
Zoya
Malam ini untuk pertama kalinya Tiara menginap di rumah kami. Dia akan tinggal disini menemaniku jika Ezra harus bekerja hingga malam.
Orang tua Tiara yang sudah seperti orang tua kami sendiri, mengantarkan anak gadis mereka dengan membawa tas berisi pakaian Tiara. Aku senang, keluarga mereka mengizinkan. Aku memang punya dua adik, tapi sayangnya mereka laki-laki.
"Jangan menyusahkan kakak dan abangmu, Ti." Ucap ibu Tiara yang ku tau bernama Ibu Nurul itu.
"Iya, Bu."
Sebenarnya Tiara bisa pulang kapanpun ke rumah orang tuanya. Terlebih jika Ezra ada di rumah.
"Ini kamar kamu, Ra." Ucapku saat membawanya masuk ke dalam kamar ke dua di rumah ini.
"Terima kasih kak."
Pagi harinya aku yang masih memeluk Ezra di atas ranjang sekilas menghirup aroma masakan. Mataku langsung terbuka sempurna. Tiara?
"Zraa...! Bangun." Aku menggucang tubuh suamiku.
"Heeemmm..." Dia malah semakin memelukku.
"Bangun Zra, Tiara masak tuh!" Bisikku padanya.
Ezra langsung bangun. "Ya Allah, Tiara! Ini masih jam..." Ezra melihat jam dinding. "Jam 6.30, Zoy!" Dia kaget. "Kita ngelewatin sholat subuh."
Aku tertawa, kami sudah sholat subuh pagi tadi. Tapi karena udara sangat dingin dan lagi pula hari ini hari libur, aku mengajaknya tidur lagi.
"Kita udah sholat sayang." Ezra menghembuskan nafas lega. "Aku lupa." Dia menggaruk keningnya.
Kami turun dari ranjang dan berjalan ke dapur. Ezra menarik kursi makan untuk ku duduki.
"Duduk dulu, aku mau cuci muka sebentar." Bisik Ezra.
"Ra... kamu kenapa masak?"
"Eh..." Dia kaget. Dia tidak menyadari kedatangan kami? "Iya kak. Gak apa-apa. Tiara biasa bantu Ibu di rumah kok."
"Kamu gak bisa tidur, ya? Gak nyenyak ya tidurnya." Tanyaku. Aku takut dia tidak betah hingga bangun pagi dan mencari kegiatan untuk mengusir kebosanannya.
"Bisa kak. Nyenyak banget malah." Tiara bergerak mencari piring di lemari. Dia sudah pernah kesini sebelumnya, jadi sedikit banyak dia sudah tata letak di rumah ini.
Tiara meletakkan tiga piring diatas meja. Serta semangkuk besar berisi nasi goreng "Kita sarapan, kak." Ajaknya.
"Tunggu abang, ya. Kakak juga mau ke kamar mandi sebentar."
Ezra keluar dari kamar mandi dan membantuku berjalan di kamar mandi. Kehamilanku yang sering bermasalah membuatnya jadi over protektif. Melarangku ini dan itu, dan menuruti semua yang ku ingin termasuk meminta Tiara tinggal di sini.
Kami bertiga duduk di kursi makan. Telur ceplok, sosis goreng, potongan tomat dan timun menjadi teman makan nasi goreng kami. Sepiring potongan buah serta segelas susu juga menjadi pelengkap.
Aku mengisi satu per satu piring kami dengan nasi goreng, lalu menambahkan telur, sosis dan timun di atasnya. "Jangan pakai tomat, sayang." Pinta Ezra.
__ADS_1
Tok... tok...
"Assalamualaikum... akak... oh... akak..." Suara yang ku kenal menirukan cara bicara bocah kembar diserial kartun asal negeri jiran saat memanggil atok mereka.
"Siapa, kak? Biar ku buka pintunya." Tiara bersiap berdiri.
"Abang aja." Ezra bangkit dan segera membuka pintu. Tak lama dia kembali ke dapur disusul tamu kami pagi ini.
"Wiiiihhhh... mantap nih." Ucap pria bernama Nath itu saat melihat nasi goreng di piring kami.
Nath ikut duduk. Dia duduk di sebelah Tiara karena Ezra duduk di sebelahku.
"Gak ada lagi kak?" Tanyanya.
"Habis." Jawabku singkat. Padahal masih ada nasi goreng di dalam mangkuk kaca itu.
Nath menoleh kesamping dan terkejut melihat Tiara. "Astagfirullah! Kok disini?"
"Udah dari tadi kali!" Sahut Tiara cepat. Tiara berdiri dan mengambil piring untuk Nath.
"Isi sendiri." Tiara meletakkan piring dan sendok di depan Nath. Aku senyum-senyum sendiri melihat tingkah keduanya.
"Makasih, Lam- Tiara." Nath nyengir. Lam? Lam apa? Nath memberi panggilan apa pada Tiara? Mataku memicing melihat tingkah adikku yang satu itu.
"Kamu gak sarapan di rumah? Ngapain kesini pagi-pagi." Ucapku sebelum menyuapkan nasi ke mulutku.
Suapan pertama hampir masuk ke mulut Nath "Astaga lupa!" Nath kembali menurunkan sendoknya dan berjalan ke ruang keluarga.
Dia kembali dengan paperbag ditangannya. "Lupa! Padahal mau nganter ini. Perintah mama."
Sebuah kotak makanan, dengan tulusan Bapperware diatasnya. Segera ku buka tutup berwarna pink ini. "Waaah! Rendang, Zra!" Aku senang. Kemarin aku sempat menghubungi mama, aku ingin makan rendang buatannya.
"Makan, Ra!" Aku meletakkannya di tengah meja supaya siapapun bisa memakannya.
"Tumben masakan kakak agak beda." Ucap Nath sambil mengunyah makanannya.
Aku mengerutkan kening. Oh, ini kan masakan Tiara. "Dimakan aja! Repot banget."
Aku takut Tiara kecewa jika Nath mengatakan tidak enak. Walaupun sebenarnya masakannya sangat enak, memang sedikit berbeda dengan masakanku, mungkin penggunaan bumbu yang berbeda.
"Beneran. Tapi lebih enak ini. Lebih cocok sama lidahku." Dia manggut-manggut. Melahap tanpa jeda hingga nasi di piringnya tandas lebih dulu dibanding kami.
Aku melihat Ezra mengulum senyum. "Ini masakan Tiara!" Ucapnya cepat.
"Uhuuukk!!! Uhuuukk!!!" Nath terbatuk, padahal itu suapan terakhirnya. Nath menyambar segelas susu di depannya. Dia menengguk hingga tandas.
Kami bertiga menutup mulut kami menahan tawa. Saat Nath kembali meletakkan gelas yang sudah kosong itu keatas meja, kami bertiga akhirnya meledakkan tawa yang tak sanggup lagi ditahan.
"Kenapa?" Tanyanya dengan wajah memerah. Entah karena tersedak atau malu.
"Itu susuku." Ucapku padanya.
__ADS_1
"Ya kenapa kak? Pelit banget, susunya gak boleh diminum." Dia bersungut kesal. Tiara membungkam mulutnya makin erat. Nath melirik gadis itu sekilas.
"Itu susu ibu hamil." Suara Ezra bak petir di telinga Nath.
"Apa!" Nath memasang wajah bodohnya. Dan kami kembali tertawa.
Nath langsung lari ke kamar mandi dan bersiap memuntahkan isi perutnya.
Ezra berjalan dan manarik Nath keluar dari kamar mandi. "Kamu mau buat kita semua muntah karena dengar suara kamu muntah Nath?"
Sekarang Nath sudah kembali duduk di kursi. Dia menyambar berlembar-lembar tissu untuk mengelap mulutnya yang basah karena air kran.
Ezra benar, jika dia muntah sudah kupastikan aku pasti muntah dan belum lagi Ezra dan Tiara yang kehilangan selera makan mereka.
"Aku gak akan hamil kan, kak?" tanyanya dengan raut wajah khwatir.
Tiara berjalan kearah wastafel dan meletakkan piring kotornya disana. Dia menunggungi kami. Aku melihat bahunya bergetar, dia masih menertawakan Nath.
"Gak lah, Nath. Kalau susu ibu hamil bisa bikin hamil, gak mungkin di jual bebas."
"Huuuuhh! Jantungku hampir copot kak." Nath memegangi dadanya.
Aku masih ingin menertawakan Nath, tapi sudahlah. Aku tak ingin membuat wajahnya semakin memerah.
"Kamu ke rumah baca, Ra?" tanyaku pada Tiara yang sudah selesai mencuci piring dan alat masak yang kotor.
"Iya kak. Tapi nanti. Aku mau cuci baju dulu."
"Bareng Nath aja."
"Gak perlu di cuci, Ra. Nanti ada bibi yang datang kok."
"Tapi kak-"
"Biarkan saja, Ra. Kamu disini cuma perlu menemani kak Zoya. Bukan melakukan pekerjaan rumah." Potong Ezra.
Nath
Kami tiba di rumah baca setelah perdebatan sengit antara aku dan Tiara di sepanjang jalan. Kami mengendarai motor sport, dan dia enggan berpegangan.
Tiara turun dengan susah payah, karena tinggi badannya yang... yah jangan dijelasin deh. Takut dikira body shaming.
"Bilang apa?" Ucapku karena tiara langsung berjalan meninggalkanku. Rumah baca ini sudah di buka oleh pekerja yang lain. Bahkan wanita itu terlihat sedang menyapu lantai.
"Terima kasih." Dia tersenyum. Manis!
Astagfirullah. Aku segera menyadari pikiranku. Cantik apanya? Ngeselin setengah mati, iya.
Tiara berbalik dengan meneteng helm di tangannya. Helm itu milik bang Ezra. "Kalau butuh teman ke dokter kandungan. Aku dengan senang hati akan menemani." Dia mengerling.
Kan! Dia mulai lagi jahilnya. Aku mendelik kearahnya. Dan dia berjalan cepat sambil terbahak.
__ADS_1
Hamil? Aku beneran gak akan hamil kan? Aku harus mencari tahu! Iya kali pria tulen tampan nan rupawan sepertiku bisa hamil karena segelas susu.
****