
Zoya
Seminggu ini terasa sangat tenang, masalah Bi- Rion sudah clear. Mereka juga tidak pernah terlihat bersama lagi meski Rion masih keluar masuk ke rumah ini.
Malam ini aku sedang dalam perjalanan pulang. Setelah mengantar Alina terlebih dahulu.
"Mau langsung pulang atau mau mampir dulu, Zoy." Dialah Ezra, supirku. "Mau beli makanan mungkin."
"Malam minggu ya? Sebentar, aku tanya adik-adikku dulu. Biasanya di rumah pada ngumpul." Aku mengambil ponselku di dalam tas. Mengirim pesan di grup chat.
Zoya :
Aku on the way pulang. Ada yang mau titip gak?
Tak berselang lama,
Bintang :
Martabak manis, Zoy.
Bintang, sederhana banget pengenya.
Nath :
Pizza porsi agak gedean kak. Anak-anak pada ngumpul semua di rumah.
Nah, tebakankku benar.
Rion :
Martabak manisnya topping coklat kak. Sekalian es boba 😁😁
Ethan :
Kirim duit kak 😉
Semakin kebawah, pesanan mereka semakin ada-ada saja.
"Cari pizza dulu, Zra. Sama ke penjual martabak langganan." Ucapku tanpa menatapnya yang duduk di sebelahku.
"Pasti pesanan Bintang. Dia gak pernah berubah." gumamnya. Tapi aku dengar.
Aku langsung menatapnya, Ezra tetap fokus pada jalan raya. Tapi aku tau fikiranya sedang melayang entah kemana.
"Faham banget soal Bintang." Entah mengapa aku kurang suka dia begitu memperhatikan Bintang.
Ezra tersenyum dan menatapku sekilas. "Cuma dia yang gak meremehkan aku Zoy."
"Aku bahkan gak nyangka dia anak orang berada, tapi di kampus dia selalu makan di warung pinggir jalan."
Aku setuju kali ini.
"Aku dulu gak punya teman Zoy. Dia datang menawarkan pertemanan. Dan kamu tau, dia terkadang membantuku membeli keperluan untuk tugas kampus."
"Kalau di hitung jasanya. Mungkin sepuluh jariku tak akan cukup."
"Kamu suka sama dia?" Tanyaku bertepatan dengan Ezra yang membelokkan kemudi ke gerai Pizza.
"Semua orang suka sama orang baik, Zoy!" Jawabnya yang menurutku bukan jawaban.
"Aku aja yang turun. Mau take away aja kan?" Tanyanya. Dan aku mengangguk.
Ezra, pria yang selalu bersamaku setahun lebih. Dia adalah sahabat Bi saat kuliah. Aku dan Bi memang satu kampus tapi dengan jurusan berbeda. Itulah sebabnya kami jarang bertemu karena jadwal yang tak sama.
Ezra menjadi sopir sekaligus dipercaya oleh Bi untuk menjagaku. Dan atas nama Bintang, papa juga percaya pada pria ini.
__ADS_1
Dia memang jago bela diri. Dia pintar dan cekatan. Tapi mengapa dia seolah berpuas diri hanya dengan menjadi supir dan penjagaku.
Jika dia bekerja di perusahaan, pasti gaji yang ia terima lebih besar dari yang kami beri.
Ezra terlambat kuliah, karena sejak kelas tiga SMP ayahnya sudah bekerja di negara tetangga sebagai TKI. Saat itu ibunya baru saja meninggal.
Ezra terpaksa tinggal di gubuk kumuh di pinggiran rel. Karena tak ada biaya untuk menyewa rumah. Dan tak ada lagi sanak saudara di Jakarta.
Ezra, setelah SMA dia mulai bekerja full time dan akhirnya ia bisa lulus beasiswa di kampus yang sama dengan kami.
Ayahnya telah kembali setahun lalu dan menikah lagi tiga bulan lalu. Tapi Ezra tidak tinggal dengan ayah dan ibu tirinya.
Sekarang, aku dan Alina menjadi tempatnya berbagi cerita. Bahkan terkadang dia tak malu mengakui pengalaman pahit itu di depanku.
Bahkan ketika dia nyaris dilecehkan oleh pria tak normal saat usianya baru 16 tahun. Bagaimana dia berusaha berlari dari kejaran pria itu, dia ceritakan semuanya. Hingga dia bertekat ikut ekskul bela diri saat SMA demi mencegah hal serupa terjadi lagi.
Ezra, aku merasakan sesuatu yang berbeda jika dengannya. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Dan saat tiba-tiba dia menyebut nama Bi, entahlah. Sudut hatiku terasa nyeri.
Apa ini yang disebut cemburu?
Apa aku jatuh cinta padanya?
Tapi apakah mungkin. Ayolah Zoy, gak ada yang gak mungkin jika bocah seusia Rion saja bisa cinta setengah mati pada Bi.
Lalu, jika Rion saja jatuh cinta. Bagaimana mungkin Ezra tidak?
Aku mengacak rambutku. "Aaaarrgggh."
"Kenapa, Zoy?"
Aku mengangkat kepalaku mendapati Ezra sudah duduk di kursi kemudi. "Eh? Sejak kapan Zra?" tanyaku heran. Karena aku tidak menyadari saat dia membuka pintu mobil.
"Sejak kamu mulai seperti orang gila, menunduk lalu mengacak-ngacak rambutmu." Ezra memasang seatbelt.
"Kita lanjut cari martabak?" Ajaknya.
"Beres bu bos cantik."
Cantik?
Aku senyum senyum sendiri. Cantik yang dia maksud hanya basa-basi atau memang benar-benar cantik.
"Tadi kayak orang kalah judi. Sekarang kayak orang lagi nge-fly. Senyum-senyum sendiri." Ucapnya menatapku.
"Kamu sehat, Sayang." Ezra menempelkan punggung tangannya yang terasa dingin dan kokoh dengan urat yang terasa menonjol.
Aku menggeleng. Tapi aku menyadari sesuatu. "Kamu panggil apa, Zra?"
"Ha!" Dia tersentak menarik tangannya dari keningku.
"Iya, kamu panggil aku apa tadi?" Aku mengulangi dengan suara sedikit lebih keras.
"Yang mana?" Dia tampak gugup. Matanya kembali menatap kedepan.
Aku memajukan kepalaku kearahnya. Menatap wajahnya. What the... dia bersemu. Wajahnya memerah. Dia kenapa? Malu?
"Zra..." Aku masih menelisik wajahnya.
"Zraaaaa!! Lihat aku dong, sayang!!" Aku menahan senyum.
Wajahnya semakin memerah.
"Buahaaa... hahaha..." Aku terbahak. Aku tak tahan lagi.
"Issh!!!" Ezra mendorong wajahku dengan telapak tangannya yang besar itu.
__ADS_1
"Anak gadis ketawa jangan lebar-lebar."
"Pamali." Dia menutup mulutku dengan tangannya.
Aku melepaskan paksa. "Dipanggil sayang aja langsung kayak kepiting rebus." Aku masih tertawa. Mobil berhenti. Tepat sebelum penjual martabak.
Ezra mendekatkan wajahnya kearahku. "Kalau sayang boleh cium, dong!"
Deg!
Oh God. Apa seperti ini suara setan menggoda?
Aku memundurkan wajahku. "Gak boleh. Gak ada sertifikat halal!" Ucapku tegas.
"Aku halalin mau?" Dia semakin mendekat. aku bahkan sampai melesak disudut jok dan kap mobil.
Cobaan apa lagi ini?
"Zra, jangan bercanda!" Aku berusaha mendorong dadanya.
"I'm serious, Zoy!"
"Bagaimana caranya menghalalkan mu?"
"Berapa banyak mahar yang harus ku persiapkan?"
Dia semakin mendekat. Nafasnya terasa hangat di leherku.
"Ezraaaa!!!" Aku mendorongnya kuat. Namun tak berhasil menggeser tubuhnya seinci pun.
"Aku memendamnya sejak lama, Zoy."
"I love you."
Aku terpaku. Saat aku tengah menebak-nebak apakah aku jatuh cinta padanya. Dia malah menyatakan perasaannya.
"Ezra...!" Aku lemas. Mungkin ini yang dirasa Bi saat Rion beraksi. Lemas, dan tak bisa bergerak. Mengendalikan irama jantung saja rasanya sulit. Menarik nafas lalu menghembuskannya saja terasa berat.
"Bagaimana jika aku melamarmu di hadapan pak Akhtar, Zoy!"
Mataku membulat. Cukup lama aku menatap matanya. Sampai dia menarik dirinya menjauh dariku.
Aku masih bersandar pada jok mobil. Ezra melepas seatbeltku. "Ayo keluar Zoy!" Ajaknya.
Aku masih mengatur nafasku.
Pintu disebelahku terbuka. Ada Ezra di luar. "Kamu gak lagi ngerjai aku kan Zoy? Dengan membeli sendiri semua pesanan mereka."
"Ayo keluar." Ajaknya lembut dengan menawarkan telapak tangan untuk ku genggam.
Aku keluar dari mobil dengan menahan kaki yang masih gemetar. Ezra menggenggam tanganku. Terasa hangat dan pas.
"By the way, soal tadi. Aku gak main-main Zoy." Aku menatapnya, tapi dia terus menarikku ke salah satu warung martabak.
Ezra menarik sebuah bangku plastik untukku. "Kamu tunggu disini. Aku beli es boba dulu disana." Ezra menunjuk salah satu stand yang tak jauh dari sini. Dia mengusap pucuk kepalaku.
"Suaminya penyayang banget ya kak." Ucap salah satu pembeli yang juga menunggu pesanan setelah Ezra pergi.
Haa! Suami?
Aku sadar, aku masih melamun. "Eh, iya mbak." Aku menunjukkan senyum unjuk gigi sambil mengaruk kening yang tak gatal.
****
Kita melipir ke Zoya sebentar ya 😁 Sesuai janjiku akan ada kisah Zoy disini.
__ADS_1
Jejaknya jangan lupa kak 😊