
Orion
Setelah mendengar perkataan papa soal voucher menginap di hotel, aku mulai faham apa yang di maksud papi pagi tadi.
Keputusan bersama.
Kamu akan menyukainya
"Akhirnya terdampar disini." Kak Bi menghempaskan tubuhnya di atas rajang hotel berbintang ini.
Kami, dua pasang pengantin baru yang baru saja tiba di hotel dengan diantar supir. Selepas sholat Isya kami berangkat dari rumah. Tak ada yang mengizinkan kami membawa kendaraan sendiri.
"Iya kak. Kayak sepasang merpati yang di kurung di sangkar emas." Aku juga ikut menghempaskan tubuhku di ranjang.
"Hahaha... kamu ada-ada aja Yon."
"Beneran kak. Kakak lihat kamar ini. Luas, besar, mewah."
"Kita hanya berdua disini. Tanpa membawa mobil dan kendaraan apapun. Itu artinya kita gak boleh kemana-mana kak."
"Ck!" Kak Bi bangkit.
"Mau kemana kak?" tanyaku.
"Ganti baju. Iya kali tidur pakai gamis gini, Yon!" Ucapnya padaku sambil menujuk gamis yang ia pakai.
Kak Bi membuka koper dan mulai mencari pakaian gantinya. Sangat lama, kak bi terus duduk bersila di depan koper yang di letakkan di lantai.
Aku masih memandang langit-langit kamar yang di desain sangat mewah. Ranjang empuk ini bahkan tidak berguncang saat aku menghempaskan tubuhku tadi.
Ranjang mewah. Aku merentangkan tanganku dan menggerakkannya mengusap ranjang keatas kebawah.
Aku duduk dan melihat kak Bi yang masih duduk di depan koper. Dasar wanita, butuh lebih dari sepuluh menit untuk sekedar memilih pakaian tidur.
Aku duduk di sebelahnya. "Belum ketemu juga bajunya kak?"
Kak Bi menatapku dengan wajah terkejut. "Yon! Bikin kaget aja." Kak Bi memukul pelan lenganku.
"Habisnya kak lama banget. Sini ku bantu." Aku mencoba mencari di dalam koper, tapi kak Bi menahan tangaku dan dengan cepat ia menutup koper. Walaupun belum ia kancingkan.
"Jangan, Yon!" Wajahnya pucat pasi.
"Kenapa kak?"
"Engggg... Anu..."
Kenapa kak Bi gugup begini?
"Kamu tidur aja dulu, kakak bisa cari sendiri." Ucapnya cepat dan matanya tidak berani melihatku.
"Ya udah, aku mau ambil boxer sama kaos kak."
"Tunggu!" Kak Bi lagi-lagi melarangku menyentuh barang barang di koper.
"Kak, kenapa sih?" Aku penasaran karena kak Bi semakin bersikap aneh, tak seperti biasanya.
"Gak apa-apa. Kamu pakai itu aja." Tunjuknya pada jeans selutut dan sweater hoodie yang ku pakai.
"Gak bisa kak. Sempit. Aku gak biasa tidur pakai celana begini." Keluhku.
Kak Bi tampak sedang berfikir. Pasti ada yang tidak beres. Kira-kira apa? Ck! Kenapa aku jadi ikut berfikir begini.
Jangan-jangan....
Aku mengangkat tubuh kak Bi dan memindahkannya ke ranjang. Aku segera berlari dan membuka koper.
Aku melihat kain tipis, sangat tipis bahkan. Kain dengan warna mencolok. Marun, merah cerah dan hitam.
Aku mengambil kain berbentuk segitiga.
"Rion! Jangan!"
Aku merasakan kak Bi menubruk tubuhku dan dia menutup mataku. Kak Bi sedang memelukku dari belakang. Tapi tidak. Ini lebih seperti aku menggendongnya di belakang punggungku.
"Kaaak!"
"Jangan lihat, Yon!"
Aku tertawa.
"Malah ketawa."
"Terlambat kak. Aku udah lihat. Nih malah udah ku pegang!"
Aku mengangkat kain segitiga itu keatas. Setinggi wajahku. Tapi aku tidak bisa melihatnya karena kak Bi masih menutup mataku.
__ADS_1
"Rion! Turunin ih!" Kak Bi menarik kain segitiga yang ku pegang erat itu.
"Rion! Siniin!"
"Gak kak!" Aku tergelak.
"Krraaaakkkk!!" Suara kain sobek.
"Riooooonnnn!!!" Kak Bi melepaskan tangannya yang menutup mataku.
Kak Bi merebut paksa potongan kain yang masih ku pegang. "Siniin! Anak kecil gak boleh lihat beginian! Rusak otak kamu, entar!" Kak Bi mengomel. Ciri khasnya jika aku dan adik-adiknya melakukan kesalahan sekecil apapun itu.
"Lagian kerjaan siapa sih masukin baju beginian di dalam koper."
"Apa gak ada baju yang lebih layak?"
Kak Bi terus mengomel. Mungkin ia tidak terbiasa melihat pakaian itu apa lagi sampai memakainya.
Tapi mengapa kak Bi sama sekali tak mengijinkanku melihat pakaian itu? Kalau pakaian itu saja dia tidak ijinkan lalu bagaimana dengan tubuhnya.
Aku menangkup pipinya. "Jangankan kainnya kak. Semua isinya aku berhak melihatnya dan merasakannya."
"Aku bukan anak kecil kak, bukan lagi adik bagi kakak."
"Aku suami kakak." Aku mengecup keningnya.
"Gak masalah kalau kakak belum siap." Lalu aku segera menyambar kaos dan boxer di dalam koper.
Aku masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaianku. Aku langsung tiduran di atas ranjang sambil menatap layar ponselku.
Aku melihat kak Bi yang masih duduk menunduk di lantai.
Apa kata-kataku tadi menyakitinya?
Aku menghela nafas dan kembali turun dari ranjang. Aku memeluk kak Bi dari belakang.
"Maaf kalau kata-kataku salah kak." Kak Bi tidak menjawabku.
"Di koper ada kaos dan boxer ku. Bisa kakak pakai. Tapi kalau kakak mau pakai gamis. Aku juga gak masalah."
Aku mengambil boxer dan kaos putih milikku. "Ini kak." Aku mengecup pelipisnya sebelum kembali ke ranjang.
Aku memejamkan mataku. Begini amat malam pertamaku.
Aku terus memejamkan mataku dan saat gemercik air terdengar dari kamar mandi aku kembali membuka mataku.
Jam di dinding menunjukkan pukul 09.20. Pantes aja belum bisa tidur. Masih jam segini.
Suara air di dalam kamar mandi tak lagi terdengar. Aku kembali menutup mataku. Aku hanya tak ingin melihat kecanggungan di wajah kak Bi. Entahlah, hanya karena pakaian itu, ku rasa moodnya hancur. Karena sore tadi aku bahkan bisa tidur dengan mendekapnya tanpa penolakan.
Aku merasakan aroma parfum yang biasa kak Bi pakai terasa menusuk indera penciumanku.
Dan sepertinya selimut sudah naik hingga ke dadaku. Dan hembusan nafas yang terasa hangat menyentuh pipiku. Aku tak berani bergerak ataupun membuka mata. Tubuhku terasa kaku.
Ya Allah. Malam pertama menegangkan begini yak?
Benda kenyal menyetuh bibirku? Apa itu? Bibir atau???? Otakku tolong! Berhenti berpikir terlalu jauh.
Sepertinya kak Bi mengecup bibirku. "Kamu udah tidur, Yon?" Ucapnya sangat pelan.
"Maaf ya. Aku gak bermaksud menyakitimu atau membuatmu merasa tidak enak hati seperti tadi."
"Aku hanya belum terbiasa melihat pakaian seperti itu."
"Aku malu jika harus memakainya di hadapanmu." Kak Bi menusuk-nusuk pipiku dengan jemarinya.
Tanpa sadar aku tersenyum.
"Kamu senyum!" Kak Bi mengguncang dadaku.
"Rioon!!! Kamu usil banget." Kak Bi berusaha mencubit dadaku. Tapi tidak bisa karena dadaku terlalu keras.
"Bangun gak! Bangun! Buka mata kamu!" Kak Bi membuka paksa mataku dengan jemarinya.
Aku masih bertahan menutup mata.
"Oke!" Ucapnya berhenti berusaha membuka mataku.
Kak Bi menyerang bibirku dengan bibirnya. "Sore tadi kamu buat begini kan?"
Kak Bi menjeda dan melakukannya lagi. Membuatku tak tahan dan tak sabar merasakan caranya yang masih sangat amatiran.
Aku menahan tengkuknya sangat lama sampai tangannya memukul-mukul dadaku karena dia kesulitan nafas.
"Mau bunuh aku?" Ucapnya saat mataku terbuka. Aku melihat bahu putih bersih tanpa kain apapun. Hanya ada tali sebesar spagheti yang melintasi bahunya. Mataku turun ke bawah dan huuh!! Dadanya bikin panas dingin.
__ADS_1
Aku bergerak sangat cepat untuk mengubah posisi. Mengukungnya di bawahku.
"Kenapa pakai ini kak?" Tanyaku melirik ke dadanya.
"Kamu suka atau gak?" tanyanya ragu.
"Aku?"
Kak Bi mengangguk.
"Aku gak suka." Wajahnya cemberut.
"Mau tau yang ku suka." tanyaku.
Kak Bi mengangguk pelan.
Aku duduk di atasnya dengan bertumpu pada lututku.
Kak Bi menatapku.
Kreeeekkkkkk!! Dalam sekali tarik, pakaian aneh yang kak Bi kenakan terbelah di bagian depan.
"Rioon!!" Teriaknya.
Aku kembali mengukungnya. "Ini yang ku suka. Tanpa apapun." Aku menghunjani wajahnya dengan ciuman.
"Rion! Udah dong!"
"Belum kak! Ini baru wajah. Belum semuanya."
"Semuanya?" tanyanya.
"Iya. Kita mulai."
Aku mulai menjelajah mengikuti apa kata hatiku. Dari wajah mulai turun kebawah. Dan sekarang aku sampai di dada. Begini ternyata rasanya bertingkah seperti bayi.
Pantas saja Ethan rela menyambangi Marisa tiap bulan demi mendapatkan asupan nutri-- Oops!! Apa aku baru saja membongkar rahasia Ethan? Pliss jangan di laporin.
Atmosfer di ruangan ini terasa panas. Peluh di kening kak Bi mengalir deras melewati pelipisnya.
"Kak." Aku meminta ijinnya.
Dia mengusap rambutku. "Do what you want to do." Siap! Laksanakan!
Rasa cinta, rasa sayang, penasaran, ingin, sakit, tidak tega dan bahagia bercambur jadi satu siiring terbakarnya hasr*tku. Dan penyatuan dengan percobaan berkali-kali itu berhasil dengan ekspresi kak Bi yang menahan sakit.
"Kak." Aku ingin berhenti saja.
"Just do it, Yon."
Sesuai perintah Kak.
Aku berpacu lebih cepat seiring suara kak Bi yang terus menyebut namaku. Merayakan cinta kami yang akhirnya bisa bersatu dalam ikatan yang halal.
Aku ambruk di atas tubuhnya. Menyembunykian wajahku di dekat telinganya. Mengatur nafas yang memburu. Hal yang sama juga di lakukan kak Bintang.
Kak Bi menjauhkan kepalanya dari wajahku. Aku melihatnya dan kak Bi menatapku dengan memiringkan wajahnya.
"Capek banget pak Bos!" Kak Bi menyeka keringat di keningku.
Aku tertawa pelan. "Iya neng, abis gowes 10 Km."
"Jadi tadi gowes pak bos?"
"Iya." Aku menyeka keringat kak Bi. "Santai tapi pasti kan?"
Kak Bi tersenyum.
"Lain kali kita balap liar." Aku mengecup bibirnya. Matanya membulat. Dan aku tertawa pelan.
"Mau bersih-bersih?" Aku menawarinya.
"Boleh."
"Ayo!" Aku berusaha membangunkan kak Bi.
"Rion, di lepas dulu." Kak Bi melirik ke awah tubuh kami.
*Astaga aku lupa.
***
Kalau gak hot, bacanya di samping kompor ya 😂
Besok atau malam kita ke kamar sebelah 😂
__ADS_1
Huuh! Ribet banget ngurus dua pengantin! 😂*