
Orion
"Bang, meja ini di letakin di sana aja gimana?" tanya Rizal pada Nair saat aku masuk ke dalam rumah baca.
"Eh, Bang. Udah balik?" tanyanya padaku saat ia melihat aku masuk.
"Udah Zal. Udah beres kok."
Aku membantu mereka menyusun meja-meja kecil itu.
"Yang lain mana?"
"Nath sama Tiara di atas. Kak Bi masih keluar, cari makan kayaknya." Jawab Nair.
Aku berjalan menaiki anak tangga.
"Yang itu dipel juga!"
"Yang bersih!"
Sayup-sayup aku mendengar suara Nath yang sedang memerintah seseorang. Pasti Tiara.
Aku sampai di lantai dua dan terlihat Nath duduk di atas meja sedangkan Tiara mengepel lantai yang sebenarnya sudah dibersihkan sebelumnya.
"Dipel lagi Ti?" Tanyaku.
"Tanya tuh sama temen abang!" Tiara tampak kesal.
"Udah salah, bikin ulah, Tia pula yang beresin."
Tia bergegas membawa alat pel itu ke lantai bawah.
"Tia kebawah dulu bang."
Tia berhenti di depan Nath lalu ia menggembungkan pipi dan mencebikkan bibir. Aku tertawa melihat ekspresi kesal Tiara.
"Kenapa Nath?" tanyaku saat aku berbalik melihat Tiara sudah menuruni anak tangga.
"Gak ada."
Dia bilang gak ada tapi tangannya mengusap tengkuk.
"Jujur Nath."
"Kenapa Tiara kelihatan kesal begitu?"
Nath diam lalu dia menatapku sinis. "Kamu akan jungkir balik ketawa, Yon."
"Hahaha. Emang selucu apa sih?"
"Belum cerita aja kamu udah ketawa."
"Iya... iya. Aku janji gak ketawa."
Nath menceritakan bahwa dia lolos menyortir buku-buku. Dia melewatkan buku 'dewasa' yang tak seharusnya ada di rumah baca ini.
"Hahahahahaha." Aku meledakkan tawa. Ini hal paling memalukan dan itu ia lakukan didepan cewek. Seorang Nath tampak bod*h di depan cewek? Ini langka, bro!
"Kan ketawa, kan!" Tunjuknya di wajahku.
"Habisnya kamu kok bisa lolosin buku begitu?" Aku masih tertawa.
"Ya mana aku tahu, Yon! Aku gak ngeh kalau itu buku begituan."
"Buku begituan? Lebih tepatnya buku tutorial, Nath."
Aku tertawa lagi.
"Salahin yang nyumbang buku, Yon! Kurang ajar banget buku begitu di masukkin aja ke dus."
"Untung tuh cewek teliti. Kalau gak? Ku jamin rumah baca kamu laris manis setelah buku itu ditemukan sama cowok remaja, apalagi yang masih SMP." Nath kesal dan berucap menggebu.
"Terus entar lama-lama, ada yang pratekin di pojokan sana, Yon!" Nath menunjuk sudut ruangan.
__ADS_1
Aku berfikir. Benar juga kata Nath. Itu berarti kami harus teliti memilah buku buku yang di sumbangkan orang-orang.
"Mungkin orang yang nyumbangin buku gak sengaja masukin buku itu Nath. Atau mungkin orangnya lagi nyari-nyari tuh buku." Aku lagi-lagi tertawa.
"Terus buku itu kemana?" tanyaku.
"Kenapa? Mau lihat isinya?"
"Hahaha... lumayan Nath buat panduan praktek sama kak Bi." Jawabku asal.
"Diih, kasian banget kakakku dapat pemula." Ejeknya. Dan harga diriku terkoyak-koyak. Hahah lebay!
"Pemula tapi jozz gandoz." Aku tersenyum lebar.
"Bahasa kamu kayak udah pro aja."
Nath turun dari meja dan berjalan kearah tangga.
"Kalau jam terbang tinggi, entar lama-lama juga pro."
"Bukunya mana Nath, mau ku amanin."
"Tanya Tiara, dia yang simpan."
Aku mengimbangi langkahnya menuruni anak tangga.
"Kok bisa?"
"Iyalah. Dia ngejekin aku terus, Yon!"
"Dia bilang apa?" tanyaku penasaran.
"Pas dia lanjutin susun buku di rak. Aku gak bantu sama sekali. Aku cuma duduk diam sambil mengingat gimana mungkin aku meloloskan buku itu."
"Kamu tahu dia bilang apa?" Tanyanya menggebu.
"Dia bilang begini. Heem." Nath coba mengatur suaranya.
"Belum selesai juga bang, baca bukunya. Lanjut di rumah, gak bisa?"
"Dia bicara tanpa natap aku. Dia fokus di rak tapi nuduh aku begitu."
"Aku gak ada pegang buku itu, Yon. Melirik pun gak. Dia malah bilang aku baca buku itu."
"Gak terimalah di bilang begitu. Aku maju kearahnya, ku bawa buku itu. Terus ku letakun di tangannya."
"Kalau pengen baca jangan nuduh orang!"
"Aku berjalan mundur menjauh dari dia. Tapi gak sengaja kakiku numpahin kopi dingin yang baru dia minum setengah."
"Itu sebabnya dia cemberut pas ngepel lantai tadi?"
Nath mengangguk. Aku kembali tertawa.
"Sini, Yon!" Panggil kak Bi saat kami sampai di lantai bawah.
"Kenapa kak?" tanyaku.
"Makan dulu, aku bawa banyak nih."
Nair, Rizal, Tiara dan kak Bi sedang duduk melingkari meja kecil yang di tengahnya ada banyak makanan.
"Kakak yang beli semua ini?"
"Iya, kasihan Tiara belum makan siang kan Ra?"
"Tadi Tiara sarapan agak siang kak."
Kami membereskan semuanya dan akan pulang ke rumah masing-masing. Tapi aku dan kak Bi yang akan ke butik tante Rara terlebih dahulu.
"Kamu naik apa, Zal?" tanyaku pada Rizal yang kini tinggal di rumahku.
"Naik angkutan umum aja bang."
__ADS_1
"Naik taxi atau ojol mau gak? Abang pesenin? Atau abang anterin dulu." Ini wujud tanggung jawabku karena pagi tadi Rizal ikut dengan mobilku.
"Gak usah bang. Beneran deh."
"Nair, tolong antar Tiara, ya." Ucap kak Bi saat memberikan kunci mobilnya pada Nair.
Kebetulan Nath dan Nair juga ikut mobil kak Bi saat ke sini. Keduanya tidak ada yang membawa kendaraan sendiri.
"Kaaaak." Nath mencoba protes.
"Kakak nyuruh Nair. Kalau kamu gak mau, kamu bisa pulang naik kendaraan lain, Nath."
"Iya. Aku ikut."
Aku melajukan mobilku menuju butik tante Rara.
"Kita beneran gak adain resepsi kak?" Tanyaku. Karena keputusan saat lamaran adalah tidak adanya resepsi. Karena mereka menghargai keputusan kak Zoya.
Om Akhtar dan tante Lintang tidak mungkin mengadakan resepsi untuk kami sementara kak Zoya tidak.
"Kamu pengennya gimana, Yon?"
"Aku sih pengennya di adain kak. Relasi papi, teman kampus dan dosen-dosen juga perlu tau kak kalau kita sudah menikah."
"Supaya kedekatan kita di kampus nanti gak jadi fitnah dan gak menimbulkan pertanyaan banyak orang kak."
Kak Bi memijat keningnya.
"Pusing ya kak?"
Kak Bi menggeleng.
"Nanti kita coba diskusi sama Ezra dan Zoya ya."
Kami tiba di butik tante Rara.
"Wiiih... calon pengantin." Sambut tante Rara.
"Bisa aja tan." Kak Bi bersemu.
Kami langsung masuk ke ruang kerja tante Rara.
"Pilih mau yang seperti apa Bi." Tante Rara menunjukkan hasil rancangannya.
"Gak ada yang udah jadi, tan?" tanyaku.
"Ada Yon, tapi kan percuma kalau gak pas sama seleranya."
"Tapi ini sebulan lagi loh tan?" tanyaku. "Apa mungkin bisa selesai?"
Tante Rara tersenyum. "Insya Allah bisa. Seminggu bisa selesai baju Zoya sama Bi."
"Tante punya tim yang bisa diandalkan kok." Huuh. Aku bernafas lega.
Kak Bi memilih kebaya gamis yang menurutku memang simple dan cocok untuknya.
"Kamu mau pakai beskap jawa atau mau jas Yon?"
"Jas aja tante." Kak Bi yang menjawab.
Aku menatap kak Bi tak percaya. Kak Bi yang memilihkan?
Saat perjalanan pulang aku menanyakan alasannya. "Kenapa harus jas kak?"
"Aku suka lihat kamu pakai jas." Jawaban simple yang membuatku senang.
"Kenapa?" tanyaku.
"Mau tau aja apa mau tau banget?" Dia menggodaku?
Kak Bi tertawa lepas.
"Terus bahagia kak. Di sampingku, bersamaku." Aku mengelus kepalanya yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Insya Allah, Yon."