
Bintang
Dua minggu setelah kepulanganku, mulai hari ini aku akan mengajar di salah satu Universitas swasta.
Aku bersyukur akhirnya aku punya kegiatan juga setelah selama dua minggu menjadi pengangguran.
Pekerjaanku setiap hari hanya ikut papa keliling memantau kondisi kontrakan dan kost-an. Kadang ikut mama ke BL shop dan butik tante Rara. Dan kalau Zoya berbaik hati, aku ikut dia ke Arumi Resto. Sungguh, aku menjadi perusuh selama dua minggu.
Siang hari ini aku keluar dari area kampus. Dan tepat di gerbang kampus ada seorang mahasiswi yang memberiku sebuah selebaran. "Kak, mohon partisipasinya. Kalau berminat chat langsung ke contact personnya ya." Ucap gadis itu dengan senyum ramah.
Aku meletakkan selebaran itu di dashboard mobil. Dan langsung melajukan mobilku menuju ke butik tante Rara.
Tapi azan Dzuhur berkumandang, aku langsung membelokan mobilku ke sebuah masjid yang tak terlalu besar. Aku memutuskan untuk sholat disini.
Selesai sholat berjamaah aku tak langsung keluar. Aku merapikan mukenah yang di letakkan sembarangan di lemari yang letaknya di sudut masjid.
"Abang, kakinya sudah sembuh? Rani lihat sejak beberapa hari lalu gak pakai tongkat lagi."
Aku mendengar pertanyaan dari seorang anak perempuan. Aku mengintip dari jendela besar di depanku.
Mereka berbicara di balik dinding. Hingga aku hanya melihat dua bocah dengan pakaian yang bisa dikatakan sangat lusuh.
"Iya, abang sholatnya juga udah berdiri. Gak duduk lagi." Aku mendengar bocah lainnya berbicara. Aku terus merapikan mukenah di dalam lemari.
"Alhamdulilah, kaki abang sekarang sudah sembuh. Setelah setahun abang gak bisa jalan."
Deg.
Suara itu? Aku tertegun. Tanganku berhenti bergerak.
"Alhamdulillah." Anak-anak berucap syukur.
"Kalau sudah besar nanti. Kalian jangan kebut-kebutan di jalan raya, ya. Bahaya. Nasip kalian bisa seperti abang."
"Kalian juga kalau sedang ngamen sama jualan, hati-hati. Kalau menyebrang jalan juga lihat kanan kiri."
"Iya bang."
"Terima kasih untuk rumah baca Cahaya Bintang bang. Sekarang Rani bisa baca buku cerita kalau malam." ucap gadis kecil dengan nada ceria.
"Rajin-rajin belajar. Biar sekolahnya pintar. Sabtu siang, kalia kesana ya. Nanti teman-teman abang akan ajari kalian materi sekolah."
"Beneran bang?"
"Iya, nanti di sana kalian dibagikan alat tulisnya kok." Aku mendengar dengan sangat teliti, suara itu. Ya, aku tidak mungkin salah.
"Kalian suka bakso?" Suara pria itu terdengar lagi.
"Sukaaaa!!" Anak anak berteriak senang.
"Ayo, abang traktir di warung kang Romi."
"Ayooo...!"
Terdengar mereka meningalkan masjid. Suara tawa mereka mulai menjauh.
"Neng, biarin aja. Nanti biar ibu yang bereskan." Suara wanita paruh baya mengagetkanku. Aku menoleh kearah belakang. Seorang wanita terseyum ke arahku.
"Gak, apa-apa buk. Saya juga sedang tidak terburu-buru." Jawabku dengan senyum mengembang.
Aku segera menyelesaikan lipatan terakhir dan segera keluar dari masjid.
__ADS_1
"Saya duluan, bu. Assalamualaikum." Pamitku pada ibu itu.
"Terima kasih neng, hati-hati di jalan. Waalaikum salam."
Aku segera keluar dan mencari anak-anak yang berbicara di luar tadi. Dan punggung seorang pria yang tak asing bagiku terlihat meninggalkan pelataran masjid.
Pria yang senyum dan tawanya tak sirna sedikit pun. Bahkan sambil berjalan seorang pria dan lima orang anak kecil itu masih sempat bercanda dan tertawa. Mereka menyeberang jalan menuju sebuah warung bakso.
"Kamu bahagia, Rion?" gumamku pelan.
Ya, dia adalah Rion. Bagaimana aku bisa melupakan suaranya. Delapan belas tahun tak akan mungkin sirna dalam setahun.
Tapi satu hal yang membuat sudut hatiku terasa nyeri. Aku teringat percakapan mereka tadi. Mereka membicarakan soal tongkat, kecelakaan, dan setahun gak bisa berjalan.
"Apa sebenarnya yang terjadi padamu, Yon?" gumamku lagi.
Aku mengemudikan mobilku dan melewati tenda penjual bakso. Ku lihat sekilas Rion yang sedang duduk bersama anak-anak itu.
Aku melewati mereka, tapi sebuah ruko dengan plakat besar bertuliskan RUMAH BACA CAHAYA BINTANG menyita perhatianku. Setahun lalu tempat ini belum ada.
Entah mengapa aku langsung menepi. Aku turun dari mobil dan masuk ke dalam. Pintu yang terbuat dari kaca dengan tulisan open itu ku dorong pelan.
Pemandangan pertama yang ku lihat adalah deretan rak berisi buku-buku, ada juga rak yang masih kosong serta beberapa orang anak yang tertawa sambil membaca buku di meja-meja kecil. Ada yang duduk melingkar, dan ada juga yang menyendiri di sudut.
Seorang gadis tersenyum menyapaku. Gadis yang duduk di meja resepsionis.
"Selamat siang, kak." Sapanya padaku.
"Selamat datang di Rumah Baca Cahaya Bintang. Perkenalkan saya Tiara." Gadis itu memperkenalkan diri.
"Isi buku tamu dulu, Kak." ucap gadis itu sambil memberiku sebuah buku besar. Pendataannya masih manual.
Aku memberikan KTP ku agar dia saja yang mencatat namaku.
"Mau daftar jadi member gak kak?" Tanyanya padaku.
"Member?" Ulangku.
"Iya kak. Kalau sudah daftar jadi member, bisa pinjam buku dalam seminggu kak."
"Bisa juga kalau mau menyumbang buku." Ucapnya lagi.
Aku mengangguk. "Boleh."
"Tempat ini baru ya, Dik?" Tanyaku saat gadis yang usianya sekitar 18 tahun itu sedang menulis.
"Iya kak." Gadis itu menatapku. Dia sopan sekali.
"Baru satu minggu." Lanjutnya.
"Ini semua free?" tanyaku lagi. Aku masih penasaran. Kalau bayar, bagaimana dengan anak-anak yang ada disini? Dari pakaian mereka saja terlihat dari kalangan orang-orang kecil.
"Iya kak. Terkecuali yang terlambat mengembalikan buku. Akan kita denda. Termasuk jika bukunya hilang."
"Termasuk anak-anak ini?" Tanyaku. Dan dia mengangguk.
Bagaimana jika dendanya uang? Apakah anak-anak ini punya uang untuk mengganti buku yang hilang?
"Dendanya uang?" Tanyaku lagi.
"Tidak kak. Bisa juga berupa hukuman. Sesuai perintah pendiri rumah baca ini. Pesan beliau, jangan sampai memberatkan anak-anak. Bisa saja kesalahan yang mereka lakukan karena tidak sengaja."
__ADS_1
Baik sekali pendiri tempat ini.
"Beliau memang mendedikasikan tempat ini untuk kami, untuk mereka, kak. Anak-anak kurang beruntung yang punya keterbatasan biaya untuk membeli buku."
Aku mengangguk. "Jenis buku apa yang bisa disumbangkan kesini, Ra?"
"Semua buku bisa kak. Asal isinya hal positif. Tapi kami sedang mengutamakan buku khusus anak SD. Baik buku pelajaran atau buku cerita." Gadis di depanku ini menjelaskan dengan sangat sabar.
Mataku menyoroti setiap sudut ruangan. Ada tulisan larangan berisik dan makan-minum. Aku melihat anak tangga. "Di lantai dua ada apa, Ra?"
"Masih kosong kak."
Aku pergi setelah mendapat kartu member. Aku terdaftar sebagai member ke dua ratus enam puluh. Kutatap kartu berwarna biru itu. Kartu yang di lapis dengan sampul plastik.
Aku keluar dari rumah baca tersebut dan mataku tertarik kearah indo-april. Empat ruko dari rumah baca.
Aku berjalan kesana. Membeli puluhan susu dalam kemasan kotak dan beberapa makanan ringan.
Empat plastik berukuran besar sudah ada di tangan kanan dan kiriku. Aku kembali masuk kerumah baca dan meletakkan semua barang yang ku bawah di dekat meja Tiara.
"Tiara, nanti tolong bagikan untuk mereka, kalau mereka mau keluar dari tempat ini."
"Bisakan?" bisikku padanya.
"Bisa kak. Terima kasih kak."
"Kamu ambil aja, kalau mau. Titip ya, Ra."
"Iya kak." gadis itu tersenyum malu-malu.
Aku segera pergi dari tempat itu. Menyalakan mesin mobil. Tapi selebaran di dashboard menyita perhatianku.
Mataku membulat sempurna. Selebaran dengan tulisan besar di atasnya. Rumah Baca Cahaya Bintang.
Inikan, tempatnya.
Aku terheran, kebetulan yang tak kusangka-sangka. Aku belum membaca selebaran itu, tapi aku sudah sampai di tempat ini.
Kubaca sekilas dan isinya dalah ajakan untuk mendonasikan buku ke rumah baca tersebut.
Caranya dengan langsung datang ke Rumah baca atau menghubungi contact person agar buku dijemput di rumah penyumbang.
Mataku membulat sempurna saat menemukan nama orang yang ku kenal dalam contact person.
Orion : 08xx xxxx xxxx
Tiara : 08xx xxxx xxxx
Orion? Mungkinkah Rion yang sama? Lalu hanya ada namanya dan Tiara. Ini Tiara yang tadi kan? Atau jangan-jangan mereka berdua adalah pendiri rumah baca itu?
Lalu, hubungan mereka berdua apa? Apakah mungkin mereka berpa-. Aku menggeleng pelan. Menghentikan otakku yang mulai memikirkan hal-hal yang bukan urusanku.
Hari ini banyak sekali kejutan. Berawal dari bertemu Rion tanpa sengaja. Hingga rumah baca dan nama Rion di selebarannya. Terlebih nama Tiara juga ada di sana.
Aku menghembuskan nafas berat. Memikirkannya? Untuk apa, Bi?
Ternyata ada banyak hal yang terlewati olehku di sini. Tapi satu hal yang membuatku tenang. Rion bahagia. Rion melanjutkan hidupnya. Rion tidak terpuruk. Dan Rion pasti sudah menemukan cinta yang baru.
Sekarang giliranku. Aku akan memulai hariku dengan kesibukan sebagai dosen. Mengikuti jejak Oma Citra dan Opa Darma.
Aku segera pergi dan menuju butik tante Rara. Untuk apa? Untuk sekedar meminta jatah baju keluaran terbaru musim ini. Hehehe....
__ADS_1