
Ezra
Tanganku bergetar hebat saat mengangkat tubuh Zoya untuk ku bawa ke dalam mobil. Wajahnya meringis menahan sakit yang ku tau pasti rasanya sangat luar biasa itu.
Nath ada di kursi kemudi, dan papa duduk di sebelahnya. Aku dan mama berusaha menenangkan Zoya di kursi belakang.
"Zoya, istigfar sayang." Bisik mama padanya. Aku menyandarkan kepalanya di bahuku. Sesekali aku menyeka keringat yang mengucur deras di keningnya.
"Astagfirullahal'adzim." Begitu berulang kali Zoya beristigfar.
"Sakit banget, ma."
"Nath! Cepat Nath!" Teriakku tak sabar karena darah yang keluar semakin banyak dan wajah Zoya semakin memucat.
Kami tiba di rumah sakit dan Zoya langsung di tangani. Aku mengurus semua administrasi. Mondar-mandir, hanya itu yang ku lakukan. Entahlah, semua ilmu yang ku dapat dari membaca buku tentang kehamilan hilang dalam sekejap. Otakku tak lagi bekerja dengan baik.
"Duduk, Zra!" perintah papa. Mungkin papa pusig melihatku yang bergerak seperti setrikaan.
Aku hampir mendaratkan bokongku di kursi tunggu, tapi dokter keluar dari ruangan itu.
"Keluarga pasien?"
"Saya suaminya."
Kami diminta untuk masuk dalam ruangan dokter dan mendengarkan penjelasannya.
Zoya harus menjalani operasi caesar. Hanya itu yang menyangkut dalam otakku. Selebihnya aku blank. Aku tidak terlalu mendengarkan perkataan dokter karena saat ini yang ada dalam fikiranku adalah Zoya dan anak kami.
Aku mengurus administrasi dengan pikiran buntu. Untung saja mama papa ada disini. Jadi ada yang membimbing, menenangkan dan menemaniku.
Aku sempat menemui Zoya sebelum ia di bawa ke ruang operasi.
"Zra... maafkan aku yang belum menjadi istri yang baik buat kamu." Ucapnya lirih.
Aku menggenggam tangannya erat, mencium seluruh wajahnya. "Kamu terbaik sayang. Terima kasih karena telah bersedia mengandung anakku, sayang. Aku mencintaimu sangat."
Aku tidak tau, ini air mata yang keberapa keluar dari sudut mataku. Aku juga melihat dengan jelas, Zoya meneteskan air mata.
"Bertahanlah sayang. Sebentar lagi kita akan memeluk anak kita."
"Sayang... Mama pernah melewati semua ini. Mama yakin kamu bisa, Nak." Mama mengelus kepala Zoya. Tangannya juga mengusap air mata di pipinya.
"Kami tunggu di luar dengan sejuta doa yang terpanjat untuk kalian." lanjut mama.
"Berjuang untuk dia sayang." Mama mengelus perut Zoya.
"Anak papa hebat, pejuang tangguh. Sebentar lagi kita ketemu, Nak." Aku mencium perut istriku.
Aku harus bersabar untuk ke sekian kalinya. Aku, mama, papa dan Nath menunggu diluar ruang operasi. Aku berdoa dan berdzikir, meski terus mondar mandir dengan hati yang tidak tenang.
Owekkk...
Suara tangis bayi yang terdengar sangat pelan namun masih bisa kami dengar membuat kami semua bernafas lega.
"Maaa..." Aku menatap mama. Berusaha mencari kebenaran, itukah suara bayi kami?
__ADS_1
"Dia sudah lahir, Zra."
Alhamdulillah ya Allah. Rasa haru menyeruak begitu saja membuat air mataku kembali tak tertahan.
"Selamat bang." Ucap Nath memelukku. "Terima kasih Nath."
"Rasanya luar biasa. Kelak kamu akan merasakannya." Nath melepas pelukannya dan ada senyum tipis di wajahnya.
Bayi kami dibawa keluar untuk dipindahkan ke ruang NICU yaitu ruangan rawat intensif untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan termasuk juga bayi prematur.
Aku mengikuti suster yang membawa bayi kami menuju ruang NICU. Aku menatap bayi dari luar dinding kaca. Kebetulan, bayi kami di letakkan di pinggir, hingga jarak kami begitu dekat.
"Terima kasih sudah berjuang bersama mama, nak."
"Papa bangga sama kalian berdua." Aku menyeka air mataku.
"Ganteng." Sahut mama yang entah sejak kapan ada di sampingku.
"Selamat datang ke dunia Zidane Ganendra." Bisikku pelan. Nama Zidan kami pilih sejak kami mengetahui jenis kelaminnya adalah laki-laki pada usia kehamilan menginjak 5 bulan.
Zidan artinya adalah pertumbuhan, meningkat dan perkembangan. Doa dan harapan kami begitu besar untuknya. Kami ingin dia terus tumbuh dan berkembang dengan baik sejak dalam kandungan hingga dia dilahirkan di dunia.
Kami berharap ia akan menjadi putra kebanggaan kami. Putra yang sejak masih dalam kandungan sudah sangat kuat dan tangguh.
Aku sempat menanyakan keadaan putraku. Dan suster mengatakan ia masih perlu perawatan intensif. Dan kabar baiknya adalah dia dilahirkan dengan berat 2 kg, termasuk besar karena biasanya janin 7 bulan hanya akan memiliki berat badan sekitar 1,5 kg.
Kami beralih ke Zoya. Dia belum bisa ditemui dan alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Kondisinya juga tak mengkhawatirkan. Double kebahagiaan. Zoya dan anak kami selamat.
Aku pergi ke mushollah rumah sakit. Sholat dhuha sebagai bentuk syukurku, karena waktu zuhur belum tiba.
Selama ini dia sudah mengorbankan banyak hal demi mengandung anakku. Seharian di tempat tidur, tidak kemana-mana, mengkonsumsi berbagai obat penguat kandungan, dan yang paling besar adalah dia harus berhenti bekerja. Menyerahkan Arumi resto sepenuhnya padaku.
"Mama pulang dulu, Zra." pamit mama dan papa saat aku sudah kembali dari mushollah.
"Mama mau ambil baju bayi dan perlengkapan lainnya. Sekalian mau beli alat pompa asi. Karena saat ini ASI adalah makanan utama untuk baby Zi." Aku mengangguk. Aku senang mama memanggil anak kami dengan sebutan baby Zi.
"Di rumah sudah ada beberapa ma. Tolong di belikan jika ada yang kurang, ya ma." Aku dan Zoya memang belum membeli semua perlengkapan bayi. Maklum saja, lahir prematur seperti ini tidak pernah sedikitpun kami bayangkan.
"Ma, kunci rumah ada di laci nakas kamar kami." Aku menyodorkan kartu ATMku, tapi mama menolak dengan mendorongnya lagi kearahku.
Mama mengangguk. "Kamu jangan lupa makan. Di kantin aja, jangan jauh-jauh. Takut dicariin dokter atau suster."
"Iya, ma." Apa mungkin aku sanggup menelan makananku, ma. Sementara istri dan anakku belum bisa ku temui.
Huuufft...
Aku duduk di depan ruangan Zoya. Di kursi tunggu stainless. Aku mengambil ponselku.
Ku pandangi foto baby Zi yang berada dalam inkubator dengan alat penunjang kehidupan yang melekat hampir di seluruh tubuhnya.
Aku mengirim foto itu ke grup wa keluarga besar kami.
Ezra
[foto]
__ADS_1
Kakek buyut-Nenek buyut, oma-opa, om-tante semua saudara tercinta.
Mohon doanya untuk kesehatan baby Zidane Ganendra dan mama Zoya yaπ
Aku tersenyum menatap foto baby Zi. Nama kami bertiga ternyata lumayan nyambung. Aku akan mengganti namaku menjadi Eza. Supaya Zoya di panggil Zo, aku Za dan baby kami Zi.
Deerrttt... deerttt... derrrt...
Ponselku terus bergetar.
Bintang
Alhamdulillah, cepat sehat keponakan onty sayangππ
Nair
Alhamdulillah, ganteng kayak om Nair.
Sejak kapan dia narsis?
Oma Citra
Selamat Ezra dan Zoya sayang. Oma akan segera kesana lihat cicit π
Ayah Satya
Sehat terus saingannya om Shaka!
Shaka
Posisi om tergeser nih di depan ayah π
Hahahah... Ada benarnya juga, karena anak kami adalah bayi yang ditunggu kehadirannya oleh ayah Satya.
Om Langit
Penerus ketampanan opa Langit. Tua banget! Opanya ganti Oppa aja ya. Entar oppa pakai style ala boy band korea deh π
Ada-ada aja nih aki-aki. Selalu gokil kalau ngomong.
Bintang
Oppa Sarang Hiuuuu!
Om Langit
Saranghae Bi π
Aku kembali memasukkan ponselku dalam saku celana. Aku lebih baik berkeliling, melihat baby Zi sekalian karena Zoya belum bisa ditemui.
***
Hai-hai.. Baby Zi sudah lahir nih π
Terima kasih masih setia dan meninggalkan jejak π
__ADS_1