayangku." Rion mencium keningku.


"Ditolak ya kalau ada yang nembak." Aku tertawa.


"Tunjukin cincin kawin yang muaaahaaal itu, ya sayang."


"Supaya semua pria itu tahu kalau suami kamu bukan orang sembarangan." Rion seperti bisa membaca fikiranku.


"Supaya kalau mau ngajak kamu selingkuh dia mikir-mikir dulu." Rion tertawa.


Aku menggeleng pelan. "Suamiku yang tajir melintirnya masih dirintis, please ya... fokus belajar, jangan mikirin aku yang diincar banyak pria." Aku tertawa.


"Pede banget istri aku." Rion mencubit hidungku.


Aku melihat jam tanganku. "Ayo sayang, sebentar lagi kelas dimulai."


Ah, beginikah rutinitas yang harus ku alami setiap hari? Pergi ke kampus bersama seorang mahasiswa yang lucunya adalah suamiku. Sementara aku dosen di sini. Apa kata orang?


Apa peduliku dengan omongan orang. Toh aku bahagia, Rion bahagia dan keluarga kami turut bahagia.


Kami melangkah saling bergandeng tangan. Seorang pria berdiri di depan kami.


"Selamat atas pernikahan kalian!" Robi menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Rion menjabat tangan Robi. "Dia milikku, tolong jangan diganggu." Rion menautkan jemari kami.


Robi tertawa. "Iya, sorry soal kemarin."


"Gak masalah, jangan di ulangi lagi, bro!" Ucap Rion.


"Duluan Rob." Ucapku sebelum kami melangkahkan kaki.


"Rion, bantu aku agar di terima magang di perusahaan papa kamu."


Aku dan Rion menatapnya heran. "Aku udah tau siapa kamu."


Rion mengangguk. "Entar aku coba usahain."


Kami meninggalkan Robi, "Penjilat." gumam Rion pelan.

__ADS_1


"Hus!" Aku menepuk lengannya. "Gak boleh gitu, sayang!"


Siang ini aku dan Rion makan siang di cafe dekat kampus sebelum kembali ke kelas. Rion hari ini selesai sampai jam 2. Dan aku selesai sampai jam 3.


Aku sedang di toilet cafe. Aku mencuci muka dan kembali merapikan make up serta hijabku.


Tak butuh waktu lama, aku kembali ke depan. Tapi dua orang gadis sudah mengisi kursi di depan Rion. Aku berjalan semakin dekat.


"Kita satu jurusan loh. Tapi pas ospek kita beda kelompok. Sayang banget ya..." Ucap gadis centil dengan kemeja yang kancingnya lebih banyak terbuka dari pada yang terpasang itu.


"Kamu yang punya rumah baca itu kan?" Tanya gadis lainnya dengan menekan dada di tangannya yang bertumpu di meja. Tujuannya adalah agar dadanya kelihatan. May be!


"Iya kak."


"Ih, kok kakak sih!"


"Eh, iya maaf." Rion memainkan ponselnya, tanda ia tak berminat dengan obrolan mereka.


"Udah punya pacar belum?"


"Belum lah," sahut gadis yang lain.


Astaga! Kenapa dia yang jawab. Aku duduk di belakang Rion. Sengaja, mau nguping. Aku ingin lihat reaksi Rion.


"Kalau dia punya pacar, ya dia pasti sama pacarnya lah."


"Ya kan siapa tahu pacarnya jauh, mereka LDRan gitu."


"Kalau LDRan, dia pasti selingkuh. Mana betah cowok nganggur lama-lama."


"Ya siapa tahu, dia tipe setia. Udah setia ganteng pula."


Aku nyaris tergelak, Rion tak menjawab malah keduanya berdebat.


"Hemmm...!" Rion berdehem dan berhasil membuat keduanya berdebat.


"Maaf ya mbak-mbak sekalian."


"Saya sudah menikah." Rion mengangkat tangannya dan menunjukkan cincin kawin kami.


"Gak percaya."


"Iya, masih muda ini!"


"Ah, sekarang lagi jamannya nikah mudah, palingan nyoblos duluan dan hamidun deh."


Aku geram, tapi ingin tertawa juga.


Aku berjalan kearah, Rion. "Sayang... teman kamu?" Tanyaku duduk di samping Rion.


"I... bu... dosen kan?" tanya salah satunya.


"Iya..." Jawabku tenang.


Kedua gadis itu memasang wajah terkejut sekalihus bingung.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Ibu sama dia menikah?"


Aku mengangguk.


Keduanya saling tatap. Lalu segera berdiri. "Maaf mengganggu, bu."


Keduanya pergi meninggalkan kami.


Kabar pernikahanku memang sudah menyebar, tapi tanpa foto dan video karena saat resepsi, semua tamu undangan memang diperingatkan dan diminta untuk tidak menyebar foto pernikahan kami. Demi kenyamananku dan Rion untuk kedepannya.


Mungkin karena itu tak semua orang tahu siapa suamiku. Tapi gosip menyebar, aku menikah dengan anak orang kaya raya.


Aku tak peduli, karena memang iya, itu kenyataannya. Udah kaya, ganteng lagi. Sama bonus, dia brondong. Hahahah.


****

__ADS_1


Lanjuttt??? ☺☺☺


__ADS_2