
Zoya
Aku melihat Bi yang duduk melamun di atas ranjang. Hampir semalaman ia terjaga. Dan selepas sholat subuh di musholah rumah ini, Bi kembali ke kamar.
Tak sesuap nasi pun yang masuk dalam perutnya. Dia hanya minum saat dia ingin. Kakung, Uti bahkan papa, tak ada yang berhasil membujuknya. Dia menjawab iya. Tapi nyatanya ia tak menyentuh sedikitpun makanan di nakas.
Mama, sejak sore itu tak lagi keluar kamar. Mama kebetulan sedang datang bulan, hingga tak keluar untuk sholat. Papa dan Bi Imah bahkan membawa makanan untuk mama ke dalam kamar.
Mama sangat kecewa. Aku tau itu. Tapi apa tidak ada sedikitpun kesempatan?
"Bi, udah dong. Mama pasti sebentar lagi menemui kamu. Kamu makan ya. Kasihan mama kalau lihat kamu sakit." Bujukanku bagai angin lalu.
Begitupun Nath dan Nair. Malam tadi keduanya masuk kedalam kamar Bintang. "Kak, mau apa. Bilang Nath. Burger, Pizza, seblak, atau bakso jontorr bakalan Nath beliin."
"Atau Nair aja yang beli. Kakak mau apa?"
"Kakak cuma mau tenangin fikiran."
"Kalian keluar aja." Ucapnya malam tadi.
Setelahnya Nath dan Nair pergi entah kemana. Keduanya mungkin meluapkan emosi dengan memukul samsak. Biar bagaimana pun, ada andil Rion dalam masalah ini. Yang notabenenya adalah sahabat mereka.
Dan subuh tadi. Sudut bibir Nath tampak membiru. Aku yakin dia berkelahi. Tapi entah dengan siapa. Dia bahkan mengaku terbentur pinggiran meja. Gak masuk akal.
Ataukah dengan Rion? Jika iya. Baguslah. Dan harusnya aku ikut dan menyumbang sebuah pukulan keras di wajahnya.
"Bi, Jogging yuk." Dia menggeleng.
"Bi, kamu gak ngajar?" tanyaku lagi.
Dia menggeleng. "Om Ray kasih aku cuti dua hari."
Aku menghembuskan nafas berat. Aku akhirnya menyerah. Aku masuk ke kamarku. Lalu mencoba menghubungi seseorang. Semoga beliau bisa jadi malaikat penolong.
****
Lintang
Aku masih mengurung diri di kamar. Aku belum menemui kedua putriku. Tapi sejak malam, silih berganti orang-orang masuk ke kamar ini. Bunda, ayah, mas Akhtar dan kedua putraku.
"Coba bicara baik-baik, Lin."
"Beri anak-anak kesempatan."
"Mereka masih muda, Nak."
"Temui mereka."
Bunda duduk di sebelahku. Di pinggir ranjang.
Matanya menatap lurus ke depan.
"Dulu, saat kamu seusia Bintang, kamu sudah menikah Lin. Bahkan sudah melahirkannya."
Aku menatap bunda. Matanya mulai berkaca kembali mengingat masa terpurukku itu.
"Kamu juga belum berhijab. Kamu juga masih sering memakai bahu berlengan pendek. Terkadang juga daster." Bunda menatapku lalu tersenyum. Bunda mengelus rambutku.
"Membuat kesalahan bukan berarti selamanya salah Lin. Bukan berarti kedepannya akan gagal dalam hidup."
"Saat anak salah melangkah, kita harusnya merengkuh mereka. Menunjukkan arah yang benar. Ikut mendampingi. Bukan membiarkan mereka sendiran dan berlarut dalam rasa bersalah."
"Kamu ingat? Saat kamu gagal dalam pernikahanmu. Ayah dan bunda ada disisimu. Memeluk dan membuatmu tak merasa sendiri lagi."
__ADS_1
"Kita bersama-sama menata hidup demi Bintang dan Zoya."
Air mataku menetes. Bunda benar, tapi entah mengapa kali ini aku sangat kecewa.
"Bintang dan Zoya butuh kamu Lin."
"Sejak bayi mereka bergantung padamu. Kamu adalah tongkat bagi keduanya."
"Dan jika sekarang kamu meninggalkan mereka. Bagaimana mereka bisa berjalan?"
"Bagaimana mereka bisa melangkah, Lin."
"Temuilah anak-anak. Karena sampai kapanpun membimbing mereka adalah tugas kita sebagai orang tua."
Malam itu bunda membuatku banyak merenung. Apa aku keterlaluan pada mereka?
Dan pagi ini, masih jam 7 tapi seseorang wanita cantik dengan gamis syar'inya masuk ke dalam kamarku. Dia duduk di kursi rias menghadap kearahku.
"Kak..."
***
Bunga
Saat sedang mempersiapkan sarapan di dapur. Kak Satya berlari dari lantai dua dengan membawa ponsel.
"Na, na. Cepat kesini, sayang!"
"Ada apa sih kak?" Aku membuka celemek dan menyerahkan masakanku pada asisten rumah tangga agar diteruskan.
"Zoya nelpon nangis-nangis, Na!" Teriakan kak Satya membuatku terkejut.
"Ya Allah, kenapa kak?." tanyaku panik.
Aku dan Kak Satya duduk di meja makan. Kak Satya meloudspeaker panggilan di ponselnya.
"Tolongin Zoya sama Bi, bun."
"Zoya. Kalian kenapa, Nak. Tolongin apa?" Aku semakin panik. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada mereka berdua.
Zoya menceritakan duduk masalahnya. Tak terlalu detail tapi aku bisa memahaminya.
"Mama marah sama kami berdua, bun. Mama belum mau bicara." Zoya menangis.
"Bi gak mau makan dari kemarin. Dia cuma diam aja."
"Bunda, bujuk Bi ya."
"Ayah, kita ajak Bi kemana gitu. Zoya gak tega lihat Bi kayak gini." Zoya berbicara tanpa jeda meski dengan suara serak.
Aku dan kak Satya langsung menuju kediaman kak Lintang setelah berganti pakaian.
Kami tiba di sana dan rumah sangat sepi. Hanya ada mas Akhtar karena ku yakin si kembar sedang sekolah.
Aku langsung menuju kamar Bintang. Bintang tengah duduk di sofa menatap arah jendela. Sementara Zoya duduk di sebelahnya menatap Bintang, dan sesekali beralih ke jendela besar itu.
Ya Allah, gadis itu tampak pucat. Dan Zoya setia menemaninya disini. Kak Rezki, lihat kedua putrimu kak. Setitik air mata menetes disudut mataku.
"Hai anak-anak kesayangan bunda." Aku memeluk keduanya.
Mereka mencium tanganku. "Bundaaa kapan datang." Zoya berteriak sok ceria. Aku tau dia sedang memancing Bi untuk ikut menyambutku.
Bintang melempar senyum tipisnya. "Semua akan baik-baik saja sayang." ucapku padanya.
__ADS_1
"Bi makan yuk. Mau bunda masakin apa?"
Bintang masih diam. "Atau mau ikut ayah cari sarapan di luar?" Aku menawarinya.
"Bun, Bi salah." Dia menangis memelukku. Menangislah, Bi. Menangislah. Hingga sesak di dadamu tak lagi terasa nak.
"Sayang, atau kalian mau cerita sama ayah?"
"Atau mau main ke rumah opa sama oma?"
Bintang tampak berfikir. "Oma..." gumamnya. "Papa." gumamnya kemudian tapi air mata langsung meluncur di sudut matanya.
Bintang mengangguk.
"Yeeeeaaay!!! Me time sama ayaaaaah!!!" Zoya melompat seperti anak kecil.
Dan senyum kecil terbit di bibir Bintang.
Aku segera menuju kamar kak Lintang. Aku membuka pintu dan kak Lintang sedang duduk di pinggir ranjang dengam tasbih di tangannya.
Dia sedang berdzikir menenangkan dirinya, meredam emosinya.
Aku duduk di kursi rias menghadapnya. "Kak..."
"Kamu di sini, Na?" tanyanya. Matanya sembab, dengan kerutan yang mulai terlihat jelas. Serta lingkar hitam di area matanya yang menandakan ia kurang tidur.
"Kak, ini soal anak-anak." Aku langsung ke intinya.
Kak Lintang menangis. "Aku kecewa, Na."
"Karena perlakuan Rion atau karena Bintang yang hanya diam?"
"Keduanya." jawabnya.
"Lalu Zoya?"
"Aku juga kecewa. Tapi tidak separah rasa kecewaku pada, Bi." ucapnya pelan.
"Lalu kenapa kakak juga tidak menemui Zoya kak?" tanyaku.
"Zoya dan Bi itu sama kak. Mereka satu. Jika yang satu terluka maka yang satu lagi juga ikut terluka kak." Lanjutku.
"Temui mereka kak." Kak Lintang diam saja.
"Kak, mereka juga terluka. Mereka sedih karena rasa bersalah. Mereka menyesal kak." Aku mencoba meyakinkan kak Lintang. Karena apa yang ku lihat tadi sungguh pemandangan yang sangat menyakitkan.
"Bintang bahkan belum makan dari kemarin." Kak Lintang menatapku. Seperti terkejut.
"Kakak gak tahu?" tanyaku.
Kak Lintang menggeleng.
Aku berdiri dan melangkah menuju pintu. Aku sudah memegang handle pintu. Tapi aku membalikkan badan lagi. Kak Lintang masih menatapku.
"Kalau kakak terus begini. Aku akan membawa anak-anak bersamaku dengan atau tanpa izin kakak."
"Karena ku yakin mas Akhtar dan kak Satya akan mendukungku." Aku keluar dari kamar kak Lintang.
Kak Lintang pasti kecewa dan bingung harus bagaimana. Dari matanya dia terlihat sangat sedih.
Kak Lintang ingin yang terbaik untuk keduanya. Kak Lintang ingin mereka menjadi manusia yang berada di jalan Allah. Dengan tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.
Kak Lintang bisa saja menikahkan Bi dengan Rion. Tapi, Rion masih terlalu muda untuk melangkah ke sana.
__ADS_1
Lagi pula kak Lintang pasti takut kisah hidupnya terulang pada kedua putrinya. Menikah karena campur tangan orang tua. Seperti pernikahnya dengan almarhum kak Rezki.
Ya Allah, semoga masalah ini segera berlalu.