BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
28 Butuh banyak energi


__ADS_3

Bintang


Sudah setengah jam lalu pesanku dibaca Zoya. Tapi martabak yang ku pesan tak kunjung datang.


Aku tengah berguling-guling di atas tempat tidur menunggu kepulangan Zoya yang seperti berabad-abad.


Gabut? Jelas!


Bagaimana tak gabut jika biasanya aku akan dengan santai bergabung bersama brondong-brondong di bawah sana. Tapi setelah masalah minggu lalu, aku masih enggan bertemu Rion diluar jam sekolah.


Aku takut dia jadi susah move on. Hahah... Pede sekali aku.


Bukan, bukan karena itu. Hanya saja aku masih enggan karena dia juga sepertinya sengaja menghindar. Entah itu di sekolah atau saat dia ikut Nath ke rumah.


Jujur saja aku rindu. Rindu melihat tingkah konyolnya bersama Nath dan Ethan. Ayolah Bi, kamu bukan sedang putus cinta. Tapi sedang memperbaiki diri.


Aku menghela nafas berat. Aku berdiri dan mengintip mereka dari balik tirai jendela kamar. Dapat ku lihat Delvin memetik gitar sedangkan Ethan dan Rion menyanyikan lagu Sheila on 7 yang judulnya Seberapa pantas.


Ceklekk! Pintu kamar terbuka dan ku lihat Zoya dengan wajahnya yang ditekuk meletakkan sebungkus martabak di atas meja.


"Galau banget, bun?"


"Suaminya belum pulang yak?"


"Hahahah... " Aku terbahak. Menggodanya seperti ini adalah kebahagiaan tersendiri.


Aku duduk di kursi riasku. Dan Zoya duduk di pinggir ranjang. Dia langsung merebahkan tubuhnya dengan kaki menggantung.


"Ezra ngelamar aku, Bi!" Ucapnya cepat.


"Oh! Baguslah!" Ucapku singkat.


Tunggu! ngelamar?


Aku langsung berdiri. "Apa!! Seriusan!" Aku menarik tangan Zoya untuk duduk.


"Apaan sih, Bi. Capek tauu!" Ucapnya manja.


"Jelasin dulu, Zoy!" Bentakku.


"Ini ngelamar? Ngelamar yang itu!" Aku menggerakkan tangan kananku seolah memasang cincin di jari manis kiriku.


"Iya, Bi!" ucapnya jengah.


Aku langsung duduk di sebelahnya. "Kok bisa?"


"Kok bisa?" Keningnya berkerut mengulang pertanyaanku.


"Iya, kok bisa? Selama ini kalian pacaran?"


Zoya menggeleng.


"Ya. Kok bisa dia ngelamar kamu tiba-tiba?"


Zoya mengangkat bahu. "Tau!" Dia cemberut.


"Lah terus kenapa muka kamu di tekuk begini?"


Dia menatapku. "Bingung, Bi."


"Perasaan kamu ke dia gimana?"


Zoya lagi lagi mengangkat bahu. Dia berjalan ke kearah pintu.


"Mau kemana, Zoy!"


"Mandi sebentar. Aku mau gabung anak-anak!"


"Marisa ada di bawah, Bi!" Zoya menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Marisa?


Aku bergegas mencari jilbab instan yang mulai terbiasa ku gunakan. Aku memakai lip balm lalu bergegas turun membawa serta martabak yang masih hangat.


Aku turun dan melihat ke dapur. Marisa tengah membuat minuman dibantu Nair.


"Ehm." Aku berdehem. Keduannya menatapku.


"Bu, -Eh, kak." Marisa tersenyum canggung.


"Bikin apa?" tanyaku.


"Ini kak. Minuman dingin." jawabnya.


"Gak lagi selingkuh kan?" Ucapku dengan tatapan penuh selidik.


Marisa dan Nair saling tatap. Lalu kembali menatapku.


"Seleraku bukan manusia batu, kak!" Ucap Marisa.


Ya, adikku itu memang manusia batu.


"Berbeda kak!" Itu jawaban Nair.


Oh iya, aku lupa jika Marisa non muslim. Pantas Ethan percaya-percaya aja.


Aku berjalan mengambil dua buah piring untuk meletakkan martabak yang Zoya beli. Martabak manis dengan topping coklat dan keju.


"Ayo kak ikut gabung." Ajak Marisa.


Aku berjalan di belakang keduanya. Tidak masalah ada Rion disini, batinku. Toh kami tidak hanya berdua.


Aku duduk di kursi bersama Ezra dan Nath. "Belum pulang Zra?" tanyaku basa-basi.


Ezra tersenyum dan menggeleng. "Belum, Bi. Sekali-kali gabung sama yang muda." Dia tertawa.


Ganteng, tapi tak membuatku berdebar.


Pandangan kami bertemu. Deg!


Nah kan, ku bilang juga apa? Cuma dia yang bisa buatku begini.


Aku menunduk, Delvin kembali memetik gitar. "Kak Bi, ikut nyanyi yuk. Pasti tau lagu ini. Lumayan tenar di aplikasi joget-joget." Ajak Ethan.


Wkwkwkwk. Aplikasi joget-joget? Tok-Tok maksudnya? Aku menggelengkan kepala. Ada-ada saja Ethan ini.


"Gak ah. Kalau nyanyi aku mundur. Kalau foto boleh diadu." Ucapku sambil tergelak.


"Wah, kalau soal kamera udah pro bangetlah. Gak perlu di tanya lagi. Masternya ini." Ethan memujiku berlebihan.


Ku biarkan mereka bernyanyi tanpa aku. Nath mulai bergabung. Hanya tinggal aku dan Ezra di kursi itu.


Aku melihat mereka tampak lepas. "Jangan terlalu semangat Ethan. Senin ujian. Ingat!" Teriakku. Dan jempol mereka tegak berdiri, dipersembahkan untukku.


"Bereees Bu Guru!!" Aku terbahak.


"Zoya cerita sama kamu, Bi?"


Aku melihat kesamping, Ezra menatapku.


Aku mengangguk.


"Aku serius!" Dia tersenyum miring. "Nekat banget ya aku? Berani cinta sama bos sendiri."


"Baru kali ini pagar yang tugasnya jaga tanaman malah berani mendekati tanaman itu." Ezra menatap lurus kedepan.


"Gak ada yang salah, Zra. Jika perasaan itu tulus." ucapku padanya.


"Heheh. Rion yang tajir begitu aja sulit buat bersanding sama kamu, Bi. Apa lagi aku yang cuma supir, berani mencintai seorang Zoya, owner Arumi Resto loh ini." Ucapnya miris.

__ADS_1


"Kalau harta yang di permasalahkan keluarga kami. Harusnya Rion sudah menjadi suamiku, Zra." Ucapku tegas. Aku sedikit marah padanya.


Karena dari ucapannya dia seolah menilai keluargaku mementingkan harta dari pada cinta.


"Percayalah. Papa dan mama tak sematre itu." ucapku.


"Kira-kira Zoy bakalan jauhi aku gak ya, Bi? Kalau seandainya dia nolak aku."


Aku mengangkat bahu. "Tapi ku rasa dia akan profesional kok."


"Kalau dia gak nyaman, aku bakalan berhenti bekerja sama dia Bi."


"Dia belum jawab kan?"


Ezra menggeleng. "Mungkin dia syok, Bi."


"Jelaslah." ucapku.


"Numpang duduk." Rion tiba-tiba duduk ditengah-tengah. Antara aku dan Ezra.


Dia kenapa? Cemburu?


Aku menatap wajahnya yang tengah menatap kedepan dengan segelas es boba di tangan kirinya dan sepotong martabak manis yang tengah ia suapkan ke mulutnya dengan tangan kanan.


Dia tampak kesal dengan memasukkan potongan besar martabak ke mulutnya. Lucu sekali. Pipinya menggembung.


"Balik dulu, Bi." Ezra bangkit dari duduknya.


"Eh, kok buru-buru Zra. Zoya sebentar lagi turun. " Ucapku pada Ezra.


"Males! Panas disini."


"Ada yang kebakaran! Tapi bukan hutan."


Aku tau maksudnya.


Rion menoleh kearah Ezra. Dan aku tau dia pasti menatap tajam pria itu.


Ezra tertawa. "Pergi dulu, Bi. Makin angker disini."


Ezra pergi dan aku menahan tawaku agar tak meledak.


Aku memangku sepiring martabakku dan mulai memakannya.


"Minta satu!" Ucap Rion tanpa menatapku. Dia mengambil sepotong martabak dari piringku.


"Ambil aja." Ucapku enteng. Sesekali aku meminum air putih yang ku bawa dari dapur.


"Minta minum!" Dia mengambil gelasku dan menenggak tanpa ampun hingga tak tersisa sedikit pun air di gelas itu.


"Rion! Itu punyaku!" Aku tanganku terangkat hendak memukul bahunya. Kebiasaan yang sering ku lakukan padanya.


"Eeeiitt! No kontak fisik." Dia membuatku menurunkan tangan yang sudah terangkat.


Dia berdiri. Lalu menatapku. "Entar aku baper lagi kak." Dia mengerling.


Riooon!! Takut baper tapi suka banget baperin anak orang!


Dia kembali bergabung bersama yang lain. Menyisakan aku yang duduk sendirian di kursi.


"Makan yang banyak Bi!" Zoya menyuapkan martabak ke mulutku.


"Dibutuhkan banyak energi untuk menolak pesona brondong!" Ucapnya kemudian.


Aku menatapnya kesal sambil mengunyah martabak yang sudah terlanjur masuk ke mulutku.


****


Jejak jangan lupa kak. 😊

__ADS_1


Rion minum digelas Bi itu cuma modus!


Biar bisa ngerasain bekas 👄 Bintang 😂😂😂


__ADS_2