
Orion
Tante Lintang membawa suami dan putrinya pulang. Menyisakan aku yang masih terduduk lemas di samping kedua orang tuaku.
"Rion..." Mama mengelus bahuku.
Aku menatap mami, "Miiii... Rion serius Mi."
"Mami harus percaya Rion."
Mami mengangguk. "Kamu minum dulu, ya."
Aku meminum minuman dingin langsung dari botol.
"Rion." Suara berat papi.
"Iya Pi." Aku menatap pria yang menjadi pelindungku selama ini.
"Papi kecewa." Aku menunduk mendengar penuturannya. Tentu, semua kecewa. Orang tuaku, orang tua kak Lintang atau bahkan sahabat-sahabatku.
"Tapi papi bahagia." Tiga kata yang membuatku berani menatap papi.
Papi tertawa sinis, "Dulu saat kamu masih dalam kandungan. Papi dan om Josep berebut menjodohkan kamu dan Ethan dengan salah satu anak om Akhtar."
Apa? Kenapa aku tak pernah tau cerita ini?
"Saat itu Ethan, kamu, Nath dan Nair serta Delvin masih berbentuk janin. Kalian masih dalam kandungan."
"Papi ingin menjodohkan janin dalam kandungan mami dengan janin yang di kandungan tante Lintang."
Mami tertawa, mereka berdua menerawang. Kembali menyelami masa lalu.
"Tapi sayangnya semuanya anak laki-laki."
Dih, dulu aku hampir dijodohkan sama Nair dan Nath! Amit-amit. Untung aku cowok.
"Hingga papi berniat menjodohkan kamu dengan Bintang atau Zoya."
Aku menatap papi tak percaya. Jodohkan pi. Sekarang juga. Aku siap.
"Ethan gugur secara otomatis karena keyakinan."
Jelas.
"Dan om Akhtar mencibir papi karena tak sudi berbesanan sama papi."
Siapapun pikir ulang untuk punya besan kayak papi.
Papi tertawa. "Dan sekarang dia kena karma. Dulu dia menolak tapi sekarang kalian berhubungan."
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" Tanya papi penuh semangat.
Keduanya menatapku dan menunggu jawabanku.
"Kami gak pacaran, pi!"
"Apaaaa!!!" Keduanya terkejut.
Aku sampai terperanjat. Biasa aja dong kagetnya. Gak pernah dengar istilah TTM (teman tapi mesra) atau teman rasa pacar apa?
"Jadi hubungan kalian apa, Rion!!!" Bentak mami padaku.
"Calon istri sama calon suami, Mi." Jawabku enteng.
"Jadi kalian belum ada status pacaran gitu?" tanya mami.
Aku menggeleng. Kedua orang tuaku memijat kening.
__ADS_1
"Kamu sudah menyatakan cinta, Rion?" tanya papi.
Aku mengangguk seperti orang bodoh.
"Bintang jawab apa?"
Aku diam sebentar sambil mengingat apa yang dia ucapkan kak Bi. Di dapur, kak Bi tak menjawab apapun.
Di mobil, ya di mobil. Kak Bi bilang...
"Kak Bi bilang kalau kami berbeda. Maksudnya berbeda usia, Pi."
"Kak Bi juga bilang kalau aku salah jika mencintainya."
"Tapi aku sudah mengaku dihadapan om Akhtar pi."
"Sampai akhirnya om Akhtar kasih tiga syarat itu."
"Dasar tengik!" Ucap papi padaku.
"Raaay... Bicara yang sopan sedikit." Ucap mami.
"Jalan kamu sudah terbuka Rion. Tapi bibir kamu itu minta di jahit."
"Kamu menutup jalanmu sendiri!" Papi tampak frustasi.
Aku menggaruk tengkukku. Ya mau bagaimana lagi. Susah banget mengendalikan diri, Pi.
"Jadi, Rion harus bagaimana pi." tanyaku pasrah.
Papi mengangkat bahu. "Udah ribet gini baru nanya papi. Pas lagi nyosor ingat papi gak, kamu?"
"Dih, ya enggak lah." Jawabku enteng.
"Ingat papi cuma bikin moodku ancur!" gumamku.
Bantal sofa nan empuk mendarat sempurna di wajahku. "Makan tuh bantal."
"Usaha sendiri."
"Gak dikirim ke neraka sama om Akhtar aja, udah syukur banget kamu."
Papi berdiri dan membawa mami pergi. "Ayo sayang, kita buat anak lagi. Punya anak bod*hnya begini, coret aja dari Kartu keluarga."
"Masih sore, Pi." Sindirku.
"Bodoh amat! Halal ini." Orang tua gak ada akhlak.
"Rion gimana, Pi." Jeritku.
"Pikir sendiri." Suara papi menghilang seiring langkah mereka yang menjauh.
Aku berbaring lemas di sofa. Tapi pikiranku tengah berkelana. Memikirkan apa yang terjadi pada kak Bintang.
Aku tau ini salahku. Aku terlalu cepat mengakui perasaanku. Hingga butuh waktu lebih lama lagi untuk membuktikan perasaanku.
Seandainya aku datang saat sudah sukses dan usiaku sudah cukup matang. Pasti akan mudah untuk mereka menerimaku.
Tapi aku tidak yakin kak Bintang masih single.
"Huuuuaaaaaaaaaaa." Aku mengacak rambutku.
"Abang! Jangan kayak tarzan dong!" Jerit Chiara dari lantai dua.
"Biariiiiiin. Abang patah hati Chiaaaaa." Jeritku makin keras.
"Kak Bi gak suka sama orang cengeng!" Dan Chia segera menghilang dibalik pintu kamarnya.
__ADS_1
Chia benar, kak Bi gak suka orang yang cengeng. "Kak! Kita harus bersama!" Aku bertekad.
****
Bintang
Aku mengendarai mobilku dengan perasaan yang campur aduk. Sepanjang jalan aku hanya menangis.
Aku memang bodoh, tak melawan Rion saat dia seenaknya berbuat begitu. Tapi aku juga tidak tahu mengapa aku tidak bisa bergerak sedikitpun saat itu.
Saat ekskul melukis baru saja dimulai. Ponselku berdering. Dan ku lihat nama Chiara yang tertera di layar.
Aku menjawab telpon darinya. Yang pertama kali ku dengar adalah isak tangis gadis berusia 13 tahun itu.
"Hallo Chia."
"Hallo kak... Tolongin bang Rion kak!"
"Rion kenapa, sayang?"
"Bang Rion mau dihajar sama om Akhtar. Kak, cepat ke sini."
Papa? Apa yang papa lakukan? Jangan-jangan karena masalah di sekolah.
"Kakak langsung ke sana, sayang."
Aku meninggalkan tempat ini dan saat masih di parkiran mama juga menelpon memintaku untuk segera datang ke rumah om Ray.
Aku tiba disana, dan semuanya diluar dugaanku.
Aku sedikit kecewa pada papa yang mengambil keputusan sendiri. Tapi aku tau itu demi kebaikanku. Mungkin dia melihat ketulusan Rion hingga dia ingin Rion membuktikannya.
Dan aku marah pada diriku sendiri. Aku bodoh dan telah membuat mama kecewa. Mama marah. Apakah aku disebut anak durhaka?
Benar kata mama, aku tak mendengarkan nasehatnya subuh itu. Aku bersikap seolah melawannya. Mengabaikan nasehat-nasehatnya.
Setibanya di rumah, aku langsung mengejar mama yang berjalan menuju kamarnya.
"Maaaa...."
"Bi minta maaf, ma. Bi gak akan ulangi lagi."
Aku memeluk mama dari belakang. Melewati Zoya yang sedang menonton tv.
"Ada apa, Ma?" tanya Zoya penasaran.
Mama menatap Zoya. "Mama juga kecewa sama Zoy. Kamu pakai pakaian apa minggu kemarin?. Mama gak pernah izinin Zoya pakai pakaian terlalu minim. Tapi Zoya tetap melanggar." Zoya juga kena amukan mama.
"Maa." Zoya sepertinya menyadari kesalahannya.
"Lepas, Bi!" Aku bergeming.
"Bi...!" Aku menatap papa yang mengangguk.
Aku melepaskan pelukanku.
"Mama kecewa sama kalian." Mama pergi meinggalkan kami. Papa menyusul di belakang mama.
"Sebenarnya ada apa, Bi?" Zoya berjalan kearahku lalu menuntunku duduk di sofa.
Aku menceritakan semuanya. Zoya menutup mulut tak percaya.
"Riiioonn!! Kadal busuk." Geram Zoya.
"Yang penting sekarang mama Zoy." Aku menangis dan Zoya memelukku erat.
"Kita bujuk mama, ya. Aku juga mau minta maaf sama mama."
__ADS_1
"Biar mama nenangin diri dulu, Bi." Zoya menuntunku ke kamar.
"Kamu istirahat dulu. Sekalian aku mau nupang tidur di sini." Ucapnya langsung merebahkan diri di ranjang.