
Orion
Hatiku terasa terbakar melihat kak Bi duduk berdua dengan seorang pria yang ku tahu adalah supir pribadi kak Zoy sekaligus teman kak Bi saat kuliah dulu.
Mereka berdua terihat akrab meski keduanya duduk di ujung yang berbeda di kursi itu.
Mereka sedang apa? Bercerita masa masa kuliah yang penuh kenangan? Ataukah keduanya punya hubungan khusus?
Ini gak bisa di biarkan. Aku lagi-lagi harus ketikung sebelum aku berjalan. Ini gak boleh terjadi.
Dengan perasaan kesal aku menyambar sepotong martabak dan segelas es boba. Aku langsung duduk di antara keduanya. Dan berhasil membuat keduanya berhenti bercerita.
Ternyata pria bernama Ezra ini cukup tahu diri. Dia segera pergi setelah menyindirku habis-habisan.
Mengatakan aku terbakar. Yes, aku terbakar cemburu, asal kamu tahu itu. Batinku.
Dia juga mengatakan wajahku angker. Dia fikir wajahku ini rumah kosong?
Setelah dia pergi aku kembali bergabung dengan Nath dan yang lain meninggalkan kak Bi sendiri.
Bukan tak ingin duduk berdua dengannya. Tapi aku takut semakin menggilainya. Aku takuk khilaf lagi. Hehehe...
Sedangkan aku saat ini sedang dalam masa memfokuskan diri pada nilai dan kelulusanku.
Aku teringat ucapan papi, saat kami sedang duduk santai menikmati waktu senja kemarin.
"Luluslah dengan nilai yang bagus. Dan kuliah yang benar."
"Buat semua orang menatapmu bangga, termasuk Bi."
"Setelah lulus papi serahkan R cafe padamu. Atau mau buka usaha yang lain?" tawar papi padaku.
"Rion fikir-fikir dulu pi. Kira-kira bisnis apa yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat." Aku sedang berfikir.
"Ada! Bisnis peternakan tuyul." Papi segera berdiri meninggalkanku.
"Memulai bisnis itu dengan merangkak. Bukan duduk santai tau-tau sampai di puncak, Yon."
"Ayo sholat magrib. Berdoa semoga Bintang lekas jatuh cinta padamu."
Nath menepuk bahuku. Menyadarkanku yang tengah melamun. "Kak Bi ditinggal sendiri." Tunjuknya dengan dagu.
Nih anak maunya apa sih? Ku pandangi kak Bi, dia marah. Ku tinggal, dia protes.
Aku menatap kak Bi yang melihat kearah kami. "Biarin aja. Soalnya aku terlihat tampan kalau dilihat dari jauh." jawabku asal.
"Iya. Kalau dari dekat, ketampananmu tertutup sama ketengilanmu!" Sindirnya.
Aku merangkul pundaknya. "Ngerti banget, awas kalau cinta!"
Nath melepaskan rangkulanku. Menatapku tajam. "Aku gak suka pedang." Nath langsung pergi.
Meninggalkan aku yang terbahak. Dan saat itu ku lihat Kak Zoy duduk disamping kak Bi.
****
Bintang
Aku berhasil menelan martabak yang masuk kemulutku karena ulah Zoya.
"Kamu makan yang banyak. Galau berlebihan bikin asam lambung naik." Aku juga menyuapkan martabak ke mulutnya.
"Bi, berhijab gini enak gak sih?" tanyanya tiba-tiba setelah berhasil menelan martabak yang ku suapkan.
__ADS_1
"Lumayan, setelah seminggu ini aku merasa apa, ya..." Aku menjeda ucapanku. "Kayak para pria tuh cuma melihat wajahku, tanpa turun ke dada atau bahkan ke bawah." Aku agak lucu mengatakannya. Tapi selama seminggu ini itu yang kurasa.
"Mungkin karena tertutup dan gak mencetak bentuk tubuh, Zoy."
"Kalau aku coba pakai gimana , Bi?" Ucapnya agak ragu.
Aku tersenyum lebar, "Mama pasti bahagia Zoy."
Zoya diam dan menatap lurus kedepan. "Aku ke kamar dulu, Bi." Dia meninggalkanku.
"Kalau galau, coba sholat Zoy."
"Beres, Bi." ucapnya.
Setelah Zoya pergi, Marisa duduk di sampingku. "Kak, besok Marisa boleh datang gak?"
Aku menatapnya. "Ada apa, Sa?"
"Heheh, kurang faham materi matrix sama integral. Senin jadwal ujian Matematika sama Bahasa Indonesia pula, kak." Ucapnya sambil tertawa.
Aku berfikir sejenak, besok belum ada rencana apapun sih. "Ehm, rasanya kurang fair yah kalau cuma kamu sendiri."
"Gini aja Sa, besok kamu kumpulkan siapa saja orang yang mau ikut belajar bareng."
"Sekalian sorenya kita fresh-in pikiran."
Marisa mengangguk, "Hei kalian, sini sebentar!" teriaknya kearah yang lain.
Delvin berhenti memetik gitar, dan Ethan berhenti bernyanyi.
Semuanya menghampiri kami berdua dan segera duduk di bawah dengan tikar yang memang sudah terbentang.
"Ada apa, Sa?" tanya Ethan.
"Kita mau bahas materi Matrix sama Integral, besok. Kalian ada yang mau ikut?"
"Ikut, Yon?" tanya Ethan.
"Terserah," Jawabnya acuh. Rion malah fokus pada ponselnya. Dia sedang main game.
"Dimana kak? Di sekolah?" Tanya Nath.
"Awalnya sih aku pengennya disini, tapi kalau terlalu banyak orang pasti merepotkan." ucap Marisa.
"Di R cafe aja kak." Saran dari Ethan.
"Adanya makan, bukan belajar Than." Ucapku kesal padanya. Ethan malah tertawa.
"Di rumah Rion aja kak." Ucap Delvin. Dia bukan muridku tapi dia ikut memberi saran. Delvin tidak bersekolah di Cahaya Bangsa.
"Boleh juga." Sahut Nath. "Gazebo di rumahnya kan lumayan luas. Bisalah nampung sepuluh sampai lima belas orang." Lanjutnya.
"Kita lesehan aja?" tanya Rion.
"Iya. Gak apa-apa juga sih." Jawab Marisa.
Semua diam.
"Deal, di rumah Rion ya." Ucapku dan mereka mengangguk.
"Guys, doakan aku lulus di universitas yang di Bandung ya." Ucap Marisa kemudian.
"Pasti dong."
__ADS_1
"Pasti, Sa." Ucap kami bersama.
"Yaaah, bakalan LDRan nih." Keluh Ethan dan berhasil memancing tawa kami.
"Ya, kamu kuliah di Bandung juga Than." Saran Delvin.
"Is! Jangan, Sa." Sambar Nath. "Yang ada kamu bukannya belajar disana. Tapi diajari buat anak sama dia." Tunjuk Nath pada Ethan. Semua orang terbahak.
"Tau aja isi kepalaku, Nath." Ethan merangkul Nath. Dan kami kembali tertawa.
"Kamu kemana, Yon." Tanya Nair.
"Di sini aja gak kemana-mana." Jawabnya sambil meletakkan ponselnya.
"Di Jakarta?" Tanya Nair lagi. Rion mengangguk.
"Di kampus mana? Jurusan apa? Siapa tahu bisa bareng, Yon." Ucap Nath semangat.
Rion tersenyum miring. "Kampus KUA. Jurusan pernikahan!" Ucapnya asal.
Aku menatapnya jengah. Ku fikir dia serius. ku fikir dia tidak jadi ke luar negeri.
Nair menendang kaki Rion. Dan tatapan matanya mengintimidasi Rion. Tapi yang ditatap malah tak peduli.
"Aku mau kasih papi cucu soalnya." Aku menaikkan sebelah alisku mendengar ucapannya.
"Nikah dulu, woiii!" Teriak Delvin. Mereka memang tak ada yang tahu masalah aku dan Rion minggu lalu. Hanya si kembar dan Zoya yang tahu.
"Nikah tinggal nikah." Inilah Rion, dia selalu menganggap semua hal itu mudah.
"Terus kamu mau kerja apa kalau gak kuliah?" Tanya Delvin.
Rion mengangkat bahu. "Bisalah buka usaha. R Cafe juga masih ada."
"Pokoknya aku mau menghadirkan pewaris untuk Cahaya Bangsa." Dia berkata seolah pewaris hadir dengan menggerakkan tongkat sihir sambil berkata sim salabim.
"Karena Rumah Sakit sudah jelas akan diteruskan oleh Chia." Ya, Chia memang bercita-cita menjadi dokter.
"Kenapa kamu gak berniat pegang Cahaya Bangsa, Yon! Sekolah itu udah bagus banget loh namanya." Tanya Delvin lagi.
"Tau nih, padahal kamu tinggal meneruskan." Ethan sebal pada Rion.
"Aku cuma kasihan sama istriku kelak." Kami menataonya penuh tanya.
"Kalau aku yang tampan ini naik ke podium. Kalian bayangkan berapa banyak murid perempuan yang berharap aku cerai."
Aku menggeleng, percaya dirinya besar sekali.
Tapi benar juga katanya, Om Ray yang hampir lima puluh tahun saja berhasil membuat murid perempuan menatap penuh damba.
Apa lagi Rion yang jika di usia 25 tahun sudah naik podium. Aku gak jamin dia pulang ke rumah tanpa lipstik dan parfum para murid.
"Sok ganteng!" Ejek Marisa.
"Memang ganteng, Sa." jawabnya.
"Tapi, jomblo." Sambar Marisa.
"Jiiaahhh, Kena kan?" Ethan berteriak puas.
Dan semua terbahak menertawakannya. Kecuali aku dan dia yang saling menatap dengan canggung.
****
__ADS_1
Hari ini langsung up 2 bab kak.
Jejak jangan lupa di tinggal ya 😁