BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
61 Mawar Merah


__ADS_3

Bintang


"Mawar?" Ucapku saat menemukan seikat mawar merah yang masih segar teronggok manis di atas meja riasku.


Aku baru saja kembali dari dapur setelah membantu mama memasak. Aku akan bersiap untuk pergi ke kampus.


Aku mengambil seikat mawar merah tanpa identitas itu. Ku balik dari kanan ke kiri. Ku putar dan tak ku temukan apapun.


Aku mengangkat bahu acuh. "Mungkin punya Zoya."


"Romatis juga si Ezra kasih mawar begini." Ucapku lagi sambil meletakkan mawar itu kembali.


Aku memoles wajahku dengan make up tipis dan bersiap ke kampus.


Zoya mungkin akan menunjukkan mawar itu padaku. Tapi karena waktu sudah sangat mepet untuk bekerja. Zoya mengurungkan niatnya.


Mungkin saja, kan?


Aku turun ke bawah untuk sarapan. Lalu segera berangkat.


"Mawar lagi?" Ucapku saat kembali menemukan seikat mawar di dashboard mobilku.


Aku melihat ke kanan dan kiri. Tak ada siapapun.


Dari siapa mawar ini? Batinku.


Mawar yang sama. Tanpa identitas.


Mungkinkah Rion?


"Gak mungkinlah." Aku menampik pertanyaan yang sekilas muncul di otakku.


Tanda-tanda kehadirannya saja tak terlihat.


Aku melajukan mobilku menuju kampus. Urusan mawar ini, nanti sajalah. Aku harus fokus pada materi yang akan ku sampaikan di kelas nanti.


Jam 11 aku keluar dari kampus dan mendapati pesan dari Zoya.


Aku di Mall Xx. Kesini dong Bi. Kita belanja.


Aku segera menuju parkiran. Tapi apa itu? Aku berjala mendekati mobilku dan ku temukan seikat mawar merah lagi di atas kap depan mobilku.


Aku melihat ke kanan dan kiri. Tak ada orang. Mungkin karena ini parkiran khusus dosen. Jadi tidak ada mahasiswa yang berkeliaran di sekitar sini.


Aku membawa mawar itu masuk kedalam mobilku dan ku letakkan di kursi depan.


Aku duduk di balik setir dan menatap dua ikat mawar merah itu. Aku menggigit jariku. "Dari siapa ya."


Aku mencoba mengingat sesuatu. "Hari ini bukan hari ulang tahunku."


"Apa mungkin Rion?"


"Hari ini dia gak ada jadwal."


"Tau ah. Dari tadi ngomong sendiri kayak orang gila. Mending aku segera susul Zoya ke mall."


Aku mencoba untuk tak memikirkan siapa yang memberiku mawar merah itu. Karena tidak ada petunjuk apapun.


Aku memang suka bunga mawar. Tapi jika tidak jelas asal usulnya begini aku harus bagaimana?


Aku tiba di mall dan langsung menemui Zoya yang menungguku di pintu masuk.


"Belum masuk Zoy?"


"Udah Bi. Tapi aku antar Alina sampai sini. Dia tiba-tiba ada urusan keluarga."


"Terus karena itu kamu minta aku kesini?" Tanyaku sedikit emosi karena cuma jadi cadangan.


"Hehehe... Gak gitu juga, Bi."


"Ayo ah masuk. Aku traktir." Zoya menarikku masuk.

__ADS_1


"Tas H*rmes ya Zoy."


Zoya langsung berhenti dan menatapku tajam. "Itu sama aja kamu ngerampok semua tabunganku Bi."


Aku tertawa. "Enggak. Enggak. Aku bercanda." Aku merangkul bahunya.


"Udah ah, gak boleh cemberut. Aku rampok baik hati kok."


"Aku kira-kira aja kalau ngerampok, Zoy."


"Kira-kira kamu gak keberatan, angkuut."


Zoya ikur tertawa. "Dasar kamu."


Kami masuk ke satu toko pindah ke toko lain. Dua paperbag di tanganku menjadi hasil rampokanku. Hahaha. Dan Zoya korbannya.


Dan dua paperbag ditangan Zoya menjadi hasil perburuannya.


"Entar malam keluar, yuk." Ajak Zoya saat kami menikmati makan siang di food court.


Aku menatapnya. Lalu berfikir sejenak. "Boleh."


"Pakai gamis yang kita beli, ya." Ajaknya. Kami emang membeli dua gamis dengan motif yang sama hanya saja dengan warna berbeda.


Aku membeli warna soft blue. Dan Zoya warna soft pink.


"Gak salah kostum, Zoy?" Tanyaku.


"Mama gak pernah salah kostum, Bi."


"Ke butik pakai gamis syar'i. Ke pasar pakai gamis. Masak pakai gamis. Jalan-jalan, makan malam di luar, ke mall, ke pesta, semua pakai gamis. Sah-sah aja tuh."


Zoya benar juga. Mama nyaman dengan pakaian itu. Tidak peduli ia salah kostum atau gak. Tapi memang gamis mama memiliki bahan yang berbeda-beda. Mungkin itu yang membuat mama nyaman memakai gamis dimana saja.


"Setelah ini kita kemana?" Tanyaku yang hanya ikut si pemilik modal.


"Ada satu toko yang mau aku datangi, Bi."


"Udah ikut aja." Zoya tersenyum lebar.


Perasaanku gak enak.


Selesai makan siang kami pergi ke satu toko yang ingin Zoya datangi.


Aku tercengang saat Zoya masuk ke toko pakaian dalam.


"Ayo Bi." Aku akhirnya ikut masuk.


Aku memilih beberapa. Lumayan untuk stok.


"Pilih yang mana, Bi." Zoya menunjukkan beberapa lingerie di tangannya.


Mataku membulat. Buat apa Zoy? Aku bergidik ngerih melihat pakaian yang tak kalah tipis dengan kantung teh celup itu.


"Kenapa, Bi?" Aiiisssh dia pakai nanya lagi?


"Kamu beli begituan, Zoy." Bisikku pelan saat ku lihat Zoya memilih beberapa potong pakaian tak layak itu. Penjaga toko sampai senyum-senyum melihat tingkahku.


"Iya dong. Untuk persiapan malam pertama." Bisiknya.


Astaga?


"Memangnya kapan?" Tanyaku penasaran.


"Kalau gak Sabtu ya Minggu." Zoya terkekeh. Sialan. Dia mengerjaiku.


Akhirnya Zoya memilih 3 set dengan warna berbeda-beda. Sedangkan aku harus puas dengan setengah lusin C*D dan setengah lusin Br*a.


Malam harinya.


Aku bersiap dengan gamis yang kami beli tadi. Aku memadukan dengan hijab segi empat berwarna senada.

__ADS_1


"Tin... tin..." Zoya tak sabaran. Dia sudah di mobil sementara aku masih menyempurnakan riasan dengan sentuhan terakhirku. Lipstick warna peach menjadi pilihanku.


Aku terlambat karena menemukan seikat mawar lagi di atas meja belajar yang kini berfungsi sebagai meja kerjaku.


Awalnya aku menebak Rion. Tapi saat aku menelponnya dia sedang bersama teman-temannya termasuk Nath dan Nair. Saat ku tanya posisinya dia sedang di cafe.


Aku berusaha tanya mama. Tapi mama papa sedang ke rumah tante Sora. Besok saja tanyanya.


Aku turun ke bawah. Dan Zoya yang tidak sabar itu masih terus menekan klakson mobil.


"Huuh! Gak sabaran banget."


Dia tertawa melihat wajahku yang ditekuk ini.


"Kita terlambat 10 menit, Bi." Ucapnya.


"Terlambat apa? Memangnya kita mau kemana? Cuma jalan-jalan kan?" Tanyaku sambil memasang sabuk pengaman.


Zoya melajukan mobilnya agak cepat. Dia dengan santai membelah jalanan yang padat karena ini malam minggu.


Oh No. Jones banget. Katanya ada yang cinta tapi malam minggu berkeliaran sendiri.


"Zoy..." Ucapku. "Arumi Resto?" Aku terkejut saat kami parkir di pusatnya Arumi Resto. Ini adalah Arumi Resto paling besar dan luas dibanding cabang yang lain.


"Aku ada kerjaan sebentar. 10 menit Bi." Mobil berhenti. Kami turun dengan sedikit terburu-buru.


"Manager butuh tanda tanganku segera. Kalau gak karyawanku bisa-bisa gak gajian Bi."


Aku ikut dengannya naik ke lantai dua menuju ruang kantornya.


Pengunjung tidak terlalu ramai. Bahkan lantai dua hanya beberapa meja yang terisi.


"Ada acara apa Zoy. Kenapa lantai 2 di dekor begini." Aku melihat dekorasi yang cukup indah di ruangan luas ini.


"Aku gak tau tepatnya Bi. Itu urusan manager sama Alina. Setau aku tempat ini udah ada yang booking."


"Kamu tunggu di sini sebentar." Pintanya. Aku menunggunya di salah satu meja.


Tak butuh waktu lama. Zoya keluar.


"Ayo, Bi."


"Kamu belum lihat taman belakang yang baru di bangun kan Bi?"


Aku menggeleng.


"Kita kesana sebentar, ya."


Aku mengangguk. "Boleh. Ada spot foto menarik dong?"


"Pastilah." Dan kami berjalan menuju taman belakang Arumi Resto.


Pemandangannya memang sangat indah. Tanamannya terawat dan ada beberapa spot foto yang bagus. Serta lampu yang indah.


"Kesana Zoy." Tunjukku pada sebuah bangku.


Tap.


Semua lampu mati dan suasana gelap. Bahkan cahaya bulan pun tidak ada. Hanya ada bintang-bintang yang berkelip di langit malam.


"Zoy..."


"Zoya..."


Tak ada sahutan.


****


Kira-kira ada apa?


Mawar pemberian kalian sudah sampai pada Bi ya gaesss 😚😚😚

__ADS_1


Jejak di minggu yang manis 😊


__ADS_2