
Orion
Aku kembali masuk sekolah pada hari Senin. Dan sesuai keinginan kak Bintang, aku akan mengesampingkan perasaanku. Demi berkonsentrasi pada ujian dan kelulusanku.
Hingga saat mobilnya masuk ke parkiran, aku langsung pergi. Karena melihat wajahnya sama saja memupuk rasa ini.
Aku menuju lapangan setelah bel berbunyi karena upacara bendera akan segera dimulai.
Ethan selaku ketua kelas mengatur barisan kami. Aku memilih baris di belakang bersama Nath.
"Iya, makin cantik."
"Aku juga pangling loh."
"Sama. Ku fikir guru baru."
"Gosip terus kayak emak-emak lagi ngumpul beli sayur." Ucapku pada beberapa orang temanku yang masih bercerita.
Entah siapa yang mereka ceritakan. Tapi terdengar serius. Mereka juga menyebut-nyebut guru baru.
"Biasa aja dong Kang sayur." Ucap salah satu dari mereka.
Aku menyugar rambutku dengan jari. "Kang sayur tampan gini. Emak-emak pada minta jadiin aku mantu."
Mereka mencibirku. Apa peduliku. Emang tampan kok.
Upacara dimulai. Dan aku mengucek mataku berkali-kali saat melihat barisan guru.
"Guru baru Nath?" Aku menusuk bahunya dengan telunjukku. Nath baris di depanku.
Nath menolehku sekilas. "Itu yang baris ke empat, dekat bu Alya." Aku menunjuk guru wanita itu. "Yang berhijab Nath." Sangat jauh dari tempatku berdiri, hingga tak terlihat jelas wajahya.
Nath menoleh kearahku dan tersenyum miring. "Kenapa? Cinta?" ucapnya sinis.
Ku dorong kepalanya dengan telunjukku. "Cinta juga milih-milih Nath!"
Aku kembali diam saat beberapa orang malah memperhatikanku dan Nath. Gak pernah lihat orang tampan apa?
Selesai upacara, kami langsung masuk ke kelas. Biasanya butuh waktu lima menit bagi guru untuk tiba di kelas kami. Dan kesempatan emas itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ethan untuk menyalin tugas matematikaku.
"Pacaran mulu." Sindirku yang duduk di atas meja Ethan. "Sampai lupa PR."
Semenjak pacaran dengan Marisa, Ethan jarang bergabung. Terlebih saat malam. Entah kemana. Mungkin mereka sibuk di pojokan rumah. Mencari tempat gelap untuk sekedar mencuri, ah otakku kembali travelling.
Cobaan besar untuk menghilangkan fikiran kotor ini. Mungkin harus di mulai dari kegiatan positif seperti sholat dan mengaji. Karena sholatku hanya Subuh dan Magrib dan Isya'. Itupun karena berjamaah di rumah.
"Selamat pagi anak-anak." Suara bidadari. Astagfirullah, Rion!
Aku langsung loncat dan duduk di belakang Ethan.
"Selamat pagi, Bu." Sahut kami semua.
Haaa! Siapa dia?
"Cantik banget, Bu." Ucap Marisa yang duduk tepat di depan meja guru.
"Terima kasih Marisa. Saya gak punya permen untuk balas pujian kamu, loh." Candanya.
"Cukup beri nilai sempurna di ujian nanti, Bu." Marisa tersenyum.
"You got it, Marisa!"
*Kamu sudah mendapatkannya Marisa.
Marisa tertawa.
"Bu Bintang bikin heboh satu sekolah pagi ini." Ucap Jihan.
Wanita yang berhijab putih itu tersenyum lebar. Oh, aku meleleh.
Aku sedari tadi memandangnya dengan menopang dagu. Jika ada posisi yang lebib nyaman aku akan lakukan demi melihatnya tersenyum seperti itu.
Dia cantik, benar kata Marisa. Dia selalu cantik.
"Calon istri idaman, ya Bu." Ucap Naza.
"Bu Bintang paket komplit." Sambungnya.
"Kalau di novel mah cocoknya di jodohin sama CEO atau presdir nih." Ucap Jihan lagi.
No Jihan, dia milik murid tampan bernama Orion. Batinku.
"Judul novelnya Guru Cantik, Aku CEO tajir, Nikah Yuk."
Beberapa murid tertawa. "Gak bisa disingkat aja Han?" Ucapnya.
"Misalnya Nikah yuk!"
Ayo! Ayo! Aku mau!!!!
__ADS_1
Seandainya itu ditujukan padaku.
Nath yang duduk di samping Ethan melempar wajahku dengan kertas yang ia remas hingga menggumpal.
"Masih sayang sama mata?" tanyanya menggeram.
"Masih lah." Jawabku cepat.
"Makanya di jaga." Ucapnya lagi.
"Mataku ini." Jawabku dengan senyum miring.
"Kalau gitu, objeknya yang akan ku buat menghilang dari pandanganmu." Ancamnya.
"Ancamanku malam itu masih berlaku."
Jangan sebut aku Nath, jika aku gak bisa bawa kak Bi pergi jauh dari hidupmu. Itu ancamannya.
"Iya... iya..." Ucapku sedikit kesal.
****
Bintang
Selesai mengajar, aku melajukan mobilku menuju rumah. Aku terheran melihat sebuah kotak besar berpita biru di teras rumah.
Aku segera turun dari mobil dan mendekati kotak itu.
Bom?
Aku menggeleng, mana mungkin bom di letakkan di depan rumah begini.
Aku memutari kotak itu, melihat sisi yang lain. Tidak ada yang mencurigakan.
"Buka dong, iya kali dilihat doang." Suara Zoya dari dalam rumah mengejutkanku.
Nair dan Nath juga disana. Ada papa dan mama juga.
"Buka?" Mereka mengangguk.
Aku berusaha mencari celah. Dari mana aku mulai membuka.
"Tarik pitanya Bi." Zoya sudah jengah melihatku yang hanya berputar-putar.
Aku menarik simpul tali pita besar itu.
Sreeeetttt... Dalam sekali tarik, Sisi kotak itu terbuka dan jatuh ke arah samping.
Sebuah motor matic jenis Sc**py berwarna putih susu ada dihadapanku.
"I-ini..."
"Untuk kamu, Bi." Sahut Zoya. "Yang kita lomba renang kemarin."
Aku berlari memeluk Zoya. "Thaaaaaannkk youuuuu so much." Aku mencium pipinya.
Aku juga memeluk papa dan mama.
"Full kamu yang bayar donk?" tanyaku sejurus kemudian.
"Iya lah. Masa iya aku ngajakin se-RT buat patungan!" Ucapnya agak kesal.
"Kak, lomba renang, yuk." Ajak Nath pada Zoya.
Zoya tersenyum miring. "Motor kamu masih bagus Nath."
Modus Nath minta motor baru. Ck.. ck..
"Hehehe... Mau ganti cat kak. Lumayan kalau ada yang modalin." Jawab Nath.
"Entar kakak belikan cat tembok." Jawaban Zoya membuat Nath menipiskan bibir.
"Tau ah. Kak Zoy gak asik." Nath dan Nair langsung masuk ke kamarnya.
Aku juga masuk ke kamar.
Jam empat sore aku turun ke bawah dengan rok panjang, kaos dan jilbab instan. Aku akan mulai membiasakan diri sekarang.
Aku teringat ucapan bunda Una. Menutup aurat itu wajib, biarpun seseorang itu belum bisa sepenuhnya mengendalikan lisan. Walaupun sholatnya masih bolong-bolong.
Dan sekarang aku sadar, bahwa yang di ucapkan bunda adalah benar.
Zoya duduk di ruang tamu. Dia belum ingin berhijab.
"Zoy, test drive yuk!" Ajakku sambil menunjukkan kunci motor baru yang ku pegang.
Zoya langsung melihat kearahku. Mataya berbinar.
"Kemana?"
__ADS_1
"Ayo, ikut aja."
Kami pergi setelah berpamitan pada mama.
"Bi, jangan kencang-kencang bawa motornya. Rambutku rusak." Zoya memegangi rambutnya yang tak tertutup helm.
"Ternyata pakai hijab enak loh Zoy, gak perlu khawatir rambut kusut, kena debu, apa lagi kena matahari." Ucapku begitu kami sampai di jajaran ruko.
Satu ruko bertuliskan Bintang Lintang Shop. Dan di ruko lainnya bertuliskan Auzora Boutique.
Aku memilih untuk masuk ke butik. "Selamat sore, mbak Bintang, mbak Zoya." Sapa salah satu pegawai.
"Tantenya ada San," Tanyaku pada pegawai bernama Susan itu.
"Ada mbak. Tapi-"
"Kita ke atas dulu San." Aku memotong ucapan gadis itu.
Aku dan Zoya langsung masuk ke ruangan di lantai dua.
Ceklekk! Pintu terbuka.
"Astagfurullah....!!!" Aku dan Zoya kompak menutup mata. Karena om Langit sedang mencium bibir tante Rara. Dengan memangkunya di kursi kerja.
"Kalau mesum lihat tempat donk, om! Mata suci kita jadi ternoda, nih." Jerit Zoya.
"Heheheh... udah-udah. Udah selesai ini." Sahut om langit sambil tertawa.
Aku dan Zoya menurukan tangan kami. Tampak Om Langit cengengesan menatap kami.
Aku dan Zoya masuk dan duduk di kursi di depan meja kerja tante Rara.
"Emang dirumah kurang!" Sindirku.
"Udah, Bi."
"Om kalian memang agak sableng." Lanjut tante Rara.
"Dari dulu, tanteee! Udah tau!" Ucapku kesal.
"Lagian mau nga-nu bukannya di rumah malah di kantor." Sindir Zoya.
"Boro-boro nga-nu Zoy, menu pembuka aja belum habis ini." gerutu om Langit yang duduk di sofa.
"Kalian ada perlu apa, Bi, Zoy." Tanya wanita berhijab itu.
"Tunggu! Bi, sejak kapan pakai hijab begini?" Wajah tante Rara tampak ceria.
"Baru tadi pagi tante."
"Kesini juga mau minta tolong, tan. Buatin baju untuk mengajar. Yang agak formal ya, tan." Pintaku.
Sekolah Cahaya Bangsa memang tidak menentukan model atau seragam khusus untuk mengajar kecuali pakaian olah raga.
Hanya saja motifnya harus batik dengan warna berbeda di setiap harinya.
"Boleh,"
"Kainnya besok atau lusa Bi kirim ya tan. Ini ukur-ukur sama cari desainnya aja gak apa apa kan tan."
Tante Rara menggeleng. "Gak masalah Bi."
"Kainnya beli dimana Bi?" tanya Zoya.
"Kainnya langsung dari jawa Zoy, Teman kuliah Om Ray punya apa ya..." Aku sedikit berfikir.
"Ehm, sejenis rumah membatik yang memberdayakan ibu rumah tangga di daerahnya, Zoy. Jadi semua seragam guru kainnya di peroleh dari sana." Lanjutku.
"Waah, om Ray memang totalitas ya Bi."
"Voucher makan, di R cafe. Kain seragam guru, dari rumah membatik sahabatnya." Lanjut Zoya.
Aku mengangguk.
"Ayo kita ukur-ukur." Ajak tante Rara.
Aku mengangguk.
***
Kalau ada istilah membunuh tanpa menyentuh,
Ini Rion sedang Mencumb* tanpa menyentuh. 😅 [Gimana caranya Thor]
😂 [Tau tuh, tanya Rion dah gimana caranya]
Rion juga sedang berusaha, Mencinta tanpa menyapa.
[Derita banget hidupmu, Yon!] 😅
__ADS_1
Harap tinggalkan jejak kakak. 😂